Selama bertahun-tahun kehidupan gadis kecil berusia 16 tahun itu sangat buruk. Selain dikurung di sebuah loteng sempit, dia juga dijadikan bank darah oleh keluarganya. Tidak sampai di sana, Alleta juga dijebak oleh keluarganya untuk melayani lelaki tua hanya demi keuntungan perusahaan ayahnya.
Hingga pada malam itu, dia berhasil melarikan diri dari tragedi yang akan menghancurkan hidupnya dan bertemu dengan pria dingin yang mengubah kehidupannya yang suram.
Akankah Alleta bisa hidup bahagia setelah mengikuti pria itu dan lepas dari keluarganya?
Dan apa yang terjadi jika Alleta tahu kalau orang yang selalu dia anggap keluarga ternyata bukan.
Bisakah dia menemukan keluarga aslinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selenophile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Loh Kakek katanya kita mau pulang kenapa malah ke sini?"tanya Alleta heran karena saat ini mobil yang mereka tumpangi bukan berhenti di mansion tapi di sebuah restoran kelas atas.
"Karena Kakek mau bertemu dulu dengan seseorang. Ayo masuk sekalian kita makan dulu sebelum kembali ke rumah, Alleta juga pasti lapar, kan?"
Alleta mengangguk pelan seraya mengelus perut ratanya yang sedari tadi berbunyi meski tidak keras.
"Ayo masuk seseorang sudah memesan ruang privat untuk kita." James menuntun cucunya masuk ke dalam restoran. Di sana sudah ada pelayan yang menunggunya untuk mengantar mereka ke ruang privat.
"Apa anda Tuan James?"tanya pelayan itu sopan.
"Ya,"balas James singkat.
"Mari saya antar Tuan Joshua sudah menunggu anda di dalam." Pelayan itu memimpin kakek dan cucunya ke ruang privat.
Ruang privat ini dikhususkan bagi orang-orang yang tidak suka keramaian dan kebisingan, namun tidak sembarangan orang yang bisa memesan ruangan ini. Ruangan ini dikhususkan bagi pelanggan-pelanggan VVIP atau orang yang sangat berpengaruh.
Setelah mereka sampai di depan pintu mahoni yang menjulang tinggi, pelayan itu mengetuk pintu dan meminta izin kepada orang yang ada di dalam.
"Tuan Joshua, Tuan James sudah ada di sini."
"Biarkan dia masuk,"sahut orang yang ada di dalam itu.
Setelah mendapat izin pelayan itu membukakan pintu untuk mereka dan mempersilahkan masuk, "Tuan silakan."
"Terima kasih, dan tolong bawakan cemilan manis untuk cucu perempuanku,"pesan James sebelum masuk.
"Baik Tuan."
"Rasa strawberry,"timpal Alleta.
"Ya Nona, saya akan mempersiapkannya."
"Terima kasih."
Begitu Alleta masuk ke dalam dia melihat seorang pria paruh baya yang seumuran dengan kakeknya tengah duduk sambil menyantap makanan di atas meja.
"Kau terlambat 10 menit,"ucap Joshua tanpa mengangkat kelopak matanya untuk melihat James, sahabatnya.
"Maaf tadi aku harus menjemput cucuku dari sekolah,"jelas James sambil menarik kursi untuk Alleta duduk.
"Terima kasih Kakek." Alleta langsung duduk di sebelah kakeknya. Mata persiknya yang jernih dan polos berkeliaran menatap sekeliling dengan tatapan penasaran.
Ruangan ini didekorasi dengan sederhana namun terlihat elegan. Tidak hanya itu ruangannya juga dilapisi oleh kedap suara sehingga orang-orang yang berada di luar tidak dapat mendengar pembicaraan mereka. Ini sangat cocok untuk mereka yang ingin membicarakan sesuatu secara rahasia. Keamanan dan kerahasiaannya juga sangat terjamin, para pekerja yang ada di restoran ini tidak akan membocorkan identitas para tamu VVIP.
"Cucu? Bukannya cucumu hanya Nathan? Sejak kapan kamu memiliki cucu perempuan?"tanya Joshua seraya melirik gadis kecil itu dengan penuh minat.
Ketika dia disebut Alleta dengan sadar langsung berdiri dan memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Halo Kakek nama saya Alleta Quennara, kakek bisa memanggilku Alleta."
"Halo Alleta, nama Kakek, Kakek Joshua,"kata Joshua ramah.
Dia merasa wajah gadis itu sangat tidak asing seperti mirip seseorang. Ada perasaan akrab yang tak bisa dijelaskan olehnya saat melihat gadis itu. Padahal ini adalah pertemuan pertama mereka.
"Ceritanya panjang aku malas menjelaskan. Langsung ke intinya saja ada apa kau memanggilku ke sini?"tanya James. Dia terlalu malas untuk menjelaskan.
Setelah ingat tujuan dia memanggil James, Joshua menghela nafas kasar. Ada sedikit kelelahan diantara alisnya.
"Ini tentang…."ucapan Joshua terpotong oleh suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk."
Seorang pelayang mendorong gerobak makanan berupa cemilan manis yang disukai para gadis ke dalam dan menatanya di meja.
"Tuan pesanan anda."
"Ya terima kasih."
Alleta yang melihat semua cemilan favoritnya langsung meneteskan air liur.
"Akh ini adalah surga para gadis!" Teriak Alleta di dalam hati. Dia tidak sabar untuk segera mencicipinya.
"Kakek bisakah aku makan sekarang?"tanya Alleta dengan mata berbinar dan keserakahan yang terlihat jelas di mata persiknya.
James tertawa melihat tingkah cucunya, dia mengulurkan tangannya, menepuk kepala Alleta dengan penuh kasih.
"Yah kau bisa memakannya."
"Terima kasih Kakek."
Joshua yang melihat interaksi antara kakek dan cucu juga ikut tersenyum. Meskipun dia memiliki cucu perempuan, tapi mereka tak sedekat itu.
"Oke kita kembali lagi membahas tentang pernikahan Sabrina dan putramu,"ujar Joshua menyadarkan James.
James yang mendengar hal itu juga tidak bisa berbuat apa-apa tentang pernikahan yang sudah Axel batalkan dengan seenak hati.
"Yah apa yang harus aku lakukan kau tahu sendiri bagaimana sifat putraku. Mau bagaimanapun aku membujuk atau memaksanya anak itu sangat keras kepala dan teguh pendirian. Sekali bilang tidak, ya tidak. Tanpa memberi kita kesempatan,"jelas James. Dia juga merasa lelah oleh kelakuan putra bungsunya.
Sambil makan Alleta menyimak pembicaraan mereka tentang pernikahan ka Axel.
"Oh ternyata pernikahan ka Axel dengan tunangannya batal, tapi kenapa? Padahalkan tunangan ka Axel cantik, modis, sexy, artis terkenal. Kenapa kakak menolak berlian seperti itu?"gumam Alleta pada dirinya sendiri.
"Sebenarnya kenapa kita yang harus mengurus permasalahan anak muda. Mereka seharusnya bisa mengatasi masalah ini sendiri, mereka sudah dewasa. Kita hanya perlu duduk manis menikmati masa tua kita." James menghela nafas lelah, dia sudah sangat pusing dengan permasalahan ini. James juga merasa bersalah kepada mendiang istrinya.
Perjodohan ini dilakukan oleh mendiang istrinya bersama mendiang istri Joshua sebelum mereka wafat. Tapi, dia juga tidak bisa memaksa kehendak putranya.
"Hah biarkan lah takdir yang mengaturnya, kita sudah berusaha semaksimal mungkin,"kata Joshua lelah.
°°°°
Sedangkan di tempat yang sama tapi di ruangan berbeda Dominic menatap laporan di tangannya dengan niat membunuh yang kental.
Jadi, selama 16 tahun ini adiknya diperlakukan dengan keji oleh keluarga angkatnya. Dominic tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan adiknya di keluarga itu. Jika bukan karena kelalaian mereka, adiknya seharusnya dibesarkan dengan hati-hati dan dijaga layaknya seorang putri.
Karena kelalaian mereka, mereka membesarkan putri orang lain dengan penuh kasih dan perhatian layaknya anak kandung. Sedangkan putri asli? Dia mendapat perlakuan tidak adil dan keji dari keluarga angkatnya.
Dia tidak tahu bagaimana reaksi orang tuanya jika tahu putri kandungnya sendiri diperlakukan layaknya seperti hewan.
Dominic melempar laporan itu ke meja, mengambil segelas wine dan meneguknya hingga tandas. Rasa sesak di dalam hatinya membuat dia sulit bernapas. Tangannya yang besar menarik kasar dasi yang mengikat lehernya.
Dominic melangkahkan kakinya keluar dari ruangan sumpek ini, dia butuh udara segar untuk merilekskan pikirannya.
Namun begitu dia akan berbelok untuk pergi ke taman, tubuh lembut dan wangi seseorang menabrak dada bidangnya.
"Ah… Maaf aku tidak sengaja."
Dominic menundukkan kepala, memandangi gadis kecil yang menabraknya. Dia tidak bisa melihat wajah gadis itu karena tertutup oleh rambut panjangnya.
......................
Jangan lupa like, comment dan vote ya, 😉.
...(Selamat membaca.) ...
perasaan udh 1bln lebih gk up'lg