Lanjutan dari novel "Nikah Paksa Jadi Cinta"
Yang belum baca musim pertama bisa baca dulu ya, hehe...
.
.
Karena sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tuanya membuat Diandra harus kabur dari rumah.
Diandra tak ingin dikekang. Ia ingin bebas menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Kevin Andrea Geraldy. Seorang pria yang ia ketahui adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Hidupnya berubah dan benih cinta antara keduanya mulai tumbuh.
Namun, disisi lain Diandra tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri. Apa yang akan Diandra lakukan?
Simak yuk ceritanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
Kevin menghela napasnya sejenak. Ia tidak tega menyakiti Kanaya. Bagaimanapun juga, wanita yang kini bersamanya adalah wanita yang pernah ia cintai. Wanita yang begitu ia sayangi.
Andai waktu itu Kanaya lebih dulu memberikannya kesempatan lagi, mungkin Kevin tidak akan sebingung ini. Rasa cintanya untuk Kanaya sudah memudar entah sejak kapan. Ia bingung memberikan jawaban pada Kanaya.
Kanaya menghampiri Kevin. Ia langsung memeluknya dengan erat. Kevin terkejut namun tak mampu menolak pelukan tersebut.
"Aku sudah kembali Vin. Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi," ucap Kanaya yang masih memeluknya.
Tangan Kevin tergerak untuk mengusap punggung Kanaya. Dan itu membuat Kanaya semakin yakin jika Kevin akan menerimanya kembali. Kevin mendorong pelan tubuh Kanaya. Ia memegang bahu Kanaya dan menatapnya dengan lekat.
"Maaf Nay, tapi aku sudah tidak mencintaimu lagi," ucap Kevin dengan hati-hati. Ia berharap semoga Kanaya bisa mengerti dirinya. Seketika air mata Kanaya tak bisa ia tahan lagi. Perkataan Kevin membuat hatinya sakit.
"A-apa maksudmu? Kamu bercanda kan?" tanya Kanaya tak percaya dengan apa yang ia dengar tadi. Kanaya menatap wajah Kevin dengan lekat. Ia tertawa namun air matanya tak bisa ia bendung lagi.
Kevin menyeka air mata Kanaya. Ia tak tega melihat Kanaya seperti itu.
"Maafkan aku... Aku tidak bisa kembali bersamamu lagi." Kevin menundukkan wajahnya. Ia memejamkan matanya sejenak.
"Kenapa Vin? Bukankah ini yang kamu harapkan? Kita bisa balikan lagi seperti dulu?" ucap Kanaya sambil mencengkram jas yang Kevin kenakan.
"Sekali lagi aku minta maaf Nay... Aku tidak bisa," ucap Kevin pelan.
"Cukup! Aku tidak mau mendengarnya lagi Vin! Cukup!" ucap Kanaya sedikit meninggi sambil menutup kedua telinganya. Ia merasa malu dan kecewa. Ia tak pernah mengira akan seperti ini jadinya. Memang, penyesalan selalu datang di akhir. Dan itu yang saat ini Kanaya rasakan.
Kevin mencoba menenangkan Kanaya. Kevin tidak ingin mereka menjadi pusat perhatian. Apalagi dengan kondisi Kanaya yang seperti itu. Akan lebih sulit baginya jika diketahui publik.
Kanaya masih meronta. Ia kecewa. Merasa Kevin sudah mempermainkan dirinya. Karena sudah sering ia tolak waktu mencoba memperbaiki hubungan mereka.
"Nay, jangan seperti ini," ucap Kevin yang akhirnya memeluk Kanaya agar lebih tenang lagi. Kanaya masih terisak dalam kesedihannya. Tangannya mencengkram kuat jas Kevin.
"Kenapa kita tidak bisa bersama lagi Vin? Apa kamu ingin balas dendam padaku?" ucap Kanaya yang masih sesenggukan.
"Aku tidak pernah berpikir akan balas dendam padamu Nay. Aku minta maaf karena tidak bisa kembali padamu," ucap Kevin.
Saat Kanaya sudah jauh lebih tenang, mereka duduk kembali di kursi masing-masing. Kanaya terlihat begitu terpuruk. Kanaya masih terdiam. Kenapa ini terjadi padanya? Apa ini balasan untuknya? Pikiran Kanaya masih kacau.
Selepas itu Kevin mendapat telepon dari asistennya. Mau tidak mau ia harus segera kembali ke kantornya lagi. Tetapi, wanita dihadapannya saat ini bagaimana? Kevin tidak tega membiarkannya sendirian di sini. Sial!
"Naya," panggil Kevin dengan lembut.
"Tinggalkan aku sendiri Vin. Jangan ganggu aku. Kau pergilah," ujar Kanaya. Kevin menghela napasnya sejenak. Ia akan menyuruh seseorang untuk mengawasi Kanaya nanti. Ia tidak bisa membiarkan Kanaya melakukan hal bodoh nantinya.
Di seberang tak jauh dari meja mereka, Diandra menyaksikan hal tersebut. Cukup lama Diandra berdiri di posisinya hanya karena ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Namun karena terlalu bising, ia tidak bisa mendengar percakapan mereka. Hingga Diandra memutuskan pergi dari sana dengan suasana hatinya yang buruk. Padahal ia ke tempat ini untuk bersantai sebentar. Namun siapa sangka, ia justru menyaksikan pertemuan antara Kevin dan Kanaya.
"Ya sudah. Aku pergi dulu. Kamu jaga diri baik-baik. Sekali lagi aku minta maaf Nay. Aku tidak bermaksud mempermainkanmu," ucap Kevin sebelum ia pergi. Kanaya hanya diam dan menatap gelas yang ada dihadapannya saat ini dengan tatapan kosong.
Kevin berdiri sambil merapikan jasnya. Ia melangkah meninggalkan Kanaya yang masih duduk diam di sana.
"Kenapa kamu tidak bisa menerimaku lagi Vin?" Pertanyaan itu seketika menghentikan langkah Kevin. Kevin menatap Kanaya sejenak.
"Maaf, karena aku sudah jatuh cinta pada wanita lain," jawab Kevin. Meski berat ia harus mengatakannya. Memang benar begitu adanya. Karena hatinya telah terisi oleh seseorang. Kevin kembali melangkahkan kakinya meninggalkan kafe tersebut.
Kanaya semakin terisak dan kini lebih menyakitkan lagi. Apakah ada hal yang lebih menyakitkan lagi dari ini? Kanaya merutuki dirinya sendiri yang dengan bodohnya mengungkapkan apa yang ia inginkan. Salahkah ia jika ia bermaksud memberikan kepastian pada mantan kekasihnya tersebut?
*
Sepulangnya dari kafe tersebut, Diandra nampak diam dan tak bersemangat. Yang ia tangkap dari apa yang telah ia saksikan tadi, Kevin dan Kanaya mungkin akan bersama kembali. Dalam hati Diandra ada rasa kekesalan yang tak dapat ia ungkapkan. Ia ingin marah. Ia ingin berteriak sekeras mungkin untuk menghilangkan keresahan hatinya.
Diandra menopang dagunya dengan kedua tangannya. Jean yang berada tak jauh darinya hanya menatap Diandra dengan heran. Namun ia tak berani menanyakan apapun pada Diandra.
"Harusnya aku senang Kanaya kembali lagi dengan Kevin. Tapi, kenapa aku merasa sedih akan hal itu?" batin Diandra.
"Bukankah ini harapan mereka?" Pikiran Diandra melayang jauh memikirkan hubungan mereka.
"Tidak, tidak, tidak!" Diandra menggelengkan kepalanya.
"Ah, kenapa susah sekali? Sebenarnya apa yang membuatku seperti ini? Aku merasa kesal sekali hanya karena memikirkan hal itu!" teriak Diandra sambil memukul meja kerjanya. Bahkan Jean sampai terkejut dibuatnya.
"Nona, apakah Anda baik-baik saja?" Jean memberanikan dirinya untuk bertanya. Membuat Diandra tersadar jika dirinya masih berada di kantornya.
"Ti-tidak apa-apa Jean. Aku baik-baik saja. Tolong buatkan aku secangkir kopi saja," ujar Diandra.
"Baiklah nona," jawab Jean. Ia segera melaksanakan perintah Diandra.
"Kalau begitu, bukankah ini alasan yang tepat untuk memberitahu Papa jika aku tidak ada hubungan apapun dengan Kevin?" gumam Diandra. Meskipun begitu, Diandra tak merasakan senang sama sekali. Ia justru merasa semakin kesal jika memikirkannya.
*
Sudah waktunya pulang kerja. Kevin berniat untuk menjemput Diandra karena Ibunya memintanya untuk membawanya ke rumah. Untuk saat ini Kevin tidak bisa menceritakan kebenaran akan hubungannya dengan Diandra. Masih perlu waktu untuk memastikan jika Diandra juga memiliki perasaan yang sama padanya.
Mobil Kevin sudah berada di parkiran perusahaan Sanjaya. Ia keluar dari mobilnya dan menunggu Diandra pulang kerja. Kevin duduk di bagian depan mobilnya sambil memperhatikan orang yang berlalu lalang keluar dari kantor tersebut. Berharap salah satu dari mereka adalah Diandra.
Melihat Diandra yang berjalan dengan gontai menuju parkiran, membuat Kevin langsung mengembangkan senyumnya. Ia langsung menghampiri Diandra dan menariknya hingga ke mobilnya.
"Ikutlah denganku," ucap Kevin. Diandra yang terkejut dengan kedatangan Kevin mencoba menetralkan dirinya.