Nawalisya Nasyirah, berusia 28 tahun telah menikah dengan Fandyka Satya Mahardika yang telah berusia 21 tahun. Mereka menikah atas dasar perjodohan. Nawal menerima perjodohan itu atas dasar rasa sayang dan hormat kepada orang tuanya, Hingga akhirnya Nawal membuka hati dan belajar mencintai sang suami.
3 bulan awal pernikahan Fandy dan Nawal berjalan biasa saja, meski mereka tak saling dekat. Namun, setelah 3 bulan itu, Fandy memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Mila.
Disitulah cinta Nawal di uji. Akan kah mereka tetap bertahan? Ditambah lagi dengan masalah usia Nawal yang lebih matang dari fandy?
Simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keraguan
Nawalisya
Hari ini, aku harus pulang ke kampung ku di Pasuruan. Aku sangat merindukan anakku, Kenan. Ya. Setelah aku kembali pulang menemui bapak dan ibu, tentu saja mereka bahagia. Terlebih lagi, sekarang ada Kenan. Bapak dan ibu sengaja menahan Kenan untuk tinggal bersama mereka.
Sebulan yang lalu setelah hakim mengetuk palunya tanda aku dan mas Fandy sudah resmi bercerai, Aku melanjutkan hidup ku dengan baik. Kembali ke Bali untuk bekerja guna menafkahi Kenan, mencukupi seluruh kebutuhannya meski mas Fandy tetap mengirim sejumlah uang yang tak sedikit untuk kelangsungan hidup putra kami.
Setelah Samapi di Pasuruan, ku lirik jam tanganku menunjukkan pkl 21.20 malam. Aku memang sengaja tidak menelpon ibuku, tidak memberi tahukan bahwa aku akan pulang hari ini.
Setelah turun dari travel yang ku kendarai, aku cengo seketika. Mas Fandy? Apa itu benar? Kenapa aku melihat mas Fandy menggendong Kenan di teras rumah. ku kucek mataku sekali lagi, memastikan kalau bayangan mas Fandy hanyalah halu semata. Tidak, bayangan mas Fandy tidak hilang. Ini benar-benar nyata. Sangat nyata.
Perlahan aku mendekatinya. Kenan berteriak heboh padaku. "Mommy.... mom sudah pulang dad. Ohh ya tuhan mommy, Kenan rindu mommy". Sesaat mas Fandy membalikkan badan dan mata kami saling bersirobok. Tegang, canggung, salah tingkah. Itulah yang aku rasakan saat ini.
"Eehh mas, ka k kamu.... kapan datang?".
"Tadi, habis Maghrib. Kamu kok nggak telpon kalau mau datang?".
"Iya, mau bikin kejutan Kenan Kamu kok ada disini?".
"Iya, aku mau jemput Kenan rencananya, mau ku bawa jalan-jalan ke Banyuwangi. Karna datangnya udh malem, jadi bapak sama ibu nyuruh aku nginep deh. Kamu sendirian aja?".
Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba suara bapak dan ibu keluar dari dalam rumah.
"Lho nduk, kapan datang? Kok Ndak ngabari bapak ibu to?",
"Baru buk. Sengaja bikin kejutan". Jawabku sambil meraih tangan bapak dan ibu ku. Mencium punggung tangan mereka secara bergantian. Setelahnya, aku menyalami mas Fandy.
Rindu? Tentu saja. Lama aku dan mas Fandy nggak ketemu. Dia tersenyum tipis kepadaku. Tentu saja aku merasa bahagia melihat senyumnya. Sejujurnya, aku masih ada rasa dengannya. Tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak akan mungkin untuk kembali rujuk dengan mas Fandy. Bayangan luka di masa lalu ku membuatku takut untuk kembali pada mas Fandy.
"Gimana nduk? Sehat?", suara bapak membuyarkan lamunanku. Aku menjawab dengan anggukan dan hanya tersenyum. "Ayo masuk dulu". Ku lihat mas Fandy menurunkan Kenan dari gendongannya.
Aku meraih gagang koper dan menenteng tas ku. aku di buat terkejut dengan gerakan tangan mas Fandy yang tiba-tiba meraih koperku, membawanya masuk ke dalam.
"Biar aku yang membawakan. Ini berat".
"Jangan mas, aku bisa membawanya sendiri".
"Sudah. Tidak apa-apa. Kamu pasti kecapek an. Masuklah. Di luar dingin. Ini juga hampir larut malam".
"Tapi mas...".
"Na, udah jangan di ributin ya. Ini berat", sahutnya cepat.
"Lebih berat mana kalau di banding dengan rindu aku?". Sumpah demi apapun juga, Aku merutuki kebodohanku karna memiliki mulut yang asal nyablak ini. Kenapa kalimat sialan ini meluncur begitu saja. Aku malu. Sungguh sangat malu.
Ku gigit bibir bawahku untuk menutupi rasa gugupku. Mas Fandy yang tadinya mendahuluiku, tiba-tiba saja berbalik dan tersenyum tipis padaku.
"Lebih berat merindukanmu na". Aku yang mendengar jawaban mas Fandy seketika mengalihkan pandangan ke arah samping. Mas Fandy kembali berbalik dan mendahuluiku.
"Mas", Panggilku lagi. Mas Fandy berbalik lagi ke arahku, masih dengan senyum manisnya.
"Aku hanya bercanda. Jangan di ambil hati".
"Beneran juga nggak apa-apa". Aku melotot mendengarnya.
Setelah sampai di dalam aku duduk dan berbicara pada ibu dan bapakku. Aku rasa ini waktu yang tepat. Karna ada mas Fandy juga. Mumpung Kenan sudah terlelap.
"Pak, buk. Ada yang mau Nawal bicarakan". Semua mata menoleh ke arahku.
"Ada apa?". Bapak bertanya padaku.
"Setelah masa Iddah perceraian ku sama mas Fandy selesai, Aku... eemmmm maksud Nawal, Tristan akan datang melamar Nawal buk" Ucapku mantap.
Mas Fandy yang tadinya santai saat ini menatapku intens. Rahangnya mendadak mengeras. Aku benar-benar bingung harus bereaksi seperti apa.
"Apa kamu yakin?", Kali ini ibu yang bertanya lagi dengan suara ragu.
"Nawal yakin pak, buk". Setelah aku mengatakan yakin, mas Fandy menundukkan pandangannya. Hening, hingga mas Fandy kembali mendongak dan bertanya dengan suara gemetar.
"Apa benar-benar tidak ada lagi kesempatan untukku memperbaiki semuanya na?". Aku menunduk. Bingung harus menjawab apa.
"Aku ingin kita rujuk lagi na. Aku janji, aku nggak akan mengulangi kesalahan di masa lalu. Tolong beri aku kesempatan. Setidaknya, ini untuk Kenan, putra kita.
"Bukankah aku sudah memberikan kamu kesempatan untuk memperbaiki semuanya mas? Dengan mengizinkan kamu bisa bersama dengan Kenan meski tidak setiap hari, bukankah itu sudah memberimu kesempatan untuk memperbaiki semuanya?", Jawabku telak. "Katakan, kesempatan apa lagi yang kamu mau?" Sambung ku lagi.
"Tidak bisakah kita kembali rujuk".
"Maaf, mas. Aku tidak bisa". Kedua orang tua ku menggelengkan kepalanya pelan, mendesah lelah mendengar perdebatan ku sama mas Fandy.
"Jadi benar kamu mencintai Tristan? Jawab na?". Aku melihat mata mas Fandy yang sudah mulai berkaca-kaca. Mata ini, sungguh benar-benar mampu memikat ku. Tapi bagaimanapun, luka di masa lalu tidak akan dengan mudah di hapuskan dengan air mata.
Aku diam tanpa bisa menjawab pertanyaan mas Fandy. Sejujurnya, aku sendiri tidak tau apa aku benar-benar mencintai Tristan atau tidak. Aku hanya merasa nyaman dekat dengannya. dia mampu melindungimu dan selalu membuat suasana hatiku membaik.
"Apa maksudmu mas?".
"Aku tau kamu masih mencintaiku. Jangan membohongi perasaanmu na. Aku tidak mau kamu nantinya tenggelam dengan penyesalan. Aku dan mila..... Kami sudah resmi berpisah secara baik-baik. Apa itu belum membuktikan keseriusan aku? Meskipun kita sudah resmi bercerai, apa aku pernah menjatuhkan talak padamu? Itu aku karna masih sangat menyayangimu na. Menikahi Mila lagi empat tahun yang lalu, tidak lebih dari sekedar iba dan kasihan, lebih berarah untuk menyelamatkannya".
Aku terpaku mendengarnya. Apa itu benar? Mas Fandy sudah bercerai dengan mila? Lalu, kenapa aku baru mendengarnya?
"Jangan bercanda mas". Jawabku lirih.
"Jadi, semua yang aku katakan kamu anggap lelucon receh yang tidak ada artinya? Sepicik itukah kamu menilaiku, na?".
Lama aku diam, berperang melawan keraguan hati ku. Haruskah aku meneruskan cerita ku dengan Tristan? Ataukah kembali luluh dan memilih kembali ke pelukan mas Fandy? Aku rapuh sekarang.
"Nduk, ikuti kata hatimu", Suara bapak dan senyum yang meneduhkan itu membuyarkan lamunan ku.
"Maaf pak, buk. Fandy pamit ke dalam. Fandy akan menemani Kenan tidur malam ini", kata mas Fandy dengan senyum yang di paksakan.
"Maaf, mas" Aku berkata lirih. Memejamkan mata menikmati keraguan hati ini, Pasrah kemanapun takdir akan membawaku, menentukan aku harus hidup dengan siapa.
pengen kesel, kok ada cewe mcm bgono, mslhnya ini cuma novel