NovelToon NovelToon
Pria Titisan Raja

Pria Titisan Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:62.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Kalandra Wiranata adalah seorang Petugas Pemadam Kebakaran yang bertugas di sebuah Kota kecil.
Kota tempat tinggalnya itu terletak cukup strategis karena tepat berada di tengah - tengah dari lima Kabupaten di Provinsi itu.
Karena tempatnya yang strategis, Timnya kerap kali di perbantukan di luar dari Kotanya.
Timnya, bukan hanya sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti keluarga kedua yang di miliki oleh Kalandra.
Karna sebuah kejadian, Kalandra pun di pertemukan dengan seorang wanita yang ternyata merupakan jodohnya.
Selain perjalanan karir dan cinta, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap setelah selama ini selalu membuatnya penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Bukan Pekerjaan Mudah

Kalandra menatap Naina yang berbaring menghadapnya. Wajahnya masih pucat, keringat dingin pun masih keluar dari dahinya seolah sedang menahan rasa sakit.

"Jangan sakit lagi ya, Sayang." Lirih Kalandra sambil mengusap dahi Naina. Rasanya ia tak tega melihat gadisnya yang biasa ceria, terbaring lemah seperti ini.

Naina pun tersenyum, ia kemudian meraih tangan Kalandra dan menggenggam tangan pria itu.

"Abang juga hati - hati kalau bekerja. Jangan sampai terluka lagi." Kata Naina.

"In Syaa Allah. Abang usahakan gak akan terluka lagi." Jawab Kalandra.

Suasana kembali hening, mereka seolah larut dengan pikiran masing - masing. Tak ada lagi pembicaraan, hanya hembusan nafas dan detak jarum jam yang terdengar.

"Lah! Pada tidur." Kata Nadi saat kembali ke kamar rawat Kakaknya.

"Mesra banget orang satu ini. Tidur aja sambil megangin dahi pacarnya. Takut tiba - tiba pacarnya kesurupan, kah?" Lirih Nadi yang terkikik sendiri saat melihat Kalandra yang tidur sambil memegangi dahi Naina.

Nadi kemudian kembali ke sofabednya. Merebahkan diri sambil memainkan ponselnya.

Ia sengaja tak membangunkan Kalandra atau Naina karena tau jika Kalandra belum tidur, begitu juga dengan Naina.

Kalandra dan Naina sama - sama terbangun saat perawat datang untuk memeriksa suhu tubuh juga tekanan darah Naina sebelum Dokter datang berkunjung.

"Kok gak bangunin, Di?" Kata Kalandra yan kemudian duduk di sebelah Nadi setelah membasuh wajahnya.

"Gak tega. Abang sama Mbak Nana pules banget tidurnya." Jawab Nadi yang membuat Kalandra tersenyum.

"Nanti aku titip Mbak Nana ya, Bang. Aku mau jemput Ayah sama Bunda di Stasiun." Kata Nadi.

"Ayah sama Bunda udah sampe?" Tanya Naina.

"Tiga puluh menit lagi sampe, Mbak."

"Kok gak minta jemput Nata aja? Nata kan libur." Kata Naina.

Nata adalah adik bungsunya yang masih berada di kelas dua SMA.

"Nata ada Bimbingan Olimpiade, katanya. Makanya Gak bisa jemput." Jawab Nadi.

Tak lama, Nadi pun berpamitan hendak menyusul kedua orang tuanya.

"Na, makan, ya. Ini sarapanmu sampe dingin." Kata Kalandra.

"Abang gak makan? Belum sarapan juga, kan?" Kata Naina.

"Gampang nanti. Abang juga belum lapar." Jawab Kalandra.

Dengan telaten, Kalandra menyuapi Naina. Keduanya seolah sama - sama menemukan sosok yang tepat. Naina si anak sulung yang 'merindukan' sosok seorang Kakak dan Kalandra si bungsu yang ingin memiliki seseorang untuk dimanjakan.

Kalandra merasa selama ini selalu dimanjakan oleh kedua orang tua juga Kakaknya. Sehingga ia ingin memiliki seseorang yang bisa menjadi tempatnya 'melampiaskan' egonya yang berkata ia pun bisa memanjakan orang terkasihnya.

Keduanya asyik mengobrol dan tentu saja membahas tentang rencana perjalanan mereka ke Gunung R.

"Setelah kamu wisuda aja ya, Na." Kata Kalandra.

"Lama dong, Bang. Masih sebulan lagi. Kan kita muncak gak sampe satu minggu sama perjalanan pulang pergi kalau naik pesawat." Kata Naina.

"Lebih baik setelah wisudamu aja, Sayang. Kita gak pernah tau gimana perjalanan kita. Perjalanan kita gak selamanya mulus, kan. Dari pada nantinya ada hal yang gak kita inginkan terjadi dan bikin kamu gagal datang ke acara wisudamu, lebih baik kita berangkat setelah kamu wisuda." Jelas Kalandra.

"Anggap aja itu hadiah wisudamu." Imbuh Kalandra sambil membelai pipi Naina.

"Hm. Ya aku nurut aja sama Abang deh." jawab Naina pada akhirnya.

"Abang dateng ke acara wisudaku, kan?" Tanya Naina.

"Kamu gak cemburu, kalo Abang jadi pusat perhatian gadis - gadis di Kampus?" Goda Kalandra yang langsung membuat Naina melotot.

"Terus, Abang gak mau dateng?" Tanya Naina.

"Ya mau lah, Na. Cuma Abang takut kamu merajuk karena cemburu." Kekeh Kalandra yang membuat Naina mencebik.

"Abang bawa obat lukanya? Lukanya harus di obati tiap enam jam, kan?" Tanya Naina yang di jawab anggukan oleh kalandra.

"Kamu denger kata Dokter?" Tanya Kalandra yang juga di jawab anggukan oleh Naina.

"Sini aku bantu obatin." Kata Naina.

Kalandra pun mengangguk dan mengambil obat dari tasnya setelah membereskan piring makan Naina.

Perlahan, Naina membuka perban yang menutupi luka Kalandra. Ia meringis sendiri saat melihat luka bakar di tengkuk Kalandra.

Naina perlahan mengobati luka itu dengan salep yang di berikan oleh Dokter.

"Perih, Bang?" Tanya Naina.

"Sedikit." Jawab Kalandra. Naina pun meniup - niup luka di tengkuk Kalandra hingga membuat pria itu tersenyum.

"Abang malah merinding, Na, kamu tiup - tiup gitu." Kekeh Kalandra yang bergidik karena tengkuknya di tiup oleh Naina.

"Eh, hehe! Maksudnya biar gak perih." Jawab Naina yang kemudian kembali menutupi luka Kalandra dengan plaster.

"Iya. Makasih ya, Sayangku." Kata Kalandra sambil mengusap kepala Naina.

"Kenapa Abang bisa luka? Apa Datok Raja gak jaga Abang?" Tanya Naina.

"Abang juga gak tau, Na. Tapi, Abang tadi lihat sesuatu yang janggal." Kata Kalandra.

Ia pun menceritakan tentang sesuatu seperti balon raksasa yang melindunginya saat tertimpa reruntuhan bangunan berapi.

"Alhamdulillah, cuma luka sedikit ini saja." Kata Kalandra kemudian.

"Berarti, penjagaan itu bukan berarti bisa bikin Abang benar - benar selamat dari setiap kejadian." Kata Naina.

"Semua itu sudah ketetapan Allah, Sayang. Kalau Allah sudah takdirkan Abang celaka, bagaimanapun Abang berlindung dan di lindungi, tetap aja bakal celaka." Kata Kalandra yang di jawab anggukan setuju oleh Naina.

Triiing!!

Dering ponsel Kalandra mengalihkan perhatian keduanya. Kalandra segera mengangkat panggilan telfon dari Oji yang masih berada di Markas.

"Ada apa, Ji?" Tanya Kalandra. Jika Oji menelfonnya saat masih berjaga, berarti ada sesuatu yang penting.

Kalandra pun mendengarkan penuturan dari Oji. Wajahnya tampak serius kala mendengarkan penuturan dari Oji. Dahinya bahkan sampai berkerut saking seriusnya.

"Iya, Ji. Aku kesana sebentar lagi." Kata Kalandra yang kemudian menghentikan panggilan dari Oji.

"Ada apa, Bang?" Tanya Naina.

"Ada kebakaran di hutan gambut. Abang sama beberapa anggota di Markas mau bantu madamin api di sana." Jawab Kalandra.

"Sekarang?" Tanya Naina yang di jawab anggukan oleh Kalandra.

"Emang Abang gak dapet dispensasi, gitu? Itu tengkuknya kan lagi luka?" Cicit Naina.

"Cuma luka kayak gini aja, gak apa - apa kok, Sayang. Abang tetap harus ke lokasi karena gak mudah buat madamin api di hutan gambut." Kata Kalandra sembari membelai kepala Naina.

Naina hanya bisa menghela nafas berat. Tentu ia merasa sangat khawatir pada Kekasihnya, meskipun ia tau jika ada Datok Raja yang akan menjaga Kalandra.

"Assalamualaikum." Ucap Ayah dan Bunda Naina bersamaan.

"Waalaikumsalam." Jawab Naina dan Kalandra.

"Itu Ayah sama Bunda udah dateng. Abang siap - siap, ya?" Pamit Kalandra yang kemudian menyalami kedua orang tua Naina.

"Tengkukmu kenapa, Kal?" Tanya Bunda.

"Ini kena kayu terbakar yang runtuh, Bun." Jawab Kalandra.

"Kok bisa?" Tanya Ayah.

"Ya namanya juga musibah, Yah." Nadi yang menyahut, sementara Kalandra hanya tersenyum. Namun ia menjelaskan bagaimana kejadiannya pada kedua orang tua Naina.

"Terus, ini kamu mau kemana?" Tanya Bunda.

"Mau ke Markas, Bun. Ada tugas memadamkan hutan gambut yang terbakar." Jawab Kalandra.

"Lagi? Padahal kamu baru aja 'kecelakaan' gitu?" Tanya Bunda.

"Namanya juga tugas, Bun." Jawab Kalandra sambil cengar - cengir.

Kedua orang tua Naina pun hanya bisa menghela nafas saat mengetahui bagaimana beratnya tugas Kalandra.

1
Esther
Naina gak bisa ngambek lama2 sama Kalandra
Yoyoh Dariyah
lanjut thor 👍 ceritanya
Jack Strom
Sepertinya ceritanya cukup menarik nih, jejaknya saja tertinggal... 😁
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Atik Kiswati
cowok emang gt....gk mau org yg disayang kwatir tapi mlh jadi mslh krn sifat cewek yg kebalikannya ama sifat cowok....jd serba slh kan.....🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
bener sih omongannya. pake tarik ulur lg. buat kerugian aja. mana buat macet pula 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
ditunjukin khodamnya malah terkencing2
Mulyani Asti
hayooolooo marah kan naina nya 😂wes angel...angel wkwkwk🤣🤣🤣aku team kompor meleduk
Yoyoh Dariyah
hadeueuh mulai ngambek nih 🤭
Ika Shanti Budipertiwi
naina lagi mode pms 🤭
Esther
begitulah wanita Kal😂
Santi
nah kan wanita selalu benar abang🤣
Ayunda
bang kal mknya ap2 CRT biar g manyun tuh calon istri
Ita Xiaomi
Alhamdulillah Tante Ani sekeluarga selamat. Berharap rumahnya ndak rusak parah.
Ita Xiaomi
Tuh kan makanya jgn suka nak aneh-aneh, jd dilihatkan yg aneh jg kan.
Yuliana Tunru
mantu dan.pacar idaman mmg kalandra ..karya2 mu mmg 👍 thorr tokih2 x baik budi dan lenyayang cerita x ringan tp bikin kangrn kaya cerita bopo banyu alas dah brp judul msh z syukaaaa
Esther
Bang Kalandra pesona nya smkn bertambah saat sedang beraksi ya Naina😃
Atik Kiswati
lnjt.....
M H
gasss lanjut terus thorr
Mulyani Asti
lemparin aja lah bang kal.tuman🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!