NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:215
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 35 : Pertemuan Kedua

Duak!

Theo berhasil menangkis tangan itu, lalu ia membalas serangan itu dengan membelit tangan itu.

"Khekhekhe, dasar... Rasakan ini!"

Orang itu menarik tangan yang dibelit Theo.

Swing

Bruk!

Tubuh Theo melayang, ia terkejut mengetahui orang yang berbadan kecil itu mampu membanting tubuhnya.

"Apa? Bagaimana bisa?"

Belum siap bersiap, Theo dapat merasakan orang itu sudah ada di belakangnya dan sudah mencekiknya.

"Ugh... Bagaimana bisa dia nggak punya langkah? Apa... dia hantu?" Theo memandang orang itu dalam.

Theo kemudian mulai menggunakan gaya ular yang berantakan.

"Oooh, gaya ular ya? Ok lah."

Orang itu mulai melakukan gerakan aneh. Kedua tangannya menekuk, membentuk siluet sayap bangau.

Syut

Theo memberikan tangannya, hendak menyerang orang itu dengan tangan kirinya yang mengerucut.

Tap!

Tangan Theo segera ditangkis orang itu, lalu orang itu menggunakan punggung tangannya untuk menyerang Theo.

Buak!

"Gila, orang macam apa dia?"

Theo memegangi hidungnya yang berdarah, lalu ia mengambil tanah dan melempar orang itu dengan tanah.

"Ukh! Sialan."

Theo segera berlari kembali menuju rumah budak.

"Huft, huft."

Theo tiba di rumah budak dengan nafas yang terengah-engah.

"Kak! Siapa orang yang kakak lawan?"

Xiangran menghampiri Theo dengan sebuah pertanyaan.

"Bagaimana kamu tau?" Theo membelalakkan matanya, bagaimana anak seperti Xiangran tau?

Pertanyaan Theo langsung terjawab begitu ia mengingat siapa anak itu.

"Ini... Kakak pasti menggunakan gaya ular ya?"

Pertanyaan itu hanya dibalas oleh Theo dengan anggukan ringan.

Glek

"Pasti dia begini ya?"

Xiangran mengangkat tangannya, memeluknya mirip seperti orang tadi.

"Ya! Dia seperti itu!"

Theo memperhatikan setiap gerakan Xiangran, lalu ia mulai mempraktikannya.

Gedebug

Theo terjatuh akibat kakinya yang tidak seimbang saat mencoba gaya itu.

"Kok bisa sih? Kamu loh kok bisa tetep berdiri satu kaki?"

Berkali-kali ia mencoba, tapi kaki Theo selalu berat sebelah.

"Hadeh, gini nih kak. Kakak anggap beban kakak itu di kaki satu. Ini namanya gaya bangau, dan ini... adalah satu-satunya gaya yang bisa melawan ular."

Xiangran hanya melakukan sedikit gerakan, tapi anehnya dia berhasil berdiri dengan satu kaki.

"Yang bener?" Mata kanan Theo terangkat.

"Umm... sebenernya ada gaya lain kaya gaya dewa perang, sama gaya musang sih. Tapi setidaknya, ini adalah salah satu gaya yang paling efektif melawan gaya ular."

Theo memandang Xiangran, lalu ia memelas minta diajar.

"Nggak, kakak aja belum bisa nyerang aku pake gaya ular. Umm... gini aja deh, kakak bakal aku lawan pake gaya bangau. Oiya, aku mau ketemu orang yang nyerang kakak."

"Ooh ok, kalo gitu ayo pergi."

Clap

Theo menjentikkan jarinya, mengantar mereka ke dalam ruang jiwa.

Kali ini, Theo membuat sebuah arena di ruang jiwa.

Memang tidak besar, tapi setidaknya cukup untuk latihan biasa.

"Umm... kamu tau nggak, cara biar kita bisa jalan tanpa ketahuan?"

"Aku nggak bisa kak, kalo di benua timur orang pada pake sihir yang disebut ilmu meringankan tubuh, tapi kakak tau kan? Aku kan nggak bisa pake sihir."

Theo menatap anak itu, di matanya terlihat berbondong-bondong pertanyaan. Namun, Xiangran yang menyadari itu langsung maju dengan gaya bangau.

Heyat!

Swing!

Xiangran berhasil mendaratkan tangannya di punggung Theo.

Buak!

"Aduh!" Theo tidak dapat membalas serangan Xiangran, lalu ia segera bersiap untuk serangan selanjutnya.

"Perhatikan baik-baik, gaya ular bisa menang melawan gaya bangau. Carilah celahnya."

Syut, swing

Tangan Xiangran mengayun, menyerang Theo tanpa jeda.

Syuut

Jleb!

"Itu..." Theo sekilas mengamati bagaimana kaki Xiangran bertumpu, serta bagaimana satu kakinya menahan seluruh tubuhnya.

Tangan Theo maju, mengincar salah satu kaki Xiangran.

Duak!

Kaki kanan Xiangran yang tadinya melayang langsung di hentakkan ke tanah, membuat Xiangran dapat menendang muka Theo dengan kaki kirinya.

"Haha, kakak pikir bisa nyerang aku dari bawah?"

Theo mengamati lagi, 'Kakinya akan berubah setiap aku menyerang. Berarti...'

Theo kembali maju, tentu dengan rencana baru.

"Kakak pikir jurus yang sama bisa dipakai dua kali?"

Seketika melihat Theo maju, Xiangran langsung mengubah tumpuan kakinya.

"Hap, Dapat deh."

"Apa? Gimana bisa... kakak?"

Theo berhasil menangkap Xiangran, sontak ia langsung mengunci Xiangran dengan kuncian ularnya.

"Wah... Hahahaha, akhirnya kakak berhasil menemukan celahnya."

Xiangran segera menghampiri Theo, lalu ia menusuk beberapa titik di tubuh Theo.

"Biasanya, orang akan kesakitan soalnya lebam gara-gara tadi latihan. Tapi... aku obatin aja ya kak." Perlahan memar di tubuh Theo menghilang, menyisakan rasa lega yang aneh.

"Wah... Semakin mengenalmu, rasanya semakin ada jurang di antara kita ya."

Theo mengelus kepala Xiangran, sambil memujinya.

"Hehehe, nggak kok kak. Kan yang penting, aku sama kakak bisa terus kenal."

Mereka keluar dari ruang jiwa, kali ini Xiangran sudah tidak terkejut lagi dengan perbedaan waktu ruang itu.

"Kak, ayo kita ketemu yang kakak bilang!" Xiangran menatap Theo dengan wajah yang cerah berbinar.

"Apa? Sekarang banget?'' Mata Theo terbelalak, ia masih merasakan sedikit lelah dari latihan.

"Iya kak, mumpung masih siang."

"Ok deh," ucap Theo yang ditarik keluar oleh Xiangran.

Selang beberapa waktu, mereka tiba di tempat Theo diserang.

"Aku kemaren di serang di sini nih."

"Wah, bekas pertarungannya sangat mantap. Aku yakin dia pasti sudah menguasai beberapa gerakan." Bocah itu langsung melihat sekitar dan meneliti Medan peperangan itu. Ia mengamati bekas pertarungan, setiap langkah di medan, serta goresan yang ditorehkan dalam pertarungan Theo dan orang misterius.

"Beberapa?" Theo melirik Xiangran agak tidak percaya.

"Ya, mungkin dia adalah orang yang sedikit menguasai ilmu keluargaku."

"Ok lah."

Udara tiba-tiba terasa dingin, Theo dapat merasakan sesuatu ada dibelakangnya.

Jleb!

Untunglah, serangan itu hanya mengenai pakaikan Theo.

"Apa? Kok bisa... dia?" Xiangran agak terkejut dengan kehadiran orang yang tidak dapat ia rasakan itu.

"Hoooo... Sekarang membawa kawan ya? Menarik..." ucap pemuda itu dengan nada yang sangat khas.

Syut

Pemuda itu menghilang, lalu seketika muncul di belakang Theo.

"Jangan pikir, kalau temanmu itu bisa menghalangiku."

Duak!

Tapak pemuda itu mengenai badan Theo, "Kuagh! Uhuk... Huft... Dia... Dia sangat berbahaya. Uhuk!"

Dari sudut bibir Theo, beberapa tetes darah mengalir deras.

"Apa? Kak! Pergi dari sana! Dia berbahaya, aku bahkan nggak bisa ngelacak dia."

'Sialan! Aku juga maunya begitu, tapi nanti... Lucy dalam bahaya.'

"Kau masih punya waktu berbicara?"

Duak!

Perut Theo dipukul oleh pria itu, membuat Theo terlontar beberapa meter.

"Uhuk! Hoekh!"

Theo sudah tidak sanggup, ia memuntahkan banyak darah.

"Kak!"

Xiangran langsung melempar pasir, lalu menghampiri Theo.

"Huu... Hanya sedikit kekuatan gelap, dan kalian sudah kewalahan? Cobalah, tutupi jiwa kalian dengan kegelapan."

Whuuush

Kepulan asap keluar dari tempat pemuda itu berdiri.

"Fiuh, untunglah kita selamat."

Theo yang masih kesusahan bernafas mencoba mengontrol supaya ia bisa bernafas.

"Ayo," ucap Theo sambil memaksakan dirinya untuk berdiri.

"Bentar kak!"

Syut syut syut

Tiga jarum Xiangran tusukkan di dahi, dada dan perut Theo.

"Kuagh!" Segumpal darah keluar dari mulut Theo, langsung membuat Theo membaik.

"Memang kamu selalu hebat ya."

Di perjalanan pulang, Theo terus menerus mengelus kepala Xiangran. Sesekali, ia akan mencubit pipi Xiangran yang mungil.

"Iih! Jangan cubit aku!"

Xiangran beberapa kali melawan, tentu dengan lembut. Namun, seringkali Xiangran lengah membuat Theo dapat mencubit pipinya.

"Huh, terserahlah."

"Nah gitu dong, masa marah di cubit pipinya.".

Sesampainya di rumah, Theo dan Xiangran kaget.

"Wahh..."

...****************...

End Ch. 35 : Pertemuan Kedua

Makasih semuanya udah baca karyaku, jangan lupa like, comment dan favorit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!