PLAGIAT DILARANG MEREKAT!😈😈
INI REAL CERITA SAYA YAH💜
Hidup sendiri didunia ini rasanya begitu sesak, hampa dan hambar bagaikan sayur tanpa bumbu pelengkap.
Menikah dengan orang yang tidak dikenal dan tidak dicintai bukanlah hal yang salah, namun menyakitkan.
Setiap hari, jam, menit bahkan detik dia tidak menganggap kehadiranmu. Dia lebih memilih bersenang-senang bersama teman-teman dan terpuruk dalam masa lalu yang tidak mungkin bisa kembali.
Sakit?
yah sangat. melebihi luka jahitan. sakit berdarah memang sakit, namun lebih sakit jika sakit tanpa darah.
Rasanya seperti menjadi iron man?
no! bukan seperti menjadi iron man, but rasanya seperti ada ratusan belati tajam menusuk-nusuk hatimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
SELAMAT MEMBACA!
***
"Baiklah mari sekarang kita mulai kemomu," ujar Dokter Sarah dan Delima pun mengangguk.
Delima lalu membaringkan tubuhnya di pembaringan pasien untuk melakukan kemoterapi.
Selama kemoterapi Delima berlangsung Dokter Sarah dan Dokter Tia bergantian memberitahu kapada Delima kalau penyakitnya ini bukanlah penyakit biasa.
"Kemo yang kamu jalani ini hanya akan membantumu untuk menghambat pertumbuhan sel kanker yang berkembang dan membelah diri dengan cepat begitu pula dengan obat yang kamu minum. Makanya saya tadi menyarankan agar kamu mau dirawat inap agar saya dan Dokter Tia bisa membantumu dua puluh empat jam non stop!" jelas Dokter Sarah pada Delima.
"Efek samping dari kemo ini pun sebentar lagi akan nampak Del. Rambutmu akan rontok karena efek samping dari obat kemo, kamu akan merasakan nyeri, Kehilangan nafsu makan, Mulut terasa asam atau pahit, Mual dan muntah, Sesak napas dan kelainan detak jantung akibat anemia, Kulit kering dan terasa perih, Pendarahan seperti mudah memar, gusi berdarah, dan mimisan, Sering terkena infeksi, Sulit tidur, Gangguan psikologis seperti depresi, stres, dan cemas, Gairah seksual menurun dan gangguan kesuburan (infertiltas), Rasa lelah dan lemah sepanjang hari.Konstipasi atau diare, dan Sariawan," lanjut Dokter Sarah.
"Dulu saya sudah bilang padamu untuk melakukan operasi sebelum stadiumnya terus meningkat tapi kamu menolak dengan alasan yang sama tidak mau meropatkan keluarga, jika seperti itu terus sampai kapan kamu akan seperti ini dan kapan kamu akan sembuh?" muak Dokter Tia.
"Melakukan operasi sekarang pun percuma dan itu malah akan membahayakan Delima sendiri. Pada stadium 3 (grade III) tampilan jaringannya sudah ganas dan sel-selnya juga sudah berbeda dengan tampilan sel normal serta aktif berkembang. Stadium 3 dan 4 ini sudah dikenal sebagai stadium lanjut. Peluang kesembuhannya semakin menipis," timpal Dokter Sarah memandang senduh Delima yang masih bisa tersenyum padahal hidupnya sudah di ujung tanduk.
"Dan syukurlah Delima masih melakukan pengobatan seperti sekarang ini, kita berdoa saja semoga Tuhan berbaik hati pada kita," tambah Dokter Sarah dan dibalas anggukan kepala oleh Delima serta Dokter Tia.
"Jangan lupa minum obatmu!" peringat Dokter Tia.
"Iya dok," balas Delima tersenyum.
Tiga jam berlalu, Kemoterapi Delima pun selesai. Delima kembali duduk di hadapan Dokter Sarah.
"Kemoterapimu di jadwalkan Hari Rabu Minggu depan," jelas Dokter Sarah.
"Baik dok," balas Delima. "Apa sudah selesai?" tanya Delima.
"Iya sudah Del, kamu boleh pulang sekarang," jawab Dokter Sarah.
"Terima kasih dok," ucap Delima tersenyum pada Dokter Tia dan Dokter Sarah. Kedua dokter itu pun mengangguk.
Delima kemudian keluar dari ruang kemoterapi.
"Delima!" panggil seseorang saat Delima baru saja keluar dari ruang kemoterapi.
"Pa-pa," lirih Delima.
Ya, yang memanggil Delima adalah ayahnya. Ayah yang dengan tega meninggalkan dia dan ibunya ketika masih berusia empat tahun.
Dia memang tidak pernah melihat langsung wajah ayahnya, tapi saat kematian ibunya dia baru tahu bagaimana rupa sang ayah ketika melihat dari foto lama keluarganya.
"Pah, ayo!" ajak seorang gadis yang berusia tidak jauh beda dengan Delima.
Gadis itu adalah adik tiri Delima. Hasil dari pernikahan kedua ayahnya.
"Tunggu Serli papa mau bicara dulu dengan Delima," ujar Papa Agus pada putri bungsunya itu yang bernama Serli.
"Buat apa sih papa harus bicara sama dia!" geram Serli menunjuk Delima dengan kesal. "Sudahlah pah, jangan sok peduli dengan anak papa itu. Papa sudah meninggalkan dia dan ibunya jadi gak usah peduli lagi," tambah Serli marah. Dia kesal karena papanya peduli dengan Delima yang statusnya sebagai saudari atau kakak tirinya itu.
"Serli dia kakak kamu! Jangan bicara seperti itu!" balas Papa Agus tidak suka cara bicara Serli yang tidak sopan kepada Delima.
"Pah, ingat yah Serli anak tunggal dan gak ada embel-embel kakak, apa lagi kakak Serli wanita ini," tunjuk Serli dengan kurang ajarnya pada Delima. "Serli tidak sudi," lanjutnya.
"Serli!!" teriak Papa Agus.
Delima hanya diam saja. Dia tidak tahu harus bertutur kata apa. Dia tahu adik tirinya itu membenci dirinya dari dulu memang Delima selalu dibenci dan sekarang pun ia juga dibenci oleh adik tirinya.
Entahlah Delima juga bingung seharusnya dia yang membenci Serli karena ibu Serli telah merebut ayah kandungnya dari ibunya, tapi malah Serli yang membencinya.
"Delima kamu sedang apa di sini?" tanya Papa Agus lembut pada Delima.
"Eh, Deli-ma," gugup Delima.
"Sudahlah pah! Gak usah ditanyain. Kita ke ruangan mama sekarang! Kasihan mama sudah nungguin kita," gerutu Serli lalu menarik tangan papanya dengan paksa menjauh dari Delima.
Delima hanya bisa memandang senduh papanya yang juga memandangnya sambil tersenyum dan melambai kepadanya.
"Pah, sebesar apapun kesalahanmu padaku dan mama dulu, aku tidak akan bisa membencimu. Terima kasih sudah menyapaku walau hanya sebentar," gumam Delima lirih sambil tersenyum dan membalas lambaian tangan papanya.
Delima menghela napasnya lalu berjalan keluar dari rumah sakit. Sebelum pulang, Delima menyempatkan dirinya untuk duduk di bangku taman rumah sakit.
Delima mendongakkan wajahnya menatap langit, ia lalu tersenyum.
"Mah, mama tahu gak? Tadi Delima ketemu papa loh," kata Delima dengan suara bergetar menahan isak tangisnya.
"Mah, papa nyapa Delima mah," tambah Delima mulai terisak. "Tapi, Serli anaknya papa dan Tante Farah membenci Delima. Apa Delima gak pantas untuk disayangi mah? Apa takdir Delima memang untuk dibenci? Delima capek selalu diposisikan di kondisi seperti ini. Selalu Delima yang salah," isak Delima menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Delima rindu mama, hanya mama yang sayang sama Delima, hanya mama yang tulus sama Delima," histeris Delima.
"Del! Kau kenapa?" tanya Suster Tiara yang tidak sengaja lewat dan mendengar semua keluh kesah Delima.
"Eh, Ra," sapa Delima sembari menghapus kasar air matanya. "Sejak kapan di sini?" tanya Delima kikuk.
"Baru aja, kamu kenapa? Coba cerita sama aku!" tutur Suster Tiara lalu duduk di samping Delima.
"Aku gak apa-apa kok Ra," ucap Delima tersenyum paksa.
"Gak usah bohong deh Del! Aku tahu, aku dengar semua apa yang kamu katakan!" kata Suster Tiara. "Kamu ada masalah? Sama suami? Keluarga suamimu?" desak Suster Tiara.
"Beneran aku gpp!" ucap Delima pura-pura baik-baik saja.
"Udah Del! Lepas topengmu itu! Aku tahu kalau dibalik senyum itu ada luka yang mendalam. Kita teman dari dulu kita berjuang sama-sama. Aku tahu gimana kamu sebenarnya Del!" jelas Suster Tiara sembari menggenggam tanga Delima memberi kekuatan pada wanita itu.
"Sekarang cerita sama aku!" pinta Suster Tiara.
"Ra," Delima langsung memeluk Suster Tiara dengan erat sambil sesegukan. "Ra, ta-tadi gue ketemu papa," jelas Delima.
"Papa kamu?" tanya Suster Tiara dan Delima pun mengangguk.
"Dia nyapa aku Ra, aku bahagia sekali. Tapi, adik tiriku benci sama aku Ra, aku gak tahu kenapa," tutur Delima masih terisak.
"Sabar Del! Gak usah dipikirkan! Tadi apa kata Dokter Tia dan Dokter Sarah?" ujar Suster Tiara sambil mengelus-elus punggung Delima yang bergetar.
Deg!
Delima mendongakkan kepalanya menatap suster Tiara.
"Ra..."
***
Sampai sini dulu yah, nanti malam Risma usahain buat up lagi✌ Risma minta bantuannya yah kakak-kakak semua agar cerita ini bisa kalian promosikan di gc kalian atau di FB di manapun semoga aja pembaca Delima bisa meningkat... wkwkwk😂😂
Terima kasih.
Jangan lupa like, komen dan vote😗
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘