Follow Instagram Author @tulisan_bee 😘
Musim satu dan dua sudah tamat ❤️
~ Perjalanan seorang gadis bernama Diandra Lee, dipertemukan dengan dua lelaki luar biasa, Bram Trahwijaya dan Gionard Butcher.
Ketika keduanya sama-sama menawarkan tempat bersandar, sisi mana yang akan Diandra pilih? ~
Terima kasih sudah mampir dan membaca cerita ini, semuanya. Semoga suka 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Bersaing
"Aku tidak suka berbagi. Apalagi membaginya dengan laki-laki lain." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Diandra berjalan sambil sedikit berlari, hingga suara sepatu hak setinggi lima senti meter itu terdengar nyaring di lantai. Gadis itu buru-buru keluar ruangannya, bahkan tidak menoleh pada Bram sedikitpun. Baru saja dia menerima telepon dari seseorang dan ternyata orang tersebut sudah berada di lantai pertama kantornya, duduk di sebuah kursi kafe.
Diandra menghampiri Gionard sambil tersenyum lebar.
"Hai," sapanya, napasnya masih terengah-engah karena olahraga kecil yang dilakukannya dari ruang kerjanya.
Gionard berbalik dan menghadap Diandra. Lelaki itu menggenggam gelas berisi Cappucino Frappe, salah satu minuman favoritnya. Dia membalas senyuman Diandra.
"Hola,"
"Kau sibuk hari ini?" tanyanya. Menyesap minumannya pelan.
Diandra duduk tepat di hadapan pria itu, menaruh dompetnya di atas meja.
"Tidak juga," balasnya.
"Kau mau minum apa?" tanya Gionard lagi, langsung berdiri cepat hendak menuju kasir.
"Chocolate Latte, please," Diandra tertawa.
Gionard telah berada di depan kasir, memesan minuman untuk Diandra dan terlihat berbincang sesaat dengan pramusaji disana. Dia tersenyum lebar dan semakin menambah kesan tampan pada wajahnya yang mengalir setengah darah Perancis.
Gionard Butcher selalu menawan, fikir Diandra. Belum pernah dia melihat Gionard tidak tampan. Setiap pertemuannya dengan pria itu, Gionard selalu memukau.
"For you (untukmu)," katanya tiba-tiba, menyadarkan lamunan Diandra. Gionard telah berdiri di hadapannya, sedikit membungkuk dan menyodorkan chocolate latte seperti yang Diandra inginkan.
Gadis itu lalu menyesap minumannya pelan.
"Ada apa kau kemari?" katanya, menengadah melihat Gionard yang sejak tadi menatapnya lekat.
Gionard membenarkan posisi duduknya.
"Aku ada janji dengan Bram," katanya.
Diandra mendelik.
"Dia masih di ruangannya," balasnya.
Gionard mengangguk.
"Tenanglah. Kami akan bertemu sebentar lagi. Sebelum itu aku ingin melihatmu lebih dulu,"
Diandra menyesap kembali minumannya. Cuaca di luar mulai menghangat. Matahari mulai naik dan segelas chocolate latte adalah pilihan baik untuknya.
"Baiklah, aku telah disini," gadis itu tertawa.
Gionard masih lekat menatapnya, dengan ekspresi yang sulit ditebak. Mungkin banyak hal yang sedang difikirkan lelaki itu.
"Apa kau lelah bekerja, Diandra?" Gionard bertanya setelah hening beberapa lama di antara mereka.
Diandra menaikkan bahu dan menghela napas panjang.
"Aku tidak suka caramu menghela napas," potong Gionard cepat, tersenyum kecil di sudut bibirnya.
"Yah, aku telah memutuskan. Ternyata bekerja di perusahaan tidak sesulit itu. Kau tahu aku banyak belajar..,"
Gionard mengangguk.
"Tapi..," Diandra membuang wajahnya menatap keluar jendela.
Gionard menunggu lanjutan kata-kata Diandra penasaran. Apa yang disimpan wanita ini? Apa dia tersiksa? Apa bebannya terlalu banyak?
"Tapi kadang aku merindukan duniaku," kata Diandra pelan, terbata. Pandangannya masih melalang buana keluar, menatap apa saja yang bisa dia lihat saat itu.
Gionard kembali memperbaiki posisi duduknya, kali ini mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Diandra. Dia tiba-tiba menaruh tangannya tepat di atas telapak tangan Diandra yang berada di pangkuan gadis itu. Gionard mendekat.
"Aku tahu. Duniamu menunggumu,"
Diandra berangsur menatap pria itu. Kini pandangan mereka bertemu. Gionard adalah satu-satunya orang yang memahami dunianya, memahami impiannya. Kehadiran Gionard kini di hadapannya sekaligus mengingatkan dia pada hal-hal indah yang mereka punya saat di Paris. Bagaimana Gionard sungguh mendukung Diandra untuk menjadi seseorang dengan versi terbaik dirinya.
"Aku akan pulang minggu depan, untuk sementara saja. Ikutlah bersamaku. Mungkin akan mengobati sedikit kerinduanmu," kata Gionard jelas.
Diandra tersentak.
"Kau akan pulang? Ke Paris?" pekiknya.
Dia lalu menutup bibirnya dengan tangannya, menyadari bahwa beberapa pasang mata memperhatikan mereka karena suaranya yang begitu keras.
Gionard terkikik. Menyadari beberapa orang melewati mereka, dia menarik kembali tangannya dari atas tangan Diandra dan duduk dengan santai.
"Paris menunggumu. Menunggu kita," katanya lagi, memamerkan deretan giginya yang putih rapi karena senyuman yang begitu memikat. Diandra belum menjawabnya.
Namun di balik sebuah tembok dekat cafe itu, seorang pria sedang mengepalkan tangannya kuat. Sedikit demi sedikit api cemburu masuk ke dalam relung hatinya. Pria sialan itu sungguh tidak bermain-main, fikirnya. Bram Trahwijaya menatap punggung Gionard tajam dari kejauhan.
"Aku akan bersaing denganmu. Mari kita lakukan permainan ini," bisiknya dalam hati. Kemudian berlalu cepat ke arah berlawanan.
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Haii.. maaf lama upnya ya.. Support Like & Commentnya cekgu, makasih udah mampir yaa❣️~
AQ mmpir again kesekian kalinya bee😍