NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Matahari sore Jakarta mulai meredup, menyisakan semburat garis oranye yang membelah langit di antara gedung-gedung beton. Di dalam apartemen, suasana terasa begitu damai. Bu Rahma baru saja pamit setelah dua jam penuh mengulas teknik penulisan esai kritis. Aku meregangkan kedua tanganku ke atas, menghirup udara dalam-dalam, merasakan kepuasan yang luar biasa. Berkas-berkas latihan soal berserakan di atas meja, namun kali ini, rasa lelahku berbuah manis. Aku merasa otakku kembali dirangsang oleh hal-hal yang benar, bukan oleh ketakutan akan skandal hukum yang melelahkan.

"Ibu Andini, ini teh camomile hangat untuk Anda," ujar Pak Gunawan yang tiba-tiba muncul dari arah dapur, meletakkan secangkir teh porselen di samping laptopku.

"Terima kasih banyak, Pak Gunawan. Bapak selalu tahu kapan aku butuh ketenangan," jawabku tulus sambil tersenyum kecil.

Pak Gunawan mengangguk takzim. "Itu sudah menjadi tugas saya. Pak Charles juga berpesan agar memastikan Anda langsung beristirahat setelah Bu Rahma pulang. Beliau tidak ingin Anda kelelahan."

Mendengar nama Charles disebut, sudut bibirku otomatis terangkat. Perdebatan hebat kami tentang Kak Reyhan kemarin malam justru terasa seperti hujan badai yang membersihkan polusi di udara; setelah reda, segalanya menjadi jauh lebih jernih. Aku tahu sekarang di mana posisiku berada. Aku bukan lagi Andini yang berdiri di bawah pohon mahoni, melainkan Andini yang sedang belajar berjalan di atas lantai marmer di samping Charles Utama.

Namun, di saat aku mulai menemukan ritme kedamaianku, di tempat lain yang tak jauh dari menara apartemen ini, sebuah pusaran baru sedang terbentuk.

Di sebuah kafe kecil yang terletak di sudut kawasan bisnis Sudirman, asap rokok mengepul tipis dari sudut meja dekat jendela. Reyhan duduk di sana, menatap cangkir kopinya yang sudah mendingin hingga menyisakan ampas hitam di dasar gelas. Kemeja flanelnya tampak sedikit kusut, dan lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas bahwa ia tidak melewatkan malamnya dengan tidur yang nyenyak.

Di hadapannya, duduk seorang wanita dengan pakaian formal yang sangat elegan, namun raut wajahnya menyiratkan kepahitan yang mendalam. Vivian Rahardja.

"Jadi, kau adalah pemuda yang diusir oleh Charles kemarin siang?" Vivian membuka percakapan, suaranya rendah namun tajam, seolah sedang menguji mental pria di depannya. Ia menyesap *espresso*-nya perlahan, menatap Reyhan dengan pandangan menilai yang dingin.

Reyhan mendongak, membetulkan letak kacamatanya dengan gugup namun ada kilat kemarahan di matanya. "Saya tidak peduli dengan urusan bisnis Anda dengan Charles Utama, Ibu Vivian. Saya ke sini memenuhi undangan Anda karena Anda bilang Anda tahu cara membebaskan Andini dari... dari pernikahan paksa itu."

Vivian terkekeh pelan, sebuah tawa sinis yang menggema di sudut kafe yang sepi. "Pernikahan paksa? Oh, Tuan Reyhan yang naif. Di mata hukum, Charles sangat cerdik. Dia membungkus semuanya dengan rapi menggunakan wasiat orang tua Andini dan dispensasi pengadilan. Tapi kau benar tentang satu hal: Andini adalah tawanan. Dia hanyalah alat bagi Charles untuk mengamankan posisi CEO-nya di depan dewan direksi dan Kakek Utama."

Vivian condong ke depan, menaruh kedua tangannya di atas meja, menatap Reyhan dengan intensitas yang manipulatif. "Kau tahu apa yang terjadi pada gadis-gadis yang terjebak di duniaku? Mereka akan dihancurkan perlahan-lahan oleh media, dihakimi oleh publik, dan dicampakkan begitu Charles mendapatkan apa yang dia inginkan. Apakah kau mau melihat cinta pertamamu berakhir tragis seperti itu?"

Kepalan tangan Reyhan di atas meja semakin mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. "Andini bilang... Charles melindunginya. Dia membela Charles di depan saya."

"Tentu saja dia membela pria itu!" seru Vivian dengan nada meremehkan yang dibuat-buat. "Gadis tujuh belas tahun yang ketakutan dan tidak punya uang, tiba-tiba diberi apartemen mewah, pakaian mahal, dan janji-janji manis. Itu bukan cinta, Tuan Reyhan. Itu adalah sindrom Stockholm. Dia terhipnotis oleh keamanan semu yang diberikan Charles."

Kata-kata Vivian merasuk ke dalam pikiran Reyhan seperti racun yang bekerja cepat. Ego masa mudanya yang terluka karena penolakan Andini kemarin siang seolah mendapatkan legitimasi. Ia merasa bahwa penolakan Andini bukanlah karena gadis itu mencintai Charles, melainkan karena Andini sedang dicuci otaknya oleh sang penguasa es.

"Lalu, apa yang harus saya lakukan?" tanya Reyhan, suaranya bergetar oleh perpaduan antara rasa cemburu dan keinginan untuk menjadi pahlawan. "Charles memutus kontrak saya dengan yayasan. Saya bahkan tidak bisa mendekati apartemen itu lagi karena penjagaan yang sangat ketat."

Vivian tersenyum penuh kemenangan. Umpannya telah dimakan dengan sempurna oleh pemuda idealis yang buta karena cinta pertama ini. "Charles boleh saja menutup pintu apartemennya, tapi dia tidak bisa menghentikan hukum. Sidang gugatan balikku mengenai eksploitasi anak akan dimulai minggu depan. Aku membutuhkan saksi yang bisa membuktikan bahwa sebelum bertemu Charles, Andini adalah gadis normal yang memiliki masa depan, yang memiliki hubungan emosional yang sehat dengan orang lain—denganmu."

Vivian mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya dan menggesernya ke hadapan Reyhan. "Tuliskan semua cerita masa lalumu dengannya. Puisi-puisi yang kalian tulis, janji-janji yang kalian buat. Buat publik melihat bahwa Charles Utama telah merebut paksa masa depan seorang gadis berbakat dari pelukan cinta pertamanya demi kepentingan bisnis. Jika opini publik berbalik, pengadilan tidak akan punya pilihan selain membatalkan dispensasi pernikahan mereka. Dan saat itu terjadi... Andini akan bebas, dan dia akan kembali kepadamu."

Reyhan menatap dokumen di hadapannya. Di dalam kepalanya, bayangan Andini yang tersenyum di bawah pohon mahoni kembali berputar, kontras dengan bayangan Andini yang berdiri di balik punggung Charles kemarin. Logikanya telah sepenuhnya dikalahkan oleh obsesi romantisnya.

"Saya akan melakukannya," ucap Reyhan tegas, menyambar dokumen tersebut dan memasukkannya ke dalam ransel kanvasnya. "Saya akan membawa Andini pulang ke dunianya yang dulu."

Vivian menyandarkan punggungnya ke kursi, menyembunyikan senyum liciknya di balik cangkir kopi. Di dalam hatinya, ia tertawa melihat betapa mudahnya memanfaatkan pemuda bodoh ini. Ia tidak peduli pada kebahagiaan Reyhan, ataupun keselamatan Andini. Bagi Vivian, Reyhan hanyalah bidak catur baru yang akan ia korbankan untuk menghancurkan benteng pertahanan Charles Utama.

Sementara itu, di dalam mobilnya yang sedang membelah kemacetan Jakarta menuju apartemen, Charles Utama tiba-tiba merasakan firasat buruk yang tidak nyaman. Ia melirik ponselnya, menatap foto Andini yang sedang tersenyum yang sengaja ia simpan sebagai layar kunci. Badai yang ia kira telah usai di ruang rapat direksi, ternyata sedang mempersiapkan pusaran baru yang jauh lebih personal, siap menguji seberapa kuat perisai yang ia bangun untuk melindungi rumah barunya.

1
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!