Bukan bacaan anak di bawah umur, mengandung kata-kata kasar dan adegan ranjang.
Gadis berusia 18 tahun itu nekat mendatangi mansion Tuan Leonel Dankar, demi kebebasan kakaknya yang telah dijebloskan ke dalam penjara usai menggelapkan dana perusahaan Dankar Company. Dan sebagai imbalannya, gadis muda itu harus merelakan keperawanannya untuk direnggut oleh Tuan Leonel.
Namun bagaimana jadinya jika gadis itu malah jatuh cinta pada Tuan Leonel? Sedangkan ia hanyalah dianggap sebagai mainan ranjang tuan. Akankah gadis itu mampu merebut hati Tuan Leonel? Atau justru harus menanggung sakit akibat cinta yang tak berbalas.
~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PC. Priyanka Chandler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan yang terabaikan
Cemburu?
Pertanyaan yang membuatku ingin menertawakan diri sendiri, bagaimana aku bisa cemburu pada apa yang bukan milikku? Tapi nyatanya sakit itu ada, perasaanku memang terluka kala aku melihatnya berciuman dengan Nyonya Annora, tapi apakah itu pantas?
Tidak, hentikan, Re. Ingat siapa dirimu dan siapa dirinya, kau hanyalah wanita rendah yang dianggap sebagai mainan ranjang semata, tidak lebih, dan dia sudah memiliki Nyonya Annora, yang sangat dicintainya, berasal dari kasta dan derajat yang sama.
Aku harus bisa mengendalikan perasaanku, atau aku justru akan semakin terluka, dalam.
"Dari mana?"
Sontak aku kaget, mendengar Kak Harry yang tiba-tiba bicara, berdiri bersandar pada dinding dekat pintu kamarnya.
Aku pulang hampir pagi, pukul 3, sangat terlambat dari biasanya.
"Kak Harry belum tidur?"
"Kakak denger pintu dibuka, jadi bangun,"
Aku mengulas senyum kaku, merasa tak enak pada Kak Harry.
"Dari mana, Re?" ulang Kak Harry karena aku belum memberikan jawaban.
"Rumah Tuan Leonel,"
"Ngapain kamu di sana sampai pulang pagi? Kamu ada hubungan sama dia?" tanya Kak Harry dengan nada tinggi.
"Tidak, Re tidak ada hubungan sama Tuan Leonel, sungguh,"
"Terus ngapain saja kamu jam segini baru pulang, hah?"
Perasaanku tidak enak dimarahi Kak Harry, aku tahu, dia sangat tidak menyukai Tuan Leonel.
"Klak!" pintu kamar terbuka, Kak Rachel.
Ia keluar dari kamarnya sambil mengucek mata, melihat kami dengan mata yang menyipit.
"Ada apa?" tanyanya dengan suara parau. Khas bangun tidur.
Aku diam, menunduk dalam, merasa bersalah. Sedangkan Kak Harry semakin menatapku tajam.
"Bilangin adik kamu untuk berhenti ke rumah Tuan Dankar," tukas Kak Harry tegas, kemudian ia masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan aku dan Kak Rachel yang hanya diam.
***
Aku berbaring di atas ranjang sambil memegangi ponsel, rasa kantuk yang sempat menyergap sirna seketika setelah mendapat amarah dari Kak Harry.
Kau tahu? Ada perasaan tak enak yang sulit dijelaskan, merasa bersalah dan membuat orang yang kita sayang kecewa, seperti yang kurasakan saat ini. Tidak enak.
Kubuka beberapa applikasi, sampai pada laman pesan, iseng melihat story teman di jam Kunti, menjelang pagi.
Crishtie, baru saja.
Dahiku mengernyit, melihat Crishtie yang online jam segini. Membuat story sebuah hati gambar hati yang berdarah.
^^^"Nggak tidur?"^^^
Kukirim pesan komentar pada storynya, centang dua abu-abu berubah biru.
"Nggak bisa tidur,"
^^^"Ada apa? Mau cerita?"^^^
"Tadi aku ke Club, ketemu sama Erdhan,"
^^^"Terus?"^^^
"Dia minta aku pulang, bau alkohol dan asap rokok tidak baik buat si bayi, katanya,"
^^^"Erdhan benar, sih,"^^^
^^^"Terus?"^^^
"Aku tidak mau, sengaja menarik tangan seorang pria yang lebih tinggi dan lebih dewasa darinya,"
"Erdhan marah, dia mau pukul pria itu, tapi pria itu cukup baik bela diri, Erdhan dihajar habis-habisan,"
^^^"Astaga, Crishtie!"^^^
"Aku merasa menyesal,"
"Tapi rasa sesalku seketika hilang,"
^^^"Kenapa?"^^^
"Dia mengatakan, fine, terserah aku mau apa, dia tidak akan peduli lagi, bahkan meski pun bayi ini mati,"
Emoticon menangis berderet di akhir pesan Crishtie.
Aku bingung harus membalas apa, di sini aku menilai Crishtie memang salah, tapi kalimat Erdhan juga tidak bisa dibenarkan.
"Udah, ya, Re. Kita bicara lagi besok di kampus,"
^^^"Okay, tidur, ya?"^^^
"Kamu sendiri masih belum tidur?"
^^^"Cuman kebangun tadi," bohongku.^^^
Tulisan online di bawah nama Crishtie berganti menjadi terakhir dilihat.
Saat ponsel hendak kutaruh di atas nakas, denting tanda pesan masuk mengurungkanku untuk menaruh ponsel itu. Dan menariknya kembali.
Tn.Leonel
"Tidur," perintahnya dalam isi pesan.
^^^"Iya," jawabku singkat.^^^
Ia masih online, aku pun belum menggulir laman untuk keluar.
"Re,"
^^^"Iya, Tuan?"^^^
"Tidur," pesannya lagi, yang masih sama.
Tanpa sadar aku mengulas senyum, perasaanku menghangat saat membacanya.
^^^"Iya, Tuan."^^^
^^^"Kau juga,"^^^
Pesan telah dibaca, tapi tak ada balasan kuterima.
Setelah itu ponsel benar-benar kuletakkan di atas nakas, menchargernya mengisi daya, aku akan tidur, karena disuruh ayang, eh, bukan, aku akan tidur, untuk mengistirahatkan badan, masih ada waktu sampai semburat mentari pagi datang menghangatkan kota London yang sejuk di musim gugur.
***
Beberapa hari berlalu.
"Kita harus bicara,"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan,"
"Crish,"
"Stop, Erdhan. Aku tidak mau bicara denganmu, berhenti menggangguku,"
Aku dan Crishtie terus berjalan cepat, keluar dari kelas melewati koridor-koridor kampus, menuju area parkir di mana mobil Crishtie berada.
"Di mana kau tinggal? Aku datang ke rumahmu dan Nory mengatakan jika kau sudah tiga hari tidak pulang,"
"Kau tidak perlu tahu,"
"Tentu aku harus tahu,"
"Apa pedulimu?"
"Tentu aku peduli,"
Aku hanya mengekor, menjadi pendengar setia mereka yang kembali bertengkar, entah mengapa Erdhan nekat datang menemui Crishtie ke kampus, sampai menunggu di depan kelas kami, hingga kelas usai.
"Kau tidak bisa mengacuhkanku seperti ini,"
"Kenapa tidak? Memangnya siapa kau?"
"Karena aku adalah ayah dari bayi yang kau kandung!"
Dep.
Hampir aku menabrak punggung Crishtie yang berhenti mendadak, refleks aku mundur satu langkah, sedikit membuat jarak.
Crishtie menoleh ke kiri dan ke kanan, melihat beberapa orang yang melihat aneh ke arahnya, beberapa perempuan berbisik dengan temannya, beberapa lain tersenyum miring.
Crishtie menggeleng tak percaya, Erdhan mengatakan itu begitu lantang di hadapan ramai orang.
"Go to he.ll!" teriak Crishtie pada Erdhan, ia melanjutkan langkah cepat, dan aku tetap mengekor. Begitu pun dengan pria muda berusia belasan tahun itu, yang mensejajari langkah kami.
"Brak!" pintu mobil dibanting kuat, mobil melaju dengan kecepatan tinggi, keluar dari halaman kampus.
***
"Bisa kau pelankan sedikit? Aku_?"
"Sorry," lirih Crishtie yang menyadari ia meluapkan emosinya pada cara mengemudinya.
Mobil mulai berjalan dengan kecepatan sedang, di belakang sana, Erdhan mengikuti.
"Apa kau tidak ingin memberikan Erdhan kesempatan? Kurasa,,,, dia sedikit berubah,"
"Dia hanya ingin agar aku berada di bawah kendalinya,"
"Maksudmu?"
Crishtie tak menjawab, aku tak lagi mengulang pertanyaan yang sama.
"Di mana kau tinggal?" tanyaku, teringat lontaran kata Erdhan yang mengatakan jika Crishtie sudah tidak pulang selama tiga hari.
"Rumah teman," jawab Crishtie.
"Siapa?"
Lagi, tak ada jawaban. Aku harus memperhatikan Crishtie secara lebih mulai sekarang, ia mulai diselimuti misteri, aku tidak mau jika Crishtie memendam masalahnya sendiri, dan dia akan melakukan hal yang salah.
"Ke mana aku harus mengantarmu?" Crishtie bertanya.
"Nasional Library," kami keluar kelas saat jam masih menunjukkan pukul 1 siang, masih ada dua jam lagi sebelum aku harus pergi mengajar Darren. Dan akan kugunakan waktu itu untuk belajar, menyelesaikan tugas.
***
"Kau mau langsung pergi?"
Kami telah sampai di Nasional Library, aku turun dari mobil dan Crishtie masih duduk di jok kemudi. Ia mengangguk pelan menjawab pertanyaanku.
"Apa nanti perlu kujemput?" tanyanya.
"Tidak perlu, halte dekat,"
"Baiklah, aku pergi dulu, sampai jumpa,"
"Hati-hati,"
Mobil Crishtie melaju, disusul mobil Erdhan yang barusan lewat, semoga tidak ada hal buruk yang terjadi. Mereka sama-sama keras.
"Ping!" denting ponsel menyita perhatian, pertanda satu pesan kuterima.
Kubuka gawaiku-menggeser layarnya-sambil melangkah memasuki pintu kaca perpustakaan.
Erick.
"Kau di mana? Aku tak melihatmu di kampus," Erick mencariku.
^^^"Aku baru saja keluar, sekarang di Nasional Library,"^^^
Aku berdiri di meja pustakawan, mengisi data diri. Kemudian masuk mencari tempat duduk yang kuinginkan, paling ujung di belakang sana, dekat dinding kaca yang menyuguhkan pemandangan jalanan kota London yang sibuk.
Segala tugas kuliah sudah berada di atas meja di depanku, aku memulai, namun lagi-lagi denting ponsel menyita perhatianku, sepertinya aku harus menonaktifkannya agar aku bisa berkonsentrasi.
Kubuka satu pesan baru yang kuterima, mungkin balasan lanjutan dari Erick.
Tn. Leonel. Aku salah, ternyata bukan Erick.
"Jam berapa selesai kelas?"
Kedua jari jempolku sudah bergerak lincah untuk membalas, namun pesan kedua Tuan Leonel terlebih dulu masuk.
"Aku jemput,"
Seketika kedua mataku membulat, Tuan Leonel akan menjemputku?
^^^"Tidak perlu, aku bisa naik bus,"^^^
"Aku tanya jam berapa kau selesai kelas?"
Kuhembuskan napas kasar, sabar.
^^^"Sudah keluar dari tadi," terkirim dan terbaca.^^^
"Aku sudah tidak di kampus, jadi tidak perlu menjemputku lagi, nanti aku akan datang pukul 3 sore." pesan yang kutulis namun belum sempat kukirim.
"Hai," kedatangan Erick yang tiba-tiba mengagetkanku.
"Kau? Di sini?"
"Aku sedang di toko elektronik di depan," jawab Erick sambil duduk, di hadapanku.
Yah, di depan perpustakaan yang kami kunjungi ada sebuah toko elektronik. Hanya perlu menyeberang jalan.
Kumatikan ponsel non aktif, karena aku ingin berkonsentrasi dengan materi yang akan kupelajari, Erick sendiri pun sama, sibuk mengotak-atik laptop barunya.
***
Aku ingin naik bus untuk menuju mansion Tuan Leonel, namun Erick memaksa untuk mengantar, dan aku mengiyakan.
"Terimakasih, Erick!" ucapku pada Erick saat kami telah sampai di depan gerbang besar mansion Tuan Leonel yang dominan dengan warna hitam. Elegan.
"Nanti kujemput, ya?"
"Tidak, aku bisa pulang sendiri," tolakku.
"Baiklah, daah,,,," mobil Erick melaju, kuulas senyum, tenang. Erick banyak berubah, ia justru lebih menghargaiku sekarang.
Saat aku berbalik hendak menekan bel gerbang, mobil Tuan Leonel datang.
"Brak!"
Ia keluar dari mobil dengan tatapan yang tajam. Dan langkah kakinya yang panjang itu melangkah lebar, anggun dan memikat.
"Apa kau begitu sibuk? Sampai kau mengabaikan pesan dariku? Sibuk pacaran dengan bajingan itu?"
Aku terbengong, mendengar teriakan Tuan Leonel yang tak berdasar, atau aku yang tak sepenuhnya memahami apa yang Tuan Leonel katakan. Pesan? Yang terabaikan? Apa aku melupakan sesuatu?
***
emang klw dilihat dari sufut pandang orang ketiga kelakuan re itu keterlaluan sama tuan leon dan nyonya annora pasti sakit hati banget
ya tapi gimana ya pilih jalan yg terbaik buat kedua sisi ajah
re dan tuan leon saling mencintai
nyonya annora jga gak kan publikasi pernikahannya karena jadi model