"Tiga hari untuk melenyapkannya, atau nyawamu taruhannya."
Kenric Vane, algojo paling mematikan dari klan The Void, tidak pernah gagal dalam misinya. Namun, target kali ini berbeda. Dr. Alana Syahira, seorang psikolog cantik yang seharusnya mati dalam kecelakaan tragis, justru menatap tepat ke matanya tanpa rasa takut di ruang eksekusi.
Bukannya memohon ampun, Alana justru mulai membedah kegelapan di jiwa Kenric dengan manipulasi kata-kata yang mematikan. Dia adalah satu-satunya orang yang berani menantang sang predator di sarangnya sendiri.
Di sisi lain, persaingan takhta klan The Void memanas. Sang ayah memberikan syarat mutlak, siapa pun putra Vane yang memiliki istri lebih dulu, dialah yang berhak berkuasa.
Kenric memutuskan untuk melindungi Alana dari kejaran musuh, membawanya masuk ke dalam lingkaran hitam keluarganya. Di bawah perlindungan Kenric, Alana terjebak dalam dunia yang penuh peluru, sementara Kenric terjebak dalam perangkap kata sang psikolog.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 二十九
Malam kian merambat pekat, namun sepasang kaki milik Kenric Vane justru melangkah tanpa suara di koridor mansionnya sendiri. Apakah pria itu mulai tergila-gila, atau memang urat warasnya sudah putus total sejak awal? Entahlah. Yang jelas, malam ini ia bertingkah seperti pencuri di rumahnya sendiri. Dengan gerakan yang sangat perlahan, Kenric memutar gagang pintu kamar Alana, lalu menyelinap masuk ke dalam keheningan ruangan bernuansa pastel itu.
Ia berjalan mendekati tepi ranjang, lalu mendudukkan diri dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan decitan sekecil apa pun. Di bawah temaram cahaya lampu tidur, Kenric menundukkan kepalanya, memandangi wajah Alana yang tengah terlelap dengan sangat damai.
'Harus kuakui... wanita cerewet ini memang lumayan cantik kalau sedang menutup mulutnya seperti ini.' batin Kenric, sebuah senyuman tipis tanpa sadar terukir di wajahnya. Wajah polos Alana saat tidur seolah menjelma menjadi kalung hipnotis yang seketika menyergap dan melumpuhkan seluruh kesadaran Kenric. Rasa lelah yang teramat sangat mendadak merayap di tubuhnya. Tanpa bisa ditahan lagi, Kenric ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Alana, menarik sebagian selimut, lalu ikut terhanyut ke alam mimpi sembari memeluk erat tubuh wanita di sampingnya.
Ketika fajar baru saja hendak menyingsing dan langit masih berwarna biru keabuan, sepasang mata elang Kenric mendadak terbuka lebar. Kesadarannya langsung pulih seratus persen. Begitu menyadari dirinya tertidur di ranjang Alana dengan posisi memeluk wanita itu erat-erat, Kenric langsung tersentak kaget.
'Sial! Aku benar-benar tertidur sangat lelap semalaman di sini?!' rutuk Kenric dalam batinnya yang mendadak diserang kepanikan. Dengan gerakan kilat namun tetap berusaha tenang, ia melepaskan pelukannya, lalu buru-buru menyelinap keluar dari kamar Alana sebelum wanita itu terbangun. 'Aku harus keluar sekarang juga. Aku tidak sudi pagi-pagi begini harus mendengar ocehan super cerewet dari mulutnya yang bisa merusak harga diriku.'
Kembali ke kamarnya sendiri, Kenric segera membersihkan diri dan bersiap. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak biasa, ada rasa tidak sabar yang aneh sedang membuncah di dadanya. Ia langsung merengkuh ponselnya, menghubungi manajer butik gaun ternama di pusat kota.
"Siapkan ruangan VVIP untukku pagi ini. Aku akan membawa calon istriku untuk mencari gaun." perintah Kenric dengan nada dingin. Tidak hanya itu, ia juga langsung mengirimkan pesan singkat ke grup obrolan keluarga besarnya 'Besok pagi, berkumpullah di mansion utama. Ada hal yang sangat penting yang ingin kubicarakan terkait takhta klan.'
Di sisi lain, Alana Syahira baru saja menggeliat pelan di atas kasurnya saat matahari mulai meninggi. Ia membuka matanya dengan senyuman yang merekah lebar di bibirnya.
"Astaga... mimpi apa aku semalaman?" gumam Alana pada dirinya sendiri sembari memeluk gulingnya erat-erat, berguling ke kanan dan ke kiri dengan wajah yang merona. "Mimpiku indah sekali. Rasanya seolah-olah ada seorang pangeran tampan yang datang, lalu mendekap tubuhku dengan sangat erat dan hangat. Seumur hidupku, kurasa semalam adalah salah satu mimpi terbaik yang pernah hadir di tidurku."
Alana mengembuskan napas panjang, mencoba mengumpulkan jiwanya yang masih melayang. Namun, sedetik kemudian, otaknya mendadak mengingat janji penting hari ini. 'Ah, benar! Hari ini aku kan harus pergi mencari gaun bersama Kenric... calon suamiku.'
DEG.
Mendengar kata calon suami terucap dari batinnya sendiri, sepasang pipi Alana seketika berubah menjadi merah padam layaknya kepiting rebus. Ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, berguling sekali lagi dengan gemas. "Aduh, Alana! Kenapa kau jadi seperti anak ABG labil yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta begini, sih?! Sadar, dia itu mafia kaku!"
Meski hatinya terus menggerutu, Alana tetap bergegas mandi dan bersiap-siap. Karena tidak memiliki banyak pakaian mewah, setelah mandi ia hanya mengenakan gaun sederhana tanpa lengan bermotif bunga-bunga indah, dipadukan dengan bandana bermotif senada yang memperindah tatanan rambutnya. Sangat sederhana, namun memancarkan aura segar yang luar biasa.
Waktu melompat ketika Alana melangkah keluar kamar dan secara bersamaan pintu kamar Kenric juga terbuka. Kedua orang itu bertemu di koridor. Kenric yang sudah tampil gagah dengan setelan jas formalnya mendadak menghentikan langkah badannya. Sepasang matanya terpaku, tubuhnya membeku selama beberapa detik saat menatap penampilan Alana. Di mata sang dewa kematian, Alana pagi ini terlihat teramat sangat cantik dan menggemaskan.
Alana yang menyadari ekspresi kaku dan tatapan tidak berkedip dari Kenric, seketika menaikkan dagunya. Rasa tengilnya langsung keluar untuk menutupi rasa gugupnya sendiri.
"Iya, iya, aku tahu kalau aku ini memang sangat cantik Tuan Vane." olok Alana dengan senyuman mengejek yang lebar. Ia menunjuk ke arah dagu Kenric. "Tapi setidaknya, lap dulu itu air liurmu yang mau menetes. Jangan memandangku sampai ngeces begitu dong!"
Mendengar kalimat Alana, Kenric yang refleks instingnya mendadak tumpul karena terpesona, langsung mengangkat tangan kirinya dan mengelap sudut mulutnya dengan gerakan cepat.
Alana yang melihat kepatuhan konyol sang mafia kelas atas itu seketika meledak dalam tawa yang sangat terbahak-bahak. "HAHAHAHA! Astaga! Kau benar-benar mengelapnya?! Kau percaya kalau kau ngeces?! Hahaha! Lucu sekali wajahmu Tuan Besar!"
Kenric seketika membeku saat menyadari bahwa sudut mulutnya kering dan ia baru saja dikerjai habis-habisan oleh wanita di hadapannya. Wajah tampannya langsung berubah menjadi merah padam karena dongkol dan malu setengah mati.
'Sialan! Kenapa aku mendadak jadi sebodoh ini hanya karena melihat kecantikannya?!' rutuk Kenric di dalam batinnya yang menjerit frustrasi. Karena tidak ingin terlihat jauh lebih bodoh dan kehilangan wibawanya lagi di depan Alana, Kenric langsung berbalik badan dengan kasar.
"Berisik! Cepat jalan!" desis Kenric ketus, lalu melangkah lebar menuruni tangga dengan tergesa-gesa untuk menyembunyikan rasa malunya yang sudah meluber. Alana yang masih tertawa cekikikan hanya bisa menggelengkan kepala, lalu bergegas menyusul langkah lebar sang calon suami tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Singkat cerita, mobil limosin mewah milik Kenric akhirnya berhenti di depan sebuah butik megah bergaya Eropa di pusat kota. Namun, tepat saat mereka hendak melangkah masuk, ponsel di saku jas Kenric berdering. Nama Rey terpampang di layar.
"Kau masuklah terlebih dahulu." ucap Kenric pada Alana, menunjuk ke arah pintu kaca butik yang dijaga ketat. "Katakan pada pelayan di depan bahwa kita sudah membuat pesanan ruangan VVIP atas nama Kenric Vane. Aku harus menerima telepon darurat dari Rey di mobil sejenak."
"Oke, jangan lama-lama ya." sahut Alana santai. Ia memutar tubuhnya, lalu melangkah masuk ke dalam butik mewah tersebut sendirian tanpa didampingi oleh Kenric.
Namun, begitu sepasang sandal flatnya menginjak karpet bulu beludru di dalam butik, atmosfer ramah yang ia harapkan sama sekali tidak ada. Alana menghentikan langkahnya saat menyadari bahwa tiga orang pegawai wanita yang berdiri di dekat konter utama tidak memberikan sambutan hangat, melainkan menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan mata yang penuh dengan cemoohan dan hinaan. Mereka berbisik-bisik dengan raut wajah jijik, menganggap Alana hanyalah gembel yang tersesat karena melihat gaun kain bunga-bunganya yang sangat sederhana.
Bahkan sebelum Alana sempat membuka mulutnya untuk menyebutkan nama pesanan Kenric, salah satu pegawai senior dengan riasan tebal langsung melangkah maju, berdiri angkuh di depan Alana dengan tangan bersedekap dada.
"Maaf Nona." ucap pegawai itu dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan, penuh dengan intimidasi dan penghinaan. "Butik mewah ini hanya diperuntukkan bagi kalangan atas dan kaum aris terpandang. Saya rasa, Nona sudah salah masuk tempat. Nona tidak akan pernah mampu untuk membeli bahkan satu helai baju pun di tempat ini. Jadi, sebelum kami memanggil petugas keamanan untuk menyeretmu, silakan keluar dari sini sekarang juga!"
Mendengar pengusiran yang sangat kasar dan tiba-tiba itu, Alana seketika melongo bodoh di tempatnya berdiri. Ia mengerjapkan matanya, tidak percaya dengan tingkat kesombongan manusia di depannya.
Alana berkacak pinggang, menatap pelayan itu dengan berani. "Jadi... maksudmu, dengan penampilanku yang sekarang, aku sama sekali tidak pantas untuk menginjakkan kaki di dalam butik ini, begitu?"
Pelayan wanita itu langsung mengeluarkan suara dengusan sinis yang sangat kentara. "Cih! Masih bertanya lagi? Lihatlah pakaian sederhanamu yang murahan itu Nona! Jangankan gaun pesta, aku bahkan sangat yakin kalau untuk membayar satu kaus kaki sederhana yang dipajang di sudut sana pun, kamu tidak akan pernah mampu membayarnya!"
Pelayan itu maju satu langkah, menatap Alana dengan pandangan merendahkan yang teramat sangat pekat. "Pakaian-pakaian yang ada di dalam butik ini harganya mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Izin kuberi tahu ya gembel... bahkan jika kamu mengumpulkan seluruh uang hasil kerjamu seumur hidupmu pun, kamu tidak akan pernah sanggup untuk menyentuh kainnya! Jadi tahu diri sedikit, dan angkat kakimu keluar dari butik terhormat ini!"
"ada apa ini?!"
kak semangat trz up nya y...✌️