Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertarungan terakhir
Suasana mendadak sunyi mencekam, begitu sunyi hingga suara napas yang tersisa terdengar terlalu jelas.
Udara seolah berhenti bergerak, menekan paru-paru setiap orang yang masih sadar di ruangan itu.
Lalu—
“Hahahaha…”
Tawa Liu Meiren menggema pelan, lembut di awal namun perlahan berubah tajam, menusuk telinga seperti duri beracun.
Suara itu berputar di udara, memantul di dinding, merayap ke sudut-sudut ruangan tanpa ampun.
Meiren melayang perlahan, ujung gaun merahnya bergoyang lembut seolah menari mengikuti irama dendam yang lama terpendam.
“Lama tidak berjumpa…”
Ia memiringkan kepala sedikit, senyum tipis terukir di bibir pucatnya.
“Sayang.”
Kata itu terdengar manis
namun tatapan Meiren sama sekali tidak mengandung cinta.
Matanya menatap Zhou Wen dengan intens, dalam, dan kejam.
Tatapan itu adalah kebencian yang dipendam selama ribuan tahun, mengental, matang, dan kini siap meledak.
“Hahahaha…”
Meiren kembali tertawa, kali ini lebih keras.
Tubuhnya melayang semakin dekat ke Zhou Wen, wajahnya hanya berjarak sejengkal.
“Sudah waktunya…”
Suaranya merendah, penuh tekanan.
“UNTUK MEMBAYAR SEMUA HUTANG- Di MASA LALU, ZHOU WEEEEN—!”
Teriakan Meiren melengking tinggi, mengoyak udara.
Dinding bergetar, segel-segel berkilat, dan aura di ruangan itu bergejolak liar.
Saat itulah—
“Qinglan!”
Suara Xinyao memotong kekacauan, cepat dan tegas.
“Keluar! Bawa saudaramu keluar dari ruangan ini—sekarang!”
Qinglan tersentak.
Tubuhnya sempat kaku sepersekian detik sebelum kesadarannya kembali.
Dengan wajah tegang dan tangan gemetar, ia segera meraih Fengyun.
Dengan sekuat tenaga, Qinglan menyeret Fengyun menuju ambang pintu.
Langkahnya terseret, napasnya memburu.
Namun—
“Yao Yao!”
Suara Qinglan meninggi panik.
“Pintunya terkunci!”
Xinyao tersentak.
“Apa—?”
Ia menoleh cepat, lalu mendengus kesal.
“Oh SHIt! sial… .”
Xinyao mengumpat lirih.
“Aku lupa.”
Tanpa menunggu satu detik pun—
“Bersembunyi di balik sofa!”
Perintah itu meluncur tajam.
“O—oke!”
Dengan tubuh masih kaku karena ketegangan, Qinglan kembali menyeret Fengyun, kali ini menuju sofa besar di sudut ruangan.
“Akhhh… berat!”
Qinglan mengeluh tertahan, giginya mengatup kuat.
Dengan susah payah, akhirnya mereka berhasil menyusup ke balik sofa.
“Udah!”
Suara Qinglan terdengar terengah dari balik persembunyian.
Xinyao menoleh sekilas.
Tatapannya keras dan serius.
“Tetap di situ.”
Nada suaranya rendah namun mengandung tekanan besar.
“Apa pun yang terjadi, jangan pernah keluar.”
Qinglan menelan ludah.
“Kenapa…?” tanyanya ragu, setengah berbisik.
Xinyao tidak langsung menjawab.
Tangannya mempererat cengkeraman pada rantai spiritual, wajahnya mengeras.
“Karena dari semua orang di ruangan ini…”
Ia menatap ke arah sofa.
“Hanya kalian yang masih sadar.”
Ia berhenti sejenak.
“Kalau setelah ini kalian jadi gila…”
Nada suaranya dingin.
“Jangan salahkan aku.”
Qinglan langsung merosot duduk di balik sofa, jantungnya berdegup keras.
“O—oh… oke…”
Di dalam hati, Qinglan meringis.
‘Padahal masih penasaran banget… tapi kalau taruhannya kewarasan…’
Ia melirik Fengyun yang masih terpaku.
‘Mending diem aja, deh.’
Kembali ke tengah ruangan—
Xinyao mengangkat tangannya, rantai spiritual berkilat semakin terang, jeratannya mengencang di tubuh Zhou Wen.
“Meiren!”
Xinyao berteriak lantang.
Suaranya menggema, penuh peringatan dan kendali.
“MEIREN, SEKARANG!”
Teriakan Xinyao membelah udara.
Mantra-mantra kuno meluncur cepat dari bibirnya, tiap suku kata bergetar dengan kekuatan spiritual yang murni.
Rantai gaib yang mengikat Zhou Wen berkilat tajam, satu per satu mata rantainya mengencang, menekan jiwa dan tubuh fana secara bersamaan.
“Emmm—hhhhh…!”
Lenguhan kesakitan Zhou Wen pecah, parau dan tercekik.
Tubuhnya kejang hebat, urat-urat di lehernya menonjol, matanya terbelalak penuh teror.
Meiren melayang tepat di atasnya.
Wajah pucat itu tersenyum
senyum yang sama sekali tidak mengandung belas kasihan.
“Berteriaklah,” ucap Meiren pelan, nadanya manis namun mematikan.
“Ayo… berteriak.”
Ia memiringkan kepala, menatap Zhou Wen dengan mata berkilat dingin.
“Ah iya…”
Meiren terkekeh.
“Aku lupa. Kau tidak bisa, ya?”
“Hahahahaha—!”
Tawa Meiren mengoyak kewarasan, setiap kata yang keluar darinya menjadi ejekan telanjang bagi Zhou Wen.
“Emmm—HHHH!”
Jeritan tercekik kembali terdengar.
Wussss—
Angin dingin berhembus tiba-tiba, menusuk tulang, membuat bulu kuduk siapa pun yang masih sadar berdiri.
PRANG!
Vas, kaca, dan benda-benda di ruangan pecah berhamburan, terlempar oleh tekanan energi saat Meiren menarik jiwa Zhou Wen keluar dari tubuh fananya.
Tiba-tiba
KRAK!
BBOM!!!
Lampu-lampu di langit-langit meledak satu per satu.
Ruangan langsung tenggelam dalam kegelapan pekat.
“Sial!”
Xinyao mengumpat, suaranya menggema di kegelapan.
“Meiren, jangan sampai jiwa Zhou Wen kabur!”
Di balik gelap, Xinyao merasakan kehampaan
tubuh fana Zhou Wen sudah kosong.
DUAR!
DOM!
Ledakan-ledakan kecil bergema di udara, seperti jiwa yang meronta menghantam batas dunia.
“Bertahan sedikit lagi!”
Xinyao berteriak keras.
“Qinglan! Apa pun yang kalian dengar—jangan keluar!”
“Iya!”
Qinglan menjawab cepat.
Xinyao melemparkan jimat pelindung ke arah seluruh ruangan.
Mantra mengalir dari bibirnya, matanya berkilat terang, menembus kegelapan.
Kini—
gelap tak lagi membatasi Xinyao.
“Kemari kau, sialan!”
SRAKKKK—!
Sebuah rantai spiritual panjang melesat dari tengah segel Xinyao, menjerat jiwa Zhou Wen di udara.
“KAU—!”
Zhou Wen meraung.
Jiwanya meronta, berusaha terbang menjauh.
Namun—
Xinyao menarik dari bawah,
Meiren menekan dari atas.
Jiwa Zhou Wen terhimpit tanpa jalan keluar.
“Akhhhh! Wanita-wanita sialan!”
Zhou Wen berteriak putus asa.
Ia mencoba memanggil dua pecahan jiwanya.
Namun—
Tidak ada respons.
“Kenapa…?!”
Suara Zhou Wen berubah histeris.
“Kenapa tidak ada respon sama sekali?!”
Xinyao tersenyum dingin.
“Buka.”
WOSSSS—
Angin dingin kembali berhembus, lebih dingin dari kematian itu sendiri.
“Meiren, menjauh!”
Xinyao memberi perintah tegas.
“Letakkan giok itu di tengah segel mantra!”
Tanpa ragu, Meiren melayang cepat, meletakkan giok di pusat segel, lalu mundur menjauh.
“MENJAUH.”
Meiren menurut, berdiri di luar lingkaran ritual.
Xinyao mengangkat kedua tangannya.
“Hai Raja Yama!”
Suaranya menggema penuh wibawa.
“Aku mempersembahkan satu jiwa dari klan bayangan!”
Mantra mengalir deras.
Jiwa Zhou Wen tersedot perlahan ke dalam giok, berputar, berteriak, meronta.
“Wanita terkutuk—mati kau!”
Zhou Wen melemparkan sesuatu di detik-detik terakhir.
Namun—
Tidak mempan.
“Apa? aku belum—”
Suaranya terputus.
JIWA ZHOU WEN TERSEGEL SEPENUHNYA.
PLAK.
Xinyao menjatuhkan dua pecahan jiwa Zhou Wen ke tengah segel.
“Ambil.”
Tiba-tiba—
SEBUAH TANGAN RAKSASA muncul dari bawah lantai, hitam dan berlapis aura kematian.
Tangan itu mengambil jiwa Zhou Wen.
Namun—
tangan itu tidak langsung pergi.
Xinyao menghela napas.
“Tidak.”
Nada suaranya dingin.
“Arwah wanita itu tidak jahat.”
“Aku akan memanggilmu setelah urusannya selesai.”
Keheningan.
Xinyao mendengus pelan.
“Aku tahu hukum langit.”
“Aku tidak lupa kenapa aku bereinkarnasi ke dunia ini.”
Ia mengibaskan tangan.
“Hus… hus.”
“Jangan ikut campur urusan dunia manusia.”
Perlahan—
tangan itu menghilang ke kehampaan.
Dengan satu jentikan jari, cahaya kembali memenuhi ruangan.
Xinyao menghela napas panjang.
“Zhou Wen sudah berada di tangan yang tepat.”
Ia menoleh ke Meiren.
“Pergilah.”
“Aku tidak mau orang-orang pingsan lagi karena melihatmu.”
Meiren mengangguk pelan.
Tatapan kebenciannya perlahan mereda.
Tubuhnya menghilang ke kehampaan.
Xinyao menatap sekeliling—
orang-orang masih bergelimpangan tak sadarkan diri.
“Sekarang…”
Ia bergumam pelan.
“Tinggal membangunkan manusia-manusia rapuh ini.”
Mantra kembali dilantunkan.
Jimat-jimat aktif satu per satu.
Bersambung 🥂
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
selamany aja deh kek gitu...
lbh kasihan hauron, uangnya sia2 😜