NovelToon NovelToon
Dunia Angkasa

Dunia Angkasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.

Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.

Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?

Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teddy Bear dan Buket Bunga Layu: Ditinggalkan dan Kesepian

Senin pagi awal bulan Mei cukup cerah. Beberapa hari ini cuaca memang lumayan panas. Nia sudah bersiap berangkat ke kampus dengan kemeja putih oversized yang dipadukan dengan celana denim wide leg dan sneakers putih. Rambutnya digulung sembarangan, membuatnya terlihat ceria dan segar.

Nia terkejut melihat Angkasa sudah menunggu di depan gerbang kosnya. Pak Rahmat terlihat tersenyum melihat Nia berjalan ke arah gerbang.

"Naaah... ini dia yang ditunggu-tunggu," kata Pak Rahmat.

"Pagi, Pak," sapa Nia ramah.

"Pagi, Mbak Nia," balas Pak Rahmat ramah.

"Ditungguin ojeknya, Mbak," goda Pak Rahmat. Nia hanya tersenyum.

"Ke kampus dulu ya, Pak," pamit Nia.

"Siap, Mbak Nia. Ati-ati," kata Pak Rahmat.

Nia keluar gerbang kos disambut uluran helm dari Angkasa.

"Udah lama?" tanya Nia pada Angkasa sambil menerima helm dari Angkasa.

"Mungkin," jawab Angkasa dingin seperti biasa.

Nia tersenyum sambil memakai helm lalu naik ke motor Angkasa. Angkasa melajukan motornya perlahan menuju kampus.

Tak lama, motor Angkasa sudah terparkir di area parkir FSRD. Nia turun dari motor Angkasa. Angkasa dengan sigap membantu melepas helm Nia. Entah mengapa, Nia masih saja selalu merasa berdebar-debar saat Angkasa melepaskan helm yang dipakainya.

"Dunia?" Bumi melihat pemandangan yang sudah mematahkan hatinya sepagi itu.

"Eh? Bumi," sapa Nia ramah. Angkasa berdiri di samping Nia dengan tatapan datar dan dingin ke arah Bumi.

"Jadi... udah ada yang anter setiap hari nih?" goda Bumi pada Nia, kikuk. Nia tersenyum.

"Kalo udah mau pulang, chat. Aku jemput," kata Angkasa.

"Eh? Nggak usah. Aku bisa..."

"Aku jemput," kata Angkasa dingin sambil menatap Nia. Nia menaikkan kedua alisnya.

"Oke," jawab Nia sambil tersenyum kikuk.

Angkasa kemudian menaiki motornya dan pergi meninggalkan Fakultas Sastra. Bumi berjalan mendekat ke arah Nia.

"Kamu beneran tunangan sama dia?" tanya Bumi memastikan. Nia mengangguk.

"Kamu mau dijodohin sama es batu?" tanya Bumi. Nia menoleh, menatap Bumi sambil menahan tawa.

"Es batu ya? Aku pikir dia Kutub Utara," kata Nia sambil terkekeh kecil.

"Harusnya sih namanya Kutub Utara bukan Angkasa," celetuk Bumi, membuta Nia tertawa kecil.

"Seru banget? Ngomongin apa?" tanya Rasi yang baru saja bergabung.

"Kutub Utara," jawab Bumi.

"Hah? Kutub Utara? Kenapa Kutub Utara? Mencair?" tanya Rasi bingung.

"Dunia mau nikah sama Kutub Utara," jawab Bumi sambil berlalu menuju studio. Rasi menatap Nia dengan tatapan bingung. Nia hanya tersenyum.

"Eh, gue liat Angkasa tadi keluar dari fakultas kita. Abis ketemu lo sepagi ini?" tanya Rasi.

"Nganter, Rasi," jawab Nia.

"Hah? Nganter? Jadi protektif gitu?" tanya Rasi heran. Nia menaikkan kedua bahunya, tak ingin menceritakan alasan sebenarnya Angkasa menjadi begitu protektif.

"Mungkin karena disuruh mamanya," kata Nia sambil berjalan menuju studio. Rasi mengikuti Nia.

"Dia termasuk anak yang penurut ya ternyata?" komentar Rasi.

"Bagaimanapun, untuk anak asuh seperti kami, menurut adalah bentuk terimakasih kepada orangtua asuh kami," kata Nia dengan nada lirih. Rasi manggut-manggut.

Nia dan Rasi memasuki studio dengan tatapan penuh rasa penasaran pada sebuah benda yang ditutup kain hitam di depan studio. Perkuliahan Seni Lukis Alam Benda memang selalu memberikan kejutan tak terduga di setiap sesinya.

Nia dan Rasi segera duduk di dekat Bumi yang sudah menyiapkan alat lukisnya. Bu Indah terlihat memasuki ruangan dengan senyum terkembang.

"Pagi," sapa Bu Indah.

"Pagi,"

"Untuk kuliah hari ini, beruntung sekali bisa menggunakan jam mata kuliah Sejarah Seni Rupa Indonesia karena kebetulan Pak Roni sedang ada tugas keluar kota," kata Bu Indah membuka perkuliahannya pagi itu.

"Oke, langsung saja, untuk kuliah hari ini, kita akan melukis..." kata Bu Indah lalu membuka kain hitam penutup objek di sampingnya. Semua mahasiswa terkejut saat melihat objek lukis mereka.

"Agak-agak serem yaa? Makanya saya pengen pindah jam pagi yang pencahayaannya bagus," kata Bu Indah sambil terkekeh.

"Oke. Fokus kita kali ini pada pencahayaan satu arah yang akan memberi kesan dramatis pada objek kita kali ini," jelas Bu Indah. Para mahasiswa terlihat manggut-manggut.

"Bisa dimulai ya. Silakan," kata Bu Indah lalu menggeser sedikit objek ke tempat yang terkena sinar matahari masuk.

Para mahasiswa terlihat mengamati objek lukis mereka dengan seksama. Beberapa ada yang bergidik saat melihatnya. Bukan sesuatu yang mengerikan sebenarnya —sebuah boneka teddy bear besar berwarna putih lusuh dengan pita dan mata yang sudah rusak sedang memangku sebuah buket bunga mawar yang sudah layu—, hanya memberikan kesan menyedihkan dan sengsara.

Beberapa mahasiswa sudah terlihat membuat sketsa dasar. Nia juga sudah menggoreskan pensilnya di atas kanvas membentuk sketsa teddy bear yang terlihat kesepian. Rasi terlihat sedang menghapus sketsanya berulang kali, merasakan sesuatu yang kurang terasa pada gambarnya. Bumi terlihat sedang mencampur warna abu kehijauan di paletnya, membuat warna yang pas untuk memberi kesan 'mati' pada bulu teddy bear.

Bu Indah berjalan perlahan mengitari mahasiswanya satu per satu, mengamati hasil karya mereka dan memberi masukan untuk bagian-bagian yang kurang 'hidup'.

"Jangan hanya melukis bentuknya," kata Bu Indah pelan.

"Lukis apa yang terasa dari boneka itu," lanjut Bu Indah.

Beberapa mahasiswa kembali menatap boneka teddy di dekat jendela itu, mencoba menangkap kesan yang ada padanya. Nia masih terus menggoreskan pensilnya. Dia tahu pasti garis-garis yang membentuk kesedihan itu diletakkan. Arsiran-arsiran menambah kesan kesepian akibat ditelantarkan. Perasaan seperti itu adalah perasaan yang sejak kecil Nia rasakan.

Bu Indah berdiri di belakang Nia. Seulas senyum tersungging di bibirnya saat menatap sketsa Nia.

"Kamu bisa lanjut pewarnaan," kata Bu Indah pada Nia. Nia mengangguk dan tersenyum.

"Baik, Bu," kata Nia.

Bumi terlihat sudah menyapukan kuas di atas kanvasnya. Warna-warna gelap terlihat mewarnai kanvas Bumi. Rasi terlihat masih sibuk dengan sketsanya dibantu masukan dari Bu Indah untuk lebih menghidupkan kesan sedih pada gambarnya.

"Kamu bisa tambahkan warna gelap di bagian ini saat pewarnaan," kata Bu Indah pada Rasi sambil menunjuk bagian yang perlu Rasi beri penekanan warna gelap. Rasi mengangguk paham.

Menit demi menit berlalu. Para mahasiswa terlihat sudah melakukan pewarnaan. Beberapa di antara mereka terlihat membandingkan lukisan mereka dengan objek lalu kembali memulaskan kuasnya pada bagian yang dirasa kurang.

Nia terlihat sudah melakukan finishing. Nia mulai memberi highlight pada mata dan pita teddy bear serta melakukan dry brush pada bulu teddy bear, podium kayu, dan juga kelopak mawar kering, memberi kesan rapuh dan usang pada lukisannya.

Nia mundur beberapa langkah. Ditatapnya hasil lukisannya itu. Perasaan sedih menjalar dalam hatinya.

'Sungguh menyedihkan ditinggal sendirian,'

***

1
Vivi Zenidar
merasa sepi di keramaian
Vivi Zenidar
sedih banget jadi Nia
Nanaiko
Yaa Allah.. ada-ada aja cobaan hidup..
Vivi Zenidar
semoga Nia ada yg menolong... jangan sampai ternodai
Vivi Zenidar
kasihan nasib anak anak panti
Vivi Zenidar
sedihh
Purnamanisa: disclaimer: ini memang kisahnya agak2 sedih gt kak 😅😅
total 1 replies
Vivi Zenidar
Baru baca langsung suka
Purnamanisa: makasih kakak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Nah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ang..
Nanaiko
Cowok emang kek gitu, Nia.. nih disini juga ada. Katanya suruh jangan nunggu, suruh cari yang lain.. giliran nomor WA nya diblok, eh malah dilamar. 😅
Purnamanisa: ditarik ulur kek layang-layang ya kak? 😅😅
total 1 replies
Wawan
Hadir
Purnamanisa: makasih kak 😊😊
total 1 replies
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi
Nanaiko
ihiiiiiiirrrr🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!