Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang kampung
Setelah nonton bioskop, Sultan mengajak Riri makan malam di sebuah cafe yang cukup instagramable di daerah Surabaya Selatan. Banyak anak muda yang sedang nongkrong bersama teman bahkan mungkin pacarnya di sana. Riri dan Sultan bisa dibilang yang paling dewasa di antara mereka. Keduanya cukup menikmati malam minggu pertama mereka.
"Bang, biar aku yang bayar."
"Tidak, kan aku yang ngajak kamu keluar."
"Tapi nanti uang abang habis, nggak bisa nabung."
Sultan mengulum senyum. Kekasihnya itu belum tahu siapa dirinya. Jadi kali ini Sultan harus mencari alasan yang masuk akal.
"Aku sudah sering menabung. Tabunganku sudah lumayan cukup kalau cuma untuk melamarmu nanti, asalkan jangan beli tas dan sepatu yang yang harganya jutaan." Canda Sultan.
Riri hanya menggelengkan kepala seraya mengulum senyum.
Karena sudah jam 8 malam, Sultan pun segera mengajak Riri pulang. Mereka harus sampai di kost-an paling lambat jam 9. Riri tidak lupa membelikan sesuatu untuk Fira.
Malam yang penuh syahdu. Meski tanpa adanya sentuhan di antara keduanya, namun ngedate kali ini membuat mereka tidak bisa tidur. Baik Diri maupun Sultan masih berlanjut dengan saling berbalas chat.
...----------------...
10 hari kemudian.
Riri sudah mendapatkan cuti dari kantor selama 5 hari ditambah hari libur dia hari. Ia tidak menyangka akan hal itu. Padahal ia mengajukan cuti hanya 3 hari. Tentu saja hal itu ada campur tangan orang dalam. Sultan mengutus Leo untuk mengkonfirmasi kepada kantor cabang. Awalnya direkturnya pun cukup terkejut. Namun setelah tahu penjelasan dari Leo, ia langsung memberikan izin sesuai permintaan CEO nya.
Hari ini juga Riri akan pulang ke Lombok. Sultan mengantarkannya ke bandara Juanda dengan menggunakan mobil. Sultan bilang kalau mobil tersebut dapat pinjam punya temannya. Padahal itu adalah mobil miliknya yang paling antik.
Mereka baru saja sampai di Bandara. Sultan mengeluarkan koper Riri dari dalam bagasi mobil.
"Ayo, biar aku yang bawa."
"Bang, lusa kamu beneran ya nyusul aku ke Lombok?"
"Iya, pasti. Kamu tidak perlu khawatir. Kalau aku ingkar janji, kamu boleh langsung ajak aku ke KUA."
Riri memukul lengan Ahmed.
"Aduh.. sakit sayang."
Ada sedikit rasa khawatir yang dirasakan oleh Riri. Ia takut Ahmed hanya mengumbar janji, padahal ia sudah terlanjur menceritakannya keoada sang mama. Apa lagi Ahmed belum mengenalkannya kepada keluarganya. Ahmed beralasan orang tuanya pasti setuju, karena keputusannya adalah keputusan orang tuanya. Di sisi lain ia juga khawatir papanya nanti akan mempermasalahkan status Ahmed. Karena sampai saat ini menurut sang mama, ia belum menceritakan pekerjaan Ahmed yang sebenarnya kepada papa.
Sebenarnya Sultan inginnya bareng sekarang juga dengan Riri, namun ada sesuatu yang harus ia rencanakan.
Beberapa saat kemudian, Riri pun harus cek in.
"Aku berangkat dulu."
"Iya hati-hati, sayang."
Ah ingin sekali Sultan memeluk kekasihnya itu, namun apalah daya, lebel halal belum keluar.
Riri melambaikan tangannya. Begitu pun dengan Sultan.
Setelah sosok Riri sudah tidak terlihat, Sultan pun meninggalkan Bandara. Ia langsung pergi ke rumah saudaranya untuk membicarakan sesuatu.
Singkat cerita, Riri baru saja sampai di Bandara Zainuddin abdul Majid. Ia sudah dijemput oleh sopir keluarganya dan seorang sepupunya.
"Kak Riri.... "
"Nadin... "
Mereka berpelukan.
"Wah, kak Riri semakin cantik ya sekarang."
"Kamu ini bisa saja."
"Aku dapat tugas dari om dan tante buat jemput kakak. Mereka pada sibuk."
"Iya, aku ngerti kok. Makasih ya, sudah mau jemput aku."
"Sama-sama, kak. "
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Perjalanan dari Bandara ke rumah Riri cukup jauh. Membutuhkan waktu sekitar dua-tiga jam perjalanan. Selama dalam perjalanan, mereka ngobrol sambil ngemil.
"Kak, memang benar ya habis ini kakak juga bakal nyusul kak Sisi?"
"Insyaallah."
"Katanya calon kakak ganteng banget, terus bos perusahaan ojek, orang kaya juga dong."
Riri mengerutkan keningnya mendengar cerita sepupunya itu. Sepertinya ada yang sudah mengarang cerita tentang Ahmed.
"Kak, kok diam?"
"Hah, nggak pa-pa, cuma sedikit lelah."
"Ya sudah, tidur saja. Nanti kalau sudah sampai, aku bangunin."
"Iya, din."
Dalam hati Riri masih bergelut.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, ia sampai di kampung halamannya. Meski kaya, namun orang tua Riri memilih tinggal di kampung karena lebih tenang dan nyaman. Jadi rumah Riri merupakan rumah yang paling besar dengan halaman yang cukup luas dibandingkan rumah sekitarnya. Acara pernikahan Sisi pun akan digelar di halaman rumah dan acara resepsi akan diadakan di hotel milik mereka.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Beberapa saudara Riri yang sudah ada di rumah itu untuk bantu-bantu acara akad nikah besok lusa. Mereka menyambut kedatangan Riri dengan penuh kehebohan. Apa lagi sudah tersebar kabar bahwa calon Riri juga akan hadir di pernikahan Sisi nanti.
"RI, mana calonnya? Katanya mau ke sini?" Tanya bibi Riri yang merupakan adik kandung sang Papa.
"Itu bi', lusa. Masih ada urusan."
"Wah, pasti calon kamu nggak kalah kaya dari calon Sisi." Sahut saudara yang lain. Namun Riri hanya menanggapinya dengan senyuman. Dalam hatinya sebenarnya ia muak. Karena menurutnya hal tersebut tidak etis untuk dipertanyakan.
Perut Riri sudah lapar. Ia segera pergi ke dapur menyapa orang-orang yang ada di sana dan mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Setelah selesai makan, Riri pun menyeret kopernya dan masuk ke dalam kamarnya. Perjalanan yang cukup panjang membuatnya merasa lelah. Namun karena merasa tidak nyaman Riri pun masuk ke kamar mandi. Dan ternyata dugaannya benar. Ia sedang datang bulan. Memang sudah waktunya. Jadi ia memutuskan untuk tidur saja. Ia lupa mengabari Ahmed kalau dirinya sudah sampai di rumah.
Sultan baru saja sampai di rumah. Ia pun langsung makan siang karena sudah kelaparan. Sementara itu, ummi sudah masuk ke dalam kamar.
Sultan mengecek handphone-nya. Tidak ada kabar sama sekali dari Riri.
"Apa iya belum sampai? Atau mungkin dia sedang sibuk karena sudah bertemu dengan keluarganya." Gumamnya.
"Bang.... "
Suara Hafiza membuatnya terkejut.
"Astaghfirullah... ngagetin saja nih bocil."
"Habis abang ngomong sendiri."
"Dih, siapa yang ngomong sendiri. Abang lagi liatin handphone kok."
Hafiza duduk bersebelahan dengan Sultan. Ia ikut makan siang karena baru pulang sekolah.
Kabar tentang kedatangan Riri dan kekasihnya terdengar di telinga Arga. Ia tidak mungkin tinggal diam dengan hal itu. Arga pun segera datang ke rumah Riri untuk memastikannya. Meski papa Riri sudah menolaknya dengan baik-baik serta memberikan pengertian kepadanya, namun Arga tetap tidak menyerah sebelum bertemu langsung dengan orangnya.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
penasaran Arga feat Ahmed bertemu 😄😄😄
libas y si agar2 bang , neng kn cuma punya Abang sultan😁