Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.
Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.
Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Kebangkitan Gu
Malam kedua setelah ujian, Seol kembali ke gua.
Kali ini ia lebih siap. Sebuah obor kecil ia buat dari ranting dan kain bekas, cukup untuk menerangi lorong tanpa menarik perhatian dari luar. Ia juga membawa sepotong roti kering dan kendi air—meski ia tidak tahu apakah Gu, sebagai jiwa yang terperangkap dalam batu, membutuhkan sesuatu untuk dimakan.
Ia tidak bertemu siapa pun di jalan. Penduduk desa sudah terlelap, dan penjaga malam klan jarang berpatroli di sisi timur yang dekat dengan air terjun terlarang. Tempat itu memang dihindari oleh semua orang—bukan karena dianggap sakral, tetapi karena dianggap angker.
Legenda mengatakan bahwa siapa pun yang memasuki gua itu akan hilang ditelan bumi. Seol sekarang tahu bahwa "hilang ditelan bumi" mungkin eufemisme untuk "dibunuh oleh jebakan yang Gu sebutkan".
Saat ia masuk ke ruang pemujaan, batu Giwa sudah menyala lebih terang dari kemarin. Cahaya ungu kemerahan memenuhi ruangan, membuat dua belas patung kaisar di sekitarnya tampak seperti hidup—seolah mereka sedang mengawasi.
“Kau datang,” suara Gu keluar dari batu itu. Nada sinisnya masih ada, tetapi kali ini ada sedikit… lega? “Kukira kau akan kabur setelah merasakan sakit kemarin.”
“Aku tidak kabur,” kata Seol sambil meletakkan bekalnya di sudut ruangan. “Aku bilang aku akan kembali.”
“Hm. Bagus setidaknya ada satu kualitas bagus dalam dirimu.” Gu berhenti sejenak. “Tapi jangan harap aku akan memuji sikap baikmu. Aku bukan guru TK.”
Seol tersenyum kecil. “Aku tidak berharap pujian.”
“Bagus. Karena kau tidak akan mendapatkannya.” Batu Giwa berdenyut. “Sekarang, sebelum kita mulai latihan, ada satu hal yang harus kau pahami. Teknik yang akan kau pelajari bukan teknik sembarangan. Ini adalah Seni Qi Sejati—metode pengumpulan qi yang digunakan oleh para kaisar bela diri pertama. Metode ini berbeda dari apa pun yang diajarkan di klan-klan atau sekte-sekte sekarang.”
Seol duduk bersila di depan altar. “Apa bedanya?”
“Perbedaan fundamental,” jelas Gu, suaranya menjadi lebih serius. “Klan dan sekte saat ini mengajarkan murid-muridnya untuk menyerap qi dari alam melalui jalur meridian yang sudah ada. Itu seperti… meminum air dari sungai dengan cangkir. Lambat, terbatas, dan tergantung pada kualitas sungai itu sendiri.”
Ia berhenti, memberi waktu Seol mencerna.
“Tapi Seni Qi Sejati mengajarkanmu untuk menciptakan pusaran di dalam tubuhmu—seperti pusaran air yang menarik segala sesuatu di sekitarnya ke dalam dirimu. Kau tidak hanya menyerap qi; kau menariknya dengan paksa. Itu lebih cepat, lebih efisien, tetapi juga lebih berbahaya. Jika pusaran itu tidak stabil, ia bisa menghancurkan meridianmu dari dalam.”
Seol mengangguk pelan. “Jadi seperti… pedang bermata dua.”
“Tepat sekali. Kau pintar meskipun bodoh.” Gu tertawa kecil. “Tapi sebelum itu, kita harus memperbaiki satu masalah mendasar.”
“Apa?”
“Meridianmu memang sudah terbuka, tetapi itu hanya setengah dari permasalahan. Meridian yang baru terbuka itu rapuh—seperti sungai yang baru digali, dindingnya masih gampang longsor. Jika kau langsung memaksakan Seni Qi Sejati sekarang, kau akan mati dalam hitungan hari.”
Seol merasakan dadanya sesak. “Jadi semua ini sia-sia?”
“Jangan terburu-buru, anak nakal. Aku tidak bilang tidak ada jalan. Hanya saja jalannya lebih panjang dari yang kau kira.” Gu menghela napas—setidaknya itulah yang terdengar seperti helaan napas. “Kau membutuhkan Ramuan Pemulih Nadi. Bahan langka yang dapat menguatkan dinding meridian secara permanen. Tanpanya, latihanmu akan sangat terbatas.”
“Di mana aku bisa mendapatkannya?”
“Di Sekte Pedang Surgawi.” Nama itu keluar dari batu dengan nada yang aneh—campuran antara kekaguman dan kebencian. “Sekte itu didirikan oleh salah satu muridku yang paling… bermasalah. Ia membawa pergi sebagian besar koleksi ramuan langkaku ketika ia mengkhianatiku. Termasuk resep Ramuan Pemulih Nadi.”
Seol terdiam. Sekte Pedang Surgawi adalah nama yang bahkan ia kenal, meski tinggal di desa terpencil. Itu adalah salah satu dari tiga sekte terbesar di Murim Tengah, markas para pendekar pedang terkuat di dunia. Bagi seorang pemuda dari klan kecil yang merosot seperti dirinya, memasuki sekte itu adalah mimpi yang mustahil.
“Kau tahu itu tidak mudah,” kata Seol perlahan. “Aku bahkan tidak punya koneksi. Aku hanya…”
“Anak cabang yang dianggap sampah?” potong Gu tajam. “Itu justru keuntunganmu.”
Seol mengerutkan kening. “Keuntungan?”
“Karena kau tidak memiliki apa pun, kau tidak kehilangan apa pun. Mereka tidak mengharapkan apa pun darimu, jadi mereka tidak akan mencurigaimu. Dan yang paling penting…” Gu berhenti, seolah menimbang kata-katanya. “Kau memiliki sesuatu yang tidak mereka miliki. Aku.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Seol menatap batu Giwa yang berdenyut pelan.
“Aku akan membantumu,” lanjut Gu. “Aku akan mengajarkanmu teknik-teknik yang cukup untuk membuatmu diterima di sekte itu. Aku akan memberimu pengetahuan tentang ramuan dan bela diri yang bahkan para tetua di sana tidak tahu. Tapi pada akhirnya, kau sendiri yang harus mengambilnya.”
Seol menggenggam tangannya. Jari-jarinya menekan telapak tangan hingga terasa sakit.
“Berapa lama?” tanyanya.
“Untuk apa?”
“Untuk sampai ke level itu. Level yang cukup untuk diterima di Sekte Pedang Surgawi.”
Gu terdiam. Kemudian, dengan nada yang tidak bisa Seol tebak—apakah itu kekaguman atau kekhawatiran—ia berkata:
“Kebanyakan orang membutuhkan waktu tiga tahun. Dengan bimbinganku, mungkin satu tahun. Tapi kau…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Sebaliknya, cahaya ungu dari batu itu tiba-tiba melonjak, menyambar tubuh Seol seperti cambuk.
Seol tersentak. Ia merasakan sesuatu—sebuah tatapan yang menelusuri setiap inci tubuhnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bukan tatapan fisik, tetapi sesuatu yang lebih dalam, lebih tua, seperti sungai bawah tanah yang mengalir di seluruh tubuhnya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Seol dengan napas terengah.
“Memeriksa potensimu,” jawab Gu datar. “Karena jika kau tidak memiliki potensi, tidak ada gunanya membuang waktuku.”
Keheningan yang tegang mengikuti. Seol merasakan tatapan itu berhenti di dadanya, di pusarnya, di punggungnya—titik-titik di mana meridiannya bertemu.
Kemudian Gu tertawa.
Bukan tawa sinis seperti sebelumnya. Ini adalah tawa yang lebih dalam—tawa yang mengandung emosi yang bahkan Gu sendiri mungkin tidak mengerti. Lega? Kagum? Atau… harapan?
“Luar biasa,” kata Gu akhirnya. “Kakek buyutmu, Jang Ryu, memiliki potensi yang kukategorikan sebagai langka. Tapi kau…” Ia berhenti, seperti mencari kata yang tepat. “Kau seperti kanvas kosong. Tidak ada jejak teknik sebelumnya yang mencemari fondasimu. Tidak ada kebiasaan buruk yang harus diperbaiki. Meridianmu yang rusak selama ini sebenarnya melindungimu dari kerusakan yang lebih parah.”
“Artinya?”
“Artinya, jika kita melakukan ini dengan benar… kau bisa melampaui Jang Ryu. Kau bisa melampaui dua belas kaisar yang duduk di sekelilingmu ini. Kau bisa…” Gu menelan napasnya—sesuatu yang tidak perlu dilakukan oleh jiwa yang terperangkap. “Kau bisa menjadi yang terkuat yang pernah hidup.”
Seol tidak menjawab. Kata-kata itu terlalu besar untuk dicerna. Yang terkuat yang pernah hidup? Ia yang kemarin masih disebut sampah oleh sepupunya?
“Aku tidak peduli menjadi yang terkuat,” katanya akhirnya. “Aku hanya ingin tidak diremehkan lagi. Aku ingin… memiliki sesuatu yang bisa kubanggakan.”
Gu terdiam sejenak. Kemudian, dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya, ia berkata:
“Motivasi yang bagus. Tapi percayalah, bocah—begitu kau mulai merasakan kekuatan sejati, kau tidak akan bisa berhenti. Itu seperti… kecanduan. Dan itu adalah salah satu alasan mengapa para kaisar itu akhirnya menjadi serakah.”
Seol mengangkat wajahnya. Di cahaya ungu batu Giwa, matanya bersinar dengan tekad yang bahkan Gu—yang telah hidup ribuan tahun—belum pernah melihat sebelumnya.
“Maka aku akan menjadi pengecualian.”
---
Latihan Pertama
Gu memulai latihan malam itu juga.
“Pertama, lupakan semua yang kau pelajari tentang qi selama ini,” perintahnya. “Klan Ryu mengajarkan teknik yang salah. Mereka fokus pada penyimpanan qi di dalam danau nadi. Itu seperti menampung air dalam kolam—terbatas dan cepat kering.”
“Lalu cara yang benar?”
“Qi bukan untuk disimpan. Qi adalah untuk dialirkan.” Suara Gu menjadi seperti guru sejati—tegas, jelas, tanpa nada sinis. “Bayangkan tubuhmu sebagai sungai. Sungai yang sehat bukanlah yang menampung air sebanyak mungkin, tetapi yang memiliki aliran paling deras. Semakin deras alirannya, semakin banyak energi yang bisa kau gunakan dalam sekejap. Itulah kunci kekuatan sejati—bukan kuantitas, tetapi kecepatan aliran.”
Seol menutup mata. Ia mencoba membayangkan apa yang dikatakan Gu. Sungai. Aliran deras.
“Mulai dengan mengambil napas,” bimbing Gu. “Tarik napas dalam-dalam, tapi jangan melalui hidung—bayangkan kau menarik udara dari seluruh pori-pori tubuhmu. Rasakan tekanan di dadamu. Itu adalah qi mentah. Jangan tahan, biarkan ia mengalir ke pusarmu, lalu ke punggung, lalu ke tangan kananmu.”
Seol melakukannya. Pada awalnya, tidak ada yang terjadi. Ia hanya duduk dengan mata terpejam, napasnya teratur, tetapi qi—qi itu seperti kabut tipis yang tidak bisa ia raih.
“Kau memaksakan diri,” tegur Gu. “Jangan memaksa. Qi bukan otot. Ia adalah… teman. Ajak ia mengalir, jangan suruh ia mengalir. Ada perbedaan.”
Seol menggertakkan gigi. Ia mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Entah berapa kali ia gagal. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Otot-ototnya tegang karena konsentrasi yang terlalu keras. Namun setiap kali ia hampir menyerah, ia teringat wajah Cheonmyeong. Tawa mereka. Kata-kata sampah.
Sekali lagi.
Dan pada percobaan ke… Seol kehilangan hitungan… ia merasakannya.
Sensasi aneh di pusarnya. Seperti ada tetesan air hangat yang jatuh ke telaga kering. Tetesan itu tidak diam, tetapi bergerak—naik ke dadanya, melingkar di punggungnya, lalu mengalir ke lengan kanannya.
Matanya terbuka lebar. Ia melihat tangannya sendiri. Tidak ada cahaya, tidak ada getaran. Tapi ia merasakan ada sesuatu di sana. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan dalam tujuh belas tahun hidupnya.
“Aku… aku merasakannya,” bisiknya.
Gu tidak menjawab. Seol hampir mengira Gu telah meninggalkannya, tetapi kemudian suara itu keluar—lebih lembut dari sebelumnya.
“Kau melakukannya. Dalam hitungan jam, kau berhasil melakukan apa yang kebanyakan orang butuh waktu berminggu-minggu.” Ada nada yang tidak bisa Seol kenali. “Mungkin… mungkin aku tidak salah pilih.”
Seol tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, senyum itu tulus. Bukan senyum untuk menutupi rasa sakit, bukan senyum untuk menyenangkan orang lain.
Senyum seorang yang baru saja menemukan bahwa ia bukanlah sampah.
---
Fajar di Desa Cheonho
Matahari belum sepenuhnya terbit saat Seol keluar dari balik air terjun. Tubuhnya terasa lelah luar biasa, tetapi jiwanya ringan. Untuk pertama kalinya, ia tidak berjalan dengan kepala tertunduk.
Di atas bukit, seorang bayangan mengamatinya dari balik pepohonan. Itu adalah mata-mata yang ditugaskan Cheonmyeong.
“Malam kedua berturut-turut,” gumam bayangan itu. “Apa yang ia lakukan di sana?”
Ia mengamati cara Seol berjalan. Sesuatu telah berubah. Pemuda yang kemarin masih tampak rapuh seperti ranting kering, hari ini berjalan dengan langkah yang lebih mantap. Bukan karena percaya diri yang berlebihan, tetapi karena… ada fondasi yang sebelumnya tidak ada.
Bayangan itu memutuskan untuk melaporkan langsung.
---
Di kediaman utama, Cheonmyeong baru saja selesai mandi ketika laporan itu datang.
“Dua malam berturut-turut, Tuan,” kata bayangan itu berlutut. “Ryu Seol masuk ke gua di balik air terjun. Tadi malam, ia keluar saat fajar.”
Cheonmyeong menyisir rambutnya yang masih basah. Gerakannya tenang, tetapi matanya menyipit.
“Apakah ia membawa sesuatu?”
“Tidak, Tuan. Hanya bekal sederhana. Tapi…” bayangan itu ragu.
“Tapi apa?”
“Tuan, cara jalannya berubah. Ada… keteguhan yang sebelumnya tidak ada. Seperti orang yang baru saja menemukan sesuatu.”
Cheonmyeong berhenti menyisir. Ia menatap cermin di depannya. Wajah tampan dengan rahang tegas dan mata tajam itu tampak berpikir keras.
“Gua leluhur,” gumamnya. “Pendiri klan konon mendapatkan kekuatannya di sana. Selama bertahun-tahun tidak ada yang berani masuk karena dianggap angker. Tapi sekarang…” Ia meletakkan sisirnya. “Sampah itu berani masuk dua malam berturut-turut tanpa rasa takut.”
Ia berbalik menghadap bayangan itu.
“Awasi terus. Jika ia keluar dengan sesuatu—benda apa pun—kabari aku langsung. Dan jika kau melihat ada yang aneh… kau tahu harus berbuat apa.”
Bayangan itu mengangguk. “Bunuh, Tuan?”
“Belum.” Cheonmyeong tersenyum tipis. “Aku ingin tahu dulu apa yang ia temukan. Setelah itu… baru kita putuskan.”
Bayangan itu menghilang. Cheonmyeong kembali menatap cermin. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
Kekhawatiran.
---
Di Dalam Gua
Setelah Seol pergi, ruang pemujaan kembali sunyi. Batu Giwa berdenyut pelan, cahaya ungunya meredup menjadi nyala yang hampir padam.
Di dalam batu itu, di ruang antara alam sadar dan alam mimpi, Gu membuka matanya.
Wujud aslinya bukanlah batu hitam. Ia adalah rubah raksasa dengan bulu seputih salju dan sembilan ekor yang menjulur seperti lidah api membeku. Matanya—dua bola merah delima—berbinar di kegelapan.
“Ryu Seol,” bisiknya. Nama itu terasa asing di lidahnya setelah ribuan tahun tidak mengucapkan nama siapa pun.
Ia mengingat kembali sensasi saat jiwanya menyentuh tubuh pemuda itu. Meridian yang kosong. Jiwa yang murni. Dan di dalam pusat kesadarannya, sebuah api kecil yang tidak pernah padam—meski telah dipadamkan oleh dunia selama tujuh belas tahun.
“Kau mungkin benar-benar berbeda dari mereka,” gumamnya.
Ia menutup matanya. Kenangan lama datang bergulir—kenangan tentang dua belas kaisar yang pernah berlutut di hadapannya. Mereka semua juga memiliki api di mata mereka pada awalnya. Api ambisi, api keinginan, api yang akhirnya menghanguskan mereka dan mengurungnya di sini.
Tapi Seol berbeda. Api di mata pemuda itu bukan api ambisi. Itu adalah api yang lebih tua, lebih primitif.
Api seorang yang hanya ingin dilihat.
“Mungkin kali ini,” bisik Gu sebelum kesadarannya tenggelam kembali ke dalam tidur panjang yang akan berakhir saat matahari terbenam nanti. “Mungkin kali ini aku tidak salah memilih.”
Batu Giwa berdenyut sekali, lalu padam.
Ruang pemujaan kembali gelap, ditemani oleh dua belas patung batu yang diam membisu—menyaksikan, menunggu, dan mungkin, diam-diam iri pada pemuda yang baru saja pergi.
---