Karena kejadian tiga bulan yang lalu, Sakura harus memaksa seorang pria yang bersamanya menghabiskan malam panjang waktu itu untuk menikahinya.
Sakura menghancurkan acara pertunangan pria itu dengan sengaja, ia bahkan mengancam dan menekan dengan mengandalkan kekuasaan yang dimilikinya untuk menghancurkan kehidupan keluarga si pria juga kekasihnya.
Semua ia lakukan karena janin yang sedang ia kandung dan merupakan benih pria tersebut.
Hingga pernikahan penuh paksaan, itu pun akhirnya terjadi. Di mana si pria tidak pernah menganggapnya sebagai istri dan ia masih menjalin hubungan spesial dengan kekasihnya.
Sakura juga harus menghadapi sikap ibu mertua yang tidak pernah menyukainya dan selalu menekan juga menggunjing dirinya.
Mampukah Sakura Light Kato, merebut hati suaminya dari sosok wanita lain? Juga menghadapi sikap semena-mena sang mertua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma_bhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Nyonya Soraya menelisik penampilan Sakura yang terlihat berbeda pagi ini.
Menantunya itu tampak aneh menurutnya pribadi. Membuat jiwa julid nyonya Soraya begitu memberontak, ingin mengatakan hal-hal menyakitkan untuk — Sakura.
Ia melirik putranya yang sedari tadi sibuk melayani istrinya dengan mulut terus mengoceh tidak tentu.
Sementara Sakura terlihat begitu santai dan tenang, nyonya Soraya benar-benar tidak tahan melihat pemandangan di hadapannya yang memiliki karakter terbalik.
"Hey, seharusnya kau yang melayani seorang suami! Bukan putraku yang harus menjadi pelayanmu," ucapnya dengan nada ketus juga wajah julid nya begitu terlihat jelas.
Wanita itu tidak sadar dengan keadaannya sendiri, yang sibuk dengan dirinya sendiri tanpa memperhatikan suaminya yang sejak tadi di layani oleh kepala pelayan mereka.
Ingin rasanya Sakura membalas perkataan mertuanya, namun wanita itu terlalu malas dan muak. Apalagi terus di hadapkan, tingkah aneh suaminya.
"Kau terlihat tidak pantas dengan gaun mahal ini, sungguh terlihat sangat, buruk." nyonya Soraya sekali lagi mengeluarkan komentar pedas dan jiwa julid wanita itu sungguh tidak bisa tertahankan.
Tatapannya bahkan semakin mendelik sinis ke arah Sakura yang tampak terlihat begitu tenang. Sudut bibir wanita itu bahkan terangkat ke atas untuk mencibir menantunya.
Mendengar perkataan mommynya, Garvin beraksi berlebihan, pria itu meletakkan sendok dengan kasar sambil menepuk meja dan berseru lantang memanggil sang mommy.
"Mommy!" Gertak pria itu dengan posisi bangkit dengan tatapan penuh dendam kepada mommynya.
Nyonya Soraya dan tuan Miller bahkan terkejut dengan reaksi tangguh yang ditunjukkan putra mereka. Yang mana putranya itu selalu bersikap penuh wibawa untuk menjaga image-nya.
Sakura bahkan hanya menoleh sejenak kesamping lalu kembali menikmati potongan daging yang diberikan suaminnya.
Tanpa tertarik dengan drama yang dimainkan ibu mertuanya itu.
"A-ada apa?" Tanya nyonya Soraya yang begitu tercengang melihat raut wajah putranya.
"Kenapa kau menatap mommy seperti itu, hah!" Sentak wanita itu, mengertak putranya.
Garvin masih terdiam dengan mimik wajah yang begitu marah, mendengar celaan mommynya kepada sang istri.
"Mommy!" Sentak Garvin sekali lagi.
"Apa!" Sahut nyonya Soraya dengan jawaban tak kalah sengitnya.
Tuan Miller hanya bisa menghela nafas panjang, harus menyaksikan perdebatan, putra dan istrinya.
"Mommy, tidak pantas berkata seperti itu kepada istriku! Bagaimana kalau bayi kami mendengar suara mommy, dia pasti akan bersedih!" Pekik Garvin yang raut wajahnya kini berubah sedih.
Sakura dan tuan Miller bahkan tersendat oleh makanan mereka, mendengar ucapan Garvin.
"Kau tidak apa-apa? Ini pasti semua karena mommy! OH, tuhan, bagaimana ini, bayiku pasti juga akan ikut tersendat," seloroh Garvin sambil mengusap punggung dan perut istrinya dengan memasang wajah panik.
Nyonya Soraya hanya bisa menganga mendengar perkataan putranya dengan kedua mata berkedip-kedip tidak percaya.
"Ada apa denganmu, son. Kau mendadak menjadi pria naif," gumam nyonya Soraya yang begitu tercengang.
"Sudahlah Soraya, lebih baik kau diam dan biarkan mereka menikmati sarapannya. Kau tidak perlu menyinggung menantu kita, kau sendiri lupa dengan kewajiban mu." Tuan Miller menimpali keadaan di sana yang sukses membungkam mulut istrinya.
Nyonya Soraya hanya bisa diam dengan tatapan tidak suka ia berikan kepada menantunya.
"Berhenti, menatap istriku seperti itu, mom! Kau akan membuat bayi kami ketakutan," sela Garvin yang menangkap basah mommynya yang sedang melotot tajam ke arah Sakura.
"Mommy sebaiknya belajar untuk menjadi granny yang baik dan lembut," celetuk Garvin lagi.
"Apa maksudmu, anak durhaka!" Teriak nyonya Soraya menolak ucapan putranya.
"Mommy, pelankan suaramu! Calon keturunanku akan terganggu," timpal Garvin.
Nyonya Soraya benar-benar sudah kehilangan kata-kata, wanita itu hanya bisa mengerang kesal.
Haruskah ia berlaku baik kepada menantunya ini? "Itu tidak akan pernah terjadi, aku tetap tidak menerimanya sebagai menantu." Ucap wanita modis itu dalam hati.
Sakura sendiri sejak tadi terdiam, memikirkan dan memperhatikan perubahan suaminya. Wanita itu sungguh penuh dengan pikiran mencurigakan.
"Kau tidak boleh berpikir negatif seperti itu, aku hanya ingin menjadi sosok ayah yang bertanggung jawab, aku tidak akan membuat keturunanku kehilangan kasih sayang karena sikap egois." Garvin yang mengetahui pikiran istrinya, menerangkan dengan jelas perubahan sikapnya yang semata-mata demi janin yang istrinya kandung.
Ia akan menyayangi darah dagingnya dan menjaganya, tidak akan membuat darah dagingnya itu kekurangan kasih sayang seorang ayah, seperti yang ia rasakan dahulu.
Tuan Miller tercekat perih, mendengar ungkapan putra semata wayangnya.
"Sebenci itukah, kau dengan daddy, nak?" Ucap tuan Miller dalam hati. Perasaannya begitu sakit melihat tatapan benci putranya.
"Kau juga harus menjadi peran seorang ayah yang memiliki hati tulus dan tidak mengajarkan darah dagingmu untuk membenci seseorang yang tidak tepat," tandas Sakura dengan begitu tenang namun ucapannya sukses membuat Garvin diam.
"Ingat, sifat membenci akan membuatmu terus merasakan sakit dan merasa diabaikan selama ini, tanpa mengetahui kisah yang sebenarnya," lanjut Sakura yang melirik ke arah ayah mertuanya.
Sakura masih dengan menikmati sarapannya sambil berkata dengan sikap tenang namun begitu tegas.
Suasana tiba-tiba hening dan berubah menjadi kecanggungan, tapi itu hanya sesaat. Saat seorang menyajikan menu kesukaan tuan muda di kediaman mewah itu, yang berhasil membuat wajah Garvin memucat, seakan menahan sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya.
"Ada apa?" Tanya nyonya Soraya saat melihat ruat wajah putranya.
Garvin hanya diam sambil menutup mulutnya yang mengeluarkan suara seseorang yang ingin muntah.
Sakura berdiri, saat melihat suaminya berlari ke arah wastafel yang ada di sudut ruangan.
Wanita itu memijat tengkuk suaminya yang sedang memuntahkan semua isi perutnya.
Garvin terlihat begitu lemas, setelah memuntah semua makan yang masuk di perutnya.
Sakura membantu suaminya itu berjalan kembali ke meja makan. tuan Miller turut, membantu putranya yang tampak lemas.
Nyonya Soraya hanya menampilkan ekspresi jijik, melihat kondisi putranya yang kacau dan mendengar putranya terus muntah.
Seorang pelayan datang dengan segelas air hangat, Sakura membantu suaminya minum. Ia tidak tega melihat keadaan Garvin yang harus menanggung efek kehamilan yang seharusnya ia alami.
"Apa perasaanmu sudah membaik?" Tanya Sakura sambil terus mengelus punggung lebar suaminya.
Garvin mengangguk dengan tatapan lemah, pria itu tiba-tiba merebahkan kepalanya di dada sang istri dan bersikap begitu manja.
Sakura hanya bisa terdiam dengan tubuh membeku, ia ingin menolak, namun ia pun paham mungkin ini semua efek dari kehamilannya.
Nyonya Soraya tidak terima dengan sikap putranya yang terlihat begitu bodoh dan naif.
"Apa yang kau lakukan, Garvin Miller!" Sentak nyonya Soraya dengan suara erangan yang tertahan.
Garvin yang kini memeluk tubuh ramping istrinya dengan manja dan wajahnya ia susutkan di dada sang istri. Menolehkan wajah, mendengar teguran mommynya.
"Why? Apa ada yang salah, mom? Dia istriku dan aku berhak bersikap manja," pungkas Garvin yang mengabaikan, tatapan dan wajah tidak suka mommynya.
"Mommy!" Sentak Garvin tiba-tiba, membuat nyonya Soraya yang sedang memikirkan cara untuk bisa menjauhkan putranya dengan Sakura.
"Ada apa," sahut nyonya Soraya dengan nada ketus, tanpa menatap putranya.
"Wangi parfum mommy, begitu buruk. Aku mencium aroma granny yang sedang masuk angin." Timpal Garvin sambil mengendus-endus hidungnya ke arah sang mommy.
"What!" Pekik nyonya Soraya yang tidak terima dengan ucapan putranya, mana ada aroma parfum dengan harga fantastik memiliki aroma minyak angin.
"Hey anak durhaka! Kau tahu, harga parfum mommy pakai memiliki harga begitu mahal dan kau berkata omong kosong dengan wanginya!" Pekik nyonya Soraya menolak ucapan nyeleneh sang putra.
"Mommy, kondisikan wajahmu. Sungguh, mommy terlihat seperti granny penyihir," celetuk Garvin tiba-tiba.
"Garvin sialan!" Teriak nyonya Soraya menggelegar seisi Mansion.
Sakura dan ayah mertuanya saling menatap dan menahan tawa, mendengar ucapan Garvin yang terlihat begitu blak-blakan. Dengan respon nyonya Soraya yang murka.