NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Pengganti

Menjadi Ibu Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Ibu Pengganti
Popularitas:462.5k
Nilai: 5
Nama Author: desialfaraby

Rima adalah seorang perempuan yang bersedia menjadi Ibu Pengganti dari anak Evan. Rima akan mengandung hasil bayi tabung anak Evan dan almarhumah istrinya. Ini dia lakukan semata-mata untuk mendapatkan uang. Demi adik dan neneknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desialfaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 28:Tiada

...

"Rima!"

"Mbak!"

Rima tak berdaya ditempatnya. Dia jatuh dan luruh bersama Gilang yang ada dibelakangnya. Tidak, tidak ada peluru yang menembus kulitnya. Namun, dia sangat terkejut mendengar bunyi senapan itu yang hampir saja mengenainya. Pisau yang tadinya diarahkam ke lehernya melesat mengenai pundaknya. Terlihat darah mengalir dari sana. Dia dan Gilang pingsan.

Polisi-polisi dan Evan segera menghampiri keduanya. Rima segera Evan larikan ke rumah sakit, sementara Rida menyusul dibelakang dengan didampingi polisi juga. Tanpa memperdulikan stigma-stigma orang sekitar Evan tidak peduli jika kejadian hari ini akan berdampak pada dirinya.

"Tolong tangani secepatnya. Saya tidak mau kalian lengah." ucap Evan yang berjaga di IGD hari itu.

"Baik, Pak."

"Siapkan kamar yang terbaik. Saya tidak mau ada satu pun pasien ikut menempati kamar di lantai yang sama." perintah Evan yang langsung disanggupi oleh para perawat itu.

Semua mengetahui siapa sosok Evan dan apa perannya di rumah sakit dimana mereka bekerja. Dia segera menelefon Erlang untuk menggantikannya di kantor polisi. Sedang, dia meminta Lusi untuk mengawal Rida dahulu. Suntuk Evan memikirkan keadaan Rima yang belum siuman dari pingsannya tadi.

Pikiran-pikiran yang buruk terus menghantuinya. Belum lagi beberapa wartawan di luar sudah mulai berdatangan dan membuatnya memilih diam di dalam IGD saja. Cepat sekali informasi menyebar. Atau memang ini yang sengaja Randy siapkan untuknya? Menjebaknya lagi?

"Apa terjadi sesuatu yang buruk? Apa kandungannya baik-baik saja?" tanya Evan pada perawat yang menangani Rima.

"Ibu baik-baik saja...Pak. Sebentar lagi akan segera siuman. Sedikit ada pendarahan yang kami lihat Pak. Kami akan segera menanganinya. Sementara akan ditangani Doker yang berjaga di IGD dulu ya Pak."

"Lakukan yang terbaik. Tolong."

Bertambah sakit sudah kepala Evan, medengar Rima yang pendarahan meskipun sedikit membuat dia kepikiran juga. Bagaimana jika itu berdampak pada anaknya? Terlalu banyak yang harus anaknya itu lalui bersama dengan Rima. Tapi apa yang bisa dia lakukan lagi? Sudah terlanjur semua terjadi. Apapun itu dia tidak bisa menyesali itu. Sebab, dia lah yang menerima Rima sebagai Ibu pengganti untuk anaknya.

Evan memandang Rima sebentar lalu, keluar melalui pintu belakang untuk mengambil tas Rima yang masih tertinggal di mobilnya. Semoga saja, para wartawan itu tidak berada di sekitar mobil. Nyatanya tebakannya salah, wartawan itu sdah menunggu di sekitaran mobik miliknya.

"Pak, apa benar itu adalah kekasih baru Bapak?"

"Apa benar Bapak telah menikah dan siap menjadi Ayah sebentar lagi?"

"Bagaimana komentar Bapak perihal video yang beredar mengenai kekasih Bapak?"

"Pak, tolong dikonfirmasi Pak apa benar selama ini Bapak dan kekasih Bapak sudah hidup bersama setelah ditinggal almarhumah Pak?"

"Pak konfirmasi dong Pak..."

"Pak bentar Pak."

Evan tidak menanggapi pertanyaan wartawan itu. Dia memakai kacamata hitamnya mengambil apa yang dia butuhkan dan berlalu pergi. Wartawan itu terus menanyakanny perihal apa yang terjadi dan meminta tanggapannya. Evan tidak mengindahkan mereka, dan berjalan seakan tidak tahu apa-apa.

"Pak tolong, pindahkan mobil saya ya." ucap Evan pada security yang berjaga.

"Baik, Pak."

"Terima kasih."

Selanjutnya Evan melangkah masuk ke dalam IGD dan mengikuti perawat-perawat itu membawa Rima menuju kamar inapnya. Mereka menuruti apa yang Evan katakan. Mereka memberi pelayanan yang terbaik pada Rima sebab takut akan Evan dan manajer rumah sakit mereka.

"Kapan Dokter akan kesini?" tanya Evan.

"Sebentar lagi Pak. Beliau sedang mengecek pasien yang lain."

"Baik, tolong berikan pelayan yang terbaik."

"Tentu Pak."

Evan berdiam dan duduk di sofa yang ada di kamar inap Rima. Dia membuka ponselnya kembali dan menghapus video dan artikel yang Randy kirimkan kepadanya. Melihat apa yang dikirimkan Randy tadi membuatnya tidak habis pikir apa yang Rima alami. Randy menghantuinya banyak kali.

Dari pesan yang dikirimkan inilah sebagai bukti kuat bahwa Rima, Rida dan Euis maksud sebagai Gilang adalah Randy yang dia kenal.

*Tuan Evan yang terhormat. Terima kasih sudah mengambil apa yang aku mau. Terima kasih untuk Irene yang kau ambil, terima kasih untuk Rima yang kau ambil juga. Awalnya aku mengalah ketika kau ambil Irene, mungkin tanpa kau sadari sebab kau merasa Irene memang lah memilihmu sedari awal.

Kini, hal terburuk sekali pun seperti Rima rebut juga. Lagi-lagi tidak kau sadari bahwa itu milikku. Ini hadiah untukmu, kali ini tidak ada ampun. Aku akan hancurkanmu.

.mp4 .jpg .jpg .jpg*

"Informasi sangat cepat diakses, dan dipercaya dengan cepat pula." gumam Evan memijat dahinya perlahan.

Besok jelas berita akan lebih banyak. Semua pasti menyudutkannya. Apalagi artikel-artikel yang keluar juga menjadikannya pusat berita.

"Selamat Sore, Pak Evan." sapa Dokter yang masuk ke dalam ruang inap Rima.

Evan mendekat dan menyimak apa yang akan dikatakan sang Dokter. Dia menanyakan perihal kondisi dan kandungan Rima apa baik-baik saja. Dia sangat khawatir itu sebab Rima yang sempat terjatuh tadi.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pak. Kondisi Ibu Rima juga sejauh ini baik. Ada sedikit shock, namun tidak ada yang fatal. Nadi dan jantung Ibu Rima juga normal. Hanya saja, Ibu Rima harus istirahat total. Tidak boleh terlalu banyak bergerak lagi. Saya ingatkan ini sekali lagi, Pak." jelas si Dokter yang menangani Rima.

"Berdasarkan catatan Dokter Lusi yang menuliskan bahwa Ibu Rima sudah melalui beberapa kali pendarahan. Saya berharap kejadian seperti jni tidak terulang kembali. Syukurnya janin yang berada di kandungan masih bertahan dengan kuat."

"Baik, saya akan perketat ruang gerak Rima nantinya." respon Evan menanggapi perkataan Dokter.

"Kalau begitu saya permisi Pak. Saya harus ke ruangan pasien yang lain. Dokter Lusi yang selanjutnya yang mengambil alih."

Dokter itu berpamitan pergi dan meninggalkan Evan yang hanya berdua dengan Rima. Ponselnya juga sudah dia nonaktifkan. Banyak telefon dari beberapa orang yang sepertinya ingin tahu apa yang terjadi. Belum lagi mertuanya yang ikut menelfon. Tugasnya untuk hari esok banyak sekali.

"Bangun lah Rima. Setidaknya tau kamu telah sadar membuat saya lega sedikit."

"Saya akan tunggu disini."

...

Setelah insiden tadi sore membuat semuanya menjadi sangat sibuk. Sebab hal ini menambah urusan untuk Lusi dan Erlang. Apalagi Lusi yang harus bolak balik sana dan sini sebab ada pasiennya yang mendadak harus bersalin, belum lagi dia bergantian untuk mengecek Rida dan Rima bersamaan. Erlang yang menggantikan Evan harus bolak balik ke rumah sakit dan kantor polisi berulang kali.

Kini, Rima juga sudah siuman. Evan meminta perawat-perawatitu untuk mengecek dan menjaga Rima bergantian. Euis? Euis ikut dengan Erlang ke kantor polisi untuk diminta keterangan terkait Gilang alias Randy.

"Malam." ucap Evan memasuki kamar inap Rima.

Rima menganggukkan kepalanya dan menjawab dengan nada yang pelan. Dia menghindari kontak mata dengan Evan. Dia takut pada Evan, karenanya lah semua orang menjadi sibuk seperti ini. Evan mengetahui itu terlihat jelas Rima yang menghindarinya. Tapi apa mungkin dia memarahi Rima? Tidak, itu hanya akan memperburuk semuanya.

Tapi, Rima disana tidak sendiri ada Erlang dan Euis disana. Jadi, tidak akan mungkin mereka hanya diam-diam saja.

"Dimana Lusi?" tanya Evan.

"Baru saja dari sini, mendadak pasiennya ada yang melahirkan lagi Mas."

"Oh begitu. Apa yang Lusi katakan tadi?"

Evan mengambil tempat duduk di dekat Erlang. Euis yang tidak mau mengganggu memilih untuk berbicara dengan Rima saja.

"Rima perlu istirahat dan jangan diganggu pikirannya dahulu, Mas. Vitamin dan makannya harus lebih diperhatikan lagi."

Evan melirik ke arah Rima sebentar lalu mengalihkan pandangannya pada Erlang lagi.

"Bagaimana Randy?" tanya Evan.

"Untuk sementara dia masih berada di kantor polisi untuk diperiksa Mas. Bukti juga sudah dikumpulkan. Termasuk video... dan ancaman melalui pesan singkat."

"Dia tidak boleh lepas kali ini karena ya... sudah menimbulkan banyak kekacauan."

Mendengar keduanya yang membahas perihal Randy alias Gilang membuat Rima tertarik. Dia menolehkan kepalanya.

"Bagaimana dengan Rida... Pak?"

Evan membiarkan Erlang untuk menjawab. Sebab, dia lah yang mengetahui kondisi Rida sekarang.

"Rida masih di rawat di rumah sakit. Dia masih sedikit shock juga. Sedang tahap pemulihan sepertimu juga."

"Saya cemas sekali." sambung Rima.

"Dia akan segera sembuh. Kamu pun begitu." sebut Evan dengan tiba-tiba.

"Sudah ada yang mengurus Rida. Kamu jangan cemas. Untuk saat ini, fokus ke diri kamu saja. Ya?" tambah Evan.

Rima menganggukkan kepalanya. Menurut saja, lagi-lagi. Meskipun perasaannya masih tidak enak. Selanjutnya mereka kembali fokus pada pembicaraan masing-masing. Tau sang saudara belum makan malam, Erlang mengambil sebuah bekal makan sehat yang tadi dia panaskan di microwave.

"Lusi sengaja bawain ini Mas. Dia tau pasti Mas belum makan malam." ucap Erlang memberikan bekalnya itu.

"Terima kasih. Maksudnya Mas akan makan setelah habis dari sini."

"Mas tau sendiri adik perempuan Mas itu."

Evan menganggukkan kepalanya menikmati suap demi suapan salad dan salmon itu. Erlang diam-diam tengah menyusun rencana apa yang akan dilakukan oleh Evan besok. Besok ada press conference terkait permasalahan ini di kantornya, alhasil dia harus siap menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan itu.

"Besok jadwal Mas ada press conference setelah makan siang. Erlang akan susun jawabannya." ucap Erlang.

"Tidak perlu. Mas akan jawab langsung saja. Berapa banyak media yang akan hadir?"

"Lebih dari 5 sepertinya Mas. Serta ada liputan live." tambah Erlang.

"Mas bisa tangani sendiri. Tidak perlu khawatir."

"Hati-hati lah menjawab pertanyaan mereka Mas. Mereka terkadang membuat pertanyaan yang menjebak."

Evan menganggukkan kepalanya mendengarkan apa yang coba diingatkan oleh sang adik. Memang sedari dulu kakak beradik ini saling peduli satu sama lain. Jika salah satu terluka atau dalam kesulitan pasti yang lain akan berdiri di garis yang terdepan.

Evan harus segera kembali pulang dan mengurus untuk press conference esok hari. Evan menyudahi makannya dan berpamitan untuk pulang. Dia memandang Rima sebentar lalu melangkahkan kakinya untuk segera keluar.

"Jangan lupa antar keperluan Euis juga. Kamu sudah izin dengan atasannya?" ucap Evan mengingatkan adiknya itu.

"Sudah Mas. Semua sudah Erlang urus."

Erlang mengacungkan jempolnya menyatakan bahwa dia tidak lupa apa yang harus dia kerjakan.

"Mas, sebenarnya ada yang mau Erlang katakan. Bukan kah sebaiknya setelah ini Rima kita asing kan saja?"

"Diasingkan bagaimana maksud kamu?"

"Rima tinggal di tempat yang berbeda. Jauh. Karena, sepertinya pilihan Mas untuk berada di sekitar Rima bukanlah pilihan yang tepat." jelas Erlang.

Evan menolehkan pandangannya sebentar. Lalu dia kembali masuk ke dalam mobilnya. Apakah harus? Begitu katanya.

"Tidak bisa seperti itu. Siapa yang akan menjaga Rima nanti?"

"Kita bisa pakai jasa ART dan security Mas. Setidaknya Rima tidak tinggal dekat dengan kita. Demi menjaga nama perusahaan Mas juga. Sepertinya akan banyak masalah ke depan." tambah Erlang.

"Besok kita bicarakan lagi, Lang."

Mobil Evan segera keluar meninggalkan rumah sakit. Beberapa kali tangannya menggenggam erat setir mobil. Dia memikirkan perkataan Erlang tadi. Apakah mengasingkan Rima menjadi pilihan?

Jalanan yang tidak sepadat biasanya membuat Evan cepat sampai di rumah. Ternyata ada tamu. Sebuah mobil telah lebih dahulu terparkir disana. Siapa yang datang malam-malam seperti ini?

"Lama banget pulangnya? Kamu pulangnya malam terus ya? Apa karena sudah tidak punya istri lagi?" sebut seseorang muncul tiba-tiba di depan pintu yang belum dibuka itu.

Evan menyentuh dahinya. Masalah apa lagi yang akan dia temui lagi kali ini. Dia tau suara siapa yang berbicara ini. Suara yang mirip dengan orang yang dia kenal namun berbeda orang. Tentu, dia Irina.

"Jika ingin berbicara silahkan datang esok."

Evan tidak memperdulikan Irina dan memilih mengeluarkan kunci dari sakunya. Baru akan membuka pintu, Irina menginterupsinya lagi.

"Berita tentang kamu banyak ya. Bisa jadi itu berdampak pada perusahaan kamu. Apalagi menyimpan dia di rumah. Tentu siapa pun pasti memandang sebelah mata kamu."

Evan mencabut kunci itu dan berbalik pada Irina. Bisa-bisanya dia mengatakan seperti itu padanya.

"Kamu hanya tidak tahu berita yang beredar sekarang, Evan. Video itu melibatkan kamu di didalamnya. Bukan Randy yang ada disana. Sepertinya dia mencurangi kamu dengan canggihnya teknologi sekarang."

"Kamu--"

"Kalau tidak percaya, silahkan dilihat. Aku juga baru membacanya. Menarik. Telefon aku jika butuh. Baik, sayang?" ucap Irina membisikkan sesuatu di telinga Evan.

Dia melangkah pergi meninggalkan Evan. Melenggang masuk menuju mobilnya yang terparkir sebelahan dengan mobil Evan.

"Jika skandal ini naik, kamu bisa telefon aku untuk bantuin kamu."

Evan mengalihkan pandangannya kembali dan berbalik.

"Kita bisa buat skandal yang baru!" pekik Irina.

Dia dan Irene berbeda sekali.

...

Hi! Selamat tahun baru telat ngucapinnya. Terima kasih sudah menunggu author yang paling telat update ini. Terima kasih untuk vote dan komennya juga. Maaf bikin kecewa kalian terus huhuhu

1
Nor Azijah
ceritanya bagus
o2m860270
mampir kk..
mizuki
semoga saja Rima gak hanya sekedar ibu pengganti ya....semoga mereka bisa menjadi keluarga yg utuh...
Akun Samsung
randy dan gilang
Lisa
Koq sampe skrg blum up lg ya
Lisa: o gitu..udh 1 bln Kak
total 3 replies
Devi Sihotang Sihotang
thor kenapa tidak menikah ja
Devi Sihotang Sihotang
lucu juga evan msh ingat hri pernikahan nya... seharusnya org yg sudah meninggal tidak perlu di inget trs, cukup mendo'akan nya ja
Devi Sihotang Sihotang
mertua egois, emang kenapa evan nikah sm rima, kan ga masalah, lagian irene pun udah menginggal... kan bagus evan menata masa depan dengan rima...
Ingka
seruuu....👍
Ingka
Menarik ternyata..🤭 lanjut baca...
Ingka
Semangat Thor ya up nya...💪💪💪
Ingka
Rima...kamu anak baik. Terpaksa bersedia jd ibu pengganti krn kondisi keuangan darurat..demi nenek yg sakit dan adikmu. Semoga maslahmu teratasi ya...
Ingka
Mampir ah...suka penasaran sm cerita begini...lanjut...
Ana Susana
❤️
Sri Hartati
jatuh cinta sm tiap novel mu thorr.. cerita nya bagus banget, tp sayang cerita nya semua nya nanggung gak ada kelanjutan nya hehehe maaf ya thorr ..ayoo semangat donk thorr lanjutin lagu semua novelmu, jangan sedih² terus, Allah maha tahu jodoh terbaikmu, sehat² trrus dan semangat terus utk berkarya ..
Lisa
Koq blum up lg ya..
Anisnikmah
suka Thor update terus ya
Lisa
Makasih y Kak utk update nya..kita selalu menunggu kelanjutan ceritanya nih..suka bgt sm ceritanya..
Roroazzahra
mungkin bukan jodoh terbaik maka ikhlaskan Kaka
pada waktu yang tepat jodoh itu akan datang karena semua sudah digariskan
semangat 💪 kak
Ratu Tety Haryati
Alhamdulillah...terimakasih Upnya Thor...
Mertua Evan ini seenaknya menghina Rima sampe lupa berterimakasih, tanpa Rima, cucumu belum tentu lahir dgn sehat dan sempurna.
Klo Evan gak mau sama Irina, berarti ada sesuatu dari anak ibu yg tidak disukai Evan. Move on to Bu, bok jgn maksa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!