NovelToon NovelToon
Because Of Music We Met

Because Of Music We Met

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Anak Genius
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.

Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.

Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.

Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.

Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...

Maka pertanyaannya kini adalah...

Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelan-Pelan Saja

Di luar kelas, keenam kakaknya itu saling pandang. Antara ingin marah karena diumpat, atau ingin tertawa melihat wajah cemberut Judika.

Namun mereka semua terkejut bukan main saat mendapati Judika sudah berdiri tegak bersandar di kusen pintu tepat di belakang mereka. Menatap mereka dengan sorot mata tajam dan wajah galak yang dipasang-pasang.

Tapi entah kenapa, bagi keenam kakaknya itu, wajah galak Judika malah terlihat semakin menggemaskan.

"Ngomong-ngomong, mau nyusun rencana apa lagi di belakangku, hah?!" tanya Judika tiba-tiba.

Sontak mereka semua melonjak kaget. "Hehehehe... eh, Dika? Se-sejak kapan kau berdiri di sana?" tanya Hendy yang paling cepat menyadari keberadaannya.

"Sejak sekitar satu tahun yang lalu. Kenapa?" jawab Judika ketus tanpa senyum.

Mereka pun saling pandang, lalu garuk-garuk kepala yang tak gatal karena malu ketahuan sedang mengintai.

"Dasar aneh semua kelakuan kalian," cibir Judika sambil berjalan kembali masuk ke kelas, diikuti oleh keenam kakaknya yang berjalan di belakang seperti anak-anak kecil yang tertangkap basah berbuat kenakalan.

***

[SEKOLAH HARFA]

[DI DALAM KELAS]

Sementara itu, di sekolahnya, Chandra duduk di bangku kelas dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya. Rasanya hati ini penuh sekali dengan kebahagiaan. Perlahan tapi pasti, dia mulai bisa mendekat kembali pada adik kandungnya itu. Dan yang paling membuatnya lega adalah adiknya tak lagi menolak mentah-mentah. Tak lagi memberontak, dan tak lagi bersikap kasar berlebihan seperti pertama kali bertemu.

"Wooi! Eh, Chan! Kok senyum-senyum sendiri dari tadi? Mimpi dapat uang atau apa?"

Teriakkan itu terdengar tepat di depan wajah Chandra. Itu adalah Bima yang datang bersama teman-teman yang lain yaitu Lucas, Surya, Zaky, Xucan, Kevin, Sahil dan Jofan.

PLAAKK..

Tanpa pikir panjang, tangan Chandra langsung mendarat di kening Bima dengan keras.

"Aww! Sakit tahu. Dasar kurus sialan!" adu Bima sambil mengusap keningnya yang merah.

Sementara teman-teman yang lain hanya tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat kebiasaan keduanya yang tak pernah berubah.

"Ada apa sih? Berisik sekali," tanya Chandra santai.

"Yaelah! Malah balik tanya lagi," sahut Lucas sambil duduk di samping Chandra. "Lucas tanya, ada kabar apa? Kau kelihatan bahagia sekali."

"Ah, itu. Aku lagi senang saja," jawab Chandra sambil tersenyum lebar. "Hubunganku sama Judika sedikit demi sedikit mulai membaik."

"Benarkah? Serius kau?!" seru mereka hampir bersamaan. Wajah mereka seketika berbinar gembira.

Semua sahabat Chandra sangat berharap hal ini terjadi. Selama ini mereka tak tega melihat Chandra yang selalu dibenci, dibentak, dan dijauhi oleh adiknya sendiri. Meski mereka sadar betul bahwa ada kesalahan besar di masa lalu yang membuat Judika bersikap demikian.

Namun mereka ingin sekali melihat kedua saudara itu kembali akur dan saling menyayangi.

"Ceritakan dong, Chan! Bagaimana caranya? Apa yang terjadi?" tanya Xucan penasaran.

"Hei, kak! Jangan bilang kau pakai 'pelet' atau mantra biar hati Judika luluh ya?" celetuk Sahil iseng.

TAK!!

"Aduh! Sialan! Kepalaku bisa pecah kalau terus-terusan dipukul begini!" kesal Sahil sambil mengelus ubun-ubunnya.

"Apa? Mau tambah lagi?" ancam Chandra menatap tajam.

"Sudah, sudah! Ayo lanjutkan ceritanya," potong Bima cepat. "Intinya, gimana caranya kau bisa menjinakkan 'kelinci kecil'mu itu, hah?"

Chandra seketika mendengus kesal. "Aish, kau ini. Dia itu adikku, bukan hewan peliharaan atau kelinci!"

"Iya, iya. Tapi kan memang mirip," sahut Bima tak mau kalah. "Lihat saja kalau dia senyum, dua gigi seri depannya itu menonjol banget, persis kelinci. Bukan begitu teman-teman?"

Semua teman tertawa setuju.

"Terserah kau saja mau bilang apa," ucap Chandra mengalah. "Tapi ingat, jangan pernah sebut kata 'kelinci' itu di depan dia. Kalau sampai dia marah besar gara-gara ucapanmu itu. Jangan harap aku mau membela kau sedikit pun."

"Siap, Kapten! Akan kuingat," jawab Bima sembarangan. "Nah, ayo lanjutkan ceritanya."

"Begini, waktu itu Judika sempat tidak pulang ke rumah. Aku mencarinya kemana-mana sampai akhirnya ke markas Harmoni. Di sana aku ketemu Arjuna. Dan Arjuna bilang kalau Judika sedang ada di rumahnya dan berencana menginap beberapa hari. Arjuna juga memberikanku nasihat. Dia bilang aku harus pelan-pelan saja dalam mengambil hatinya."

Chandra berhenti sejenak, senyumnya melebar saat mengingat kejadian itu.

"Kata Arjuna, selama Judika ada di rumahnya, Arjuna dan kakaknya membujuk dia terus. Mereka minta dia untuk perlahan membuka kembali hatinya untukku dan juga untuk Ibu. Dari situ aku dan Ibu mulai berusaha lagi. Kami berikan perhatian, kasih sayang, dan kami minta maaf berulang kali."

"Terus? Hasilnya gimana? Berhasil kan?" tanya Kevin tak sabar.

"Berhasil," jawab Chandra mantap. "Dia tidak lagi menolak saat Ibu mengelus kepalanya. Mencium keningnya, atau memeluknya. Dia juga mau diajak makan bersama kami di meja makan."

"Memang sih nada bicaranya masih ketus, dingin, dan kadang tatapan matanya kalau menatapku dan ibu masih seperti biasa yaitu tajam. Tapi dia tidak lagi menepis tangan kami atau pergi menjauh secepat kilat seperti pertama kali bertemu. Bahkan hari ini, dia mau aku antarkan sampai ke gerbang sekolahnya sendiri."

"Wah, itu kabar yang luar biasa, kak! Kami ikut senang sekali mendengarnya," seru Jofan antusias.

"Iya, Chan. Kami lega sekali rasanya melihat hubungan kalian perlahan membaik," sahut Surya yang diangguki oleh yang lain.

"Tapi..." Lucas menatap Chandra dengan serius. Nada bicaranya berubah lembut namun penuh perhatian. "Aku minta satu hal sama kau, Chan! Apapun yang terjadi nanti. Kau harus tetap sabar ya. Jangan sampai terpancing emosi kalau sikapnya masih berubah-ubah."

"Ingat! Hubungan kalian belum seratus persen pulih. Luka di hatinya pun belum sembuh total. Jangan sampai karena satu kesalahan kecil, kau buat dia terluka lagi."

"Aku setuju sama kak Lucas," sambung Kevin tegas. "Kak Chan harus bisa kendalikan diri, kakak. Kau hanya punya satu adik kandung di dunia ini. Jangan sampai kau sia-siakan dia untuk kedua kalinya. Sekali dia menghilang dari hidupmu, kau takkan pernah punya kesempatan lagi untuk bertemu kembali."

Chandra mengangguk dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca karena tersentuh oleh perhatian sahabat-sahabatnya.

"Tentu saja. Aku janji," jawabnya dengan suara tulus dan penuh semangat. "Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk jadi kakak yang baik buat dia. Aku akan ganti semua waktu dan kasih sayang yang dulu pernah aku sia-siakan darinya."

"Nah, gitu dong semangatnya!" seru Bima menepuk bahu temannya. "Kau pasti bisa, Chan! Dan ingat, kau tak sendirian. Kami selalu ada buat dukung kau. Begitu juga sama Judika. Arjuna dan teman-temannya juga pasti akan selalu ada buat dia, dan bantu dia buat memaafkan kesalahanmu sama Ibumu."

"Terima kasih banyak ya. Terima kasih sudah selalu ada dan perhatian sama kami," ucap Chandra tulus.

Mereka semua hanya tersenyum dan mengangguk hangat. Suasana hangat persahabatan itu tiba-tiba terpecah saat pintu kelas terbuka lebar.

"Selamat pagi, anak-anak!"

"Pagi, Pak!" jawab seluruh murid serentak sambil berdiri hormat.

Yang masuk adalah guru mata pelajaran musik mereka. Beliau tersenyum ramah, lalu berjalan ke depan meja pengajar.

"Begini, anak-anak. Bapak ada kabar sekaligus pesan penting buat kalian. Waktu menuju lomba antar sekolah tinggal satu minggu lagi. Bapak harap persiapan kalian sudah matang semua ya.

"Nah, kebetulan sekali. Sekolah Harmoni High School, sekolah tempat adik teman kalian Chandra itu juga ikut serta dalam perlombaan kali ini."

Beliau berhenti sejenak. Menatap satu per satu muridnya dengan pandangan tajam namun mengingatkan.

"Karena tahu hal itu, Bapak pesan satu hal. Jangan sampai ada keributan atau masalah yang dibuat-buat. Apalagi sampai cari gara-gara sama anak-anak dari sekolah Harmoni. Bapak sudah dengar kabar kalau kalian sering berselisih paham sama mereka. Ingat pesan Bapak ya. Jaga sikap dan sportivitas. Mengerti?!"

"Mengerti, Pak!" jawab mereka serentak dan tegas.

"Bagus. Kalau begitu, mari kita mulai pelajaran hari ini."

***

[SEKOLAH HARMONI HIGH SCHOOL]

[DI DALAM KELAS]

Berbeda dengan suasana tegang pelajaran musik di sekolah Chandra. Di sini Judika justru sedang dikepung rapat oleh keenam kakak angkatnya.

"Kalian ini kenapa sih? Berkerumun seperti semut dapat gula. Sana kembali ke kursi masing-masing!" usir Judika sambil mendorong bahu Arjuna dan Jericko yang paling dekat dengannya.

"Aish, Dika. Kejam sekali mulutmu hari ini," cibir Jericko tak mau beranjak.

"Kejam," ucap Judika.

Judika menatap Jericko. "Lalu yang ngelempariku pake batu, siapa? Hantu? Tuyul? Jangan kakak pikir aku tidak tahu kalau kakak pelakunya," jawab Judika lalu mengalihkan pandangannya menatap ponselnya kembali.

"Hehehe. Sorry, Dika. Habisnya kau serius sekali dengan anakmu sehingga kita semua terasa diabaikan," ejek Jericko.

"Anak?" Judika mengerenyit bingung, lalu mengalihkan pandangannya menatap Jericko.

Jericko mengangguk, lalu menunjuk ponsel Judika menggunakan bibirnya.

Judika yang mengerti pun kembali menatap ponselnya.

"Karena ponselku ini lebih menarik dari pada menatap wajah-wajah jelek kalian, kak!"

Mendengar penuturan dari Judika membuat mereka semua membelalakkan matanya.

"Dasar adik laknat," ucap Arjuna.

"Siluman kelinci kurang ajar."

Saat Hendy, Nathan, Jericko dan Tamma ingin membalas ucapan Judika, tiba-tiba guru datang.

"Selamat pagi anak-anak!"

"Pagi, B!"

Mereka semua kembali duduk di kursi masing-masing.

^^^

[Kantin]

Setelah tiga jam lamanya duduk mendengarkan pelajaran di dalam kelas. Akhirnya waktu istirahat pun tiba. Mereka berjalan beriringan menuju kantin, berniat mengisi perut yang sudah mulai bernyanyi karena kelaparan.

"Dika," panggil Nathan.

"Hm," jawab Judika.

"Tadi kakak melihatmu diantar oleh Chandra. Apa kau sudah berbaikan dengan kakakmu?" ucap dan tanya Nathan.

Seketika Judika terdiam. Dirinya tidak tahu harus menjawab apa. Dirinya benar-benar bingung.

Arjuna yang melihat Judika yang hanya diam saja, lalu menggenggam erat tangan Judika.

"Kakak bahagia melihatmu yang sudah mau sedikit membuka hatimu untuk Chandra, kakakmu. Tidak usah terlalu dipaksakan. Berlahan-lahan saja. Kakak yakin. Lama kelamaan kau pasti akan kembali menjadi adik yang baik untuk kakakmu," ucap Arjuna.

Arjuna sangat tahu bagaimana sifat dan watak Judika. Dirinya yakin bahwa Judika belum sepenuhnya bisa menerima ibu dan kakaknya. Dapat Arjuna lihat dari sorot matanya Judika bahwa adiknya itu belum sepenuhnya memaafkan kesalahan ibu dan kakaknya.

Namun yang membuat Arjuna bangga bahwa Judika melakukan semua itu karena menghormati ucapannya dan kakaknya, Herry.

Sementara untuk Judika. Dia hanya memberikan senyuman pada Arjuna sebagai jawabannya.

1
Himme
Tolong anda jangan egois lagi wahai Chandra.. sudah cukup rasa sakit, kecewa dan kesedihan adik kau itu
sri wahyu
wah ada yg mau adu domba antara judika dan candra ini
whiteblack✴️
apa ada suatu yg akan terjadi di antara Dika / chandra??
cobs Dika punya kekuatan pendamping untuk membantu melawan musuh🤔
whiteblack✴️
suasananya masih damai ...apa ada bertengkar lagi😁...
sri wahyu
benar kata arjuna dika perlahan saja 💪💪💪💪
whiteblack✴️
sepertinya Dika mulai buka lembaran damai ke kakak dan mamanya
sri wahyu
sabar judika mereka semua adalah temen kamu 🤭🤭🤭
sri wahyu
semoga bener dika bisa buka hatinya dan memaafkan ibu dan kakaknya
sri wahyu: ia kak semoga aja kakaknya judika memang sudah bener2 tau salahnya dimana
total 2 replies
whiteblack✴️
apa Dika mulai buka hatinya untuk damai...akan lebih baik...terus mengejar cinta ya dika
sri wahyu
judika masih perang dengan batinnya sendiri pelan pelan saja
whiteblack✴️
hati Dika masih tertutup rapat... apa masih proses menerimaan..
sri wahyu
pelan2 saja judika jangan terburu buru
sri wahyu
pecah sudah tangisku di bab ini kak,,,, mendengar cerita judika
sri wahyu
baru baca 4 bab aq dah mau nangis kak💪💪💪👍👍👍
sri wahyu
cerita baru ya kak
whiteblack✴️
Dika masih perang ego nya😤
Himme
Ada yang mau bantu nonjok si Chandra... sungguh bikin emosi banget. Nggak sadar diri💢/Speechless/
whiteblack✴️
sahil loe ya...enggak ngerti suasana serius...tadi ngomong serius..biar chandra itu sadar mala..di ajak bercanda..😒
whiteblack✴️
sepertinya butuh waktu lama..Dika berdamai ..apa lagi punya kakak emosian suka maen tangan pula😒
Himme
Taukan kenapa Judika sulit memberikan maaf pada ibu dan kakaknya tapi mereka berdua aja yg egois/Wilt//Grievance/
Sandra Yandra: benar sekali.
Egois nya adalah mereka tidak mau memaafkan dan memberikan kesempatan kepada suaminya/ayahnya. Sementara mereka terus mendesak Judika untuk memaafkan mereka.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!