Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 27
Azka tiba di rumah sakit beberapa menit setelah Celina mendapatkan penanganan medis. Dirinya yang masih diliputi rasa penasaran dan marah lantas menghampiri Aldi dan Delon yang sedang menunggu di luar.
"Ada hubungan apa sebenarnya antara kau dan istriku?" tanya Azka tanpa basa-basi.
Aldi mendongakkan kepalanya dan berdiri, ia kemudian menjawab dengan nada menyinggung, "Celina dalam kesakitan, anda malah menanyakan tentang hubungan kami. Suami seperti anda ini, tak ada rasa empati!"
"Ada dokter yang menanganinya, aku cuma ingin tahu tentang hubungan kalian," kata Azka.
"Hubungan kami sekedar teman biasa!" ucap Aldi.
"Apa jangan-jangan janin yang dikandungannya itu hasil hubungan terlarang kalian?" tuding Azka.
Delon yang duduk mendengar perdebatan keduanya, lantas berdiri kala Azka menuding Celina dan Aldi berbuat tak pantas.
"Jika aku adalah ayah dari calon bayi yang dikandung Celina, tentunya aku akan menjaga dan menyayangi mereka berdua. Tapi salahnya, dia bukan mengandung anakku melainkan dia mengandung anak dari anda si pria brengsek yang berani menyakitinya dan menyia-nyiakannya!!" ucap Aldi dengan nada menahan emosi.
Azka terdiam dan membatin, "Dia mengandung anakku? Kenapa dia tak memberitahu aku? Mengapa dia merahasiakannya semua dariku?"
"Aku akan merebutnya, jika anda melepaskannya!" tegas Aldi berjanji.
Yura keluar dari ruangan penanganan, emosi kembali meledak ketika melihat Azka dihadapannya, "Kenapa kau ada di sini? Tak cukupkah kau sudah menyakitinya?" tanyanya dengan nada lantang.
Delon mendekati istrinya dan memeluknya dari samping lalu berkata pelan, "Sayang, sudahlah. Tenangkan dirimu, ini rumah sakit!"
"Aku sudah sangat kesal dengannya, dia terlalu banyak melukai hati Celina!" ungkap Yura diiringi mata berkaca-kaca karena menahan rasa kecewa.
"Bagaimana kabar Celina?" Delon berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Dia baik-baik saja, calon bayinya juga!" kata Yura.
"Syukurlah kalau begitu!" ucap Delon lega begitu juga dengan Aldi kala mendengarnya.
Azka lantas melangkah tetapi Yura mencegahnya.
"Kau mau ke mana?" tanya Yura.
"Aku mau ketemu dengan istriku," jawab Azka.
"Kau tidak boleh menemuinya yang ada hanya membuatnya stres!" kata Yura.
"Tapi, aku adalah suaminya!" Azka tak senang dilarang menemui Celina.
"Kalian hanya pasangan di atas kertas saja!" cetus Yura.
"Kau sepertinya salah menilaiku, kami menikah bukan hanya menandatangani surat pernikahan saja!" kata Azka menjelaskan.
"Tapi, Celina terpaksa menikah denganmu!" celetuk Yura.
"Sayang, cukup. Jangan bicara lagi!" Delon menegur lembut.
"Celina itu sudah capek, sayang. Celina berhak mendapatkan kebebasan!" Yura sedikit kesal karena tak bisa mengungkapkan isi hatinya.
"Biarkan Celina saja yang memberitahunya!" kata Delon.
Ditengah perdebatan Azka dengan teman-temannya Celina, seorang perawat menghampiri mereka dan berkata, "Tuan Aldi, anda dipanggil Nona Celina!"
"Saya Aldi, saya akan menemuinya!" Aldi bergegas melangkah mengikuti perawat.
"Aku suaminya, kenapa Celina malah ingin menemuinya?" protes Azka.
"Kau lihat sendiri, 'kan? Dia lebih suka ditemui pria yang benar-benar menyayanginya!" kata Yura menyindir.
"Apa maksudnya?" Azka penasaran.
Delon tak ingin istrinya semakin banyak bicara lantas menariknya menjauh dan mengajaknya keluar dari rumah sakit.
"Apa yang dirahasiakannya?" gumam Azka.
Tak lama selepas Yura dan suaminya menjauhi Azka, kedua mertuanya Celina datang tergopoh-gopoh dengan raut wajah khawatir.
"Di mana Celina? Bagaimana keadaannya? Apa dia dan calon bayinya baik-baik saja?" cecar Andin yang sangat panik.
"Mama tahu Celina hamil?" Azka malah bertanya bukannya menjawab.
"Tentunya kami tahu dia hamil," jawab Andin tanpa sadar.
"Jadi, Mama dan Papa tahu Celina hamil. Mengapa kalian tidak memberitahu aku?" Azka begitu kecewa kedua orang tuanya malah merahasiakan kehamilan Celina.
"Tidak ada waktu buat menjelaskannya. Mama mau menemui Celina!" kata Andin.
"Celina ada di dalam, Tante!" Aldi muncul dan memberitahu keberadaan Celina.
Andin dan Angga bergegas melangkah memasuki ruangan itu.
Aldi memilih berlalu dan menghindari Azka, ia tak mau berdebat lagi dengan pria itu.
Selang 5 menit, kedua orang tuanya masuk menemui Celina. Sebuah brankar keluar membawa Celina berpindah ke ruangan rawat inap.
Azka hendak mengikutinya tetapi Angga mencegahnya dan berkata, "Biarkan Celina beristirahat. Dia butuh ketenangan, jangan ganggu!"
"Pa, aku suaminya. Aku ingin menemuinya!" kata Azka protes.
"Kalau kau benar-benar menyayangi Celina, biarkan dia beristirahat. Dia masih sedikit trauma!" ucap Angga.
Azka pun mengurungkan niatnya menemui istrinya. Ia pun memilih pergi ke minimarket dekat rumah sakit buat membeli minuman. Energinya sudah banyak terkuras karena marah-marah.
Sesampainya di minimarket, Azka mengambil 4 botol air mineral dan meneguk satu botol setelah dilakukan pembayaran.
Saat hendak membuka pintu, Azka berpapasan dengan Yura yang juga akan berbelanja. Yura memilih cuek dan tak menghiraukannya.
Azka yang sangat penasaran rahasia Celina lantas menghampiri wanita itu dan berkata, "Aku perlu banyak tahu mengenai Celina."
Yura menarik napasnya perlahan lalu dihembuskannya, ia kemudian berucap, "Aku sudah lama memaksa Celina buat memberitahu semuanya. Tapi, dia memilih menundanya."
"Katakan saja sekarang, rahasia yang disimpan Celina dariku!" desak Azka.
"Aku tidak bicara di sini. Aku akan meminta suamiku untuk menemaniku buat membicarakan ini. Kita bicara di depan sana saja!" Yura menunjuk sebuah resto dan kafe yang ada di depan kanan gedung rumah sakit.
"Baiklah, aku akan menunggu kalian di sana!" kata Azka.