NovelToon NovelToon
Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Utara

Fajar menyingsing di atas Pegunungan Kabut. Cahaya matahari pagi yang pucat berjuang menembus tebalnya uap air yang menyelimuti hutan, menciptakan pilar-pilar cahaya Tyndall yang mistis di antara pepohonan raksasa.

Di tepi sungai berbatu tempat Yang Chen berlatih semalam, pemandangan yang tersaji sangatlah kacau.

Tanah di sekitar tempat Yang Chen berdiri telah hancur berantakan. Rumput-rumput liar tercabut sampai ke akarnya. Lumpur basah terciprat ke mana-mana, menempel di batang pohon dan batu-batu kali.

Yang paling mencolok adalah sebuah pohon pinus tua berdiameter setengah meter yang berdiri miring di pinggir sungai. Di batang pohon itu, terdapat sebuah luka bacok horizontal yang sangat dalam—hampir membelah batang pohon itu menjadi dua.

Yang Chen berdiri di depan pohon itu, napasnya teratur dan tenang.

Keringat membasahi seluruh tubuh Yang Chen, membuat jubah hitam yang dikenakannya menempel ketat pada otot-otot yang baru terbentuk. Di tangan kanan Yang Chen, Kapak Besar milik bandit Si Botak tergenggam erat. Bilah kapak itu, yang kemarin masih tumpul dan berkarat, kini terlihat mengkilap di bagian mata tajamnya—hasil dari ribuan kali ayunan yang menghantam kayu keras semalam suntuk.

"Teknik Dasar Kapak: Tanah Runtuh... Tingkat Penguasaan Awal," gumam Yang Chen, mengevaluasi hasil kerjanya.

Yang Chen menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. Tubuh Zhao Wei ini terasa pegal luar biasa, setiap serat otot menjerit minta istirahat. Namun, di balik rasa pegal itu, Yang Chen merasakan aliran tenaga yang padat dan stabil. Dantian Buatan di perut Yang Chen berputar pelan, memompa Earth Qi untuk memulihkan stamina secara konstan.

"Waktunya kembali," putus Yang Chen.

Yang Chen tidak bisa tinggal di hutan selamanya. Yang Chen butuh uang untuk membeli ramuan pelengkap kultivasi, dan Yang Chen butuh tempat aman untuk merencanakan langkah selanjutnya.

Yang Chen mulai membereskan barang-barang jarahan dan hasil buruan.

Pertama, Yang Chen mengambil dua batang taring Babi Hutan Besi yang telah dicabut paksa dari rahang bangkai monster itu. Taring itu panjang, melengkung, dan berat, berwarna putih kekuningan seperti gading tua. Ini adalah bahan berharga untuk membuat senjata atau artefak.

Kedua, gulungan kulit Babi Hutan Besi. Kulit yang keras seperti ban bekas itu sudah dikeringkan seadanya di atas sisa api unggun semalam. Baunya sedikit hangus, tapi nilai jualnya tetap tinggi bagi pengrajin zirah.

Ketiga, kantong uang dan senjata rampasan dari para bandit (kapak besar yang sedang dipegang Yang Chen, dan pedang pendek milik bandit kurus yang diselipkan di pinggang).

Yang Chen mengikat semua barang itu menjadi satu buntalan besar menggunakan tali tanaman merambat yang ulet.

Buntalan itu beratnya hampir tiga puluh kilogram. Ditambah berat kapak lima belas kilogram.

Yang Chen mengangkat beban total empat puluh lima kilogram itu ke bahunya tanpa mengerang. Kaki Yang Chen menancap kokoh di tanah. Beban yang kemarin mungkin akan mematahkan tulang punggung Zhao Wei, kini hanya terasa seperti tas punggung biasa bagi Yang Chen.

Yang Chen mulai berjalan meninggalkan gua persembunyiannya.

Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Yang Chen tidak lagi berjalan mengendap-endap. Dengan aura Body Tempering Tingkat 3 Puncak yang memancar samar dari tubuh Yang Chen, hewan-hewan predator kecil seperti serigala hutan atau ular pohon memilih untuk menyingkir dari jalur Yang Chen.

Satu jam kemudian, tembok tinggi Kota Ironforge mulai terlihat di kejauhan.

Gerbang Utara pagi ini sangat ramai.

Ratusan pemburu, pengumpul tanaman obat, dan pedagang keliling antre untuk masuk. Kebanyakan dari mereka terlihat lelah, kotor, dan terluka. Beberapa kelompok membawa tandu berisi rekan mereka yang terkena racun atau gigitan monster.

Suasana di gerbang itu bising, penuh dengan teriakan, makian, dan tawar-menawar kasar.

Yang Chen bergabung di antrean belakang. Penampilan Yang Chen yang berlumuran lumpur kering dan darah hitam (sisa pertarungan kemarin) membuat orang-orang di sekitar Yang Chen menjauh secara insting. Bau amis darah yang menguar dari tubuh Yang Chen sangat menyengat, menandakan bahwa "orang ini baru saja membunuh sesuatu".

Antrean bergerak lambat.

Di depan gerbang, ada pos pemeriksaan yang dijaga oleh enam orang prajurit kota. Mereka mengenakan zirah kulit keras dengan lambang Kota Ironforge.

Para prajurit ini bertugas memungut pajak masuk dan pajak barang bawaan. Dan seperti biasa, di mana ada pajak, di situ ada korupsi.

Yang Chen memperhatikan dengan mata tajamnya.

Seorang pemburu tua di depan menyerahkan seekor Rusa Hutan hasil buruannya. Prajurit penjaga mengambil rusa itu, memotong satu kaki belakangnya sebagai "pajak", lalu melemparkan sisanya kembali ke si pemburu tua.

"Kaki belakang itu bagian paling mahal!" protes si pemburu tua. "Mau masuk atau tidak?!" bentak prajurit itu, tangannya sudah memegang gagang pedang. "Kalau banyak omong, aku ambil tanduknya juga!"

Pemburu tua itu menunduk, menelan kemarahannya, dan menyeret sisa rusanya masuk.

Yang Chen menyipitkan mata. Preman berseragam, batin Sang Mantan Kaisar sinis.

Giliran Yang Chen tiba.

Yang Chen melangkah maju ke depan meja pemeriksaan. Yang Chen menjatuhkan buntalan besar bawaannya ke tanah.

BRUK.

Suara jatuhnya buntalan itu berat dan solid, menarik perhatian Kepala Penjaga yang sedang duduk malas-malasan di kursi kayu sambil mengupil.

Kepala Penjaga itu, seorang pria gemuk dengan wajah berminyak bernama Sersan Wang, berdiri. Matanya yang sipit langsung membesar saat melihat ujung taring Babi Hutan Besi yang menyembul keluar dari ikatan buntalan Yang Chen.

"Ho..." Sersan Wang bersiul panjang. "Taring Iron Boar. Kulit utuh. Dan..."

Mata Sersan Wang beralih ke Kapak Besar yang digenggam tangan kanan Yang Chen.

"...Kapak Baja Hitam?"

Sersan Wang menatap wajah Yang Chen yang tertutup tudung. Yang Chen terlihat kotor, compang-camping, dan sendirian. Tidak ada lencana Guild Pemburu di dada Yang Chen.

Di mata Sersan Wang, Yang Chen adalah target empuk. Seekor domba gemuk yang tersesat dari kawanannya.

"Buka tudungmu," perintah Sersan Wang, nadanya arogan.

Yang Chen tidak bergerak. "Aku membayar pajak masuk. Satu keping perak cukup?"

Yang Chen melemparkan satu keping perak ke atas meja. Itu sudah sepuluh kali lipat dari biaya masuk normal. Yang Chen hanya ingin lewat tanpa masalah.

Sersan Wang menepis keping perak itu hingga jatuh ke tanah. Ting.

"Siapa yang bicara soal uang receh?" Sersan Wang menyeringai licik. "Kau membawa barang berbahaya. Kapak itu... sepertinya mirip dengan senjata yang dilaporkan hilang oleh Kelompok Pemburu Red Axe kemarin."

Itu tuduhan palsu yang dikarang di tempat.

"Dan taring ini..." Sersan Wang menendang buntalan Yang Chen. "...barang selangka ini harus diperiksa keasliannya. Kami perlu menyitanya sementara untuk... investigasi."

Menyita sementara berarti mengambil selamanya.

Dua prajurit bawahan Sersan Wang langsung maju, mengapit Yang Chen dari kiri dan kanan, tombak mereka diarahkan ke pinggang Yang Chen.

"Serahkan barangnya, Nak," bisik salah satu prajurit. "Jangan cari masalah. Sersan Wang sedang butuh uang untuk judi nanti malam."

Orang-orang di antrean belakang mulai berbisik-bisik. Mereka menatap Yang Chen dengan tatapan kasihan. Kehilangan hasil buruan di gerbang adalah nasib sial yang sering terjadi pada pemburu solo (solo player) yang tidak punya backing.

Yang Chen menghela napas panjang di balik tudungnya.

"Kenapa..." suara Yang Chen terdengar rendah dan dingin, seperti angin musim dingin yang berhembus dari celah kuburan. "...kenapa setiap kali aku ingin menjadi warga yang taat hukum, dunia memaksaku untuk menjadi penjahat?"

Sersan Wang mengerutkan kening. "Apa yang kau gumamkan? Serahkan kapak itu!"

Sersan Wang mengulurkan tangannya yang gemuk untuk merampas kapak dari tangan Yang Chen.

Saat jari Sersan Wang menyentuh gagang kapak...

Tangan Yang Chen bergerak.

Bukan untuk menyerang, tapi mencengkeram.

Tangan kiri Yang Chen menyambar pergelangan tangan Sersan Wang.

GREP.

Cengkeraman itu cepat, tepat, dan keras.

Sersan Wang terkejut. Dia mencoba menarik tangannya kembali. Tidak bisa. Tangan Yang Chen seperti borgol besi yang terkunci mati.

"Lepaskan! Kau berani menyerang petugas?!" teriak Sersan Wang panik.

"Menyerang?" Yang Chen mengangkat wajahnya sedikit, memperlihatkan sepasang mata yang hitam pekat dan tanpa emosi di balik bayangan tudung. "Aku hanya membantu Sersan memegang barang bukti."

Yang Chen menyalurkan sedikit Earth Qi ke dalam cengkeramannya.

Tekanan di pergelangan tangan Sersan Wang meningkat drastis. Tulang-tulang di pergelangan tangan Sersan Wang mulai bergesekan satu sama lain.

Kriek...

"AAAARGH!" Sersan Wang menjerit. Rasa sakitnya luar biasa, seolah tangannya sedang digiling mesin press. Lutut Sersan Wang goyah, memaksanya berlutut di depan Yang Chen agar tangannya tidak patah.

Dua prajurit lain kaget. Mereka hendak menusukkan tombak mereka.

"Jangan bergerak," kata Yang Chen tenang.

BOOM!

Yang Chen melepaskan aura kultivasinya.

Bukan aura Tingkat 1. Bukan Tingkat 2. Tapi aura Body Tempering Tingkat 3 Puncak yang padat dan berat.

Tekanan udara di sekitar gerbang memberat seketika. Para prajurit penjaga itu rata-rata hanya berada di Tingkat 2 Menengah. Menghadapi aura Tingkat 3 Puncak dari jarak sedekat ini membuat dada mereka sesak.

Lebih dari itu, aura Yang Chen mengandung Niat Membunuh (Killing Intent) yang nyata. Itu bukan aura pemburu biasa. Itu adalah aura seseorang yang sudah terbiasa mencabut nyawa tanpa kedipan mata.

Prajurit-prajurit itu membeku. Tombak mereka gemetar di tangan.

"Sersan Wang," kata Yang Chen pelan, masih mencengkeram tangan pria gemuk yang berlutut itu. "Kapak ini adalah milikku. Taring ini adalah milikku. Apakah masih ada keraguan tentang kepemilikannya?"

"Ti-tidak! Tidak ada!" Sersan Wang menangis, air mata dan ingus membasahi wajahnya. Dia merasa tulang tangannya akan hancur menjadi bubuk jika tekanan ini bertambah sedikit saja. "Itu milik Tuan! Semuanya milik Tuan! Ampuni saya! Saya buta!"

Yang Chen menatap Sersan Wang selama tiga detik penuh, menanamkan rasa teror ke dalam jiwa pria itu.

Lalu, Yang Chen melepaskan cengkeramannya.

Sersan Wang jatuh terduduk ke tanah, memegangi pergelangan tangannya yang memar ungu berbentuk cetakan jari tangan.

Yang Chen membungkuk, memungut keping perak yang tadi ditepis Sersan Wang.

Yang Chen meletakkan koin perak itu dengan lembut di atas meja pemeriksaan.

"Pajak masuk," kata Yang Chen sopan.

Lalu, Yang Chen mengangkat kembali buntalan barangnya, memanggul kapaknya, dan melangkah melewati gerbang kota.

Tidak ada satu pun prajurit yang berani menghalanginya. Mereka membelah jalan seperti Laut Merah, membiarkan sosok berjubah hitam itu lewat dengan hormat dan takut.

Para pemburu di antrean belakang menatap punggung Yang Chen dengan rasa kagum dan ngeri.

"Siapa dia?" "Tingkat 3 Puncak di usia semuda itu?" "Kota Ironforge akan gempar... ada monster baru yang masuk."

Yang Chen tidak mempedulikan bisikan-bisikan itu.

Kaki Yang Chen melangkah mantap memasuki jalanan kota yang ramai.

Tujuan Yang Chen selanjutnya jelas: Menjual barang rongsokan ini ke tempat sembarangan (bukan ke Rumah Lelang Naga Emas, terlalu mencolok untuk barang receh seperti ini), lalu pergi ke Paviliun Seribu Herbal untuk menagih janji "Pelayan Li" tentang stok obat baru.

Tapi sebelum itu, Yang Chen berhenti di depan sebuah toko pakaian.

Yang Chen melihat pantulan dirinya di kaca jendela toko. Kotor. Bau. Berdarah.

"Aku butuh mandi air panas lagi," keluh Yang Chen. "Dan baju baru. Kali ini, baju yang layak untuk seorang mitra bisnis."

1
saniscara patriawuha.
gasss pollll
saniscara patriawuha.
gasdddd polllllll...
saniscara patriawuha.
cobaaaa kalooo isooooo....
saniscara patriawuha.
sikattttt sudahhhhhh...
saniscara patriawuha.
serapppppp kabehhhhh
saniscara patriawuha.
bantaiiii sudahhhhh.....
saniscara patriawuha.
gasssss polllll jangan ada yg di tahan tahan,,, loshkeunnnn...
saniscara patriawuha.
gassssss deuiij manggg chennnn....
Bambang Slamet
luar biasa mantab menarik
saniscara patriawuha.
sikatttttt dannn cabik cabikkk....
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn manggg otorrrr
saniscara patriawuha.
lanjottttt keunnnnn...
saniscara patriawuha.
gassdddd polllll...
Jojo Shua
👍💪
Jojo Shua
🔥👍
Jojo Shua
🔥
saniscara patriawuha.
mantapppppp mang yangggg....
Jojo Shua
🔥
saniscara patriawuha.
gasssdd deuiiiii manggg yanggggg....
Jojo Shua
🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!