AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 29
"Selamat pagi." Omaya menyapa cucu menantu nya dengan riang gembira. Aura ceria nya membuat suasana pagi mereka terasa semakin hangat.
"Bagaimana tidur kalian ? Pasti nyenyak, kan ?" Tanya Omaya sambil dibantu suster dan juga Wira untuk berpindah duduk ke kursi meja makan.
"Ya ampun, Omaya jadi tidak sabar ingin segera menimang cicit.."
Wira memasang wajah datar. Sementara Audrey membulatkan mata dengan mulut menganga, untuk beberapa saat dia seperti menahan nafasnya.
"Hah ? Cicit Omaya ?" Bola mata Audrey masih membulat seolah mengatakan bahwa tidak mungkin mereka menghadirkan seorang cicit untuk Omaya saat keadaan mereka berdua yang masih diselimuti trauma masa lalu.
"Loh, kenapa ? Bukankah kalian menikah ini untuk memiliki keturunan ?" tanya Omaya.
"Menikah itu bukan hanya tentang berkembang biak." Cetus Wira dengan wajah datar. Dia tidak perduli wajah Omaya sudah berubah masam.
"I-iya, Omaya mengerti. Tapi tidak salah kan kalau Omaya ingin mendapatkan cicit dari cucu kesayangan Omaya sendiri ?!"
Audrey tidak menjawab, dia menunduk menahan cairan yang hendak menerjang keluar. Lalu Audrey merasakan tangannya yang ada di bawah meja terasa hangat karena genggaman jemari Wira yang begitu kuat.
"Omaya, silahkan sarapan sendiri. Kami pamit." Wira menarik tangan Audrey, tidak terlalu kuat tapi menuntut Audrey untuk berdiri.
"Ayo," Ajak Wira tanpa ragu.
"O-omaya, aku pamit." Suara Audrey seperti terbawa angin karena Wira sudah membawanya keluar dengan cepat. Sedang Omaya, wanita tua itu hanya bisa melongo menatap kepergian Audrey dan Wira.
Langit Jakarta seolah bersekongkol dengan hati Audrey yang mendadak pilu. Awan hitam yang sejak pagi menggantung kini pecah menjadi hujan. Hujan turun dengan brutal seperti sembilu yang menyayat hati Audrey pelan-pelan. Memukul kaca mobil mewah milik Wira yang melaju membelah jalanan yang licin.
Audrey menyandarkan kepalanya ke jendela. Hatinya sakit bukan karena ucapan Omaya tadi, melainkan karena kenyataan yang harus dia hadapi. Tapi Audrey lupa, dia tidak sendiri. Ada Wira yang akan menjadi tamengnya dan Wira sudah membuktikannya tadi. Dia melawan Omaya, neneknya sendiri demi melindungi Audrey.
Wira menggenggam tangan Audrey membuat Audrey menoleh menatap Wira dari samping.
"Kita hadapi sama-sama. Kamu dan aku." Ucap Wira membuat Audrey yang sebenarnya cengeng tidak bisa menahan air matanya lagi.
"Huu...uuu..." Audrey menangis.
"Hey, kok jadi menangis ?" Wira akhirnya membanting setirnya ke kiri, mobilnya berhenti.
Wira membuka sabuk pengaman, lalu mencondongkan tubuhnya ke sisi Audrey.
"Jangan menangis. Ada aku." Ucap Wira sambil memeluk Audrey.
"Kasihan Omaya, pasti Omaya sangat berharap cucu kesayangannya memberikan cicit." Suara Audrey tersendat-sendat karena bicara sambil menangis.
"Sssttt... Jangan dipikirkan. Kita fokus saja dengan pernikahan kita ini. Omaya dan yang lainnya anggap saja sebagai figuran dan kita pemeran utama nya. Figuran itu memang harus selalu ada, tapi kehadirannya tidak terlalu penting."
Audrey menatap Wira dan tiba-tiba dia ingat sebuah quotes yang pernah dia baca secara tidak sengaja.
'Mau seisi dunia jahat, jika suamimu selalu berpihak padamu, dunia mu akan baik-baik saja.'
Sungguh. Kalimat itu sangat relate dengan keadaannya saat ini.
"Aku akan mengantar kamu ke posko KKN tapi sebelum itu kita cari sarapan dulu, ya." Wira mengusap kepala Audrey dengan lembut kemudian memasang lagi sabuk pengamannya.
Skip perjalanan ya....
Sampai di posko ternyata James dan yang lainnya sedang melaksanakan kerja bakti dengan para warga. Di akhir masa KKN, para mahasiswa ingin lebih mendekatkan diri mereka dengan warga desa.
"Eh, neng Audrey, Den Wira." Pak RT yang selalu ramah langsung menghampiri saat mobil Wira masuk ke pekarangan posko.
Wira yang selalu membawa buah tangan jika datang ke desa langsung mengeluarkan dus-dus makanan dari dalam mobil.
"Silahkan dibagikan, semoga cukup untuk semua warga." Ucap Wira pada Pak RT. Kebetulan sekali Wira dan Audrey tadi sempat mampir ke toko biru dan memborong berbagai macam makanan ringan, minuman manis sebanyak dua dus, air mineral dua dus serta roti berbagai jenis. Awalnya Audrey menolak, mengatakan yang di beli Wira berlebihan karena terlalu banyak. Namun Wira yang memiliki insting kuat, dia pun tidak menghiraukan ucapan Audrey dan tetap pada pendirian membeli buah tangan sebanyak itu. Dan terbukti, semua yang dia beli tidak akan mubazir.
"Terimakasih, Den Wira, Neng Audrey. Kami terima makanan ini." Ucap Pak RT.
Para Mahasiswa yang di bantu beberapa warga mulai membagikan makanan dan minuman itu.
"Makasih." Ucap Audrey pada Wira tanpa suara. Wira tersenyum tipis sambil berkedip pelan.
Audrey ikut membantu membagikan makanan.
Setelah itu Wira pun pamit.
"Drey, suami lo loyal banget. Mana ganteng lagi." Ucap Yasmin yang tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak memuji Wira.
Audrey hanya tersenyum.
"Bener. Nggak keitung udah berapa kali dia bawain makanan buat kita. Belum lagi jalanan desa yang udah mulus yang baru gue tau ternyata berkat suami lo.." Tambah Nilam, seorang mahasiswi yang jarang bersuara.
"Drey, kalau ada lagi cowo yang kek suami lo, gue mohon dengan sangat, lo kasih nomor hape gue ke dia secepetnya. Gue mau nikah aja. Nggak mau kuliah lagi, capek."
"Heh! Sebelum elu, Yas. Ya gue dululah, secara gue sahabat deket nya Audrey. Iya, kan, Drey ?!" Lula ikut bicara, tidak mau kalah dari yang lain.
Sementara James, Dean dan yang mahasiwa lain hanya bisa menatap 'cewek-cewek' itu dengan tatapan heran sambil menggelengkan kepala mereka.
Ternyata pesona Wira membuat para gadis itu kehilangan akal sehat mereka. Di tengah-tengah keramaian bersama warga desa mereka malah asik berdebat memperebutkan sosok Wira.
Tapi bagi Audrey, tidak masalah. Toh mereka mungkin hanya sekedar bicara saja. Audrey tidak keberatan jika yang dibahas kebaikan Wira. Mungkin akan beda ceritanya jika teman-temannya itu membicarakan hal yang lain tentang Wira. Soal trauma Wira misalnya. Audrey tidak akan tinggal diam.