Zefanya Emanuella, seorang gadis cantik nan periang, namun harus menjalani hari-hari yang begitu berat setelah kehilangan identitas di Bandara. Berniat untuk menemui om nya, namun justru malah membuatnya hilang dan tersesat.
Di saat dirinya frustasi, Zefanya di pertemukan dengan seorang nenek di Bandara yang sedang terpisah dari cucu nya. Berniat membantu, namun justru kesalahpahaman yang dia dapat. Zefanya terpaksa menjadi seorang pembantu di rumah nenek tersebut karena ancaman dari sang cucu.
Seorang nona muda yang terpaksa harus menjadi pelayan di rumah orang asing. Bagaimana kisah Zefanya selanjutnya. Dapatkah ia bertemu dengan keluarga nya? Atau dirinya justru terperangkap dalam rumah majikan barunya?
Jangan lupa follow akun
IG @Mommy_ar29 dan
Tiktok @Mommy_ar95 🥰🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Badai
...~Happy Reading~...
Brukkk!
Badai langsung menghempaskan tubuh Zefanya begitu saja di atas tempat tidur dengan cukup kasar. Membuat gadis itu sedikit meringis namun juga tetap terlihat kuat.
"Gue udah bilang sama lo, gak usah datang ke Indo!"
Zefanya masih bergeming di tempat nya. Ia hanya bisa diam, diam dan diam dengan segala pemikiran yang ada.
"Bukannya selesaiin kuliah biar cepet kelar! Ngapain lo kesini tiba tiba begini? Pakai acara nyasar! Dan nyasar lo itu gak tau aturan Zef!" Badai sampai mengusap wajah nya dengan kasar kala memarahi Zefanya.
"Sorry!"
"Sorry lo bilang?" kini Badai mendekati Zefanya dan kembali mencengkram dagu tersebut, "Lo bilang sorry? Terlambat Zef! Terlambat!"
"Sakit Badai!" Kini Zefanya sedikit memekik saat lagi lagi Badai menghempaskan tangan nya begitu saja dari dagu.
"Sakit lo itu, gak seberapa dari apa yang gue rasain Zef!"
Zefanya hanya bisa menarik napas nya dengan sedikit berat. Rasanya, ia sudah tak mampu lagi untuk menahan air mata nya, juga rasa sesak yang ada di dalam dada.
Perih, sakit dan sangat sesak ia rasakan. Tapi, tak bisa membuat nya bisa berbuat lebih kecuali diam.
Mungkin, andai Zefanya bisa mengembalikan waktu, sungguh gadis itu tidak mau terjebak di antara rasa yang sangat menyakitkan seperti saat ini.
Dulu, hubungan Zefanya dan Badai sangat baik. Laki laki itu adalah sosok laki laki baik, penyayang dan sangat bijak dalam berbicara.
Hingga, tiba di suatu ketika dimana Zefanya menyatakan perasaan nya di depan seluruh keluarga besar. Membuat semuanya terkejut.
Bahkan kala itu, Zefanya sampai mengancam akan bunuh diri jika sampai perasaan nya di tolak oleh Badai. Tanpa Zefanya memikirkan bagaimana perasaan seorang gadis lain yang memang saat itu juga sedang berada di sana bersama Badai.
Singkat cerita, pada akhirnya seluruh keluarga besar menyetujui. Dan pertunangan itu pun terjadi, walau hanya ada segelintir orang. Awalnya, Zefanya sangat bahagia. Tapi, semakin lama, ia semakin mengetahui watak asli Badai yang ternyata sangat jauh dari perkiraan nya.
Dulu, dunia Zefanya tidaklah memiliki banyak kenalan laki laki. Di dunia nya hanya berpusat ke beberapa laki laki, yakni ayah, kakak dan juga Badai.
Itulah mengapa, Zefanya begitu mengagumi sosok Badai dan sangat ingin memiliki nya. Tapi, kini setelah ia bertemu Batara, tak bisa di pungkiri bahwa hatinya goyah. Dan ia merasa sedikit menyesal karena sudah memaksa Badai dan secara tidak langsung sudah membuat laki laki itu mengubah sikap dan sifat nya.
"Jangan nangis Zef! Gue capek lihat lo nangis mulu!" Zefanya semakin menggigit bibir bawah nya kala mendapatkan bentakkan lagi dari laki laki tersebut.
"Aku capek Badai, hiks hiks. Aku capek, aku gak kuat!" isak tangis kini semakin jelas terdengar, dengan di sertai lelehan air mata yang sulit untuk di hentikan.
Zefanya menutup wajah nya dengan kedua tangan. Rasanya ia benar benar sangat lelah dan ingin berhenti. Tapi, apakah benar, dirinya bisa berhenti?
"Lo gak mulai semua ini Zefanya! Jadi, sampai akhir lo harus mampu ngadepin kaya gini! Lo sangat tahu bagaimana gue, jadi lo harusnya juga sudah tahu bagaimana bersikap!" ucap Badai dengan raut wajah datar nya.
"Sudahi tangisan lo itu, cepet mandi karena setelah itu lo harus nemuin orang tua gue!" Setelah mengatakan itu, Badai memutuskan untuk segera keluar dari kamar Zefanya.
Sementara itu, Zefanya yang kini hanya seorang diri di dalam kamar itu, bukan segera bersiap seperti yang di perintahkan Badai. Gadis itu justru semakin terisak.
Ia tidak mengerti, mengapa ia bisa jatuh hati pada sosok laki laki seperti Badai. Tapi, ia merasa, Badai yang dulu sangat lah berbeda dengan yang sekarang.
Dan tak bisa ia pungkiri, bahwa sikap dan perlakuan antara Badai dan Batara, kini kembali terngiang di benak nya. Zefanya seolah membandingkan antara dua laki laki itu.
'Hiks hiks hiks, come on Zefa. Kamu gak boleh cengeng, ini bukan kali pertama kamu seperti ini. Come on!'
Semakin Zefanya berusaha menguatkan dirinya, justru ia semakin tak kuasa menahan isak tangisan nya.
...~To be continue .... ...