PERINGATAN!!!
Sebelum membaca, siapkanlah hati kalian seperti judul novel ini 'Seluas Samudera'. Karena kalian akan dibuat jengkel setengah mati. Jika kalian tidak siap, lebih baik mundur!
----------
Novel ini mengangkat kisah tentang seorang
Kapten pasukan khusus Angkatan Laut. Yang jatuh cinta dengan anak Komandan-nya. Mereka bertemu di rumah sakit tanpa tahu satu sama yang lain. Saat sang Kapten tertembak, dan sebagai perawat wanita itu merawatnya. Namun sayang, karena ada sesuatu hal. Sang Kapten secara sepihak memutuskan jalinan asmara diantara mereka.
Memang kalau telah dijelaskan, aku mau lepas darinya? Tentu, tidak! Aku tidak mau Dia sudah buat aku begini, malah meninggalkanku. Itu gak boleh! Oh! Aku tahu caranya biar dia bisa balik lagi bersamaku. Ya! Akan kucoba.
-Dewi Abarwati-
Dia berharap ada kata maaf dulu dari Dewi, sebelum dia merubah status hubungan mereka menjadi sepasang kekasih kembali.
-Krisanto-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 Menghabiskan Malam Bersama 2
Keluar dari toko, Kris melipirkan kakinya ke toko sebelah. Toko pernak-pernik rasanya pas untuk membungkus barang-barang yang baru dibeli mereka. Dewi mengikuti.
“Sebaiknya, kita bungkus saja tas-tas ini. Tapi nanti, aku tetap titip ke kamu ya."
"Kita mau ke toko ini, Mas?"
"Iya."
“Memang kenapa sih Mas. Mas, bawa kado?"
“Bukan malu. Ya, kan lebih enak saja kalau sekalian kamu yang bawa." Kris tahu arah bicara Dewi.
“Iish, alasan!" cibir Dewi.
Tersenyum. “Memang. Nggak apa-apa, 'kan?”
“Iya..." Dewi balas tersenyum.
Di dalam, kedua orang itu langsung ke arah buruan. Kertas kado itu berada di sebelah kasir. Tersedia di dalam 3 guci besar. Kris menyuruh Dewi untuk memilih. Biasa, hal-hal begitu pria itu tidak mau ikutan.
Saat Dewi sedang sibuk memilih. Kris menjulurkan tangannya, ada menarik perhatiannya. Pandangan Dewi pun jadi teralihkan.
“Oh! Ada gambar Donald Bebek. Kok aku gak sadar ya, " seru Dewi.
Kris memanggil pelayan. Yang dipanggil tiba.
"Iya, Mas?"
“Kertas kado ini masih ada, Mbak? Bisa minta tolong bantu cariin satu lagi?”
“Sebentar ya, saya coba cari.”
Dewi menyingkir untuk memberi ruang pelayan itu mencari. Akibat pria di sebelahnya terus memberi kejutan. Alhasil, Dewi jadi kembali curi-curi mata.
Dia masih ingat saja ya aku suka Donal Bebek.
“Jangan melihatin aku, Dewi...”
Sontak yang ditegur melotot. Kris melirik, dengan sigap Dewi kembali ke dirinya yang normal.
“Dewi?”
“Ya?”
“Bonekaku masih kamu simpan?”
Dulu sewaktu mereka bersama, pernah suatu hari mereka belanja di mall. Karena belanjaan mereka melebihi dari promo yang ada di toko itu. Yang mereka pun sendiri nggak tahu ada promo. Selepas bayar, Kris dihadiahi satu boneka Mickey Mouse. Kris memberikan boneka itu ke Dewi. Namun wanita itu menerimanya sembari mengeluh.
Yahh... Coba boneka ini Donald Bebek ya.
Keesokan harinya, Kris memberi Dewi boneka Donald Bebek berukuran kecil. Entah didapatnya dari mana karena hanya berkata, simpanlah...
Boneka itu ada di kasur. Boneka satu-satunya yang teramat disayang Dewi. Walau kecil sering dipeluknya menemaninya sepanjang tidur.
“Iy, i-ya. Masih ada." Dewi jadi terbata-bata.
Untunglah, ada yang menyelamatkan kecanggungannya. Karena Kris merubah pandangan.
“Oh! Ada nih Mas, pas banget tinggal satu,” seru pelayan toko itu.
“Ya udah, tolong tas-tas didalam plastik ini di bungkus ya, Mbak.” Kris menyerahkan barang belanjaan di tangan beserta kertas kado tadi.
Menerima. "Iya, Mas. Nanti kadonya mau dibungkus apa, Mas? Permen? Bunga? Atau kotak? Kalau kotak, harus bayar box lagi Mas."
Kris menoleh ke Dewi. "Kamu mau dibungkus seperti apa, Dewi?”
Hmm... Apa ya? Kalau box terlihat rapih. Juga, tas itu bakalan nyaman didalam box. Jadi terhindar dari gesekan-gesekan ketika dibawanya.
“Kotak saja, Mas," balas Dewi.
Kris beralih lagi ke pelayan. "Kotak, Mbak. Nanti kalau sudah, kabari ya. Kita mau lihat-lihat barang-barang dulu."
“Baik, Mas.”
“Ayo,” ajak Kris ke Dewi.
"Memang, kita mau lihat apa Mas?” Dewi tidak beranjak jalan.
“Ya, lihat-lihat saja.”
Mau nggak mau Dewi mengikuti. Mereka pun berjalan.
Toko itu lumayan besar bisa dibilang 2 toko jadi satu. Di sana, bukan hanya koleksi pernak-pernik perempuan remaja, dan dewasa, anak kecil juga ada. Koleksi atribut ulang tahun, pajangan, dan lain sebagainya. Kemudian baru menelusuri lorong pertama, mereka berhenti.
“Pilihlah, apapun yang kamu mau Dewi,” ujar Kris.
Yang disuruh nggak bergeming. Perasaan mereka ke sini hanya urusan bungkus tas saja. Kenapa Kris jadi menawarkannya barang? Lagi pula, memang enak apa, dia menerima? Kalau dulu mereka masih pacaran nggak apa-apa. Sekarang?
“Ayo, pilih Dewi."
Dewi ragu, namun karena terus ditawarin. Akhirnya dia bergerak mengambil jepitan rambut disalah satu rak di lorong tersebut. Kris tersenyum untuk pilihan warna yang dipilih Dewi.
Dulu wanita itu suka warna orange, sejak pacaran dengan Kris warna kesukaannya jadi berubah yang berbau-bau laut. Yang mencirikan pekerjaan Kris.
“Sudah?” tanya Kris.
Mengangguk. “Iya, Mas.”
Mereka lanjut melangkah lagi. Setiba di lorong lain, Kris menyuruh mengambil lagi.
“Barang-barang ini menarik, kayaknya cocok untuk kamu. Ambillah...”
Dewi kembali ragu. Dasarnya cewek, memang kalau sudah lihat barang-barang begini jadi latah. Tadinya ada perasaan segan jadi lupa daratan. Dewi mendekati rak yang dimaksud. Rak kumpulan bros baju dengan bermacam-macam bentuk bunga dan daun. Benar kata Kris, ini memikat hatinya. Dia mengambil yang berbentuk bunga mawar, kali ini warna biru tua. Kris tersenyum lagi untuk pilihan warna dipilih Dewi.
“Sudah? Nggak mau lagi?”
“Sudah, Mas.”
Mereka kembali berjalan. Sepanjang mereka berjalan, ada terlintas dibenak Dewi....
Kalau Kris jalan dengan Rena, ada nggak sih Rena dibelanja-belanjain begini? Kira-kira sehabis mereka ketemu kawan-kawan mereka. Adakah mereka mampir-mampir? Posisi dia dan Rena ke Kris kan sama nggak ada hubungan apa-apa.
Dewi mengelengkan kepalanya buat membuyarkan lamunannya sendiri. Aih, ngapain juga dia mikirin Rena. Ngerusak mood saja!
Mereka berjalan dari lorong satu ke lorong lain. Lorong pernak-penik anak kecil yang akhirnya hanya dilintasi begitu saja. Ketika mereka tiba di lorong berikutnya, datang pelayan tadi menghampiri mereka.
“Maaf Mas, Mbak. Kadonya sudah kami buat.”
“Cepat sekali,” tanggap Kris.
“Iya Mas, saya hanya mau kasih tahu saja kalau kado Mas dan Mbaknya ada di kasir. Nanti kalau mau ambil di sana. Silahkan Mas dan Mbak-nya, lanjut lihat-lihat lagi.”
“Baiklah, nanti kami ke sana."
Usai pelayan itu pergi, Dewi tersadar dari tadi sudah lupa diri. Walau Kris yang nawarin, gak boleh juga dia begini. Apa lagi tadi tas sudah dibayarin, kertas kado juga pasti nanti dibayarin, terus tambah lagi 2 barang tadi. Wah... Dia benar-benar merepotkan!
“Mas. Ayo, kita ke kasir saja,” ajak Dewi.
“Baru berapa lorong, masih ada lorong lain, dan lorong ini juga belum kita lihat." Kris bicara sembari berjalan.
Dewi masih diam di tempat. Duhh... Mau seberapa lagi dia beliin barang?
“Ini, ada gambar Donald Bebek." Kris berhenti pada rak di sampingnya.
Seketika Dewi menoleh. Karena itu tokoh kartun kesukaannya, lagi-lagi Dewi jadi lupa diri. Segera dia jalan tergesa-gesa, membuat Kris langsung menyingkirkan tubuhnya untuk memberi ruang orang yang mau melihat.
Rak itu kumpulan casing Hp. Ada macam-macam aneka gambar tokoh kartun, namun Donald Bebek lebih mendominasi. Gambar Donald Bebek yang sedang menoleh ke belakang dengan pantatnya yang bulat sangat lucu menarik perhatian Dewi. Dipilihnya casing gambar itu.
“Nggak mau satu lagi?” tanya Kris.
“Hp aku kan cuman satu, Mas.”
“Kamu kan bisa gonta-ganti.”
“Eh! Iya juga ya!” riang Dewi.
Kris tersenyum geli melihat Dewi seantusias itu. Sesudahnya, mereka lanjut berjalan. Kemudian di lorong berikutnya, tanpa malu lagi Dewi berseru menemukan lagi barang dengan gambar tokoh kartun favoritnya.
“Iiih... Ada Donald Bebek lagi...”
Rak itu rak gantungan kunci. Rupanya disitu bukan hanya ada Donald Bebek, namun juga ada kekasihnya Donald yakni Daisy.
Dewi mengamati. Rasanya, kalau dia mengambil juga Daisy maka bakal jadi sepasang. Lalu kalau Kris memiliki Daisy yang diambilnya, bukankah itu lebih menarik?
Kris mengamati tangan Dewi, yang sehabis mengambil Donald, lalu terdiam di gantungan Daisy.
“Kamu mau ambil dua?”
Tertegun, lalu bicara sambil berjalan. “Ah, enggak, enggak. Ayo, Mas."
Pria itu memperhatikan barang yang digeletakkan mantan kekasihnya itu begitu saja. Sepertinya dia paham.
“Tunggu!”
Menoleh. “Ya?”
“Kamu ingin aku memiliki gantungan kunci itu untukku?”
Sontak Dewi terpana. Bagaimana Kris dapat menebak ke arah situ? Wanita itu segera melambai-lambaikan tangan untuk mengenyahkan tebakan pria di depannya.
“Ah, enggak, enggak...”
“Baiklah, aku ambil untukku."
Pria rupawan itu mengambil, lalu berjalan menyusul Dewi. Seketika wanita itu pun melongo.
penasaran alasan kris
aslinya laki apa banci sih 😑
seolah dia ga masalah orang yg dia cintai dibikin sakit ama temen2nya
ngapa ga putus hubungan aja ama temennya
temen kayak gt kok dipiara
si rena lah dianter ksana kmari, parah ini kriss
baik sih baik, tpi ya ga gt jg kalik...
babehku sibuk mo anter2 tmnnya, lgsg aku tikung buat ngantrerin aku