SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Pagar Putih
Malam Minggu kali ini terasa sangat berbeda. Di saat biasanya Aruna berkutat dengan diktat Biologi, kini ia berada di ruang tengah rumah Lulu yang luas.
Orang tua Lulu sedang pergi ke luar kota selama dua hari, memberikan kekuasaan penuh bagi geng mereka untuk menguasai rumah itu. Aroma masakan dari dapur hasil eksperimen Sasha yang sedikit gosong bercampur dengan suara musik yang berdentum dari speaker besar.
Sasha sedang asyik memoles kuku kaki Jelita dengan warna merah menyala, sementara Lulu duduk dengan tenang sambil mengamati teman-temannya. Aruna baru saja keluar dari kolam renang, rambutnya yang basah dibalut handuk, wajahnya nampak segar namun ada binar kebimbangan yang sulit disembunyikan.
"Gila ya, gado-gado buatan Sasha rasanya kayak dendam yang tak terbalaskan," celetuk Jelita sambil meringis menatap piringnya.
"Eh, yang penting gue udah usaha! Daripada lo, cuma bisa karate doang, motong bawang aja kayak mau ngajak berantem," balas Sasha sewot, yang langsung disambut tawa oleh mereka semua.
Setelah sesi makan-makan yang penuh kekacauan dan mandi di kolam renang hingga menggigil, mereka berkumpul di atas karpet bulu yang empuk. Sasha meletakkan botol kuteknya, menatap Aruna dengan mata yang berbinar penuh selidik.
"Oke, mumpung kita lagi santai, Na, coba jujur sama kita. Gimana perkembangan hati lo? Pilih Kak Adrian yang makin asyik, atau tetep nungguin Aska yang sekarang kayak hantu?"
Aruna menghela napas panjang, ia memeluk bantal sofa erat-erat. "Apaan sih? Orang kita semua temenan kok, nggak ada perasaan apa-apa yang gimana-gimana," elaknya, meski rona merah di pipinya berkata lain.
"Tapi jujur ya, gue bingung sama diri gue sendiri," lanjut Aruna pelan. "Di satu sisi, gue kangen banget sama Aska yang kayak dulu. Dia yang pertama kali bikin gue sadar kalau gue manusia, bukan robot yang harus selalu belajar atau kaku terus. Dia yang bikin gue berani keluar dari zona nyaman. Tapi sekarang, gue sadar dia lagi berjuang di kerasnya aspal karena butuh uang buat pengobatan orang tuanya. Dia jarang kelihatan, dan itu bikin gue merasa... hampa."
Aruna menatap air kolam renang di luar yang tenang. "Tapi di sisi lain, Kak Adrian berubah banyak. Dia sekarang lancar banget kalau ngajak gue jalan, seru, dan pinter banget nyeimbangin antara belajar sama senang-senang. Gue nyaman sama dia sekarang, nggak sekaku dulu."
Sasha langsung menimpali, "Ya wajar dong, Na. Lo butuh yang pasti. Kak Adrian itu nyata, dia ada di depan mata lo, dia jemput lo pakai mobil bersih, dia kasih kenyamanan. Setidaknya Kak Adrian menunjukkan keberadaannya di saat lo lagi merasa sepi."
Jelita yang sedari tadi diam, tiba-tiba memperbaiki posisi duduknya. Sorot matanya yang biasanya garang kini terlihat lebih serius. "Gue setuju sama Sasha soal kenyamanan. Tapi Na, lo juga harus inget. Aska itu lagi berada di masa-masa tersulit dalam hidupnya. Ibunya sakit-sakitan, dia harus jadi tulang punggung."
Jelita menatap Aruna tajam. "Jangan cuma karena Kak Adrian lagi rajin muncul dan asyik, lo langsung lupa siapa yang dulu nemenin lo pas lo tertekan banget sama ambisi sekolah lo. Aska itu yang bikin lo berubah, yang bikin lo bahagia pas lo merasa kaku kayak robot. Harusnya lo juga nemenin dia di saat dia terpuruk kayak gini, bukan malah menjauh atau bingung sendiri."
Lulu yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia, akhirnya membuka suara. Suaranya pelan namun sanggup membungkam ruangan itu. "Na, persahabatan atau cinta itu bukan cuma tentang siapa yang ada saat kita senang. Kamu harus inget, meskipun dia sibuk, kamu juga harus usaha buat membantu dia. Jangan cuma nunggu dikabari, tapi coba kamu yang kasih dukungan nyata buat dia."
Aruna menunduk, hatinya terasa seperti diremas. Kalimat Lulu menghujam tepat di pusat rasa bersalahnya. Ia merasa seperti sedang berdiri di persimpangan jalan yang tertutup kabut. Ia merindukan kegilaan Aska, tapi ia juga menikmati kenyamanan yang diberikan Adrian.
"Terserah lo mau pilih siapa, Na," ucap Sasha sambil menguap. "Tapi jangan sampe lo nyesel belakangan. Kak Adrian itu emang pangeran, tapi lo harus inget siapa yang bikin lo bisa ketawa lepas kayak sekarang."
Malam itu, di tengah kemewahan rumah Lulu, Aruna akhirnya terdiam. Ia menyadari satu hal; kenyamanan yang ditawarkan Adrian memang sangat menggoda, namun keberanian yang ia miliki sekarang untuk merasakan emosi adalah warisan dari Askara Mahendra.
Aruna merasa ia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam keterpurukan Aska. Ia harus melakukan sesuatu, seberapa pun kecilnya itu, untuk menunjukkan bahwa ia masih ada di sana, di sisi aspal yang sama dengan cowok yang sedang berjuang itu.
perasaan bacaku sdah pelan"🤭tapi kok masih kurang ya
nyesek didada rasanya
lanjut thor
👍🏻