"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jemputan Untuk Tuan Putri
Pagi itu, serambi ndalem terasa begitu teduh. Nyai Salamah duduk bersila di atas permadani, menyimak bacaan ayat suci dari bibir Shanum. Tidak ada lagi ketegangan. Sang Nyai sesekali membenarkan tajwid Shanum dengan suara lembut, sebuah pemandangan yang membuat Rasyid—yang duduk tak jauh di sana—merasakan kedamaian yang belum pernah ia kecap sebelumnya.
Namun, kedamaian itu terkoyak secara brutal.
Suara deru mesin yang sangat berat dan sinkron mulai terdengar dari kejauhan. Bukan satu atau dua mobil, melainkan gemuruh yang membuat lantai masjid bergetar hebat. Santri-santri yang sedang mengaji di aula luar mulai berlarian ke arah gerbang, riuh rendah suara mereka berubah menjadi keheningan yang mencekam saat melihat apa yang datang.
Gerbang besar pesantren dibuka paksa oleh barisan pria berjas hitam dengan tubuh tegap dan wajah asing yang kaku. Di belakang mereka, iring-iringan mobil mewah berwarna hitam legam—hampir lima puluh kendaraan—berderet masuk ke halaman pesantren seperti barisan tank tempur yang elegan.
Rasyid bangkit berdiri, wajah albinonya menegang. Ia menarik Shanum ke belakang punggungnya secara naluriah. Nyai Salamah ikut berdiri, tangannya mencengkeram lengan baju Rasyid dengan gemetar.
Pintu mobil utama terbuka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas handmade dan garis wajah yang sangat tegas melangkah keluar. Langkah kakinya mantap, menembus kerumunan santri yang melongo seperti melihat sosok dari dunia lain. Pria itu adalah Mr. Demir.
Ia tidak berhenti sampai jaraknya hanya tersisa dua meter dari Shanum. Di depan seluruh penghuni pesantren, Mr. Demir melakukan sesuatu yang membuat napas semua orang tertahan: ia menundukkan kepalanya sangat dalam, sebuah penghormatan paling agung yang bisa diberikan seorang abdi.
“Selam hürmetler, Prensesim...” (Salam hormat, Tuan Putriku).
Suara itu disusul oleh dentuman kaki serempak dari lima puluh pengawal di belakangnya. Mereka semua membungkuk, menyuarakan salam yang sama dalam bahasa Turki yang menggelegar, menggetarkan nyali siapa pun yang mendengar.
Shanum merasakan darahnya mendidih. Kepalanya mendadak pening luar biasa. Suara bariton Mr. Demir barusan memicu ledakan fragmen memori di otaknya.
Deg.
Dalam sekejap, pandangan Shanum seperti terlempar. Ia tidak lagi berada di pesantren. Ia melihat dirinya berdiri di tengah aula emas yang luasnya tak bertepi, di mana ribuan orang melakukan gerakan menunduk yang persis sama. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
“Kamu... siapa?” bisik Shanum dengan bibir gemetar. “Kenapa ucapanmu... membuat kepalaku hampir pecah dengan potongan memori yang aku tidak tahu dari mana asalnya?”
Mr. Demir menatap Shanum. Untuk pertama kalinya, pria dingin itu menunjukkan senyuman yang sangat tipis namun sarat akan kasih sayang. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah liontin emas berbentuk matahari yang berkilau tajam di bawah sinar pagi.
Shanum tersentak. Itu liontin yang sama dengan yang muncul dalam mimpinya setelah pengajian akbar. Liontin yang diberikan oleh lelaki muda di koridor istana dalam ingatannya.
“Prensesim, bu sana verdiğim ilk şey. Ben senin özel korumanım, aynı zamanda amcanım...” (Tuan Putriku, ini adalah barang pertama yang kuberikan padamu. Aku adalah pengawal pribadimu, sekaligus pamanmu).
Suara Turki itu begitu fasih, namun saat Mr. Demir menoleh ke arah Rasyid dan Nyai Salamah, suaranya berubah menjadi kaku, berat, dan terasa sangat asing dengan lidahnya.
“Maaf... jika kami... buat takut,” ucap Mr. Demir dalam bahasa Indonesia yang terpatah-patah dan kaku, namun tetap terdengar otoriter. “Kami... datang jemput pulang.”
Tiba-tiba, Yusuf muncul dari barisan santri. Ia berjalan mendekat dengan wajah yang dibuat-buat tampak prihatin, mencoba mengambil perhatian Mr. Demir. “Oh, jadi Tuan ini paman dari Shanum? Ah, syukurlah Anda datang. Saya sangat sedih melihat nasibnya di sini. Dia sering difitnah, bahkan suaminya sendiri—Kyai Rasyid—lebih mencintai wanita lain bernama Najwa daripada Tuan Putri ini.”
Yusuf sengaja memanas-manasi, berharap Mr. Demir akan murka pada Rasyid. Namun, Mr. Demir bahkan tidak melirik Yusuf seujung kuku pun. Baginya, pemuda itu hanyalah debu yang mengganggu jalan.
Mr. Demir kembali menatap Shanum, lalu mengeluarkan tumpukan foto asli masa kecil Shanum hingga usia sepuluh tahun—versi jernih dari foto blur yang selama ini membuat Rasyid pusing.
“Istriku... jika dia memang Tuan Putri,” Rasyid memberanikan diri bersuara, suaranya terdengar sedikit bergetar karena merasa “kecil” di depan kemegahan ini, “kenapa dia harus berakhir di rumah bordil lima belas tahun yang lalu? Kenapa kalian membiarkannya menderita?”
Mr. Demir menatap Rasyid dengan mata yang tajam dan ketus. “Ini... rahasia kekaisaran kami,” jawabnya dalam bahasa Indonesia yang kaku namun tegas. “Hanya Tuan Putri... berhak tanya itu. Bukan di sini... bukan di depan banyak orang.”
Lalu, Mr. Demir kembali menatap Shanum dengan penuh pengabdian. “Gidelim, Prensesim. Eve gitme vakti geldi.” (Ayo pergi, Tuan Putri. Sudah waktunya pulang).
“Mas Rasyid boleh ikut?” tanya Shanum dengan suara tercekat, menoleh pada suaminya yang tampak terpaku.
Mr. Demir menggelengkan kepala dengan ekspresi dingin. “Tidak. Saat ini... hanya darah asli kekaisaran... yang boleh masuk.”
Halaman pesantren itu mendadak hening. Shanum berdiri di tengah-tengah dua dunia. Di belakangnya ada Rasyid, pria yang telah menerimanya apa adanya dan mencintainya dengan tulus. Di depannya ada Mr. Demir, pintu menuju identitas aslinya yang hilang selama lima belas tahun.
Shanum menatap mata biru Rasyid yang kini dipenuhi dilema dan ketakutan akan kehilangan. Ia ingin tahu siapa dirinya, ia ingin pulang ke “istana” dalam memorinya, tapi ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa pria albinonya ini.
Mr. Demir membukakan pintu mobil mewah itu, menanti dengan sabar. “Prensesim...” panggilnya lagi, mendesak.
Shanum terdiam, membeku di ambang pilihan yang paling menyayat hati dalam hidupnya. Antara cinta yang nyata, atau identitas yang selama ini ia cari.
biarkan shanum bertemu keluarganya dulu, smua orang mengganggapmu rendah tapi shanum anggap kamu suami yg baik dan pantas dihormati...
shanum berharap pulang keturkey bisa hamil....
zein ingin menghancurkan nama baik rasyid Zen punya dendam kesumat kayaknya...
semoga aja rasyid segera kembali, mencari bukti-bukti akurat agar baik bersih...
yusuf dan zein jebloskan aja kepenjara, ada bukti-buakti yg kuat...
💪
apakah rasyid fan zein ada hubungan saudara....
rasyid sangat terpuruk telah difitnah sama yusuf, apalagi shanum cuekin rasyid tidak terima ulah ayah rasyid dulu sampai tega membuang shanum dirumah bordir🤭
kayaknya yusuf punya dendam kesumat sama rasyid, yusuf berusaha menjatuhkan rasyid...
shanum dan rasyid lebih hati-hati sama yusuf sangat jahat dan licik..