Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.
Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.
Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.
Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Final, Untuk Saat Itu
"Baik. Hal kecil ini sudah diatasi." Ravendra menarik napas kecil. Tersenyum, seolah lega. "Ibu." Pandangannya berhenti pada Anjani. "Sebaiknya kita kembali pada masalah utama dalam pertemuan ini."
Anjani tak langsung menjawab. Pandangannya berlabuh pada Sagara sesaat. Sebelum akhirnya ia mengangguk.
"Ariana meninggal. Proyek inseminasi gagal. Itu fakta sekarang, Sagara. Lalu, Elara siapa?"
"Istri saya." Jawaban langsung. Dua kata, pengakuan. Dua kata yang tak pernah ada dalam kamus hidup Sagara sebelumnya. Mengklaim hubungan. Mengakui status. Istri.
Dan di titik itu, Shafiya yang setia dengan diam sejak awal--tetap tak mengalihkan pandangan pada hal apapun--seolah semua kejadian tak menggelisahkan. Kali ini ia mendongak, menatap Sagara.
"Istri?" Ravendra jelas meragukan itu, meski pernah mendapat pengakuannya langsung dari Shafiya beberapa hari lalu.
"Iya." Singkat, jelas. "Saya menikahi Elara di depan walinya. Sah secara hukum."
Pengakuan itu mungkin terucap hanya untuk sebuah kepentingan, karena keadaan. Namun entah mengapa ada yang hangat mengalir pelan dalam jiwa Shafiya.
"Baik." Ravendra mengangguk.
"Dan anak yang ia kandung--?"
"Karena dia istri saya, maka dia mengandung anak saya." Bersama ucapan itu, tatapan Sagara memindai hampir semua Adinata yang hadir di sana. "Bagian mana lagi yang perlu dipertanyakan."
"Bagian--bahwa dia sebenarnya bukan darah Adinata." Ravendra berkata tegas. Ia bahkan maju selangkah, menghadap Shafiya.
"Jawab saya jujur." Ucapan yang mengintimidasi. "Kamu mengandung sebelum menikah dengan Sagara?"
Shafiya balik menatapnya. Mengangguk.
"Iya." Jawaban singkat, tepat.
"Siapa ayahnya?"
Kali ini Shafiya tak langsung menjawab.
Ia menatap Sagara.
Bukan meminta perlindungan.
Hanya memastikan satu hal--arah.
Sagara tidak menoleh.
Tidak juga memberi isyarat.
Tapi diamnya… cukup. Sebuah isyarat yang dimengerti penuh oleh Shafiya.
Ia kembali menatap Ravendra.
“Tidak penting," jawabnya. Dan sunyi jatuh setelahnya.
Jawaban itu jatuh datar.
Tapi menolak untuk dipatahkan.
“Yang penting," kata Shafiya lagi.
“Saya istri Sagara.” Nadanya tegas.
Tatapannya tidak goyah.
“Sah.”
Ravendra tersenyum miring.
“Itu tidak menjawab pertanyaan saya.”
“Pertanyaan Anda tidak relevan.”
Kali ini Sagara yang bicara.
Tanpa melihatnya.
“Status anak itu sudah jelas.”
“Belum.”
Ravendra memotong dengan cepat.
“Karena kita bicara garis darah.”
Sagara akhirnya menoleh.
Tatapannya lurus.
“Kalau itu yang Anda cari…”
Ia diam sejenak,
“…maka Anda sudah terlambat.”
Hening. Semua diam. Hening yang lebih dalam, dan lebih berat.
“Karena sejak saya menikahinya--"
Nada suara Sagara tetap datar, tapi tegas.
“Tanggung jawab itu berpindah.”
Tatapannya bergeser ke seluruh ruangan.
Mengunci satu per satu.
“Dan tidak ada satu pun dari kalian…yang berhak mempertanyakannya lagi.”
Sunyi jatuh.
Dan itu final.
Untuk sementara.
Ravendra tidak tersenyum kali ini.
Tatapannya berpindah. Lurus, ke Anjani.
“Kalau hanya status, semua bisa diselesaikan," katanya, dan ia belum selesai.
“Tapi ini bukan soal status.”
Ia melangkah satu. Langkah yang tenang dan terukur
“Ini soal garis darah.”
Sunyi menegang lagi setelah ucapannya.
“Dan keluarga Adinata…”
Tatapannya menyapu ruangan.
“…tidak pernah dibangun dari pengakuan.”
“Tapi dari keturunan," lanjutnya.
Anjani tidak bergerak.
Tapi sorot matanya berubah.
Lebih tajam.
“Jika hari ini kita abaikan itu…”
Ravendra melanjutkan.
“Besok--siapa pun bisa masuk. Menjadi keluarga Adinata."
Kalimat itu jatuh. Berat.
Mengarah langsung pada Shafiya.
Tanpa perlu menyebut nama.
“Saya tidak sedang menyerang Sagara.”
Nada suara Ravendra tetap tenang.
“Saya menjaga apa yang Anda bangun selama ini, Ibu.”
Jeda yang pendek, tapi cukup untuk menusuk.
“Jadi mohon tegas.”
Tatapannya tidak lepas dari Anjani.
“Apakah anak itu… darah Adinata?”
Sunyi menggantung setelahnya.
Semua menunggu sikap Anjani.
Dan pemilik kekuasaan mutlak di tubuh Adinata itu akhirnya bergerak.
Perlahan.
Tapi cukup untuk membuat seluruh ruangan menegang.
“Cukup.”
Satu kata. Tapi memotong semuanya.
Tatapannya lurus ke Ravendra.
“Jangan ajari aku tentang garis darah.”
Nada suaranya rendah. Tapi tajam.
Lebih tajam dari sebelumnya.
“Aku yang membangun keluarga ini.”
Ia diam sesaat--seolah memberi waktu ucapannya tak hanya sekedar dipahami.
“Dan aku yang menentukan siapa yang layak berdiri di dalamnya.”
Ravendra tidak menyela.
Tapi rahangnya mengeras.
Anjani beralih. Tatapannya berpindah ke Sagara. Lalu--ke Shafiya.
“Anak itu--" Ada jeda pendek sebelum ia melanjutkan ucapannya. Pendek, tapi berat.
“akan diuji.”
Bisik langsung naik.
Namun terhenti saat Anjani melanjutkan.
“Bukan dengan asumsi.”
“Bukan dengan cerita.”
“Tapi dengan bukti.”
Tatapannya kembali ke Sagara.
Mengunci.
“Kau punya waktu. Sampai aku memutuskan… apakah anak itu layak disebut darah Adinata.”
Sunyi jatuh.
Tak ada yang menyela, meski tak semuanya menerima keputusan itu.
“Dan sampai saat itu--"
Nada suaranya tetap dingin.
“tidak ada satu pun dari kalian yang berhak mengklaim apa pun.”
Tatapannya menyapu ruangan.
Satu per satu.
Mengunci semua semua yang hadir.
Termasuk Ravendra.
“Aku tidak akan membiarkan kursi ini diperebutkan dengan spekulasi.”
Tatapannya kembali ke Sagara.
“Bawa aku kebenaran.”
Hening.
"Dan jangan berpikir untuk bisa membohongiku."
Final. Selesai.
Untuk saat itu.
Alhamdulillah, final baca bab-bab yg tertinggal. Lanjut, Kak Naj. Sambil ngopi & nongkrong ☕
Keren, Kak Naj...