Rosetta Luwig di hidupkan kembali setelah mengalami sebuah kecelakaan dimana ia sedang mengandung anak kakak tirinya. Dia mencintai Jhonatan Maxiliam, namun ternyata pria itu justru mencintai adiknya. Dengan berbagai cara dia menjebak Jhonatan hingga mengandung anaknya, namun sayang ternyata anaknya tidak di akui bahkan keluarganya membencinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tidak memiliki ayah seperti mu
Rosetta menarik selimut yang menutupi sebagai tubuh Maxiliam. Tanpa malu pria di hadapannya malah memperlihatkan dada kekarnya. "Pergi!"
Maxiliam berbalik dan mengambil guling di sampingnya. Ia memeluknya dan memejamkan kedua matanya.
"Maxiliam kesabaran ku ada batasnya." Rosetta hendak membangunkan Maxiliam namun ia melihat kedua mata Maxiliam sudah tertutup rapat. "Max kau sudah tidur?" Ia menarik lengan Maxiliam yang terasa berat. "Dia memang sudah tidur," ucapnya.
Ia berkacak pinggang dan melihat sebuah sofa berwarna merah. Mungkin malam ini ia harus tidur di sofa.
Ia membaringkan tubuhnya di sofa yang sempit itu. Mau tidak mau ia harua tidur, siapa yang mau tidur dengan Maxiliam.
...
Maxiliam membuka kedua matanya. Saking capeknya ia tertidur di ranjang dan tanpa sadar menghentikan perdebatannya dengan Rosetta. Ia menoleh dan melihat Rosetta tidur meringkuk di sofa. Ia pun turun dan memindahkan tubuh Rosetta ke atas ranjang dengan hati-hati. Ia duduk di sampingnya dan memperhatikan wajah teduhnya.
Di lihat dari dekat, Rosetta cantik, wajahnya teduh seakan memberikan kehangatan siapa pun yang memandanginya. Ia mengusap kepala Rosetta dan tersenyum. "Aku ingin kamu bahagia Rosetta. Maafkan aku." Ia merasa ingin membahagiakan Rosetta entah bagaimana pun caranya.
Maxiliam mencium kening Rosetta. Ia pun mengambil pakaiannya dan bergegas pergi.
Keesokan harinya.
Rosetta terbangun dengan kening berkerut. Padahal ia tidur di sofa tapi sekarang ia berada di atas ranjang. "Apa Maxiliam memindahkan ku?"
Ia menoleh ke arah kamar mandi namun ia merasakan tak ada orang di dalam kamar mandi tersebut. "Apa dia sudah pergi?"
Ia menuruni ranjang kasur empuk itu dan mendekat ke arah pintu. "Max?"
Tidak ada sahutan, ia yakin Maxiliam sudah pergi. "Ya sudah, aku tidak ingin memikirkannya yang penting dia sudah pergi."
....
Tok
tok
tok
"Rosetta kau sudah bangun?" tanya Mario. Dia ingin mengajak Rosetta sarapan bersama dengannya.
Mendengarkan suara Mario, ia pun membuka pintu. "Iya aku sudah bangun."
"Mau sarapan bersama?"
Rosetta mengangguk, "Iya tapi aku harus siap-siap dulu."
Setelah selesai bersiap-siap Rosetta keluar dan mengetuk pintu hotel Mario. Mereka pun sarapan bersama dan mengobrol ringan. Setelah sarapan mereka melanjutkan perjalanan.
Rosetta mengedarkan pandangannya, ia seperti di awasi. Ia berharap Maxiliam sudah pulang dan tidak mengejarnya.
"Kenapa Rosetta?" tanya Mario.
"Ah tidak apa-apa," jawab Rosetta. Sejenak ia kembali mengedarkan pandangannya.
Mungkin hanya perasaan ku saja batinnya.
Maxiliam terus mengekori mobil itu hingga sampailah Rosetta di sebuah rumah. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, selama ini ia tak berani untuk pergi dan menemui Rosetta, wanita itu kecewa begitupun Javer.
Kedua air matanya menggenang di pelupuk matanya saat melihat Javer menyambut Rosetta dan Mario. Ingin sekali ia bertemu dengan Javer lebih tepatnya dengan Rosetta. Ia sangat merindukannya.
"Kenapa terasa sakit?"
....
"Albert." Sapa Lili. Sejak tadi ia mengetuk pintu dan membuatnya menunggu. "Mommy dan Daddy sudah menunggu di bawah."
"Iya aku akan bersiap-siap." Albert pun menutup pintunya membuat Lili menggeram kesal.
"Tidak sopan, sabarlah ini hanya sementara. Setelah ini akan aku buat dia menunduk di hadapan ku. Akan ku jadikan dia pion ku."
Lili melihat ketiga orang itu duduk sambil menyapa dengan senyuman. Ia pun duduk di samping ibunya. "Mommy seandainya kak Rosetta ada di sini pasti akan ramai."
"Kenapa Mom?" tanya Alber melihat nyonya Diane dan daddy Agam menatapnya. "Emm, kak Rosetta bercerita pada ku, jadi aku tidak kaget. Kak Rose menceritakan semuanya."
"Seandainya saja Rosetta ..."
"Kak, kenapa Kakak selalu mengompori Daddy dan Mommy? Maksudnya kakak seolah terus membahas kesalahan kak Rosetta pada kakak dan membuat mommy dan daddy terus merasa bersalah dan kasihan pada Kakak. Apa kakak juga tidak merasa bersalah pada ku karena orang tua Kakak? Kakak enak hidup di sini sedangkan aku ..."
Daddy Agam merasa kesal, Lili memang selalu ingin membahas perlakuan Rosetta tapi tidak dengan membahas perlakuan orang tuanya. "Lili, jangan mengungkit kesalahan Rosetta. Jujur, jika kau mengungkit Rosetta aku teringat dengan kesalahan orang tua mu. Sebentar lagi kita akan mengunjungi kedua orang tua mu."
Nyonya Diane sesungguhnya kecewa, ternyata selama ini ia mencintai anak orang, sedangkan anaknya di telantarkan. "Orang tua mu akan mendapatkan balasan yang setimpal. Mommy tidak akan pernah memaafkan mereka."
Lili terdiam, ia menyalahkan kedua orang tuanya. Seharusnya orang tuanya tidak membocorkannya. Bahkan ia harus menanggung rasa malu mereka. Tapi semua ini adalah miliknya, ia hidup di keluarga Luwig.
"Albert, mulai sekarang nama mu Albert Luwig. Aku akan mengumumkan kedatangan mu sebagai putra Luwig."
Lili terkejut, jika di umumkan berarti semua orang tau kalau ia bukan anak dari keluarga Luwig tapi anak orang lain. Mau di taruh dimana mukanya. "Daddy sebaiknya jangan terburu-buru, biarkan Albert beradaptasi di keluarga ini."
"Aku tidak masalah Kak, aku senang. Aku takut semua orang akan mengatakan aku anak pungut."
"Albert, apa yang kamu bicarakan? kami akan secepatnya mengumumkan keberadaan mu."
"Terima kasih Mom."
Sialan! Jadi dia ingin merampas semua milik ku?
.....
Javer duduk di halaman rumahnya di kursi putih. Kedua kakinya di ayunkan, ia sambil berceloteh dengan senyuman yang lebar di bibirnya.
Rosetta pun terkekeh mendengarkan ucapan Javer. Dia tak bisa menahan tawanya.
Maxiliam mengintip di jendela mobilnya. Tanpa sadar Javer menoleh ke arah mobilnya, ia pun menunduk.
"Mommy, itu mobil siapa?" tanya Javer.
Rosetta menoleh, ia berdiri dan menatap mobil tersebut. Tidak mungkin Maxiliam mengikutinya sampai di rumahnya, jika benar, berarti Maxiliam tau keberadaannya.
"Kamu tunggu di sini."
Ia melangkah ke arah mobil tersebut, membuka pintu gerbangnya dan kemudian mengetuk pintu kaca mobilnya. "Maxiliam?"
"Itu kau?"
Maxiliam menurunkan kaca mobilnya. Rosetta tak bisa menahan amarahnya. "Kenapa kau bisa di sini? Pergi Maxiliam! Jangan menganggu hidup ku dan Javer."
Maxiliam turun dari mobilnya dan menggenggam kedua tangan Rosetta. "Aku mohon berikan aku kesempatan. Aku ingin berbicara dengan Javer dan dirimu."
"Tidak perlu, kita tidak memiliki hubungan apa pun." Hatinya masih sakit saat Javer tak di akui.
Javer berlari, ia harus melindungi ibunya dari orang-orang jahat. "Pergi!" teriam Javer mendorong tubuh Maxiliam dengan kasar. "Jangan mengganggu Mommy."
"Sayang aku Daddy mu Nak."
"Kau bukan Daddy ku! Aku tidak memiliki Daddy, aku hanya punya Mommy!" Teriak Javer. Dadanya naik turun, ia membenci pria di depannya. "Pergi! Jangan pernah datang lagi. Aku membenci ayah seperti mu."
Mulut Maxiliam hanya bergerak, namun mengeluarkan suara dari mulutnya tak kuat. Ternyata ia sudah menumbuhkan rasa benci di hati Javer, rasanya sangat sakit di benci oleh putranya sendiri.