Tasya Fitra Shakilah Haris, gadis cantik bertubuh mungil itu menjadi korban keegoisan ayahnya yang ingin menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya, walaupun menolak berkali-kali Tasya akan tetap dijodohkan dengan pria yang memiliki umur jauh lebih tua darinya bahkan ia tidak mengenalinya dan tidak pernah memikirkan akan berjodoh dengan pria yang di anggapnya tua itu, namun karena suatu kejadian akhirnya Tasya menerima perjodohan itu dengan penuh keterpaksaan.
Akankah pernikahan mereka akan menimbulkan cinta?
Yukk baca kisah Tasya selanjutnya ❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wedding
Keesokan harinya
Orang-orang yang berada di rumah yang cukup mewah itu nampak sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing, Kinaya sibuk mengurus catering yang baru saja datang, ia meminta Bi Sumbi untuk membantunya karena ia harus mengurusi Tasya yang entah dimana keberadaanya.
"Bi, apa bibi melihat Tasya?" tanya Kinaya kepada Bi Una yang baru saja melintas di depannya.
"Eh, t-tidak Nyoya. Mungkin masih di kamarnya." jawabnya.
"Oh, baiklah." Kinaya melangkahkan kakinya menuju kamar anaknya. Kinaya membuka pintu kamar Tasya perlahan dan betapa terkejutnya dia saat melihat anaknya itu masih tertidur dengan pulasnya.
"Astagaa, Syaa." teriak Kinaya yang sudah berdiri di samping ranjang lalu menarik selimut Tasya kasar. Mendengar suara mamanya, seketika Tasya membuka matanya dengan malas.
"A-ada apa Ma?" tanya Tasya hendak menarik kembali selimutnya.
"Sya, ini sudah jam 8. Dua jam lagi pernikahanmu akan di mulai." bentaknya. Tasya langsung beranjak duduk saat mendengar bentakan mamanya itu.
"Agh, aku tidak ingin menikah Ma." ujar Tasya dengan wajah memelas.
"Syaa, apa kau ingin mempermalukan Mama dan papa di hadapan para tamu? apa kau ingin kami ditertawakan banyak orang? apa kau tidak menyayangi kami lagi?" Kinaya mencengkram kadua bahu anaknya kuat, ia sudah begitu kesal dengan sikap anaknya itu.
"Ma-maafkan aku Ma." Tasya mulai terisak, ia tidak menyangka mamanya akan memperlakukannya seperti itu. Apa aku keterlaluan? pikirnya.
"Sudahlah, bangun dan mandilah. Mama akan menyuruh MUAnya ke sini." Kinaya langsung meninggalkan Tasya yang masih duduk sambil terisak, sebenarnya Kinaya tidak ingin melakukan hal itu tapi mau bagaimana lagi? tidak mungkin ia membatalkan pernikahan ini.
*
"Ada apa Ma?" tanya Haris yang baru saja mendapati istrinya keluar dari kamar anaknya sambil menyeka air matanya yang jatuh dengan jarang.
"Tidak apa-apa. Apa semuanya sudah siap?" tanya Kinaya menatap suaminya, Haris menjawab dengan anggukan.
"Aku mau menemui Tasya." Haris hendak membuka pintu kamar Tasya namun Kinaya menggelengkan kepalanya. Sepertinya Haris tahu apa yang baru saja terjadi antara anak dan istrinya itu.
"Tasya sedang mandi. Sebaiknya sebentar baru kita temui dia." ujar Kinaya lalu mereka berlalu pergi dari sana.
2 jam kemudian
Tampak para tamu undangan serta kerabat bisnis Haris dan juga Om Vino mulai berdatangan, Haris menyambut mereka dengan ramah. Tak berselang lama, Om Vino dan keluarganya datang. Rey terlihat sangat tampan dengan jas berwarna silver yang terbalut sempurnah di tubuh atletisnya itu, Lalu Haris menyapa dan memberikan pelukan hangat kepada sahabatnya yang tinggal beberapa menit lagi akan menjadi besannya.
"Ayo, silahkan masuk." ujar Haris mepersilahkan keluarga mempelai pria untuk masuk ke dalam rumah karena akadnya akan di laksanakan di dalam rumah.
Saat sudah berada di dalam rumah, Rey mendudukan tubuhnya di kursi yang telah di persiapkan namun belum ada Tasya di sana.
"Ma, panggilkanlah Tasya." bisik Haris di telinga istrinya yang berdiri di sampingnya. Kinaya menganggukan kepalanya lalu ia berlalu pergi dari sana.
***
"Syaa, apa kau sudah siap?" tanya Kinaya yang melangkah menghampiri Tasya yang sedang berdiri di depan cermin, melihat pantulan wajahnya yang terlihat sangat cantik. Tasya menoleh melihat mamanya yang tersenyum bahagia seolah tidak terjadi apa-apa tadi pagi. Tasya menjawab dengan anggukan, ia sebenarnya tidak siap bahkan sangat tidak siap namun ia tidak bisa mengatakan hal itu, ia takut jika mamanya akan marah seperti tadi pagi.
"Kau cantik sekali Syaa." puji Kinaya sembari mencium kening anaknya itu. Tasya meneteskan air mata, entah air mata kebahagiaan atau air mata kesedihan?
"Eh, kenapa nangis Syaa?" tanya Kinaya sambil menghapus air mata Tasya menggunakan kedua ibu jarinya. Seketika Tasya memeluk mamanya erat.
"Ma, maafkan Tasya. Tasya menyayangi Mama dan Papa, Tasya tidak ingin mempermalukan Mama dan Papa. Maafkan Tasya Ma, Tasya janji akan menuruti semua perkataan Mama. Maafkan Tasya Ma." Tasya mulai terisak, ia menyesal selalu membantah perkataan mamanya itu. Kinaya ikut terisak, ia sebenarnya tidak tega melihat Tasya menangis, ingin rasanya ia membatalkan pernikahan itu demi anaknya namun semua sudah terjadi, tinggal menghitung menit Tasya akan menjadi istri sah dari Reyhans Rahardian.
"Tenanglah Syaa, Mama sudah memaafkanmu. Maafkan Mama karena sudah membentakmu tadi." ujarnya sambil mengusap-ngusap pelan punggung Tasya, lalu Kinaya melepaskan pelukannya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Nanti make upnya luntur loh." tutur Kinaya tersenyum, Tasya membalas senyuman mamamya itu lalu buru-buru ia menyeka air matanya.
"Ayo, kasihan Rey sudah menunggu. Tidak sabar ingin melihat wajah calon istirnya." goda Kinaya sambil tersenyum lebar lalu menggandeng tangan anak bungsunya itu lalu mereka berlalu pergi menuju ruang keluarga, ruang di mana akadnya akan dilaksanakan.
***
Di ruang keluarga, para tamu yang berada di sana mulai berbisik karena mempelai wanitanya tak kunjung datang.
"Kenapa lama sekali?"
"Iya, apa wanitanya kabur?"
"Mungkin saja, karena tidak ingin di jodohkan."
Dan bisikan-bisikan lain yang membuat telinga Haris memanas, ia menggepal tagannya penuh amarah. Haris hendak menghampiri istirnya namun Kinaya sudah berjalan masuk ke ruangan itu sambil menggandeng tangan Tasya. Tasya terlihat menunduk, matanya memerah karena tangis, sedangkan para tamu tercengang karena penampilan Tasya yang begitu mempesona, begitu juga dengan Zayn, mulutnya menganga ia tidak menyangka jika calon kakak iparnya itu sangatlah cantik. Benar saja, ini pertama kalinya ia melihat Tasya di rias, biasanya wanita itu hanya memakai polesan tipis atau bahkan tanpa memakai make up sama sekali.
Kinaya membantu Tasya duduk di kursi tepat di samping Rey, sedangkan Rey ia masih saja menatap Tasya dingin.
"Apa kita bisa mulai akadnya?" tanya pak penghulu.
"Saya akan menikahkan anak saya sendiri." ujar Haris. Pak penghulu tersebut mengiyakan lalu memberikan tempat untuk Haris duduk.
"Nak Rey, kau sudah siap?" tanya Haris
"Si-siap om " jawabnya. Lalu Haris dan Rey mulai berjabat tangan.
"Bismillahirohmanirrohim. Saya nikahkan engkau Reyhans Rahardian bin Giovino Admaja dengan putri saya Tasya Fitrah Shakilah Haris binti Haris Marendra dengan mas kawin 32 gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Tasya Fitrah Shakilah Haris binti Haris Marendra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Rey dengan lantang dan gagahnya. Semua orang yang berada di situ langsung bersorak kagum
"Bagaimana para saksi. Sah?"
"Sah.." ucap para tamu yang berada di situ serempak, seketika Tasya meneteskan air mata. Kini ia sudah menjadi istri sah Reyhans Rahardian, pria yang tidak di cintainya, pria yang tidak pernah dibayangkannya akan menjadi suaminya, pria dingin dan menyebalkan yang sangat dibencinya.
Rey memasangkan cincin di jari manis Tasya begitu juga dengan Tasya lalu ia mencium punggung tangan suaminya itu, kemudian dengan enggan Rey mendekati dan mencium kening Tasya yang baru beberapa menit yang lalu menjadi istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.. 😘
sukses selalu buat othor nya