Lanjutan dari "Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen"
"Perasaanku sudah mati sejak lama. Tidak ada satu pun di antara kalian yang mampu membuat hatiku kembali bergetar seperti dulu. Berhentilah! Aku tidak akan memilih satu di antara kalian. Jangan perjuangkan sesuatu yang sia-sia!" ~Diandra.
"Aku tidak akan berhenti! Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu kembali! Maafkan aku yang sudah pernah menorehkan luka yang sangat dalam di hatimu! Kamu tidak perlu memberi aku kesempatan, karena aku yang akan berusaha mendapatkan kesempatan itu!" ~Alden.
"Aku tidak akan berhenti! Aku mencintaimu apa adanya. Tapi, aku tidak akan egois. Semua terserah padamu. Aku tau betapa hancurnya hatimu, dan bukanlah hal mudah untuk kembali jatuh cinta setelah sakit yang teramat dalam. Aku ingin menjadi penyembuh hatimu yang luka, tapi itu semua terserah padamu. Siapa pun yang kamu pilih, aku harap kamu akan bahagia nantinya." ~Austin.
"Mau bermain? Bagimana jika kita putar balik alurnya." ~Unknown
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Ulah Kelvin
"Yaudah Mom, Naya ke kamar, ya." Naya lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya, setelah mendapat anggukkan dari Rara.
Begitu pun dengan Kelvin, ia juga pamit pada Rara untuk ke kamar.
"Yaudah Ra, aku pamit pulang, ya. Assalamualaikum," ucap Austin.
"Wa'alaikumsalam."
Rara lalu masuk ke dalam rumah, berniat untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
******
Kanaya berjalan ke arah meja belajarnya, kemudian menyalakan laptop. Sebenarnya dia tidak benar-benar tidur saat di perjalanan tadi. Dia hanya memejamkan matanya, dan saat sudah tiba di depan gang, dia membuka mata, kemudian menatap ke luar jendela.
Hal pertama yang dia lihat adalah CCTV milik salah satu warga yang mengarah langsung ke arah gang tersebut. Naya lalu melihat ke sekitar, dan ternyata ada tulisan 'Jalan Kenanga'
Entah apa yang mendorong Naya, tiba-tiba ide itu muncul begitu saja.
Jari-jari Naya mulai bergerak dengan lincah di atas keyboard leptop miliknya. Perempuan kecil itu sedang berusaha untuk melacak keberadaan CCTV yang ada di jalan Kenanga tersebut.
Tidak memerlukan waktu lama, Naya berhasil meretas CCTV tersebut. Naya tersenyum puas dengan kemampuan yang dimilikinya.
Naya kembali meretas beberapa CCTV yang ada di sekitar situ, sehingga akhirnya dia menemukan CCTV yang tepat mengarah pada Alden yang sedang memberesi barang-barangnya.
Kening gadis kecil itu mengerut, apa yang terjadi dengan daddy-nya?
"Diusir?" gumam Naya.
"Menurutku dulu kau bodoh, Dad. Tapi, kenapa sekarang kau baiknya nggak ketulungan, sampai-sampai lupa bayar uang kost hanya untuk menyumbangkannya ke panti asuhan?" Naya berdecak kesal. Jika sudah seperti ini, maka dia yang harus bertindak.
Naya tak sengaja melihat ada tukang bakso di sekitar tempat tinggal daddy-nya. Sekarang dia tau apa yang harus dia lakukan.
Naya menutup laptopnya, kemudian berjalan menuju ruang tamu, berniat untuk mengatakan keinginannya pada mommy-nya.
Tapi, melihat mommy-nya yang terlihat seperti stres, Naya mengurungkan niatnya untuk mengatakan keinginannya, lalu berjalan mendekati, dan duduk di samping mommy-nya.
"Mommy kenapa? Kok kayak stres gitu?" tanya Naya heran, karena tidak biasanya mommy-nya se stres itu.
"Mommy pusing, sayang. Ada yang meretas dan mengambil beberapa data penting perusahaan, sehingga membuat perusahaan Mommy mengalami kerugian. Mommy udah coba serahkan sama yang ahli IT, tapi mereka gagal," jawab Rara sambil memijit kepalanya.
"Hah? Kok bisa?" Naya tentu dibuat terkejut, bagaimana mungkin ada yang bisa meretas perusahaan milik ibunya, sementara dia sudah memasang keamanan yang sangat ketat.
"Mommy juga nggak tau," sahut Rara dengan lesu.
Naya lalu berlari dengan cepat ke kamarnya, sehingga membuat Rara sedikit bingung. Tapi karena dia sedang pusing, maka dia tidak mempedulikannya.
Tanpa basa-basi Naya segera membuka laptop miliknya. Jarinya bergerak dengan lincah, berusaha untuk masuk dan mengambil alih data-data yang sudah dicuri.
Kening Naya mengerut saat melihat tidak ada jejak pelaku sedikit pun, dan lebih anehnya, itu seperti caranya saat meretas.
"Bang Kelvin?" gumam Naya yang akhirnya mendapatkan data pelakunya.
Naya berdecak kesal saat mengetahui pelakunya adalah abangnya sendiri. Dengan cepat Naya mengembalikan data-data perusahaan milik mommy-nya.
Naya lalu berlari menuju kamar abangnya. Dengan santainya Naya masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Bang Ke!" bentak Naya.
"Ckk ... Bang Vin, Nay! kamu pikir Abang bunga ****** apa!" ketus Kelvin yang sangat kesal dengan panggilan adiknya.
"Ah, bodo lah! Abang ngapain meretas dan mencuri data-data perusahaan milik Mommy?" tanya Naya dengan ketus.
"He-he." Kelvin cengengesan, ternyata adiknya sangat cepat mengetahui jika dirinya lah yang bermain di perusahaan milik Rara. "Abang cuman pengen latihan aja, Dek. Berhubung Abang takut ketahuan kalau latihannya di perusahaan orang lain, jadi Abang putuskan untuk bermain di perusahaan Mommy aja. Jadi, kalau ketahuan kan bisa pakai nama kamu aja, paling cuman dijewer doang," jawab Kelvin dengan senyum manisnya.
"Ckk ... Abang udah buat perusahaan Mommy mengalami kerugian tau nggak! Terus kenapa Abang nggak segera mengembalikan data-datanya?" tanya Naya yang merasa gemes dengan sikap abangnya.
"Yakan kamu belum ngajar gimana caranya mengembalikan data-data tersebut! Makanya Abang nggak bisa!" ketus Kelvin.
Tangan Naya terangkat, rasanya ingin sekali dia mencakar-cakar wajah sok polos abangnya itu.
"Makanya kalau nggak bisa itu jangan dicoba-coba Bang Ke! Asal Abang tau, Mommy sampai stres mikirannya! Untung aja Nay cepat-cepat kembaliinnya!"
"Ya, maaf. Abang kan nggak bermaksud, Dek." Kelvin jadi merasa sedikit bersalah.
"Ckk ... yaudah, ikuti drama yang Nay buat!" Naya menarik tangannya Kelvin yang sedang kebingungan.
Naya menarik tangan Kelvin sampai ke ruang tamu, di mana di sana terdapat Rara yang sedang tersenyum sambil menghadap layar laptopnya.
"Mom, apakah Mommy masih stres?" tanya Naya memandang Rara.
"Enggak sayang. Data-data perusahaan Mommy tiba-tiba udah dikembaliin. Tapi, kok aneh, ya? Emang ada ya pencuri yang malah balikin lagi hasil curiannya?" tanya Rara.
Kelvin melotot, kenapa dia malah disamakan seperti pencuri? "Karena pencurinya orang baik, Mom!" ucap Kelvin dengan sedikit ketus.
"Dari mana kamu tau? Yang namanya pencuri tetap aja orang jahat. Lagian kenapa malah kamu yang kesal? Mommy kan nggak bilang kamu."
"Ah terserah Mommy lah! Kelvin ngambek!" ucap Kelvin yang sontak membuat Rara menjadi semakin bingung.
"Mom, Nay pengen makan bakso," celetuk Naya.
"Yaudah tinggal beli aja," jawab Rara santai.
"Nay pengan makan bakso yang ada di sekitar perumahan Daddy. Kayaknya enak deh," ucap Naya.
"Hah? Kamu tau dari mana ada orang jualan bakso di sana? Bukannya kamu tidur tadi?" tanya Dara heran.
"Sebenarnya Nay cuman nutup mata doang," jawab Naya berusaha meyakinkan Rara.
"Tapi tumben sekali kamu tiba-tiba pengen sesuatu? Kayak orang ngidam aja, "kekeh Rara.
"Mom," rengek Naya.
"Yaudah, apa sih yang nggak buat putri Mommy satu-satunya." Rara mengecup kening Naya dengan penuh kasih sayang. "Ke sananya sama Papa Austin?" tanya Rara yang mendapat gelengan dari Naya.
"Kenapa?"
"Enggak apa-apa. Buruan, Mom!" Naya semakin merengek.
"Yaudah bentar Mommy ambil kunci mobil dulu."
Melihat Rara yang sudah pergi, Kelvin lalu memandang adiknya dengan pandangan jijik. "Lo kesurupan, Dek? Sumpah gue geli banget ngeliat lo merengek." Kelvin menjadi merinding sendiri.
"Kepaksa!" sahut Naya dengan suara dingin, mungkin karena sedikit malu dengan abangnya.
"Yaudah, ayok!" ucap Rara.
Mereka lalu masuk ke dalam mobil. Rara mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah, karena sejujurnya jarak rumahnya dan kost Alden tidak terlalu jauh.
Kening Rara mengerut melihat sosok laki-laki yang ia kenal. Rara sedikit terkejut melihat laki-laki itu yang sepertinya sedang frustasi.
"Itu bukannya Daddy kalian?" tanya Rara pada kedua anaknya.
"Hah?" Kelvin lalu ikut melihat arah pandangan Rara. Benar, itu Alden.
Kelvin menatap Naya dengan pandangan yang sulit diartikan. Sementara Naya yang ditatap hanya diam saja.
Tin ... tin ....
"Yaudah ayok turun sebentar!" Mereka semua lalu turun untuk menemui Alden.
"Kau hendak kemana? Kenapa membawa tas besar seperti itu?" tanya Rara
"Iya, Daddy mau kemana?" tanya Kelvin juga. Sementara Naya hanya diam saja.
"Ka—kalian kenapa bisa ada di sini?" tanya Alden sedikit terkejut.
"Huh ... tadi Naya bilang ingin sekali makan bakso yang ada di depan sana. Ternyata dia tidak benar-benar tidur di mobil tadi, dia hanya menutup mata sambil sesekali melihat jalanan, dan katanya dia pengen makan bakso, karena tidak sengaja melihat kedainya di sana," jelas Rara apa adanya, karena dia memang tidak ada niat untuk bertemu atau pun membuntuti Alden.
"Kau hendak kemana?" tanya Rara lagi.
"He-he, aku diusir, Ra." Alden berkata sambil cengengesan, entahlah ia merasa sedikit malu bertemu dengan anak-anak dan mantan istrinya dalam keadaan seperti ini.
"Lalu kau hendak kemana?" tanya Rara yang sama sekali tidak terkejut.
"Eum ... entahlah, rencananya aku pengen ke panti asuhan saja," jawab Alden apa adanya.
"Oh, baiklah. Semoga sampai tujuan dengan selamat," ucap Rara tidak peduli.
"Astagfhirullah, Ra. Kamu nggak ada niat mau nawarin aku tumpangan gitu?" tanya Alden dengan polos.
"Tidak!"
"Jangan begitu Mom. Kasihan Daddy. Ijinkan saja Daddy tinggal di rumah, ya," pinta Kelvin.
"Tapi saya-"
Kruk kruk
Ucapan Rara sontak terpotong saat mendengar suara yang cukup nyaring dari perut Alden.
"He-he, laper, Ra." Sungguh rasanya Alden ingin menghilang saja dari dunia saking malunya pada Rara dan kedua anaknya. Bisa-bisanya perutnya dengan lancang berbunyi nyaring dalam kondisi yang seperti ini.
Melihat Alden yang kelaparan, Rara jadi sedikit tidak tega. Awal niat ingin menolak, tapi saat mengingat Alden diusir karena uangnya selalu disumbangkan ke panti asuahan, Rara jadi serba salah.
"Huh ... masuklah!" perintah Rara dengan malas, lalu segera masuk ke dalam mobilnya.
.
.
.
.
bs kalii dipakai disesuaikan dgn bahasa anak2 seusianya/Grin/