No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Logika Perut Dan Gerbang Beku
Pagi itu di lereng menuju Puncak Langit Terlarang, He Xueyi duduk di atas batu besar dengan wajah cemberut. Di tangannya ada tusukan kelinci hutan panggang yang dibuatkan Bian Zhi. Aroma lemak yang terbakar biasanya tidak akan memengaruhinya, tapi sekarang... hidungnya seolah dipaksa untuk mengakui bahwa bau itu sangat menggoda.
"Bian Zhi, jelaskan padaku secara logis," ucap He Xueyi sambil menatap daging kelinci itu dengan curiga. "Bagaimana bisa benda padat ini berubah menjadi tenaga dalam? Bukankah lebih efisien jika aku bermeditasi saja di bawah cahaya bulan?"
Bian Zhi, yang sedang membersihkan salju dari pelana kuda, menoleh tanpa ekspresi namun matanya berkilat geli. "Tuan, jantung Anda sekarang membutuhkan nutrisi fisik untuk memompa darah. Jika Anda hanya bermeditasi, jantung itu akan melemah dan Anda akan jatuh pingsan karena kekurangan energi. Silakan dimakan, sebelum membeku lagi."
He Xueyi menggigit daging itu sedikit. Matanya membulat. "Asin... panas... dan ada rasa gurih yang tertinggal di kerongkongan. Manusia benar-benar makhluk yang rakus karena rasa ini sangat membuat ketagihan."
"Itu namanya enak, Tuan Besar! Enak!" Xiao Bo bersorak sambil sibuk mengumpulkan kayu bakar kering. "Nanti kalau sudah kenyang, He Xueyi pasti bisa lari lebih cepat daripada hantu penagih hutang!"
Setelah sesi "belajar makan" yang melelahkan itu selesai, mereka melanjutkan perjalanan. Kabut di depan mereka tidak lagi berwarna kelabu, melainkan putih cemerlang yang memantulkan cahaya matahari—tanda bahwa mereka sudah memasuki wilayah Arwah Penjaga Langit.
Tiba-tiba, suhu turun drastis secara tidak wajar. Kuda-kuda mereka meringkik ketakutan dan menolak melangkah maju. Dari balik kabut salju, muncul dua sosok raksasa setinggi tiga meter. Tubuh mereka transparan seperti kristal es, mengenakan baju zirah perak kuno, dan memegang tombak panjang yang memancarkan aura Yang yang sangat murni.
"Berhenti, Penjaga Paviliun!" suara salah satu Penjaga Langit itu menggetarkan tanah. "Lembah Sunyi adalah wilayah bawah. Puncak ini adalah wilayah atas. Langkahmu adalah pelanggaran terhadap perjanjian seribu tahun!"
He Xueyi turun dari kudanya, meski kakinya sedikit gemetar karena kedinginan (hal yang masih sangat ia benci secara logis). Ia mengangkat lenteranya, namun kali ini ia tidak melepaskan aura kematian.
"Aku datang bukan sebagai penjaga paviliun yang ingin memperluas wilayah," He Xueyi bicara dengan napas yang membentuk uap putih. "Aku datang sebagai pencuri yang ingin mengambil kembali apa yang dicuri dariku. Secara logika, kalian menjaga tempat ini untuk memastikan tidak ada energi jahat yang masuk. Lihatlah jantungku... apakah ini terlihat seperti energi jahat bagi kalian?"
Penjaga Langit itu mendekat, ujung tombaknya hanya berjarak satu inci dari dada He Xueyi. Mereka terdiam sejenak, merasakan detak jantung He Xueyi yang berirama pelan namun hangat.
"Jantung manusia... di dalam tubuh seorang penjaga kematian?" Penjaga itu tampak bingung. "Ini adalah anomali. Logika kami tidak mencatat kejadian seperti ini sebelumnya."
"Itulah sebabnya kalian harus membiarkanku lewat," lanjut He Xueyi, matanya menatap tajam tanpa rasa takut. "Jika aku tidak mengambil sisa esensiku di puncak sana, jantung ini akan mati, dan aku akan kembali menjadi mayat hidup yang kalian benci. Bukankah lebih baik membiarkanku menjadi manusia seutuhnya agar aku tidak lagi berurusan dengan dunia bawah?"
Bian Zhi sudah bersiap dengan pedangnya di belakang, namun ia tetap diam mengikuti instruksi He Xueyi. Ia tahu, di tempat suci seperti ini, diplomasi logika He Xueyi lebih mematikan daripada tebasan pedangnya.
Dua Penjaga Langit itu saling pandang. "Syaratnya satu. Kamu harus melewati Jembatan Kejujuran. Jika di dalam hatimu masih ada dendam yang lebih besar daripada keinginan untuk hidup, jembatan itu akan runtuh dan mengirimmu ke jurang kehampaan."
He Xueyi menatap jembatan tali yang tertutup es di depan sana. "Dendam? Secara logika, dendam adalah beban yang memperlambat perjalanan. Aku hanya ingin kembali menjadi 'nyata'."
He Xueyi mulai melangkah ke atas jembatan. Setiap langkahnya membuat tali itu berderit. Tiba-tiba, bayangan-bayangan masa lalu muncul di sekelilingnya—pengkhianatan kekasihnya, kematian keluarganya, dan dinginnya seribu tahun di paviliun.
Dada He Xueyi terasa sesak. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin meledak. Ia berhenti di tengah jembatan yang mulai bergoyang hebat.
"Tuan! Jangan lihat ke bawah! Lihat ke depan!" teriak Bian Zhi dari kejauhan.
He Xueyi memejamkan mata. Ia mengatur napasnya—sesuatu yang baru ia pelajari pagi ini. "Aku bukan lagi bayangan dari masa lalu. Aku adalah He Xueyi yang sekarang... yang merasa lapar, yang merasa dingin, dan yang ingin melihat matahari."
Seketika, jembatan itu berhenti bergoyang. Bayangan-bayangan hitam itu lenyap, digantikan oleh cahaya hangat yang menuntunnya ke ujung jembatan. He Xueyi berhasil menyeberang.
Ia berbalik, menatap Bian Zhi dan Xiao Bo yang masih di seberang sana. "Ayo cepat! Secara logika, jika aku bisa lewat, kalian juga bisa. Jangan biarkan aku menunggu di sini sendirian, udara di sini sangat merusak kulit!"
Malam itu, mereka berhasil mencapai gerbang Puncak Langit Terlarang. Misteri sisa jiwa He Xueyi sudah ada di depan mata, namun tantangan yang lebih besar sudah menanti di dalam kuil abadi tersebut.