Dikhianati oleh suami dan adik sepupunya sendiri membuat dunia Intan Kalista Atmaja hancur. Namun ia tetap mencoba untuk kuat. Sampai dirinya dipertemukan dengan Giovanni Abiyan Prayoga, laki-laki yang umurnya lebih muda delapan tahun darinya.
Pertemuan awal yang tak mengenakan membuat keduanya saling membenci. Namun siapa sangka, Pemuda itu justru membawa delima pada Intan saat kenyamanan mulai tumbuh dalam hatinya.
Akankah mereka bersama atau justru Giovanni hanya dijadikan pelampiasan oleh Intan?
Yuk ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SWB chapter 29
Lampu-lampu berwarna menyapu ruangan dengan ritme cepat, dentuman musik menghantam dinding-dinding club tanpa ampun. Tawa keras dan ejekan saling bersahutan di dalam salah satu room tempat Giovanni duduk bersama teman-temannya. Gelas-gelas minuman terangkat, asap rokok menggantung di udara. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, Giovanni justru terasa terpisah.
Pandangannya sesekali melayang ke lantai bawah, menembus kerumunan orang yang sedang menari maupun lewat. Ada kegelisahan yang tak bisa dijelaskan. Ia berharap menemukan satu wajah yang dikenalnya yaitu Intan. Sayangnya bayangan wanita itu tak kunjung terlihat, membuat dada Giovanni semakin terasa sesak.
Drrrt...
Getaran halus di saku jaketnya membuat Giovanni tersentak. Ia merogoh cepat, lalu menyipitkan mata saat melihat nama yang tertera di layar. Baru saja ia memikirkannya dan wanita itu menghubunginya. Jantungnya berdegup lebih cepat, tanpa ragu, ia langsung menerima panggilan itu.
"Gio ... tolong!" Suara itu terdengar terputus-putus, serak, dan dipenuhi kepanikan.
Jantung Giovanni kembali berdegup lebih cepat saat nama panggilannya meluncur dari seberang telepon, disusul tarikan napas Intan yang terdengar tidak stabil.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Giovanni panik, suaranya sedikit bergetar, meski ia berusaha terdengar tenang.
Seketika tawa dan obrolan di sekelilingnya menghilang. Teman-temannya menoleh, menangkap perubahan drastis pada ekspresi wajah Giovanni.
"Gio, ada ap—" Ucapan Bagas terhenti saat Giovanni menunjukkan jati telunjuknya, memberi isyarat pada sahabatnya itu untuk diam.
Wajah Giovanni tampak tegang, alisnya bertaut dalam, fokusnya sepenuhnya pada suara di seberang sana.
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba kepalaku pusing. Badanku juga terasa panas," jawab Intan lirih seolah setiap kata menguras tenaganya.
Rasa cemas menjalar cepat di dada Giovanni, berubah menjadi kekhawatiran yang menusuk. "Tetap di situ. Jangan ke mana-mana. Aku akan datang."
Tanpa menunggu jawaban Giovanni berdiri lantas pergi meninggalkan teman-temannya. Langkahnya cepat, nyaris tergesa.
"Gio, lo mau ke mana?" tanya Bagas heran.
"Ada urusan," jawab Giovanni, menoleh sekilas ke arah Bagas. Nada suaranya dingin, tapi jelas menyimpan kekhawatiran yang tak sempat ia jelaskan.
Giovanni berlari kecil, menembus lorong club yang penuh sesak. Musik terdengar semakin samar di telinganya, tergantikan oleh suara napasnya sendiri yang memburu. Kepanikan bercampur amarah membuat langkahnya semakin cepat.
Tak lama, ia melihat sosok Intan. Wanita itu nampak pucat di bawah cahaya lampu yang redup, lengannya ditarik paksa oleh seorang pria bertubuh lebih besar. Intan terlihat berusaha menahan langkahnya, tubuhnya jelas tidak stabil.
"Lepaskan!" ucap Intan. Suaranya terdengar bergetar.
"Ayolah, aku akan membantumu," ucap pria itu. Suaranya terdengar dibuat-buat lembut namun matanya memancarkan niat yang tidak baik.
Intan menggeleng kuat. "Aku tidak mengenalmu."
Pria itu tersenyum miring, seringai licik terlukis jelas di wajahnya. "Tenang saja, setelah malam ini, kamu akan mengenalku."
Intan menggeleng sambil menahan langkahnya saat pria itu terus menariknya, tapi tenaganya tidak sebanding. Saat itulah rahang Giovanni mengeras. Amarah bercampur cemas memenuhi dadanya. Tanpa ragu sedikit pun, ia melangkah cepat menghampiri mereka. "Lepaskan!"
Giovanni langsung menarik Intan dari cengkraman pria itu dan berdiri di depan Intan seolah tubuhnya menjadi perisai.
"Siapa lo?" bentak pria itu dengan garang. "Jangan ikut campur, Bocah."
Tatapan pria itu tajam, penuh dengan ancaman. Namun Giovanni tak gentar dengan pandangan tidak bersahabat itu. Ia tetap berdiri tegap, sorot matanya dingin dan penuh keyakinan. "Kalau menyangkut wanita ini, gue akan ikut campur."
"Lo —" Pria itu hendak membalas, tapi Giovanni mendahuluinya.
"Pergi sekarang!" lanjut Giovanni, "atau gue panggil keamanan karena lo udah bikin rusuh di tempat ini."
Suasana mendadak menegang. Hanya suara napas berat yang terdengar di antara mereka. Beberapa pengunjung mulai melirik. Pria itu tak punya pilihan selain pergi dari tempat itu. Sebelum pergi pria itu menatap Giovanni tajam dan melontarkan ancaman. Namun Giovanni tetap tenang seolah ancaman itu tak berarti apa-apa baginya.
Setelah pria itu pergi, Giovanni menarik Intan hendak membawanya menjauh. Namun tubuh Intan tiba-tiba melemah. Jika saja Giovanni tidak sigap, tubuh wanita itu sudah terjatuh ke lantai dingin club malam.
"Panas," racau Intan, kepalanya terkulai di dada Giovanni.
Kening Giovanni mengernyit. Jantungnya berdegup lebih cepat menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan Intan. Kulit Intan terasa jauh lebih hangat dari biasanya, napasnya tidak teratur, dan sorot matanya kosong. Dugaan buruk langsung menyusup ke pikirannya, kemungkinan Intan mengkonsumsi obat perangsang.
Tanpa memberi waktu pada kepanikan untuk menguasai dirinya, Giovanni segera mengambil keputusan. Ia menguatkan pegangan, menopang tubuh Intan dan membawanya pergi dari tempat itu.
Suasana club malam terasa semakin pengap. Dentuman musik yang tadinya hanya menjadi latar kini terdengar mengganggu, lampu warna-warni berpendar tajam di mata Giovanni. Beberapa pengunjung menoleh, menatap mereka dengan ekspresi heran, curiga, bahkan sinis. Namun Giovanni sama sekali tidak peduli. Fokusnya hanya satu, membawa Intan keluar dari situasi berbahaya ini secepat mungkin.
Ia menuntun Intan melewati kerumunan, naik ke lantai atas gedung dengan langkah tergesa namun tetap hati-hati. Di atas sana ada kamar yang disewakan untuk pengunjung club.
Giovanni terus melangkah. Ia mencoba untuk tenang meskipun ada kekhawatiran yang menyusup ke dadanya. Setiap detik terasa begitu panjang, sementara tubuh Intan semakin berat bersandar padanya.
Sesampainya di salah satu kamar, Giovanni langsung membawanya ke kamar mandi. Udara di dalam ruangan itu lebih sejuk, kontras dengan panas yang memancar dari tubuh Intan. Dengan gerakan cepat namun penuh kehati-hatian, Giovanni mendudukkan Intan di bathtub lalu memutar keran air.
Air dingin mengalir dan menyentuh kulit Intan.
"Aaa!" Intan berteriak lantaran terkejut, tubuhnya refleks menegang.
Giovanni merasa sedikit lega mendengar reaksinya. Itu pertanda Intan masih cukup sadar. Ia berjongkok di samping bathtub, wajahnya penuh kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Giovanni dengan nada lembut namun tegas, berusaha untuk tetap tenang meski dadanya dipenuhi rasa cemas.
Pandangan Giovanni tak lepas dari wajah Intan, berharap air dingin itu bisa sedikit membantu menurunkan panas sekaligus menjernihkan kesadarannya. Sementara di dalam hatinya, ia bertekad tak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada wanita itu.
Saat tengah fokus pada Intan, tiba-tiba wanita itu meraih tengkuknya dan menyatukan bibir mereka, melumat dengan kasar, sedikit membuat Giovanni kewalahan.
Giovanni diam tanpa perlawanan lantaran tak siap menerima serangan dadakan itu.
"Panas, Gio. Aku benar-benar tidak tanan," racau Intan.
"Shit!" Giovanni mengumpat di dalam hati. Rupanya air dingin itu tak cukup menghilangkan efek obat perangsang dalam tubuh Intan.
Giovanni kembali berpikir, mencari cara untuk menghilangkan efek obat sialan itu. Namun, Intan kembali menciumnya membuat Giovanni hampir kehilangan kontrol. Pemuda itu menarik diri dan berkata, "Don't make me lost control."
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️