NovelToon NovelToon
Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.

Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.

Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.

Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.

Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.

Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."

Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.

Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.

Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.

Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:

"Aku mau pergi utuh."

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: SURAT DARI IBU YANG HANYA TANYA UANG

---

Surat datang. Dari ibu. Pertama kali. Sejak pergi. Sejak meninggalkan. Sejak hilang.

Mahesa melihat amplop itu dari kejauhan. Bu Sarti yang membawa. Berjalan menyusuri pematang sawah, melambai-lambaikan sesuatu putih di tangan. Jantung Mahesa berdetak kencang. Detak yang sudah lama tidak terasa. Detak yang... berharap.

"Mahesa! Surat!" teriak Bu Sarti. "Dari ibumu!"

Dari ibumu. Tiga kata yang membuat dunia berhenti. Tiga kata yang membawa seribu kemungkinan. Mungkin ibu rindu. Mungkin ibu mau pulang. Mungkin... mungkin ibu masih ingat.

Mahesa turun dari beranda. Kaki kanan sakit. Tidak peduli. Berjalan cepat sebisanya. Menyongsong Bu Sarti. Tangan gemetar saat menerima amplop itu.

"Terima kasih, Bu," katanya. Suara bergetar.

Bu Sarti tersenyum. Lalu pergi. Meninggalkan Mahesa dengan amplop putih di tangan.

Mahesa duduk di beranda. Memandangi amplop itu. Tulisan ibu. Ia kenal. Pernah lihat di rapor, di catatan kecil yang ditempel di dinding dulu. Tangan ibu. Yang pernah mengelus rambutnya. Yang pernah menepuk bahunya. Yang sekarang menulis surat.

Dibuka perlahan. Takut merobek isinya. Takut merusak satu-satunya hubungan yang tersisa.

Kertas satu lembar. Dilipat rapi. Dibuka.

"Untuk Kakek Surya, di rumah.

Kakek, apa kabar? Saya di sini baik-baik saja. Bima juga baik, sekolahnya lancar. Pak Darmo baik, sayang sama Bima.

Kakek, saya minta tolong. Kalau ada uang, tolong kirim untuk Bima. Sekolahnya butuh biaya. Banyak kebutuhan. Saya janji nanti ganti kalau sudah punya.

Terima kasih, Kakek. Saya titip salam.

Siti Aminah."

Mahesa membaca. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Mencari. Mencari namanya. Mencari kalimat "bagaimana Mahesa?" Mencari "apa kabar Mahesa?" Mencari... apa pun tentang dirinya.

Tidak ada.

Kosong.

Seperti ia tidak pernah ada. Seperti ia bukan anaknya. Seperti ia hanya... beban yang sengaja dilupakan.

Tangan Mahesa gemetar. Kertas itu bergetar di tangannya. Air mata jatuh. Satu per satu. Membasahi kertas. Membuat tinta luntur di beberapa tempat. Tapi kata-kata itu tetap terbaca. Tetap jelas. Tetap... menusuk.

Uang. Bima. Uang. Bima. Uang. Bima.

Tidak ada "Mahesa". Tidak ada "apa kabar kakimu?" Tidak ada "kangen". Tidak ada.

---

Kakek keluar dari rumah. Jalannya pelan. Masih lemah setelah sakit. Melihat Mahesa menangis. Melihat surat di tangannya.

"Apa itu?" tanya kakek. Suara lembut.

Mahesa tidak menjawab. Hanya menyodorkan surat.

Kakek membaca. Perlahan. Matanya yang rabun harus mendekatkan kertas. Wajahnya berubah. Dari penasaran, menjadi sedih, lalu... marah. Marah yang ditahan. Marah yang tidak bisa meledak karena tidak ada sasaran.

Kakek diam. Lama. Lalu duduk di samping Mahesa. Tangannya yang keriput meraih tangan Mahesa.

"Kek," Mahesa berkata. Suara pecah. "Ibu... ibu tidak tanya aku. Sama sekali."

Kakek menghela napas. Panjang. Berat.

"Ibu mungkin sibuk," katanya. Tapi suaranya tidak yakin. "Mungkin lupa."

"Lupa?" Mahesa menatap kakek. "Lupa sama anaknya, Kek? Bisa?"

Kakek tidak menjawab. Hanya memeluk Mahesa. Erat.

Mereka diam. Berdua. Di beranda. Di sore yang panas. Dengan surat yang menghancurkan.

---

Malam. Mahesa tidak tidur. Surat itu ada di sampingnya. Dibaca berulang kali. Setiap kali membaca, hati seperti diiris sembilu. Tapi ia terus membaca. Seperti ingin memastikan. Seperti ingin melukai diri sendiri.

Mungkin aku salah baca. Mungkin ada kata-kata tentang aku yang terlewat.

Tidak ada. Hanya uang. Hanya Bima. Hanya yang di sana.

Kakek tahu Mahesa tidak tidur. Dari napas yang tidak teratur. Dari gerak di tikar.

"Mahesa," panggil kakek pelan. "Kesini."

Mahesa bangun. Merangkak ke kamar kakek. Duduk di lantai di sampingnya.

"Kakek mau bilang sesuatu," kata kakek. Suara serak. "Ibu kamu... ibu kamu bukan orang jahat. Tapi dia lemah. Dia takut. Dia lihat kamu sakit dan dia... dia tidak tahu harus bagaimana."

Mahesa diam. Mendengar.

"Dia pilih pergi," kakek melanjutkan. "Bukan karena dia tidak sayang. Tapi karena dia takut. Takut tidak bisa ngurus kamu. Takut lihat kamu sakit. Takut... banyak hal."

"Tapi Kek, dia ibu aku. Seharusnya..."

"Seharusnya banyak hal, Nak." Kakek memotong lembut. "Tapi hidup tidak selalu tentang seharusnya. Hidup tentang yang terjadi. Dan yang terjadi, ibu pergi. Itu sakit. Itu nyata. Tapi itu bukan salahmu."

Air mata Mahesa jatuh lagi. Malam ini basah.

"Kakek," bisiknya. "Apa aku tidak cukup berharga buat ibu? Apa karena kakiku... karena aku sakit... aku jadi tidak layak dikasihi?"

Kakek meraih tangannya. Genggaman hangat di kegelapan.

"Dengar, Nak." Suara kakek tegas. "Kamu berharga. Sangat berharga. Ayahmu mati karena bekerja keras buat kamu. Kakek jual sawah buat kamu. Bukan karena kasihan. Tapi karena kamu layak. Kamu anak baik. Kamu kuat. Ibu... ibu yang kehilangan. Bukan kamu."

Mahesa menangis di bahu kakek. Melepas semua. Semua yang ditahan.

---

Pagi. Mahesa bangun dengan mata bengkak. Surat masih di samping bantal. Ia mengambilnya. Membaca sekali lagi. Kali ini lebih tenang.

Masih sakit. Tapi tidak sehancur kemarin.

Kakek sudah di dapur. Memasak bubur. Perlahan. Masih lemah. Tapi berusaha.

"Kek, biar aku," kata Mahesa. Berdiri. Berjalan ke dapur.

Kakek menggeleng. "Kamu istirahat. Kakek masak."

Mahesa duduk. Melihat kakek memasak. Tubuh tua itu bergerak lambat. Tapi berusaha.

"Kek," panggil Mahesa. "Kita harus balas surat?"

Kakek berhenti. Berpikir. Lalu berkata, "Terserah kamu."

Mahesa diam. Memikirkan. Ibu minta uang. Tapi mereka tidak punya. Bahkan untuk makan kadang susah.

"Aku mau balas, Kek. Tapi bilang kita tidak punya."

Kakek mengangguk. "Bagus. Jujur itu penting."

---

Mahesa menulis. Kali ini tidak panjang. Tidak bercerita tentang kakinya. Tidak tentang sakitnya. Tidak tentang rindu.

Hanya singkat.

"Bu, surat Ibu sudah diterima. Maaf, kami tidak punya uang untuk dikirim. Kakek sakit-sakitan. Tidak bisa kerja. Makan saja cukup-cukupan.

Mahesa."

Ia baca ulang. Dingin. Tapi jujur. Tidak ada harapan. Tidak ada kemarahan. Hanya fakta.

Amplop. Tulis alamat yang ada di surat ibu. Alamat di kota. Rumah Pak Darmo.

Kakek melihat. Mengangguk. "Bagus."

Mahesa pergi ke kantor pos. Berjalan pincang. Satu kilometer. Surat di tangan. Dikirim dengan ongkos dari uang sisa jual kayu bakar.

Pulang. Rumah. Kakek menunggu.

"Sudah?" tanya kakek.

"Sudah, Kek."

Mereka duduk di beranda. Sore. Matahari mulai turun.

"Kek," Mahesa berkata. "Aku tidak akan nunggu balasan."

Kakek menoleh. "Kenapa?"

"Karena mungkin tidak ada. Dan aku capek nunggu."

Kakek tersenyum. Bangga.

"Pintar," katanya. "Itu namanya dewasa."

Mereka diam. Menikmati sore. Angin sejuk. Suara jangkrik mulai terdengar.

Mahesa melihat ke langit. Jingga. Indah.

Hari ini berat. Surat ibu menghancurkan. Tapi ia sudah kirim balasan. Jujur. Tidak berharap.

Dan yang paling penting, ia tidak sendirian. Ada kakek di samping. Yang memilih tinggal. Yang memilih dia.

Kaki masih besar. Masih sakit. Tapi hati... hati mulai sembuh. Perlahan.

Karena ia tahu, ia berharga. Bukan karena ibu ingat. Tapi karena kakek ada. Karena ia bisa bertahan. Karena ia... cukup.

Malam turun. Mereka masuk. Makan malam bersama. Bubur sisa pagi. Sederhana. Tapi hangat.

Mahesa tidur dengan surat ibu di bawah bantal. Bukan untuk dibaca lagi. Tapi untuk diingat. Bahwa ia pernah berharap. Dan sekarang, ia belajar untuk tidak.

Karena harapan yang salah lebih sakit daripada tidak berharap sama sekali.

Tapi malam ini, dengan kakek di kamar sebelah, dengan perut kenyang walau sederhana, dengan hati yang mulai tenang, Mahesa merasa... cukup.

Ibu mungkin tidak ingat. Tapi ia ingat dirinya. Ia tahu siapa dirinya. Ia tahu ia berharga.

Itu cukup. Untuk malam ini. Untuk surat yang hanya tanya uang. Untuk semua yang hilang.

Itu cukup.

Karena ia masih punya dirinya. Masih punya kakek. Masih punya hidup.

Malam ini, itu cukup.

---

1
sandra
novel yg luar biasa kk😍 sangat menyentuh cerita nya
di tunggu up nya kk.. semangat
Ayaelsa: terima kasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!