Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Kamar 808 dan Pergulatan Emosi
Langkah kaki Adrian dan Renata terdengar konstan menyusuri koridor sunyi berlapis karpet beludru tebal menuju Penthouse Suite nomor 808 yang terletak di lantai tertinggi The Grand Romero. Begitu kartu akses biometrik ditempelkan dan pintu kayu jati berlapis baja seberat ratusan kilogram itu menutup serta mengunci secara otomatis dengan bunyi klik yang solid, topeng ketenangan yang sejak tadi mereka kenakan di depan Mateo Romero seketika luruh tanpa sisa.
Atmosfer di dalam ruangan mewah yang kedap suara itu mendadak berubah secara drastis. Ketegangan, tekanan psikologis dari ancaman paket misterius di Jakarta, hingga pasokan adrenalin yang meletup-letup akibat aksi saling gertak di meja judi Baccarat tadi seolah mengumpul di satu titik udara, menciptakan gelombang energi yang pekat dan siap meledak di antara mereka berdua.
Renata melangkah dengan sedikit terburu-buru menuju meja bar minimalis berbahan marmer hitam di sudut ruangan. Napasnya masih agak memburu pendek. Ia meletakkan tas genggamnya dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu mengulurkan jemari lentiknya untuk meraih sebuah teko kristal berisi air mineral, berniat mendinginkan tenggorokannya yang terasa kering sekaligus menenangkan detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan.
Namun, belum sempat ujung jemarinya menyentuh permukaan kristal yang dingin itu, sebuah tarikan yang sangat kuat, tak terbantahkan, dan penuh dominasi menghantam pinggang rampingnya dari belakang. Tubuh Renata berputar seratus delapan puluh derajat dalam hitungan detik.
BRUK!
Punggung Renata membentur tepi meja bar marmer yang kokoh, sementara kedua tangan tegap Adrian langsung bertumpu di sisi kiri dan kanan tubuhnya, mengurung wanita itu sepenuhnya di dalam teritori absolut sang CEO. Adrian menundukkan tubuhnya yang jantan, menekan tubuh Renata hingga tidak ada lagi jarak tersisa yang memisahkan pakaian mereka.
Napas Adrian terdengar berat, kasar, dan memburu pendek tepat di atas permukaan kulit wajah Renata. Sepasang mata elang pria itu tampak menggelap sepenuhnya, memancarkan binar gairah posesif yang sangat pekat dan berbahaya—sebuah akumulasi amarah yang ia bendung sejak di ruang judi saat melihat bagaimana mata Mateo Romero menguliti lekuk tubuh istrinya dengan begitu lancang.
"Adrian..." bisik Renata lirih, suaranya bergetar halus. Desaran panas seketika merayap naik dari ujung kakinya begitu merasakan tatapan intens dan intimidasi jantan dari suaminya.
"Jangan pernah berani menatap pria lain dengan tatapan menantang seperti itu lagi di depanku, Renata. Tidak akan pernah boleh," suara bariton Adrian terdengar teramat rendah, serak, dan sarat akan nada tuntutan mutlak yang tidak menerima negosiasi apa pun.
Tangan kanan Adrian bergerak naik, jemarinya yang kasar mencengkeram rahang lembut Renata dengan intensitas yang pas, mendongakkan wajah cantik istrinya agar menatap langsung ke dalam kegelapan matanya. "Aku tahu ini adalah bagian dari taktik penyamaran kita untuk memancing bajingan itu keluar dari persembunyiannya. Tapi melihat sepasang mata kotor milik Romero berusaha menikmati setiap jengkal kulit punggungmu yang terbuka... itu membuatku ingin merobek tenggorokannya dan meratakan tempat ini detik itu juga."
Renata menatap dalam-dalam ke dalam manik mata elang Adrian. Di sana, ia melihat kombinasi yang luar biasa dari rasa cemburu yang membakar, ketakutan akan kehilangan yang mendalam, dan cinta yang teramat besar yang telah bermutasi menjadi sebuah kepemilikan absolut. Alih-alih merasa takut atau terintimidasi, sebuah senyuman tipis yang sangat manis sekaligus menantang justru terukir di bibir ranum Renata.
Ia mengangkat kedua tangan mungilnya, melingkarkannya dengan perlahan di leher tegap Adrian, membiarkan jemarinya bermain di balik kerah kemeja sutra gelap suaminya. "Mateo Romero hanya melihat apa yang sengaja aku perlihatkan untuk menghancurkan fokus judinya, Adrian. Dia hanya melihat sebuah umpan," ucap Renata dengan suara yang mengalun lembut namun penuh keyakinan. "Tapi kamu... kamu adalah satu-satunya penguasa yang memiliki seluruh jiwa, raga, dan detak jantungku yang tidak akan pernah bisa disentuh atau digapai oleh bajingan mana pun di dunia ini."
Kata-kata yang keluar dari bibir Renata bagaikan sebatang korek api menyala yang dilemparkan ke dalam sebuah gudang penuh mesiu. Seluruh kendali diri dan batas kesabaran yang ditahan Adrian sepanjang malam runtuh seketika tanpa ampun.
Adrian tidak lagi memberikan ruang untuk berbicara. Ia menundukkan kepalanya dengan kasar, membungkam bibir manis ranum Renata dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, panas, menuntut, dan penuh rasa lapar yang absolut. Ciuman itu sarat akan pelepasan emosi yang meledak-ledak—sebuah penyaluran dari rasa frustrasi atas konspirasi masa lalu Maya yang kembali menghantui, ketegangan konfrontasi dengan Klan Romero, dan gairah murni yang telah mereka bendung sejak menginjakkan kaki di tanah basah Makau.
Renata melenguh pelan di dalam pautan bibir mereka yang mengunci erat. Kepalanya mendongak pasrah saat Adrian memperdalam pagutan dan hisapannya, menghabisi seluruh pasokan udara dan tidak memberikan celah sedikit pun bagi Renata untuk bernapas. Kedua tangan Renata mencengkeram erat rambut tebal di balik tengkuk Adrian, membalas perlakuan kasar namun penuh cinta dari suaminya dengan intensitas yang sama besarnya.
Sentuhan tangan kokoh Adrian di rahang Renata kini merayap turun menyusuri leher jenjangnya, lalu berpindah ke punggung polos Renata yang terbuka karena potongan gaun backless-nya. Telapak tangan Adrian yang hangat dan sedikit kasar bergesekan langsung dengan kulit mulus Renata, mengirimkan sengatan listrik dahsyat yang membuat seluruh persendian wanita itu seketika terasa lemas bagaikan jeli.
Dengan satu gerakan mendominasi yang sangat kuat, Adrian mencengkeram pinggul ramping Renata, lalu mengangkat tubuh istrinya ke atas permukaan meja bar marmer yang tinggi. Gaun satin mewah berwarna merah marun itu tersingkap dengan kasar ke atas, mengekspos paha jenjang Renata yang putih mulus di bawah temaram lampu ruangan. Adrian segera menyusupkan tubuh tegapnya di antara kedua kaki Renata yang terbuka, merapatkan kedekatan fisik mereka hingga batas yang paling ekstrem.
Suhu di dalam kamar suite mewah itu merayap naik dengan sangat cepat, membakar habis sisa-sisa udara dingin dari pendingin ruangan. Di bawah pendar cahaya lampu-lampu neon kota Makau yang menembus masuk melalui dinding kaca jendela besar, pergulatan emosi dan gairah yang membara itu terus berlanjut tanpa henti, berpindah dari atas marmer bar yang keras hingga melebur di atas ranjang berukuran raksasa.
Setiap desahan napas yang memburu, sentuhan kulit yang bergesekan, dan ciuman dalam yang memabukkan malam itu menjadi sebuah penegasan mutlak yang tak terbantahkan, bahwa di tengah pusaran konspirasi internasional yang baru saja mereka masuki, aliansi tubuh, jiwa, dan cinta membara di antara Adrian dan Renata adalah satu-satunya pelindung nyata yang tidak akan pernah bisa diruntuhkan oleh badai apa pun.