21++ Harap bijak memilih bacaan. Bukan bacaan untuk teenager, ABG, Bocil dan kawan-kawan.
Widia adalah mahasiswi tahun pertama yang mendadak harus menikah dengan pacarnya karena paksaan dari kakaknya.
Dalam perjalanan rumah tangganya, Widia dan Ivan yang tidak pernah berkonflik besar tiba-tiba berpisah. Widia menghilang meninggalkan suami dan anaknya.
Setelah beberapa waktu, Widia yang dikira telah tiada ditemukan bersama dengan laki-laki tampan lain yang memperbudaknya sebagai istri.
Bagaimana perjuangan Widia untuk lepas dari 'GENDAM' Sang Suami setelah hadirnya madu yang meracuni hidupnya?
Base on true story, Cus … dibaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 29
Seminggu berikutnya, Widia mendapatkan surat keterangan telah menikah dengan Erwin berstempel kelurahan lain yang tak pernah diketahui lokasinya.
"Apa ini, Bang?" tanya Widia gugup.
"Surat yang kamu butuhkan, besok fotocopy dan berikan pada Reni untuk laporan ke RT sini! Biar kita nggak dikira kumpul kebo," jawab Erwin ringan.
Widia terhenyak, mulutnya menganga mendengar ucapan Erwin yang sedikitpun tak menyimpan beban. "Abang dapat dari mana surat ini?"
"Teman." Erwin membuka bajunya, melempar ke arah keranjang kecil tempat pakaian kotor di ujung kamar dan menggantinya dengan yang bersih.
"Tapi … kenapa ambil cara seperti ini, Bang?" rajuk Widia dengan pikiran rumit. "Kenapa kita tidak menikah saja di sini?"
Widia menelan ludah kasar, mencari kata halus untuk disampaikan. Kalimat Erwin soal kumpul kebo menyakiti hati kecilnya, dia ingin dinikahi secara sah … bukan ada tapi semata-mata hanya untuk ditiduri.
"Masalah kita banyak, kemarin aku sama Dodi sudah membahasnya. Kamu lupa kalau KTP kita berstatus kawin tapi kita nggak punya kartu keluarga atau surat nikah?
Trus kamu mau minta nikah siri di sini? Bisa diketawain orang sekampung Wid, bisa digiring ke kepolisian aku karena dikira melarikan istri orang!" terang Erwin datar.
Widia bergeming sedih, "Masa iya kita nggak nikah, Bang? Ini kan namanya kumpul kebo!"
"Nggak ada yang tau juga, ngapain kamu pusing?!" ucap Erwin tak acuh.
Mulut Widia mengatup, air matanya merebak meski tak sampai menetes. Widia membuka sedikit bibirnya untuk bicara pelan, "Aku takut dosa, Bang!"
Erwin tertawa sumbang, “Dari kemarin-kemarin pas bercinta di stand pameran kok nggak takut sama neraka?"
" … " Widia tak berani membantah, tapi ada nyeri di ulu hati yang tak bisa disampaikan pada pria yang dicintainya dengan gila itu.
"Buatin kopi gih! Aku juga lapar, masak apa kamu?" tanya Erwin yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Cuma bikin sayur kangkung sama tempe goreng, Bang!"
"Tambahin telor ceplok dua, sama bikin sambel sekalian!" perintah Erwin tegas. Widia hanya mengangguk dan pergi ke dapur untuk membuat lauk.
Erwin tidak mau hidup sederhana, selalu minta makan enak meskipun uang yang diberikan kepada Widia kadang kurang untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka berdua.
Widia yang selalu mengalah, membiarkan orang yang dianggap suaminya itu makan enak sendiri. Widia merasa cukup dengan hanya makan seadanya, yang penting perutnya tidak kelaparan.
Uang yang diberikan padanya selalu habis untuk memenuhi keinginan makan Erwin, dan tentu saja rokok yang satu hari tak cukup sebungkus.
Widia bahkan hanya memiliki tiga baju ganti yang dibawanya sejak melarikan diri bersama Erwin, tak memiliki uang lebih untuk sekedar membeli bedak apalagi untuk merawat diri ke salon.
Kehidupannya berbanding terbalik, saat masih bersama Ivan, Widia tak pernah kekurangan uang.
"Kamu udah makan?" tanya Erwin saat Widia mengulurkan piring penuh nasi dan lauk padanya.
"Udah," jawab Widia lirih.
"Beli rokok sana! Habis makan nggak enak kalau nggak merokok, kecut!" Erwin mengedikkan kepala ke arah pintu keluar, menyuruh Widia membelikan kebutuhannya.
"Uangnya nggak ada, Bang!" Widia mengambil dompet kecil yang dia simpan dalam lemari baju yang hanya berisi setumpuk bajunya. Membuka dompet dan menunjukkan isinya pada Erwin.
“Utang dulu sama Reni, besok aku kan narik … dapat bayaran langsung dilunasin!"
" … " Tanpa membantah, Widia beranjak dari tempatnya. Hatinya menolak tapi tubuhnya berjalan menuruti apa yang diperintahkan Erwin padanya.
"Minta tiga bungkus sekalian," seru Erwin saat Widia sedang memakai sandalnya.
Widia berjalan ke warung dalam diam, tatap matanya sendu dan wajahnya muram.
***
erwin apa khabar ya?..
smoga nasib baik berpihak padamu