NovelToon NovelToon
Shan Luo

Shan Luo

Status: tamat
Genre:Action / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”

Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.

Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.

Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Lumayan

Dengan satu tebasan terakhir dari Sabit Jiwa Kegelapan yang muncul di tangan Shan Luo, kepala monster raksasa itu terpenggal bersih.

​Keheningan kembali menyelimuti lembah. Shan Luo mendarat dengan napas terengah-engah, menyandarkan tubuhnya pada salah satu kaki monster yang sudah membatu.

​"Sial ... itu tadi melelahkan sekali," gumam Han Xiao, terduduk di tanah sambil mengipasi wajahnya dengan tangan. "Hampir saja aku jadi sate manusia."

​Mo Huang muncul kembali dari bangkai monster, memegang sebuah kristal merah besar yang berpendar. "Energinya luar biasa. Tapi tubuh ini ... Shan'er, jangan biarkan ini membusuk di sini."

​Shan Luo berdiri, menatap bangkai raksasa itu. "Obsidiannya langka, kaki-kakinya bisa dijadikan bahan senjata kelas tinggi, dan jantung lavanya sangat dicari oleh para alkemis."

​Shan Luo mengeluarkan sebuah Kantong Dimensi besar yang ia rampas dari pengawal Shan Hei sebelumnya.

Dengan bantuan kekuatan rohnya, ia mulai memotong-motong bagian berharga dari monster itu.

Kaki-kaki obsidian yang tajam, kulit perut yang tahan api, hingga taringnya yang beracun, semuanya dimasukkan ke dalam kantong.

​"Kita akan menjual bagian-bagian ini di kota perbatasan pertama yang kita temui," ucap Shan Luo sambil menyeka darah monster di pipinya. "Kita butuh dana besar untuk menyuap penjaga makam atau membeli informasi tambahan. Harta dari monster ini cukup untuk membiayai perjalanan kita sampai ke jantung Benua Binghuo."

​"Haha! Akhirnya kita kaya!" Han Xiao kembali ceria, matanya berbinar melihat tumpukan bahan material mahal itu. "Aku akan membeli sepuluh tong arak terbaik dan bakpao isi daging rusa!"

​"Simpan mimpimu, Han Xiao. Kita masih punya perjalanan jauh," Shan Luo menyampirkan kantong dimensi itu di pinggangnya.

​Meski tubuhnya lelah, matanya tetap waspada. Perbatasan sudah di depan mata.

Bau belerang dan hawa dingin mulai menyatu, menandakan bahwa makam leluhur klan Shan sudah tidak jauh lagi.

Dengan perbekalan dan modal dari hasil buruan besar ini, mereka siap melangkah masuk ke wilayah paling berbahaya yang pernah mereka injak.

​"Ayo berangkat. Sebelum pasukan pengejar dari klan Shan menyadari bahwa hadiah mereka sudah sampai," ajak Shan Luo, memimpin jalan menembus kabut lembah yang semakin pekat.

Kota Perbatasan Garis Merah menyambut mereka dengan pemandangan yang kontras.

Di sisi kiri, bangunan-bangunan membeku tertutup salju Benua Tiandi, sementara di sisi kanan, aspal jalanan tampak meleleh akibat uap panas yang keluar dari celah-celah tanah Benua Binghuo.

Udara di sini terasa berat, campuran antara bau belerang yang menyengat dan dingin yang menusuk tulang.

​"Tempat ini benar-benar buruk bagi kulitku," keluh Mo Huang, menutupi wajahnya dengan ujung jubah ungunya saat mereka melewati pasar gelap yang dipenuhi tentara bayaran dan penyelundup.

​Shan Luo tidak menyahut. Matanya tersembunyi di balik tudung jubah hitamnya yang baru, tangannya menggenggam erat Kunci Giok Naga Hitam yang kini terasa bergetar di balik sakunya.

Ia bisa merasakan tarikan energi yang sangat kuat, sebuah panggilan dari sisa-sisa darah leluhur yang terkubur di bawah tanah ini.

​"Han Xiao, kau punya bakat bicara dengan orang-orang kelas bawah. Cari tahu di mana letak Lembah Abu. Kabarnya itu adalah pintu masuk menuju makam," perintah Shan Luo.

​Han Xiao menyeringai, memutar-mutar koin emas hasil jarahan sebelumnya. "Serahkan padaku, Pemimpin! Aku akan kembali sebelum kau sempat menghabiskan teh pahitmu."

​Han Xiao melesat ke arah sebuah kedai minum yang riuh dengan suara tawa kasar para pemburu monster.

Sementara itu, Shan Luo dan Mo Huang berjalan menuju sebuah toko barang antik yang terlihat reyot di sudut jalan yang gelap.

1
Ajipengestu
lanjut thor👍
Iwa Kakap
ribet amat thor
Beni: itu cuma penjelasan naik ranah sama kesulitannya aja. gak perlu di pikirin hehe. /Pray/
total 1 replies
angin kelana
ayooooo jdi juara💪💪💪
Beni
oke... 😐
Beni
😛
Beni
/Hunger//Sweat/
Beni
😐
Beni
oke... 😐
angin kelana
semangat bertarung💪💪💪
angin kelana
anak baik👍
angin kelana
semangaaat menjadi kuat..
angin kelana
ayo buktikan kekuatanmu💪💪💪
angin kelana
ayoooo lebih kuat lg
angin kelana
lanjuuuttt...
angin kelana
kalo untuk pengenalan bole lah pake english tpi ke depannya gak usah ajah ini kan fantasi timur bukan barat..lanjut👍
Beni: nanti di revisi ya, terima kasih/Pray/
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuttt..
angin kelana
dunia yg kejam.😬
Beni
😐
Jade Meamoure
bagus 🤣🤣🤣
Jade Meamoure
Yan Bingchen bukankah itu patriarki sekte es ya
Beni: Pendekar es dan api
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!