{Tokoh Utama di ambil dari tokoh figuran Novel LONACA;
Bunga Ariella ~ Robin Chandra}
♡♡♡
"Daratan sudah ku lewati, Lautan sudah ku arungi.
Banyak Bunga telah ku dekati,
hanya ada satu bunga yang harumnya menusuk sampai ke hati.
Takdir membuat aku dan dia hidup bersama hingga kami berpisah. Namun, takdir pula yang mempertemukan kami kembali di lain waktu.
Saat kami bertemu, entah mengapa terselip rasa rindu hingga berubah menjadi cinta yang luar biasa, semua berubah, dadaku terasa bergetar hebat, aku salah tingkah! namun sayang dia tak mencintaiku."
♡♡♡
Dilarang keras Plagiat karya sarahmai.
Jadilah seorang penulis sejati bukan seorang penjiplak!
♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Tidak terlihat lagi tangis raungan dari pihak keluarga yang di tinggalkan, Bunga dan Tania berdiri tampak tegar. Terpancar wajah keikhlasan dari mereka meski wajah sendu itu menghiasi kesedihan mendalam.
Canda, tawa, pertengkaran bersama kakaknya, masih terekam jelas dalam memori Bunga Ariella.
"Selamat jalan kakak ku, semoga taubatmu di terima di sisi- NYA, rasa sakit itu sebagai penghapus dosa mu! Aku akan terus berjuang disini dan selalu mendoakan mu, aku sayang kepada kakak dan akan selalu merindu, semua kesalahan yang pernah kau goreskan di hatiku telah aku maafkan," Gumam Bunga meneteskan airmata saat keranda mulai di angkat dan di masukkan ke dalam mobil ambulan....
...
Orang-orang mulai sibuk membawa jenazah agar segera di bawa ke pemakaman tempat dimana ayah Anggun dan Bunga di kebumikan.
...
Dengan sigap Robin menghampiri
Bunga.
"Bunga, sebaiknya kalian ikut dalam mobilku saja!" Pinta Robin.
"Terima kasih! Tapi Aku ingin mendampingi kakakku ke tempat per-istirahatan terakhir kalinya!" Jawab Bunga dengan mata sembabnya, langsung naik mobil Ambulan.
"Ouh!"
"Tania dan Bunga duduk di samping supir."
Ambulan itu langsung menuju tempat pemakaman yang di tuju.
...
Robin masih memandangi rombongan itu.
Tiba-tiba ia dikejutkan oleh seseorang.
"Bos! Sudah lama!" Tegur Hengki yang baru saja datang dengan sepeda motor, Robin menyuruhnya segera datang.
"Ayo kita ikuti mereka!" Ajak Robin bergegas membuka mobilnya.
"Tidak usah Bos! Kita naik motor saja, jalan menuju pemakaman desa terlalu kecil dan sedikit becek!" Ucap Hengky yang mengetahui area pedesaan.
"Ok baiklah" kata Robin langsung naik ke motor Hengky.
Keduanya langsung menuju lokasi tujuan.
Sesampai disana. Robin melihat suasana pemakaman dan wajah sendu Bunga yang fokus melihat penguburan kakaknya. Air matanya terus menetes namun ia tidak meraung. Suasana hikmat diiringi do'a-do'a.
Akhirnya proses pemakaman kakaknya selesai.
Tania langsung di bawa kembali ke sel tahanan, izin waktunya telah selesai.
"Mah! Jaga kesehatan, semoga kita bisa bersama lagi!" ucap Bunga memeluk sang ibu.
"Iyah sayang! Kamu juga yah, jaga kesehatan!" jawab Tania memeluk erat putri bungsunya.
Bunga mengangguk dan memperhatikan ibunya menaiki mobil polisi sampai hilang dari pandangannya.
.....
.....
Rombongan pun akhirnya kembali, setelah setengah para pelayat pulang. Robin duduk sambil memperhatikan rumah Anggun yang lebih sederhana dari rumah ibunya dulu.
Wanita bernama Bunga itu berjalan menghampiri Robin.
"Maaf yah Raden, tadi pagi aku sangat panik dan buru-buru jadi tidak sempat memberi kabar!" Ucap Bunga dengan nada lembutnya
"Oh! Iyah tidak apa-apa!"
"Raden, aku mau minta izin satu Minggu saja untuk menyelesaikan semua ini!"
"Oh! Iyah baiklah, aku juga ingin berangkat ke Jakarta melihat saudara sepupuku sedang sakit sekaligus untuk urusan Bisnisku!"
"Oh, Iyah Den, nanti kalau sudah pulang kabarin saja!" Pinta Bunga.
"Ok! Kamu sudah makan?" Tanya Robin.
"Belum, Maaf yah Den, belum ada makanan disini!" Jawab Bunga.
"Kita makan di luar saja yuk! Aku sangat lapar," pinta Robin.
"Raden belum makan?"
"Tadi hanya makan roti saja!"
Keduanya pun pergi setelah berpamitan dengan orang yang di percaya Bunga untuk membantunya di rumah itu.
Sepanjang jalan, perempuan cantik itu hanya diam saja sampai pada tujuan mereka.
"Kamu makanlah, nanti kamu sakit!" Kata Robin tampak perhatian dengan Bunga.
"Iyah Den!"
Keduanya pun makan bersama.
Bunga hanya makan sedikit saja, ia tidak selera makan.
"Apa kamu perlu uang?" Tanya Robin.
"Tidak Den, kalau masalah uang masih ada! kakakku sudah menjual rumah ibuku serta beberapa perhiasan yang ia tinggalkan!"
"Ouh! Ya sudah!"
Suasana hening sejenak.
"Bunga, aku paham kematian seseorang yang kita sayangi membawa luka mendalam di hati kita, namun hal itu tidak baik jika terus berlarut-larut, aku juga pernah merasakan apa yang kamu alami saat ibuku telah meninggal," Kata Robin merasa kasihan dengan wanita itu sekaligus memberi motivasi untuk tetap semangat.
Bunga hanya mengangguk saja.
"Jika kamu membutuhkan sesuatu hubungi saja aku...."
"Iyah, terima kasih!"
Keduanya pun kembali. Setelah mengantar Bunga Robin langsung pulang dengan banyak tujuan.
...
....
"Bunga!" Tegur Hery, menyapa.
"Maafkan kakak telat datang, baru saja dapat kabar!"
"Iyah tidak apa-apa kak!"
"Kakak akan bawa pengajian desa untuk tahlilan disini!" Pinta Hery.
"Tidak usah kak!"
"Kakak akan membantumu!" ucap Hery
"Terima kasih kak!"
Mereka bicara sebentar lalu Bunga meninggalkan lelaki itu begitu saja. Ia ingin beristirahat di kamar.
Setelah beristirahat sejenak....
"Bunga!" sapa si mantan perawat Anggun.
"Iyah kak!"
"Sebelumnya Anggun menitipkan surat ini untukmu," ucap si perawat menyodorkan selembar kertas yang terlipat.
Bunga pun mengambilnya.
Perlahan membuka surat itu setelah mantan perawat anggun pergi menutup pintu kamar.
¶¶¶¶¶¶¶
Dear Adikku tersayang...
Adikku, Kakak baru mengerti ternyata waktu itu terlalu singkat dan dunia adalah pemandangan yang menggiurkan bagai fatamorgana di gurun pasir, semuanya begitu cepat berlalu.
Adikku, Hampir setiap malam kakak selalu berdoa untukmu, agar adikku selalu diberikan kesehatan, agar langkahnya tidak sama seperti aku, agar hatinya selalu bahagia, agar masa depan hidupnya mendapat kehidupan terbaik, agar Adikku mendapatkan pasangan sejatinya.
Adikku, Kau ibarat Bunga yang selalu bersemi di hati kakak, canda tawamu membuat semangat kakak kuat melawan penyakit ini.
Sungguh keajaban kakak bisa melaluinya selama beberapa bulan.
Adiku, Jangan menangis, kuatkan ibadahmu, tegarlah seperti matahari yang tak pernah lelah menyinari bumi, sekuat batu karang dalam hempasan ombak.
Hapus air matamu, langkahmu masih bisa diperbaiki dan sangat indah jika kau bisa mengambil keputusan yang tepat.
Adikku, Jika hatimu terasa sakit dan cukup lelah, berhentilah mencintai seseorang biarkan sosok pria yang datang untuk mencintaimu dengan tulus.
Adikku, Jadilah wanita yang memiliki martabat tinggi meski dandananmu tidak semewah seorang Ratu.
Adikku, Untuk yang terakhir kalinya, tolong jangan salahkan siapapun, tentang kematian kakak, tentang takdir yang telah kita lalui, ini semua murni dari hasil perbuatan keji kakak dan ibu lakukan. Manusia zalim itu akan berujung penderitaan. Kakak berharap kamu bisa memperbaiki segalanya...Terima Kasih sayang.
I Love You dari kakak untuk adikku tersayang.
ttd, Anggun.
¶¶¶¶¶¶¶¶
...
...
Seketika itu pula, airmata Bunga membasahi sprei kasur sebagai saksi bisu betapa hancurnya hati sang adik di tinggal pergi oleh kakaknya.
....
....
Fenomenal ketika manusia itu masih di berikan ribuan kenikmatan, bukannya bersyukur! justru menjadi manusia yang ingkar akan Tuhannya.
....
.....
''Hiduplah sesukamu sesungguhnya kamu akan mati dan Azab Tuhan Mu itu sangatlah pedih"
.....
.....
Saat Robin tengah sibuk membuka kotak email dari laptopnya. Dari sekian puluhan Email yang masuk, Tiba-tiba matanya melihat pesan dari 'Anggun'.
"Anggun??" gumamnya.
Cepat-cepat pria itu membuka isi pesan dari sosok yang telah tiada, jadwal email terkirim pukul Dini hari sebelum beberapa jam kematiannya menjemput.
.....
.....
Like & Vote.
love beut anggun 🥰😭🤧