"Aku bersyukur Tuhan mengirim kamu untukku dan Alicia. Terimakasih sudah menerima diriku dan putriku" ~ Adhit
Pertemuan tidak sengaja antara Adhitama dengan Clara membuat mereka saling terikat satu sama lain. Clara yang berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan Adhit, justru takdir mempertemukan mereka kembali.
Clara yang sangat menyayangi Alicia terpaksa menerima lamaran Adhit untuk menjadi istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anugrah Utarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepanikan Clara
Mereka semua sudah meninggalkan Villa setelah berpamitan dengan Franklin dan istrinya. Mereka kembali karena tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang sudah menanti. Clara sudah harus pindah ke mansion Adhit, untuk ikut dengan suaminya. Sampai di mansion Adhit, mereka disambut oleh Bi Rini.
"Selamat datang tuan muda, selamat atas pernikahan tuan muda dan nyonya muda" sapa Bi Rini yang tidak dijawab oleh Adhit.
"Iya Bi, terimakasih" akhirnya Clara yang menjawab mewakili suaminya. (Dia ini kenapa lagi? Dasar menyebalkan!!).
"Ayo sayang" Clara membawa Alicia yang sudah mengantuk ke kamar. Kemudian menidurkan anaknya itu. Setelah Alicia tidur, Clara membawa barang-barangnya ke kamar Adhit. Tentu saja suaminya itu mengikutinya dari belakang. Saat pintu terbuka matanya tak berkedip melihat isi kamar suaminya.
"Ya ampun Mas, ini kamar atau lapangan sepak bola? Luas banget" ucap Clara takjub. Sebagai seorang anak dari keluarga berada tidak membuatnya memandang biasa saja sesuatu hal yang memang membuatnya takjub. Karena Papanya selalu mengajarkan untuk selalu menghargai sesuatu, sekecil apapun itu.
"Dasar kampungan!!" Adhit mengejek Clara dan mendahului istrinya masuk ke dalam kamar.
"Ishh, penyakitnya kumat lagi" Clara langsung menatap sinis suaminya. Kemudian segera mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper dan menyusunnya di dalam lemari. Karena masih kesal dengan Adhit, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang sudah lengket. Setelah tubuhnya kembali segar, ia mencari keberadaan handuk untuk mengeringkan tubuhnya. Namun ia tidak menemukannya.
"Astaga, aku lupa membawa handuk" ia lirik baju yang ia kenakan tadi sudah basah terkena air. "Aduh, bagaimana aku akan keluar?" Clara berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit. "Mas, Mas Adhit aku boleh minta to..." ia menyapu seluruh ruangan dan mencari Adhit, namun suaminya tidak terlihat. "Mas Adhit kemana? Apa aku harus keluar seperti ini? Tapi kalau nanti dia tiba-tiba datang bagaimana?" Clara menunggu beberapa menit, namun Adhit tidak muncul-muncul. Sedangkan tubuhnya sudah menggigil kedinginan. Dengan terpaksa ia keluar tanpa mengenakan apapun. Ia buru-buru ke arah lemari untuk mengambil handuk dan pakaiannya. Saat tangannya baru mencapai pintu lemari dan mengambil handuk, ia mendengar suara suaminya mendekat.
"Suara Mas Adhit" secepat kilat ia membalutkan handuk ke tubuh polosnya dan segera berlari kembali ke kamar mandi. Sayangnya, saat berlari kakinya tergelincir karena lantainya licin oleh air yang berasal dari rambutnya dan membuat Clara langsung terjerembab ke lantai. "Arghhh" ia berteriak kencang, untung saja tangannya sempat memegangi sisi lemari kecil di dekat tempat tidur. Sehingga ia masih bisa sedikit menahan tubuhnya, meskipun tetap terjatuh juga. Adhit yang berada di luar kamar langsung masuk ke dalam karena mendengar istrinya berteriak. Ia melihat Clara sudah terduduk di lantai, hanya dengan menggunakan handuk. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari dan menghampiri istrinya.
"Kamu kenapa bisa berada lantai?" tanya Adhit panik.
"Aku jatuh, karena lantainya licin" Clara langsung menundukkan wajahnya. Ia tidak berani menatap Adhit, karena wajahnya sudah merah karena malu.
"Kenapa bisa jatuh? Memangnya kamu lari-lari?" pertanyaan Adhit, dijawab anggukan oleh Clara.
"Kenapa lari sih? Kamu ini seperti anak kecil saja" Adhit mengomeli istrinya.
"Karena Mas Adhit akan masuk ke dalam kamar, saat aku sedang tidak memakai baju" ucapnya masih dengan menundukkan kepalanya, ia belum berani menatap kearah suaminya.
Adhit terdiam sejenak "Dasar bodoh, aku ini suamimu! Kamu telanjang sekalipun dihadapanku itu tidak masalah, malahan jadi pahala buat kamu!!" ucapan Adhit membuat Clara mengangkat kepalanya dengan mata yang membulat sempurna. (Astaga, yang benar saja aku harus telanjang di depannya. Tapi kalau Mas Adhit memintanya bagaimana?)
"A-ku" suara Clara tercekat, ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Wajahnya mendadak pucat setelah Adhit mengatakan hal itu.
"Apa kamu bisa berdiri? " tanya Adhit saat melihat perubahan ekspresi istrinya. Ia tau Clara saat ini kaget dengan apa yang baru saja ia katakan.
Clara menoleh "Tentu saja bisa" ia mencoba berdiri, namun ia merasakan kakinya sakit sekali "Sepertinya kakiku terkilir Mas" ucapnya pada sang suami. Dengan sigap Adhit menggerakkan tangannya untuk mengangkat tubuh Clara. "Eh eh, Mas Adhit mau ngapain? " Adhit hanya diam dan mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya di sisi tempat tidur. Kemudian ia berjongkok di hadapan Clara dan memijat kaki istrinya itu.
"Aww, pelan-pelan Mas, sakit tau" Adhit mendongkakkan kepalanya melihat ke arah istrinya. Tapi cepat-cepat ia turunkan lagi pandangannya saat melihat tubuh istrinya yang hanya dibalut handuk dan membuat darah Adhit seketika mendidih. Hasratnya kembali memuncak dan rasanya ingin ia terkam saja istrinya itu.
"Kamu istirahat saja, nanti aku akan meminta Bi Rini untuk membawakan kompres kesini" setelah mengatakan itu ia langsung pergi meninggalkan istrinya. Clara mengernyit heran karena tiba-tiba suaminya pergi begitu saja. Kemudian ia segera menggeser tubuhnya ke atas agar bisa istirahat. Kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tidak memakai baju.
Sementara Adhit pergi ke ruangan kerjanya, ia mengepalkan tanganya, berusaha menahan hasrat yang sudah membara "Sial!!! Kenapa dia selalu bisa menggodaku? Lama-lama aku tidak akan sanggup menahan diri kalau selalu berada di dekatnya. Apa aku harus pisah kamar saja dengannya? Tapi itu tidak mungkin, ada Alicia dan Bi Rini disini. Kalau Bi Rini, masih bisa aku kendalikan. Sementara putriku, aku tidak bisa menjamin hal itu" pikiran Adhit kacau, sekitar setengah jam ia berhasil meredam hasratnya. Kemudian segera kembali ke kamar melihat keadaan istrinya. Ia lihat Clara sudah tidur dan segera mendekatinya. Ia singkap sedikit selimut yang menutupi kaki istrinya dan melihat kaki itu sudah bengkak. Adhit segera turun untuk mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres kaki Clara. Ia meminta Bi Rini untuk menyiapkannya. Setelah kembali ke kamar, ia mengambil laptop dan mencari di google cara mengobati kaki istrinya. Ia kemudian mengompres kaki Clara dengan air yang sudah ia bawa tadi. Saking lelahnya setelah perjalanan dari Villa, Adhit tertidur di samping kaki istrinya.
Paginya Clara terbangun dan melihat suaminya tertidur di dekat kakinya sambil memegang handuk kecil. Ia juga melihat laptop yang masih menyala disamping tubuh suaminya. Seketika hatinya menghangat melihat pemandangan pagi itu. Siapapun yang melihat juga akan tau kalau semalam Adhit mengompres kakinya, kalau melihat posisi mereka saat ini. Clara segera menggeser tubuhnya mendekat ke arah Adhit dan memberikan ciuman di pipi suaminya itu.
"Makasih ya" kemudian ia langsung turun dari tempat tidur dan berjalan dengan kaki sedikit pincang menuju kamar mandi. Adhit segera membuka matanya setelah ia mendapatkan morning kiss dari istrinya. Adhit memegangi pipinya dan seketika senyuman menghiasi wajah tampannya. Ia kemudian melirik istrinya yang baru saja selesai mandi dan sudah berpakaian.
Adhit kembali memejamkan matanya, agar Clara tidak tau kalau dia sudah bangun. Tak berapa lama ia kembali membuka mata dan melihat istrinya sudah tidak berada di dalam kamar. "Apa dia sudah turun ke bawah?" gumamnya dan segera bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Selesai mandi ia segera turun ke bawah dan langsung menuju dapur.
"Kamu sedang apa?" Tanya Adhit saat sudah berada di dekat istrinya.
"Aku sedang masak roti bakar untuk Alicia" jawabnya sambil menoleh kepada suaminya. "Mas Adhit mau? "
"Iya boleh, buatkan aku juga" jawab Adhit yang masih berdiri disamping istrinya.
"Ya sudah, sekarang Mas tunggu di meja makan saja ya. Tadi aku sudah membuat nasi goreng, Mas Adhit makan itu saja dulu. Takutnya, nanti kelamaan kalau Mas menunggu rotinya matang. Yang ada Mas kelaparan nantinya" pinta Clara pada suaminya.
"Baiklah" Adhit segera beranjak meninggalkan istrinya menuju ke meja makan. Clara kembali melanjutkan aktivitas memasaknya. Saat sedang membalik roti di atas teflon ia teringat sesuatu.
"Astaga, tadi aku memasukkan udang dan cumi ke dalam nasi gorengnya. Mas Adhit kan alergi seafood" dengan menahan rasa sakit di kakinya ia langsung berlari menghampiri suaminya. "Mas Adhit stop..., jangan dimakan lagi."
Adhit merasa heran melihat tingkah istrinya "Memangnya kenapa? Tadi kan kamu yang menyuruhku memakannya!!"
"Mas sudah makan berapa suap? " tanya Clara dengan wajah panik.
"Kamu lihat sendiri, aku sudah menghabiskan separuhnya." Adhit memperhatikan wajah istrinya yang hampir menangis.
"Ayo muntahin Mas, buruan!! " Clara semakin panik, air matanya sudah menggenang. Ia khawatir kalau terjadi sesuatu dengan suaminya.
"Kamu kenapa sih? Memangnya kenapa dengan makanannya?" Adhit semakin dibuat bingung olehnya.
"Ayolah Mas, buruan muntahin makanannya. Aku takut terjadi sesuatu dengan kamu Mas. Aku lupa kalau Mas Adhit alergi makanan laut" Clara tak bisa lagi membendung air matanya. Bulir bening itu akhirnya jatuh membasahi pipinya. Adhit yang melihat istrinya menangis langsung berdiri dari duduknya.
"Hei, kenapa menangis? Aku baik-baik saja, meskipun nanti tubuhku akan memerah karena gatal" ucapnya lembut dan mengeringkan air mata istrinya dengan jari tangannya.
"Maafkan aku, a_ " ucapannya terpotong karena Adhit memeluknya.
"Sudah, tidak masalah. Jangan menangis lagi, ternyata apa yang dikatakan Papa benar. Kalau kamu itu cengeng" ujar Adhit sambil tertawa setelah melepaskan pelukannya dari Clara.
"Jangan menertawaiku!!" Clara melototkan matanya pada Adhit. "Ayo kita ke dokter, nanti alerginya makin parah. Lihat ini tangan Mas Adhit sudah memerah" ucap Clara memperhatikan tangan suaminya.
"Tidak perlu, nanti aku akan menghubungi dokter pribadi keluargaku" ucap Adhit dan mencubit gemas pipi istrinya.
"Ya ampun Mas, ini pipi bukan squishy yang bisa ditarik-tarik. Nanti yang ada pipi aku mengembang lagi, seperti balon" Clara memegang pipinya yang memerah karena ulah Adhit. Adhit tertawa gemas melihat tingkah istrinya. "Sudah sana, buruan hubungi dokternya." Clara mengusir Adhit dari hadapannya.
"Iya iya, dasar cengeng!!" gerutu Adhit kemudian segera meninggalkan meja makan.
"Dari pada Mas Adhit, nyebelin!! " teriak Clara saat suaminya sudah pergi dari hadapannya. Kemudian ia kembali ke dapur untuk melanjutkan kegiatan memasaknya yang sempat tertunda.
sudah 2x loh kyk gitu kasian kan Alicia ny thor