Nara harus sedia menjadi pemuas hasrat Kakak tirinya, mewujudkan semua keinginan jahat serta menyiksa dari Noah. Kehidupan Nara yang sempit serta tidak berdaya sangat Noah andalkan untuk membuat Nara menjadi miliknya.
"Hentikan, Kak.. hentikan semua ini!" teriak Nara disaat tubuh Noah terus berpacu menikmati setiap adegan panas yang terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madumanis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Tangan Nara sangat ragu untuk mengetuk pintu, tapi ia sangat ingin bertemu dengan Noah. Hal apa yang membuat pria itu diam dan sama sekali tidak memperlihatkan diri setelah pagi tadi. Mungkin jika langsung masuk saja memberi kejutan pada Noah, pria itu akan senang. Nara membina pintu begitu saja, ruangan kerja tersebut minim cahaya karena memang Noah tidak menghidupkan lampu utama.
"Kak.." Nara masuk kedalam, menutup pintu lalu menghidupkan lampu. Ternyata Noah tengah sibuk menata dokumen diantara kegelapan itu, Nara merasa lega bisa dekat dengan Noah lagi. "Kak, aku rindu.." Nara berlari kearah Noah, ia memeluk pria itu sangat erat.
Jika mungkin dulunya Nara sangat takut bertemu dengan Noah karna merasa akan mendapatkan perlakuan kasar. Tapi, kali ini sangat berbeda. Malah Nara ingin selalu bertemu dan berdekatan dengan Noah, tidak saling mengabaikan seperti ini.
"Aku kesepian, seharian ini Kakak terus didalam kamar." Ucap Nara sembari melera pelukannya, ia menatap sedih Noah yang mengelus pipinya.
Noah tersenyum sangat tipis, duduk dibangku kerja lalu mengarahkan Nara untuk duduk di pangkuannya.
"Kau akan bertunangan dengan pria yang bernama Deni, untuk apa aku berdekatan lagi denganmu." Sengaja Noah mengatakan hal itu untuk mengetahui seperti apa hati Nara padanya. Padahal faktanya meskipun Nara menikah dengan Deni, tetap saja Nara adalah miliknya.
Nara menjadi sedih mendengar itu. "Aku tidak mau menikah dengan Deni, Kak. Aku takut dengan pria lain, aku merasa tidak aman dengan tatapan lapar mereka." Nara kembali memeluk Noah sebagai bentuk memberitahu rasa takutnya.
Tangan Noah mengusap punggung belakang Nara, ia tahu seperti apa rasanya dipaksa melakukan sesuatu hal yang sangat tidak disuka.
"Kalau begitu, tetap berdiri disamping Kakak apapun yang terjadi." Ucap Noah dengan sangat serius sampai Nara melepaskan pelukannya sendiri.
"Kau adalah milikku, tubuhmu dan lain-lain adalah miliku. Pria yang bernama Deni atau siapapun tidak akan ada yang bisa mengambil kau dari aku, itu sumpah ku." Sungguh tegas Noah mengatakan kata-kata penuh obsesi itu.
Tangan Noah menangkup wajah cantik Nara, ia mengecup berulang-ulang kali bibir merah delima Nara yang manis. Terus melakukan itu sampai Nara bingung, karna kecupan Noah terasa berbeda kali ini. Lebih terasa penuh obsesi dan tekanan, hanya saja Nara mencoba tetap diam menikmati semua perlakuan sang Kakak.
"Kak, Nara boleh meminta sesuatu?" Nara bertanya disaat tangan Noah sudah membuka satu persatu kancing piyama yang ia pakai.
"Apa?" Tanya Noah balik, ia mengecup area bongkahan Nara yang semakin lama semakin membesar saja karna ulahnya. Tidak hanya mengecup tapi Noah juga meremas terkadang juga melumat inti tersebut hingga Nara memejamkan mata merasakan geli yang teramat.
Tangan Nara memegang kepala Noah sambil terus menahan suara kenikmatannya, bagaimana ia bisa berbicara terus kalau tindakan Noah tetap berlangsung di dua bongkahan miliknya.
"Kak, tolong jangan digigit ya.. soalnya. masih sakit banget.." Pinta Nara dengan ekspresi wajah menahan kenikmatan yang sangat cantik dimata Noah.
"Tidak janji.."
"Kak, harus berjanji. Please.." Nara memohon, ia memegang bibir Noah yanh tipis. "Nara mohon.." Nara mengeluarkan jurus andalan yaitu suara manjanya, sudah pasti Noah tidak akan mampu menolak nanti.
Noah tertawa kecil, baru kali ini Nara melihat Noah tertawa seperti itu padanya. Seringnya terus mendapatkan perlakuan kasar dan semena-mena, kali ini Nara benar-benar mendapatkan perlakuan yang berbeda.
"Baiklah, apapun akan Kakak lakukan kalau suara manja itu sudah keluar.." Noah mengalah saja.
Dengan sangat mudahnya Noah mengangkat tubuh Nara hingga duduk di meja kerjanya. Dengan tangannya Noah menyingkirkan segala berkas yang menganggu aktivitasnya, menarik celana piyama Nara hingga hanya menyisakan pakaian bagian dalam saja.
"Teruslah berprilaku binal seperti tadi, Nara.. Maka aku akan sangat suka," Ucap Noah, ia mengecup area leher Nara hingga wanita itu menegang seakan tersengat listrik.
Nara mencoba mengingat ingat, bahwa tujuannya datang ke ruangan kerja adalah untuk mengajak Noah makan bukan melakukan hal yang lebih lebih seperti ini.
"Kak, tadi aku ingin mengajakmu makan bukan.. emmm.." Nara menahan desahannya disaat tangan Noah membelai liang miliknya.
"Lebih menarik memakan dirimu, sayang. Kau sendiri yang menyerahkan tubuhmu malam ini, maka tidak akan bisa lari lagi." Noah menidurkan Nara agar memudahkan kelakuannya.
Tangan Noah meremas dua bongkahan Nara lalu mulutnya memakan habis liang kenikmatan tersebut. Sampai Nara tidak tahu lagi bagaimana caranya mengeluarkan semua kenikmatan ini, ia tidak mampu berkata-kata lagi.
"Emmm.. Kak, hentikan!" Nara tidak kuasa lagi, ia menggelinjang karena mendapatkan pelepasan dalam waktu singkat.
Sampai Noah menghisap habis cairan yang Nara keluarkan, ia tersenyum sinis kepada Nara yang ngos-ngosan.
"Manis sekali, rasa tubuhmu sungguh luar biasa, Nara.." Puji Noah dengan sangat frontal, sampai Nara tersipu malu. Bingung mau senang dengan pujian itu atau justru sedih, apapun itu Nara akan sangat senang dengan semua pujian sang Kakak.
Noah mulai mengeluarkan senjata miliknya, ia membawa Nara untuk duduk di meja. "Kau peganglah adikku, mainkan dia.." Perintah Noah, ia belum pernah mengajarkan hal seperti ini sebelumnya pada Nara.
Tentu saja Nara bingung, ia menatap takjub senjata Noah yang ada dihadapannya. Bisa dikatakan jika Nara tidak terlalu berani untuk melihat langsung senjata milik sang Kakak yang telah merebut perawannya. Ternyata sebesar itu, pantas saja rasanya masih sangat sakit.
"Kok melamun, sentuh, sayang.." Tangan Noah mengarahkan tangan Nara untuk memegang senjata miliknya.
Sampai mata Noah terpejam padahal hanya pegangan sedikit saja tapi sudah berhasil membuat sengatan listrik.
"Ohhhh.."
Karna rintihan Noah itu membuat Nara langsung menjauhkan tangannya, ia takut menyakiti Noah.
"Tidak apa, sayang. Pegang dia seperti kau makan eskrim, tidak apa.." Noah mengarahkan kembali tangan Nara sesuai pergerakan tangannya.
Nara bingung padahal hanya pergerakan biasa saja tapi berhasil membuat Noah tidak berdaya. Bahkan terus mendesis sampai Nara keheranan, secara tiba-tiba Noah membawa Nara untuk kembali rebahan dimeja. Menarik kaki Nara untuk lebih dekat lalu mulai memasukkan senjatanya dua kali hentakkan.
"Sepertinya aku harus sering memasukimu agar kesempitan ini setidaknya berkurang, emmm ahhhh!" Noah seakan tersiksa dengan jepitan yang dilakukan Nara.