Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Malam telah larut, jam dinding menunjukkan pukul 01:30 dini hari. Seharusnya, seluruh penghuni rumah sudah terlelap dalam mimpi masing-masing. Namun, tidak demikian halnya dengan Laura. Setelah memikirkan hal-hal yang mengerikan, mengingat saat-saat adanya perasaan yang datang dan pergi, sangat intens, sangat tak terduga, dan tentunya sangat melelahkan. Seharusnya rasa kantuk sudah tak tertahankan. Nyatanya, mata Laura justru terbuka lebar, pikirannya masih saja berlarian kesana kemari.
Lampu tidur kecil di mejanya menyala redup, memancarkan cahaya kekuningan yang sedikit menghangatkan hatinya. Ia mencoba memejamkan mata, menghitung buih laut dalam imajinasinya, bahkan mencoba teknik pernapasan yang pernah diajarkan dokter psikolog. Nihil. Rasa gelisah merayapi, mungkin karena terlalu banyak minum teh manis sore tadi, atau mungkin juga karena memikirkan... Luara mencoba menghindarinya, ia tak ingin lagi mengingatnya.
Tiba-tiba, sebuah ide melintas di benaknya. Senam. Ya, senam! Bukan senam yang enerjik seperti di tempat terbuka, melainkan senam ringan untuk melemaskan otot-otot yang tegang dan menenangkan pikirannya, menghapus ingatan yang tak menyenangkan.
Dengan hati-hati, agar tidak membangunkan kedua orang tuanya yang mungkin sudah sangat terlelap, Laura menyibak selimut. Kaki telanjangnya menyentuh lantai kayu yang dingin, membuatnya sedikit bergidik.
Ia berdiri di tengah kamar, melirik sekeliling. Boneka-boneka beruang di rak menatapnya seolah bingung. Poster idolanya, Jungkook di dinding seperti bertanya-tanya. Tapi Laura tidak peduli. Ini adalah wilayahnya, dan tengah malam ini, ia adalah putri senam.
Pertama, ia memasang AirPods di telinganya, lalu memutar musik Jazz yang lembut, My Favorite Things oleh John Coltrane adalah favorite Laura untuk menemani relaksasinya kali ini. Ia lalu mulai perlahan melakukan peregangan leher, memutar kepala ke kanan dan kiri, merasakan otot-otot yang sedikit kaku mulai mengendur. Kemudian, ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas, meregangkan tubuhnya seperti kucing yang baru bangun tidur, lalu membungkuk perlahan, mencoba menyentuh ujung jari kakinya. Ia ingat instruksi guru senamnya, "Peregangan itu penting, Laura, agar otot tidak kaget."
Laura melanjutkan dengan gerakan-gerakan ringan lainnya. Memutar pinggul pelan, mengangkat lutut tinggi-tinggi bergantian, lalu melompat-lompat kecil di tempat, seperti anak kelinci. Ia bahkan mencoba beberapa gerakan senam dasar yang pernah ia lihat di TV. Kamarnya yang tidak terlalu besar terasa pas untuk aktivitasnya ini. Laura sesekali tersenyum sendiri melihat bayangannya yang bergerak lucu di kaca jendela yang memantulkan cahaya redup.
Perasaan berdebar yang tadinya memburu kini digantikan oleh suara napasnya yang teratur dan detak jantungnya yang perlahan melambat. Sesekali, terdengar suara bermacam serangga dari luar jendela, seolah menjadi penonton setia senam tengah malam Laura. Udara malam yang sejuk dari celah jendela terasa menyegarkan, menyentuh kulitnya yang sedikit berkeringat.
Laura berdiri di depan cermin panjang, membiarkan sinar redup membingkai siluetnya. Usia 25 tahun, sebuah angka yang membawa serta kematangan dan kepercayaan diri yang berbeda. Ia menatap pantulannya, bukan lagi dengan rasa penasaran seorang remaja, melainkan apresiasi dengan bentuk penghargaan terhadap kemolekan tubuhnya sebagai seorang wanita. Lekuk pinggang yang anggun, garis bahu yang tegas namun feminin, dan kaki jenjang yang telah membawanya menapaki berbagai perjalanan hidup. Setiap inci tubuhnya bercerita, tentang tawa, tentang air mata, tentang perjuangan dan tantangan. Di matanya terpancar ketajaman yang terbentuk dari pengalaman, dan di senyumnya tersimpan kekuatan seorang wanita yang tahu siapa dirinya. Ia bukan hanya melihat kecantikan fisik, tapi juga kekuatan dan kemandirian yang kini melekat dalam dirinya.
Setelah menyelesaikan ritual senam tengah malamnya yang tak lazim, Laura merasa tubuhnya jauh lebih rileks, namun perutnya justru mulai meronta. Aktivitas fisik, betapapun ringannya, ternyata memicu rasa lapar. Ia melirik jam di ponselnya: 02:00 dini hari. Ide tidur nyenyak yang baru saja ia rasakan kini tergantikan oleh bisikan perut yang tak bisa diabaikan.
"Mungkin aku perlu sesuatu yang ringan, tapi mengenyangkan," gumam Laura pada dirinya sendiri. Ia tahu ada beberapa telur di kulkas dan buah-buahan segar. Ide cemerlang melintas: omelet dan jus buah!
Dengan langkah yang sama hati-hatinya seperti saat memulai senam, Laura menyelinap keluar dari kamar. Lorong rumah yang gelap terasa panjang dan sedikit menyeramkan di tengah malam. Ia bergerak seperti singa betina yang mengendap mangsa, memastikan setiap langkah kakinya tidak menimbulkan suara. Sampai di dapur, ia menyalakan lampu kecil di atas counter, hanya pencahayaan tipis untuk melihat tanpa membangunkan siapa pun.
Dapur yang biasanya ramai di siang hari, kini sunyi senyap. Hanya ada suara dengungan mesin kulkas yang pelan. Laura lalu membukanya, mencari bahan-bahan. Telur, ada. Beberapa tomat ceri, juga ada. Keju cheddar sisa kemarin, sempurna. Untuk jus, ia menemukan apel, pisang, dan sedikit buah naga yang masih segar.
Ia mengambil dua butir telur, memecahkannya ke dalam mangkuk kecil. Dengan garpu, ia mengocoknya pelan, menambahkan sedikit garam dan lada. Suara kocokan telur terdengar cukup nyaring di tengah keheningan, membuat Laura sedikit khawatir. Ia melirik ke arah pintu kamar orang tuanya, memastikan tidak ada tanda-tanda seseorang yang terbangun. Aman.
Setelah itu, ia mulai memotong tomat ceri kecil-kecil dan memarut keju. Ia mengambil wajan anti lengket berukuran kecil, meneteskan sedikit minyak zaitun, lalu menyalakannya dengan api paling kecil. Suara desis minyak saat panas membuat jantung Laura berdegup kencang lagi. Sensasi memasak di tengah malam begini terasa seperti petualangan rahasia.
Dengan hati-hati, ia menuangkan kocokan telur ke wajan. Aroma harum telur yang mulai matang segera memenuhi dapur. Laura membalik omeletnya dengan lihai, berkat sering membantu ibunya memasak. Setelah satu sisi matang, ia menaburkan tomat ceri dan keju parut di atasnya, lalu melipat omelet menjadi dua. Dalam waktu singkat, omeletnya sudah siap, berwarna keemasan dengan isian keju meleleh.
Sambil membiarkan omeletnya sedikit mendingin, Laura beralih ke buah-buahan. Ia mengupas apel dan pisang, lalu memotong buah naga menjadi beberapa bagian. Blender yang ia gunakan adalah model yang cukup hening, jadi ia tidak terlalu khawatir akan suaranya. Ia memasukkan semua buah ke dalam blender, menambahkan sedikit air dingin, lalu menekan tombol. Suara whirring pelan dari blender terdengar, tapi tidak cukup keras untuk sampai ke kamar orang tuanya. Beberapa detik kemudian, jadilah jus buah segar berwarna merah muda keunguan.
Ia menuangkan jus ke dalam gelas favoritnya, gelas bergambar kucing. Menarik kursi di meja makan, Laura duduk dan memandang hasil karyanya di tengah malam. Omelet yang hangat dan jus buah yang dingin. Perpaduan sempurna. Ia makan perlahan, menikmati setiap gigitan dan tegukan. Rasa lapar yang tadi mendera kini berganti dengan kepuasan.
Suasana dapur yang temaram, dihiasi cahaya rembulan yang masuk dari jendela, membuat momen ini terasa begitu damai. Laura merasa seolah teror tidak pernah terjadi, hanya ada dia dan santapan tengah malamnya. Setelah menghabiskan semuanya, ia membersihkan piring dan gelasnya, memastikan dapur kembali rapi seperti semula. Tidak meninggalkan jejak apapun.
Kembali ke kamarnya, Laura merasa jauh lebih baik. Perutnya kenyang, pikirannya tenang, dan tubuhnya rileks. Ia kembali berbaring di ranjang, dan kali ini, rasa kantuk datang begitu cepat. Dalam hitungan detik, Laura sudah terlelap, membawa serta kenangan manis akan petualangan senam dan masaknya di tengah malam. Mimpi indah seakan langsung menyambutnya, mungkin tentang omelet bersayap atau jus buah ajaib yang dapat memperlebar senyum.
...****************...
"Saat Laura benar-benar telah terlelap, saat telinganya benar-benar telah hening, saat hatinya benar-benar tak lagi dalam kendalinya. Di situlah raut wajahnya berbicara dengan jujur: Ketakutan yang berusaha ia sembunyikan tetap ada, kecemasan yang coba ia timbun dengan gerakan senamnya tetap jauh lebih melelahkan, garis di dua sisi hidungnya tak pernah berdusta, dan saat kini mulutnya terdiam, keringat yang membasahi adalah suara jeritan yang keluar mendaki melalui mulut-mulut di pori-pori kulitnya yang jauh lebih peka."