Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Bayangan di Tanjung Perak
20 Juni 1931. Pukul 06.00 waktu Surabaya.
Stasiun Gubeng.
Uap putih mengepul dari cerobong lokomotif hitam Eendaagsche Express yang siap berangkat menuju Batavia. Peluit panjang berbunyi, membelah udara pagi yang dingin.
Arya berdiri di peron, menatap sosok Sarsinah yang duduk di dekat jendela gerbong kelas tiga.
Tidak ada kata-kata manis. Hanya anggukan pelan.
Sarsinah menempelkan telapak tangannya ke kaca jendela. Arya membalasnya dari luar.
"Hati-hati, Nah," bisik Arya.
Kereta mulai bergerak perlahan. Roda besi berdecit. Wajah Sarsinah perlahan menjauh, membawa serta masa lalu Arya yang terakhir. Wanita itu menepati janjinya: dia pulang untuk menempuh takdirnya sendiri, meninggalkan Arya di medan perangnya.
Arya berdiri mematung sampai kereta itu hilang di tikungan. Dia merasa separuh hatinya kosong, tapi separuh lagi—bagian yang bertahan hidup—merasa lega.
Sekarang dia kembali sendiri. Hantu tanpa beban.
Dia membetulkan letak topinya, meraba pistol FN Browning yang terselip di pinggangnya (dia membawanya lagi setelah mengambilnya dari persembunyian di bawah lantai kos), lalu berjalan keluar stasiun.
Dia harus bekerja. Kapal kargo dari Makassar baru sandar. Miko si kuli panggul tidak boleh terlambat.
20 Juni 2025. Pukul 10.00 WIB.
Kamar Hotel Majapahit, Surabaya.
Alina tidak bisa tidur semalaman. Dia terus memantau pergerakan mesin tik lewat aplikasi di ponselnya, takut kalau-kalau ada pesan darurat.
Pagi ini, dia memutuskan untuk mengecek arsip koran lagi. Dia ingin memastikan Sarsinah benar-benar pulang dan tidak ada berita penangkapan "Miko".
Namun, saat dia menelusuri berita kriminal di koran Soerabaijasch Handelsblad edisi sore tanggal 21 Juni 1931 (besok di masa lalu), matanya menangkap sebuah berita kecil di halaman pojok bawah.
> LIJK IN DE KALIMAS
> (Mayat di Kalimas)
> "Sesosok mayat pria tak dikenal ditemukan mengapung di Sungai Kalimas, dekat Jembatan Merah, pagi ini. Kondisi mayat mengenaskan dengan luka tusuk dan tembak. Ciri-ciri khusus: Pria tersebut hanya memiliki satu mata."
>
Alina ternganga. Dia menutup mulutnya dengan tangan.
Satu mata.
"Si Mata Satu..." desis Alina. "Dia mati di Surabaya."
Itu artinya... Arya membunuhnya?
Jika berita itu terbit tanggal 21 Juni pagi, berarti kejadiannya adalah tanggal 20 Juni malam. Malam ini (di masa lalu).
Alina melirik jam. Di tahun 1931, sekarang masih siang. Arya masih bekerja di pelabuhan. Si Mata Satu mungkin baru saja turun dari kapal, sedang mengintai mangsanya.
Pertarungan itu akan terjadi beberapa jam lagi.
Alina segera membuka aplikasi mesin tiknya. Dia harus memperingatkan Arya. Dia harus memberitahunya bahwa musuhnya sudah ada di kota yang sama.
> Arya! Siaga satu!
> Si Mata Satu ada di Surabaya!
> Sejarah mencatat mayatnya ditemukan besok pagi di Kalimas.
> Itu artinya kau akan bertarung dengannya malam ini!
> Jangan lengah! Dia pasti mengintaimu di pelabuhan!
>
20 Juni 1931. Pukul 14.00 waktu Surabaya.
Gudang 4, Pelabuhan Tanjung Perak.
Arya sedang mengangkat peti kayu berisi teh, ketika dia merasakan getaran di saku celananya. Bukan HP, tapi instingnya yang tiba-tiba berteriak. Dia merasa diawasi.
Bulu kuduk di tengkuknya berdiri.
Arya meletakkan peti itu perlahan. Dia pura-pura menyeka keringat, sambil matanya menyapu sekeliling dermaga yang sibuk.
Ratusan kuli. Mandor-mandor Belanda. Pedagang asongan.
Dan di sana... di balik tumpukan drum minyak... ada kilatan cahaya.
Bukan kilatan kamera. Tapi kilatan pantulan matahari pada lensa teropong. Atau mungkin... mata pisau.
Arya tidak menunggu. Dia menyelinap di antara tumpukan karung goni, bergerak menuju kantor mandor yang kosong untuk mengecek mesin tiknya (dia selalu membawa mesin tik itu ke tempat kerja dan menyembunyikannya di loker mandor yang dia sogok, karena takut meninggalkannya di kosan).
Dia melihat kertas yang sudah terisi tulisan Alina.
Si Mata Satu ada di Surabaya.
Bertarung malam ini.
"Bajingan," umpat Arya. Van Heutz bergerak cepat.
Arya mengambil mesin tiknya, memasukkannya ke dalam tas goni jelek agar tidak mencolok. Dia tidak bisa pulang ke kosan Ampel. Itu tempat pertama yang akan didatangi pembunuh itu.
Dia harus menjebak si pembunuh di tempat yang dia kuasai.
Arya mengeluarkan pistol FN Browning-nya, mengecek magasin. Enam peluru.
"Baiklah," gumam Arya, matanya dingin di balik kacamata Miko. "Kau mau mayat, Jampang? Aku kasih mayat."
Arya keluar dari gudang, sengaja berjalan agak lambat di area terbuka, memancing penguntitnya. Dia berjalan menuju area Kalimas, sungai yang membelah kota tua Surabaya. Di sana ada gudang-gudang tua yang sepi dan lorong-lorong sempit.
Dia merasakan langkah kaki berat mengikutinya.
Arya berbelok masuk ke sebuah lorong buntu di antara dua gudang rempah yang tutup. Dia meletakkan tas mesin tiknya di balik tong sampah, lalu bersembunyi di balik bayangan pilar.
Hening.
Tap. Tap. Tap.
Suara sepatu bot kulit ular di atas paving basah.
Sosok kekar itu muncul di mulut lorong. Topi laken. Satu mata tertutup kain hitam. Pisau belati di tangan kanan.
"Keluar, Raden Mas," suara Jampang serak dan menggema. "Gue tahu lu di situ. Bau keringat priyayi lu beda sama kuli."
Arya menahan napas, menggenggam pistolnya yang licin oleh keringat.
"Gue kagum lu bisa nipu Van Heutz pake darah kambing di Ancol," lanjut Jampang sambil melangkah maju pelan-pelan. "Tapi mata gue yang satu ini lebih tajem dari mata orang normal. Gue liat lu di Jembatan Merah kemarin. Gue liat lu sama cewek itu."
Arya menggeram dalam hati. Sarsinah. Kecerobohan kemarin benar-benar membawa maut.
"Keluar, Arya! Atau gue susul cewek lu di kereta!"
Ancaman itu membuat darah Arya mendidih.
Arya melangkah keluar dari bayangan, pistol teracung lurus.
"Jangan sentuh dia," kata Arya dingin.
Jampang tertawa meremehkan melihat pistol di tangan Arya. "Wih, penulis megang pestol. Bisa makenya, Den? Jangan-jangan meledak di tangan."
Jampang tiba-tiba melempar pisau belatinya dengan kecepatan kilat.
WUSH!
Pisau itu melayang ke arah kepala Arya.
Arya menghindar refleks, tapi pisau itu menggores pipinya. Darah menetes.
Memanfaatkan momen itu, Jampang menerjang maju seperti banteng. Dia menubruk Arya hingga keduanya jatuh berguling di tanah berlumpur.
Pistol Arya terlempar jauh.
Kini adu fisik.
Jampang jauh lebih kuat. Dia mencekik leher Arya dengan lengan kekarnya.
"Mati lu! Mati!"
Arya meronta, memukul wajah Jampang, tapi sia-sia. Oksigen di parunya menipis. Pemandangan mulai gelap.
Dia teringat latihan napasnya di gentong air. Jangan panik. Fokus.
Tangan Arya meraba-raba tanah. Jarinya menyentuh sesuatu yang keras. Pecahan botol beling.
Dengan sisa tenaga terakhir, Arya menghantamkan pecahan botol itu ke sisi wajah Jampang—ke mata yang tersisa.
"AAAARGH!" Jampang meraung, melepaskan cekikannya, menutupi matanya yang berdarah. Kini dia buta total.
Arya terbatuk-batuk, merangkak menjauh. Dia melihat pistolnya tergeletak dua meter di depan.
Jampang mengamuk membabi buta, mengayunkan tinjunya ke udara kosong. "Gue bunuh lu! Gue bunuh lu!"
Arya memungut pistolnya. Tangannya gemetar hebat. Dia belum pernah membunuh orang.
Jampang mendengar suara kokang pistol. Dia berhenti bergerak, napasnya memburu, darah mengucur dari matanya.
"Tembak gue, Den," tantang Jampang sambil menyeringai mengerikan. "Kalo lu nggak tembak, gue bakal hantui lu sampe neraka."
Dia berlari menerjang ke arah suara Arya.
DOR!
Suara letusan memecah kesunyian Kalimas. Burung-burung gagak terbang kaget.
Jampang terhenti. Ada lubang merah di dadanya. Dia menatap kosong ke arah Arya, lalu ambruk ke tanah. Mati.
Arya berdiri mematung. Asap tipis keluar dari ujung pistolnya. Telinganya berdenging.
Dia baru saja membunuh manusia.
Dia muntah. Isi perutnya keluar semua di pinggir sungai. Tubuhnya gemetar tak terkendali.
"Maafkan saya, Tuhan... Maafkan saya..."
Tapi kemudian dia teringat wajah Van Heutz. Dia teringat Sarsinah. Dia teringat Alina.
Ini bukan pembunuhan. Ini pertahanan hidup.
Arya menyeret mayat Jampang yang berat itu ke pinggir sungai. Dia mendorongnya jatuh ke air keruh Kalimas.
BYUR.
Mayat itu tenggelam, lalu mengapung perlahan, hanyut menuju muara. Sejarah besok pagi akan mencatat penemuan mayat itu.
Arya mengambil tas mesin tiknya. Dia membersihkan sidik jarinya di pistol, lalu melempar pistol itu juga ke sungai. Dia tidak butuh senjata itu lagi. Tangannya sudah cukup kotor.
Dia berjalan tertatih-tatih meninggalkan lorong itu.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
coba Alina liat sejarah apakah Miko akhirnya tertangkap simata satu?
semoga besok clear tidak ada tersangka buat jadi pesakitan di ruang sidang.
van heuttz, ....sekarang gemetar lah di ruang yang dingin tapi membara karana emosi dan takut😄
Nyawa seolah dalam genggaman penjahat.
Damai sekejap, lepas beban berat
tapi belati dan peluru kembali mengintai.
Jika cinta butuh pengorbanan,semua telah berkorban.
Mengalah
Melepaskan
Merelakan dalam keikhlasan.
Bertahan walau hidup serasa di parit busuk.
Melindungi sekeping hati dari duka.
Menjaga dan mencoba memperpanjang kontrak hidup
mati-matian mencari jalan keluar
Pontang- panting dengan akses masa depan yang canggih
semoga kali ini bisa lolos lagi dari si mata satu
mau marah ke orang yang sedang kasmaran itu kog yo ndak tega😄.
cinta kadang membuat orang bodoh dan ahh ...sudahlah.
Sarsinah, terimakasih berkat kenekatanmu mesin itu kembali bertemu pemiliknya.
Bagaimana rasanya jika nanti kamu ikut membaca semua kata cinta Arya untuk Alina?
mungkin nanti ini jalan keluar terbaik, meski harus babak belur hatimu Sarsinah.
Lanjutkan sejarah bahwa kau bahagia dengan Sudiro, punya putra putri dan cucu.
Yakinlah kebahagiaan itu di ciptakan sarsinah ,bukan datang sendiri.
doktrin dirimu, doktrin otakmu bahwa kau akan bahagia meski awal berlayar akan banyak ombaknya
masa lalu yang tua tak mau mengalah begitu saja.
masa depan yang muda ngotot mempertahankan sesuatu yang ghoib.
Cinta memang suatu kekuatan maha dahsyat.
Beruntungnya Arya di cintai dua wanita cerdas di masanya.
Atas dasar cinta ,tindakan kecil menimbulkan kecerobohan.
kecurigaan dan rasa yang masih membara mencoba mencari jawaban.
Semoga perang rasa ini ,tidak membunuh ketiganya dalam kehampaan .
kehancuran dan terbongkarnya kedok "mati" ala Arya dan di sutradarai Alina🤣
hayooo kira2 dengan cara apa supaya alur sejarah tidak berubah drastis dan masih berjalan di rel yang benar.
kerinduan yang terasa hendak berkarat.
naluri perempuan yang kadang terkesan hebat.
Yang tercinta ,susah payah menyembunyikan identitas.
Yang mencinta kalang kabut mencari cara untuk bisa berkomunikasi.
Bertemu dengan beban yang mencuat
rindu yang terpaksa di padam kan ,demi sebuah hati yang lain.
kerumitan baru segera muncul ,apakah alina rela memberitahu sarsinah bahwa arya masih hidup??
menunggu kelanjutannya thor
hidup berjalan sesuai realita, menikah ,punya anak cucu dan bahagia di usia senja adalah impian semua makhluk hidup, termasuk Arya sekalipun mungkin tak dapat bersama .
bagaimana jadinya kalau ,si mata satu tidak membunuh dengan menembak? tapi menikam dengan belati tajam dan berkarat? terjadi tetanus justru akan efektif mencabut nyawa ...
Meski rumit tapi semangat lah mengobrak abrik takdir yang coba kalian lawan. ..
semoga takdir mau berbaik hati ,membelokkan sekian detik nasib Raden mas Arya ...
dan jalinan lintas dimensi ini ikut abadi di abad beda