NovelToon NovelToon
Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 : Kehangatan dari pelukan Darren.

Begitu sosok Rion hilang dari pandangan dan benar-benar pergi hingga tak lagi terdengar suara langkah kakinya, barulah topeng yang dipakai Zinnia runtuh seketika. Dia mulai menangis sejadi-jadinya dengan posisi berjongkok di dekat pohon, memegang kedua lututnya untuk sejenak. Melepas semua perasaan sedih yang sejak tadi coba ia tahan.

" Maafkan Aku Rion.. Maaf membuatmu kecewa.. Aku tidak ingin berada di posisi ini.. Aku tidak ingin seperti ini.. Maafkan aku.. " Gumam Zinnia pelan dan berat.

Tanpa ia tahu, Rion juga merasakan hal yang sama dengan Zinnia. Perpisahan itu, bukanlah murni hal yang benar-benar ia inginkan. Rasa cemburu bukanlah alasan utama kenapa dia sampai nekat untuk mengakhiri hubungannya dengan Zinnia yang baru saja mereka mulai.

" Zinnia.. ini semua salahku.. Maafkan aku.. Tapi, semua ini memang harus kulakukan, aku harus berkorban untuknya.. Sudah banyak hal yang dia lakukan dan ia korbankan untuk hidupku, dan kini giliranku berkorban untuknya. Bahagialah bersamanya Zinnia.. "

Rion tertunduk lemas di balik pintu kabin, Ia bukan lagi sosok yang gagah berwibawa, tegas dengan wajah yang garang, tapi kali ini ia tampak begitu lemah tak berdaya, air mata yang sejak tadi coba ia tahan, kini untuk pertama kalinya, mulai membasahi kedua pipinya.

Sedangkan Zinnia, Dia mulai bangkit dan langsung melepas sepatu heels di kakinya, memegangnya di tangan, lalu berlari sekencang-kencangnya menuju kabin tempatnya menginap. Dia masuk lalu dengan tangan gemetar dia mulai membereskan semua barang-barangnya, memasukkan ke dalam koper secepat mungkin, baginya sudah tak ada lagi alasan baginya untuk tinggal.

Setelah semuanya beres, dia menarik koper keluar dari kabin, wajahnya tertunduk, matanya merah padam dan sembab, namun mencoba kembali kuat untuk dirinya sendiri.

Dan tepat saat dia melangkah keluar, sosok yang dia pikir tak akan lagi muncul di dalam hidupnya itu, justru muncul dari arah seberang. Darren berdiri di sana, tangannya disilang di dada, tatapannya langsung menangkap sosok Zinnia yang terlihat kacau dan sangat sedih.

" Hey... mau kemana? Kenapa bawa koper segala? " tanya Darren mendekat dengan langkah cepat, langsung berdiri di depannya menghalangi jalan.

" Pulang... " jawab Zinnia singkat, suaranya tercekik.

" Tunggu dulu.. " Cegah Darren seraya menarik pergelangan tangannya.

Dan di detik itulah, bendungan yang dia tahan sedari tadi jebol seketika. Air mata mengalir deras tanpa henti, mulutnya bergetar, bahunya berguncang hebat, tapi dia tetap diam berdiri, tak berani mengangkat tangan, tak berani memeluk lelaki di depannya, takut dia makin terlihat salah.

Melihat gadis di hadapannya menangis seperti itu, hati Darren terasa diremas kuat-kuat. Dia tak tahan lagi, langsung merengkuh tubuh kecil itu masuk ke dalam pelukannya erat-erat, membiarkan kepala Zinnia bersandar di dadanya, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya.

" Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba mau pulang? Katakan padaku ada apa? Rion kemana? Apa Kalian bertengkar? " tanya Darren pelan, tangannya mengusap-usap punggung Zinnia berulang kali, mencoba menenangkan gadis di hadapannya itu.

" Rion mutusin aku..." isak Zinnia di sela tangisnya, jari-jarinya mencengkeram erat baju belakang Darren.

" Dia tahu... dia tahu semuanya... Darren. semua tentang kita.... Tahu jika kita sering bertemu diam-diam di belakangnya. Aku sudah mengecewakannya. "

" Sshhh... Sudah-sudah gak perlu dilanjutin, ok... aku ngerti, aku paham. " potong Darren cepat, suaranya lembut tapi berat, dia tak mau Zinnia menyalahkan dirinya sendiri sendirian, karena dia tahu dia juga jadi penyebab utamanya.

Tanpa bicara lagi, Darren mengangkat tubuh Zinnia, untuk kemudian menggendongnya, membiarkan gadis itu memeluk erat lehernya dan menyembunyikan wajah sedihnya di dadanya, lalu dia berjalan cepat menuju kabinnya sendiri, meninggalkan koper Zinnia di tempatnya itu. Pikiran Darren hanya tertuju pada Zinnia, yang terpenting sekarang adalah gadisnya itu tenang dulu.

Dia masuk, mengunci pintu, lalu duduk di atas kasur dengan Zinnia yang masih dalam pelukannya. Dia terus memeluknya erat. Sesekali mengusap kepalanya, mencium ubun-ubunnya, dan membiarkan air mata Zinnia membasahi bajunya. Sampai membiarkan gadis itu meluapkan semua rasa sakit, rasa bersalah, rasa bingung yang selama ini dipendam sendirian.

" Menangis saja... nangis sepuasnya... Its okay, ada aku disini... aku tak akan pergi kemana-mana..." bisik Darren berulang kali, seolah itu adalah janji yang dia ucapkan pada dirinya sendiri dan pada Zinnia.

Dan di dalam pelukan itu, di tengah tangisnya, Zinnia sadar, meski dia baru saja kehilangan sesuatu yang berharga, di saat yang sama dia menemukan tempat yang lebih nyaman. Isak tangisnya pun mulai mereda.

" Aku sudah di buang Darren.. Aku bukan lagi barang berharga. "

" Sstt.. Kamu jangan ngomong sembarangan. Gak ada yang buang kamu, mungkin Rion hanya terbawa amarah saja, Pasti dia akan kembali dan minta maaf. "

" Gak mungkin, jelas dia sudah yakin buat mengakhiri hubungan kita. "

" Ya, kalau pun memang hubungan kalian berakhir, setidaknya aku masih tetap ada untukmu Zinnia, masih berada di tempat yang sama dengan perasaan yang tak pernah berubah, aku masih menunggu kamu.. Aku yang akan memberikan kamu rasa aman, dan jadikan kamu barang paling berharga yang akan aku jaga dengan sepenuh hati. " Balas Darren dengan yakin.

Kali ini, Darren sudah membuat keputusan. Dia tak akan lagi mundur dengan perasaannya, bagaimanapun juga Perasaannya untuk Zinnia sudah semakin besar, dan dia tak lagi perduli dengan sekitar, dia hanya ingin melindungi gadis yang di cintainya dan memberikannya kebahagian dengan caranya sendiri.

Zinnia menatap mata Darren lekat-lekat, Dia tahu Darren tak berbohong soal ucapannya tadi, tapi tetap ingin di yakinkan lebih.

" Kamu yakin soal perasaanmu padaku Darren? "

" Ya sangat yakin. Jangan khawatir Zinnia, aku akan berikan kamu waktu selama yang kamu inginkan jika kamu memang perlu waktu untuk sendirian. Aku tak akan memaksa agar cepat menerima perasaanku. " Jawab Darren yakin seraya mengelus ujung rambut Zinnia dengan penuh kasih sayang. Seluruh ucapannya terdengar begitu tulus dan penuh makna. Kemudian dia mencium kening Zinnia beberapa kali.

" Terimakasih Darren.. "

Keduanya berpelukan, mencoba mencari ketenangan di dalam hangatnya pelukan itu. Mereka sama-sama tahu posisi masing-masing, tahu perasaan masing-masing dan mengerti jika semua yang mereka lakukan pada akhirnya akan membawa pada takdir yang tak bisa mereka hindari walau ingin.

Setelah beberapa saat berlalu, Zinnia sudah benar-benar tenang. Darren memutuskan untuk mengantar Zinnia pulang ke rumahnya. Di sepanjang perjalanan hanya keheningan yang ada. Keduanya tak mampu mengeluarkan obrolan apapun.

Darren yang biasanya, selalu penuh dengan kata-kata dalam pikirannya, kini hanya membisu seakan setiap kata dalam pikirannya lenyap seketika, begitupun Zinnia yang biasanya ceria dan tak bisa diam dalam keheningan itu, kini hanya duduk dengan wajah sembab dan lelah.

Darren tahu semua itu, karna itu dia memilih untuk diam. Dia tahu kapan harus bicara dan kapan harus hening untuk setidaknya memberikan ketenangan pada hati Zinnia yang gundah.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!