NovelToon NovelToon
PENYANGKALAN

PENYANGKALAN

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Single Mom / Cerai / Cintapertama / Tamat
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: Emie_lia

Jika memang nanti semesta hanya mengizinkan mu singgah kepadaku, maka aku akan membiarkan mu pergi mencari tempat pulang sesungguhnya. Tapi paling tidak aku sudah menjadi bagian cerita yang akan selalu kamu ingat. Meski kamu berusaha untuk melupakannya, akan ku suruh takdir mengikatmu dengan belenggu kenangan. Aku egois bukan?

Benar, kemarilah, akan aku ajari kau arti menunggu.

Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur lelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emie_lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29 Perjalanan: Eksperimen

"El."

"El."

Pesanku melangkah masuk dengan gagah perkasa, mengetuk pintu besar seolah membawa nama dan keberanian. Tak perlu waktu lama, pintu itu mengenali siapa aku, lalu terbuka tanpa ragu.

“Iya?”

Satu kata amat sederhana, namun jatuh dengan begitu indah, hingga aku lupa berpaling, terdiam memandangi apa pun yang tersaji di balik pintu.

"El, kakak ada buat lilin aromaterapi, kamu mau?" Aku menahan napas, menanti jawaban seperti vonis terakhir. Jika El diam terlalu lama, rasanya jantungku bisa lupa memompa darah ke arteri pulmonalis.

"mau, kak."

Fyuh… barusan adalah momen yang cukup membuat kelenjar adrenalku bekerja lembur, memproduksi epinefrin secara berkala.

"kamu mau aroma apa?"

"ada aromanya?"

"iya, karena namanya saja sudah lilin aromaterapi."

"ada aroma apa saja?"

"ada aroma Lili, Mawar, Lavender dan Candy. El mau yang mana?"

"yang aroma mawar aja kak."

"okay, btw mau kakak kasih ke kamu langsung, atau titip ke Raka?"

"titip ke Raka kak."

Dek

Entah apa yang sedang kurasa, aneh, samar, tapi menyesakkan. Mengapa aku begitu berharap El berkata ingin mengambilnya secara pribadi? mengapa keinginanku untuk bertemu dengan El berubah menjadi obsesi yang tak tahu batas?

Aku kecewa. Balasan El tak pernah tiba di titik ekspektasi yang ku tanam diam-diam. Di saat aku menyelipkan harap dengan hati-hati, ia justru melepas begitu saja, mengganti dengan nama orang lain, seolah harapanku tak pernah layak untuk dipertahankan.

"sama Raka ya? oke deh."

"iya."

Sudah, cukup, semuanya berhenti di situ, lenyap seperti embun yang menguap pada pagi hari. Tak ada jejak, tak ada penjelasan, bahkan tak ada sisa cerita untuk kupegang.

Padahal dulu, El selalu ingin bertemu denganku, selalu ingin menghabiskan waktu bersamaku. Setiap penolakannya pun tak pernah kosong, selalu dibungkus alasan yang jujur, seterang kaca bening. Namun kini? entahlah.

Aku kesal, tapi tetap membungkus semua lilin aromaterapi dengan baik, seindah mungkin.

"kak."

Notifikasi memanggilku seperti alarm darurat, membangunkan saraf motorik agar aku sigap mengecek pesan. Saraf medianus bergerak spontan, refleksnya mengalahkan logika, sementara harapku berlari lebih dulu, bermohon El menyesali kalimat tadi, lalu dengan penuh kesadaran memilih mengabulkan keinginanku.

“mana-nya, Kak? lama kali.”

Aku membaca pesan ini berulang, memandang layar sendirian. Ada yang ganjil. Kata-katanya terasa asing di telingaku, seperti nada lagu yang salah kunci. Sejak kapan adik manisku berlogat begini?

“oy, Kak!!”

Ah. Pantas saja berbeda. Ini Raka, bukan Elnino, bukan suara yang kutunggu, hanya nada salah alamat.

“Apa?”

"El ngapain nyuruh aku ngambil lilin aromaterapi sama kakak?"

"ntah tu dia."

"suruh lah ngambil sendiri kak."

"dia gak mau."

"apalah, biar aku yang ngomong."

Dua bocah kematian, dengan tabiat sama, suka menghilang tiba-tiba.

"udah, besok dia ambil sendiri." lalu datang lagi tanpa bisa diduga. Mereka memang cocok jadi kawan.

"kamu bilang apa?"

Malas menjelaskan, Raka hanya mengirim ku sebuah SS percakapan.

Paling tidak bunyinya begini:

"oy El! Kau mau dikasih lilin aromaterapi sama kak Pia kan?"

"iya, aku udah bilang dari-tadi."

"kau ambil lah sendiri El, malas sangat."

"aku gak enak badan loh."

"aih, kau ni. Orang dah mau pergi, bukannya kau manfaatin untuk jumpa. Kak Pia buat itu pasti capek, kau hargai kek."

"iyalah, iyalah."

Sudah, sampai di situ saja, tak lama kemudian pesan dari El masuk ke handphone milikku.

"kak, besok El saja yang ambil lilin aromaterapi dikelas kak Ana seperti biasa."

"loh, gak jadi Raka?" tanyaku, jual mahal sebentar.

"enggak kak, nanti ngerepotin."

"wokeh."

Adikku yang satu itu memang top the top, dia selalu mengerti apa keinginan kakaknya, tanpa diminta langsung inisiatif.

.

.

.

Ke esokan hari, aku membawa lilin itu ke sekolah. Aku membungkus rapi, paling tidak terlihat rapi dari sudut pandang ku yang tahu isi kebenaran bahwa lilin ini hasil eksperimen setengah nekat.

Seperti janji, aku akan berjumpa dengan El di dalam kelas Ana. Oh iya, hampir lupa, aku belum sempat bercerita. Aku dan Ana itu bertetangga kelas. Bedanya tipis, tapi menentukan nasib kami. Secara umum kelasku ada di atas, sedangkan kelas Ana berada di bawah.

Secara geografis kami dekat, secara akademis kami bertingkat. Jadi setiap turun ke kelas Ana, rasanya seperti perjalanan lintas zona, bukan jauh, tapi cukup untuk membuatku merasa sedang “turun gunung”.

"kenapa sekolah ini gak ada lift sih?" merupakan hal wajar setiap kali menuju kelas Ana, batinku tiada henti mengomel.

Setelah tiba, aku melihat El duduk di bangku baris depan seperti biasa. Wajahnya datar, ekspresinya tenang, seolah hidup belum pernah memberinya soal kimia tanpa tutor.

“Ini,” kataku sambil menyodorkan bungkusan lilin aromaterapi. Kasar, tiada ramah. Aku kesal? ya, tentu. Membuatku malas menatap mata dia.

El menatapku. Menatap bungkusan. Menatapku lagi.

“ini lilin aromaterapi?” tanyanya.

“yah, walau dia produk gagal laboratorium, tapi tidak beracun. Kayaknya,” jawabku jujur.

El tertawa kecil, lalu membuka bungkusnya. Begitu lilin aromaterapi milikku terlihat, alis beliau sedikit terangkat, reaksi spontan yang kalau dianalisis secara ilmiah, menandakan rasa penasaran bercampur waspada.

“kakak bikin ini seharian?”

“Iya.”

El mencium aromanya. Sekilas. Lalu lebih lama.

Aku menahan napas. Ini momen krusial. Jika hidung El menolak, seluruh teori cintaku runtuh.

“Harumnya…enak,” tak perlu berbohong, aku tahu kalimat kamu dusta.

“enak itu relatif,” balasku cepat. "tercium aroma mematikan bukan?" sekarang dia kelabakan, takut menjawab iya, namun itu nyatanya.

Aku angkat bicara kembali “Dalam sains, aroma yang tercium olehmu disebut kompleks.”

El terkekeh. “kompleks kayak kamu.”

Aku pura-pura tidak mendengar, padahal jantungku sudah bereaksi lebih cepat dari reaksi redoks.

“ini aman, kan?” tanyanya lagi, memutar lilin aromaterapi seolah sedang melakukan uji visual.

“secara teori, iya. Secara praktik, jangan nyalain di ruang tertutup dan jangan ditinggal tidur.”

El tertawa lagi. Kali ini lebih lepas.

“berarti ini lilin berbahaya?”

“bukan berbahaya,” sanggahku. “menuntut tanggung jawab.”

Ia mengangguk sok paham, padahal kalimatku sindiran. Lalu, dengan wajah serius yang dibuat-buat, El berkata,

“terima kasih, kak. Ini lilin pertama yang aku terima.”

Aku tersenyum.

“kalau ternyata lilin kakak gagal?” tanyaku.

“gagal pun nggak apa-apa,” katanya santai. “Setidaknya niat kakak berhasil.”

Kalimat El sederhana. Tapi berefek seperti katalis. Tidak mengubah hasil, tapi mempercepat reaksi di dadaku.

El menyimpan lilin itu ke dalam tasnya, hati-hati, seolah itu bukan lilin biasa, melainkan spesimen langka.

Sebelum pergi, ia menoleh sebentar.

“kak.”

“Hm?”

“Kalau nanti aromanya hilang, kakak bikinin lagi, ya buat El.”

Aku mengangguk. Dalam hati sambil berpikir:

...kalau cinta ini eksperimen, mungkin El adalah hasil yang tidak pernah aku rencanakan, tapi paling ingin aku pertahankan....

1
Nunu
mantap kak
NOname 💝
El itu cocoknya di buang aja, masukkan ke got
Wolfmoon
Hai kak, ceritanya baguss
Remi: thank you
total 1 replies
❦L͙o͙t͙u͙s͙ E͙m͙a͙s͙❦
ceitanya bagus, walau aku nggak terlalu paham sih
❦L͙o͙t͙u͙s͙ E͙m͙a͙s͙❦: sama²,
selamat berkarya
total 2 replies
Helen
Menggugah perasaan
Poplar Taneshima
Adem ayem baca cerita ini sampe hiatus menuju mesra sama buyer.
Remi: haloww nantikan terus ya chapter selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!