Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.
Ia bernapas.
Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.
Di dunia manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: GERBANG DI ANTARA AWAN
Langkah demi langkah, meter demi meter, mereka terus mendaki.
Udara di ketinggian ini sudah sangat tipis dan dingin, menusuk hingga ke tulang, namun Lira tidak lagi merasakannya. Tubuhnya dilingkupi oleh aura hangat yang samar, sebuah perisai alami yang diciptakan oleh kekuatannya sendiri untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Di hadapannya, puncak gunung itu sudah sangat dekat.
Dan di sanalah letak keajaiban itu berada.
Tidak ada pintu kayu besi yang kokoh, tidak ada gerbang batu yang berukiran rumit. Yang ada hanyalah sebuah lengkungan cahaya raksasa yang terbentuk begitu saja di udara terbuka. Cahaya itu berwarna putih keperakan yang bercampur dengan emas, berputar perlahan dengan tenaga yang stabil namun dahsyat.
Di balik lengkungan cahaya itu, bukan pemandangan tebing atau langit malam yang gelap. Yang terlihat adalah hamparan awan putih yang begitu luas dan tebal, serta kilauan kristal-kristal indah yang memancarkan cahaya sendiri.
Itu adalah Istana Celestia. Rumah aslinya.
Lira berhenti tepat di bawah bayang-bayang gerbang itu. Napasnya tertahan di dada. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lelah mendaki, tapi karena emosi yang meluap-luap.
Begitu dekat. Hanya selangkah lagi, dan ia akan kembali ke tempat di mana ia pernah menjadi siapa dirinya yang sebenarnya.
“Di sana…” bisik Lira pelan, matanya tak berkedip menatap cahaya itu. “Itu rumahku.”
Nyxarion berdiri di sampingnya, sedikit di belakang. Wajahnya tampak serius, menatap gerbang itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa rindu, ada rasa takut, dan ada rasa hormat yang bercampur menjadi satu.
“Itu adalah Gerbang Eternitas,” jelas Nyxarion pelan. “Satu-satunya jalan yang menghubungkan dunia manusia dan alam para Dewa. Gerbang ini tidak akan terbuka untuk sembarang orang. Hanya mereka yang memiliki darah langit atau izin khusus yang bisa melewatinya tanpa hancur.”
Lira menoleh padanya. “Lalu bagaimana caranya?”
“Kau tidak perlu melakukan apa-apa,” jawab Nyxarion. “Gerbang itu merasakan jiwa di dalam tubuhmu. Ia mengenali tuannya. Lihatlah…”
Lira kembali menatap ke depan. Benar saja. Saat ia mengarahkan pandangannya, cahaya di lengkungan itu seketika bersinar jauh lebih terang. Ia berdenyut-denyut seperti jantung yang berdetak, seolah-olah sedang menyambut kedatangan seorang ratu yang telah lama pergi.
Sebuah jalan setapak cahaya muncul dari dalam gerbang, memanjang turun ke arah kaki Lira, mengundangnya untuk melangkah masuk.
“Waktunya telah tiba, Lira… atau Myrrha,” ucap Nyxarion lembut. “Di dalam sana, segalanya akan berubah. Ingatanmu mungkin akan kembali penuh. Kekuatanmu mungkin akan meledak ke level maksimalnya. Dan kau harus siap menghadapi mereka.”
“Mereka?” tanya Lira.
“Para Seraph,” jawab Nyxarion. “Saudara-saudaramu. Mereka pasti sudah tahu kau datang. Getaran kehadiranmu seperti guntur di langit yang tenang.”
Lira mengangguk. Ia memegang erat kalung sederhana yang diberikan Bunda Mira, mencari kekuatan dari kenangan dunia bawah sana.
“Aku siap,” katanya tegas.
Ia melangkah maju.
Saat telapak kakinya menyentuh ujung jalan setapak cahaya itu, sensasi aneh menyergapnya. Rasanya seperti melangkah masuk ke dalam air hangat, namun juga seperti melayang di atas awan. Waktu dan ruang seolah terdistorsi di sekelilingnya.
Warna-warni indah berputar cepat di depan matanya. Suara alam bumi perlahan menghilang, digantikan oleh suara musik syahdu yang tak terdengar oleh telinga, namun terasa sangat jelas di dalam hati.
Dan dalam sekejap mata… semuanya berhenti.
Lira membuka matanya lebar-lebar, takjub oleh pemandangan yang terbentang di hadapannya.
Ia tidak lagi berdiri di atas tanah keras dan bebatuan. Ia berdiri di atas hamparan awan putih yang padat dan empuk, seolah-olah itu adalah lantai marmer yang paling indah. Di sekelilingnya, berdiri bangunan-bangunan megah yang terbuat dari kristal transparan dan batu-batu berharga yang bersinar sendiri dengan cahaya yang lembut.
Menara-menara tinggi menjulang menembus langit yang berwarna ungu pekat dan biru tua yang begitu megah. Bintang-bintang tampak begitu dekat, berkelap-kelip seperti permata yang disusun rapi di atas kanvas malam.
Udara di sini terasa begitu murni, begitu padat dengan energi, hingga Lira merasa tubuhnya ringan dan segar, seolah-olah beban dunia telah lepas dari pundaknya sepenuhnya.
“Wah…” hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya.
Ini indah. Jauh lebih indah daripada apa pun yang pernah ia bayangkan dalam mimpi-mimpinya. Ini damai, ini megah, dan ini… terasa seperti rumah.
Namun di balik keindahan yang memukau itu, Lira bisa merasakannya.
Pandangan.
Banyak sekali pasang mata yang sedang mengamatinya dari balik pilar-pilar kristal, dari kejauhan di taman-taman bunga surgawi, dan dari balkon-balkon istana.
Mereka tidak mendekat. Mereka tidak meneriakkan sapaan. Mereka hanya berdiri mematung, menatapnya dengan napas tertahan.
Lira bisa melihat samar-samar bentuk mereka. Sayap-sayap indah dengan berbagai warna dan ukuran terbentang di punggung mereka. Ada yang berwarna putih, biru, perak, dan hitam.
Mereka adalah para Seraph. Penguasa Langit.
Dan di antara kerumunan bayangan itu, satu sosok maju ke depan.
Sosok itu berjalan lambat, namun setiap langkahnya terasa berat penuh emosi. Wanita itu memiliki rambut keemasan yang panjang bergelombang, dan mata yang sejak tadi menatap ke arah gerbang dengan air mata yang tak henti mengalir.
Itu Elyndra.
Sama seperti dalam mimpinya, namun jauh lebih nyata, jauh lebih hidup, dan jauh lebih cantik.
Elyndra berhenti beberapa meter dari Lira. Tubuhnya gemetar hebat, seolah tidak percaya bahwa apa yang dilihat matanya itu benar-benar terjadi.
“Myrrha…?” bisik Elyndra, suaranya pecah dan terdengar sangat pelan di kebisuan istana itu. “Apakah… itu benar-benar kau?”
Lira menatap wajah wanita itu.
Saat tatapan mereka bertemu, sebuah koneksi langsung terjalin. Tidak perlu kata-kata. Tidak perlu perkenalan. Lira merasakan ikatan batin yang begitu kuat, rasa rindu yang mendalam, dan rasa sayang yang tulus meledak di dalam dadanya.
“Aku… aku di sini,” jawab Lira pelan, air matanya sendiri mulai turun. Ia tidak tahu kenapa, tapi melihat wanita menangis di hadapannya membuat hatinya ikut hancur.
Itu saja yang dibutuhkan.
Dengan langkah yang berubah menjadi lari, Elyndra menerjang jarak di antara mereka. Ia tidak peduli pada aturan atau formalitas. Ia hanya ingin memeluk sahabatnya yang telah hilang selama bertahun-tahun.
“MYRRHA!” teriaknya histeris.
Dan Lira, tanpa berpikir panjang, juga berlari kecil menyambutnya.
Mereka bertemu di tengah jalan setapak cahaya itu. Elyndra menjatuhkan diri berlutut, memeluk tubuh kecil Lira dengan erat sekali, seolah takut jika ia melepaskan sedikit saja, gadis itu akan menghilang lagi ditelan angin.
“Kau kembali… Kau benar-benar kembali…” isak Elyndra, menciumi rambut merah muda itu berulang kali. “Maafkan kami… Maafkan kami karena membiarkanmu pergi…”
Lira membalas pelukan itu erat-erat. Ia membenamkan wajahnya ke bahu wanita yang hangat itu.
“Aku ingat…” bisik Lira di tengah tangisnya. “Aku ingat kalian. Aku ingat segalanya.”
Di sekitar mereka, para Seraph lainnya mulai mendekat perlahan. Wajah-wajah yang tegas dan perkasa itu kini semuanya basah oleh air mata. Altharion, Kaelthar, Seraphel, dan yang lainnya. Mereka berdiri melingkar, menyaksikan pertemuan haru itu dengan hati yang penuh syukur.
Cahaya Myrrha telah kembali.
Langit yang pernah retak itu kini utuh kembali, bukan hanya oleh batu dan semen, tapi oleh pertemuan hati yang memisahkan dunia dan kehidupan.