NovelToon NovelToon
Kutikung Kau Dengan Bismillah

Kutikung Kau Dengan Bismillah

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:39.1k
Nilai: 5
Nama Author: NaaNav

Sebuah kisah yang menceritakan tentang Freya, gadis remaja yang tidak sengaja terdampar di sebuah pondok pesantren di daerah Pekalongan. Kehidupannya pun berubah dalam sejekap mata. Tidak ada lagi gemerlap kota dan teman-teman gaul seperti saat ia tinggal di Jakarta. Freya nyaris gila rasanya.

Hingga pada akhirnya Freya si buta agama malah jatuh hati pada Irsyad. Pemuda yang gemar sekali mempelajari agama dan merupakan putra dari Kyai pondok pesantren tempatnya terdampar. Padahal, Irsyad sendiri sudah dijodohkan dengan gadis yang berasal dari keluarga pemuka agama.

Lantas bagaimana kelanjutannya?


"Maaf, sebaiknya kamu buang jauh-jauh rasa sukamu. Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku sedang berusaha menjaga hati. Ada seorang wanita yang sudah orangtuaku persiapkan untuk kelak berjodoh denganku." - Muhammad Irsyad Abiansyah.


"Bodo amat. Terserah, gue nggak perduli. Karena gue udah membuat keputusan, kan kutikung kau dengan bismillah." - Freya Hayu Apsari -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaaNav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Di seperempat malam yang ke tiga, tepat pukul satu dini hari, Freya bersimpuh menghadap Yang Maha Kuasa. Ia tunaikan salat malam, lalu mengadu pada Sang Maha Pencipta. Ia sampaikan segala keluh kesah dan kegalauan hati yang menimpamnya.

Dalam sujudnya, Freya berdo'a dengan khusuk.

"Ya Allah… Maafkan hamba-Mu yang sudah jatuh cinta terlalu dalam pada seorang pria. Hamba tau, tidak seharusnya hamba terlalu mencintai seseorang, karena bisa menimbulkan dosa zina hati. Tapi, hamba benar-benar tak kuasa untuk menolak segala pesona yang terpancar dari sosoknya. Hamba begitu mengaguminya, lalu jatuh hati padanya. Namun ternyata, lagi dan lagi, dia menolak untuk menyambut perasaan hamba. Dia tetap tegap pada pendiriannya, memilih wanita pilihan orangtuanya,"

"Hamba terluka, begitu terluka atas cinta hamba sendiri. Hamba terluka, karena tetap tidak bisa menerima pilihan yang dibuatnya. Meski sudah berulang kali ia menegaskan, Yasmin lah wanita yang akan ia jadikan masa depannya, hamba tetap berusaha mematahkan itu semua. Hamba tetap berpikir, hamba akan bisa meraihnya. Namun.. setelah sore tadi ia kembali menegaskan pilihannya, hamba menyerah. Hamba menyerah untuk membuatnya merubah keputusan. Hamba menyerah untuk membuatnya menyambut untaian cinta dari hamba. Hamba.. memilih untuk memasrahkan segalanya pada-Mu, Wahai Allah Sang Maha Pemberi cinta, yang Maha membolak-balik perasaan,"

"Seandainya telah Engkau catatkan dia akan menjadi teman menapaki hidup hamba, satukanlah hatinya dengan hati hamba. Titipkanlah kebahagiaan diantara kami, agar tak ada sakit hati dan kegalauan yang mengiringi. Persatukanlah kami, untuk beriringan mengarungi bahtera kehidupan ini,"

"Tetapi ya Allah… Seandainya telah Engkau gariskan dia bukanlah milik hamba, tolong bawalah ia jauh dari pandangan hamba. Luputkanlah ia dari ingatan hamba. Ambillah kebahagiaan ketika dia ada di sisi hamba. Mohon peliharalah hamba dari kekecewaan karena tak mampu meraihnya. Ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti.. Berikanlah hamba kebesaran hati, untuk ikhlas menerima yang telah ia putuskan. Agar hamba bisa ikut berbahagia atas pilihan yang diambilnya,"

"Ya Allah Sang Maha Pemberi dan Maha Pencipta segalanya, mohon gantikanlah yang telah hilang. Tumbuhkan lah kembali yang telah terlanjur patah. Ya Allah, kini hamba pasrah dengan segala takdir yang Engkau buat. Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan, adalah yang terbaik,"

"Dengarlah rintihan dari hamba- Mu yang naif dengan segala lumuran dosa ini, ya Allah. Sudilah Engkau kabulkan segala pinta hamba. Allaahumma robbanaa taQobbal minnaa sholaatanaa wa shiyaamanaa warukuuanaa wasujudanaa wa Qu'uudanaa wa tadharru'anaa wa takhasysyu'anaa wa ta'abbudanaa watammimtaQshiiranaa yaa Allaah yaa robbal aalamiin."

Usai sudah Freya berkeluh kesah dan memanjatkan do'a pada Allah Sang Maha Segalanya. Freya bersujud dan mengeluarkan tangisnya yang sejak tadi sebisa mungkin ia tahan. Ia tumpahkan semua air matanya. Dan setelah ini, Freya berjanji tidak akan lagi ada air mata atas kekecewaan hatinya yang tak berhasil meraih Irsyad. Freya berjanji, akan ia sembuhkan luka hatinya secepat mungkin. Dan Freya berjanji.. akan benar-benar melepas cintanya untuk Irsyad. Akan ia pasrahkan hati dan cintanya, hanya pada Allah semata. Biarlah Allah yang akan menuntun hatinya, untuk menemukan cinta yang sebenar-benarnya. Yang kelak akan menjadi jodohnya.

Di sisi lain, di waktu yang sama, Irsyad pun baru saja selesai menumpahkan segala keluh kesahnya pada Allah Sang Maha Segalanya. Irsyad bersimpuh, bersujud memohon ampun. Merasa begitu berdosa karena sempat ingin marah dengan takdir yang Allah berikan. Merasa kesal karena harus berada dalam situasi sulit hingga membuatnya harus memunafiki hati dan diri sendiri. Begitu tega menyatiki hati seorang wanita, hingga membuat wanita itu menitikkan air mata.

Masih begitu jelas terekam dalam ingatan Irsyad, ketika setetes air mata Freya meluncur jatuh membasahi pipi. Gadis itu, menangis di depan matanya. Tanpa isakan, namun pancaran lukanya begitu kentara di kedua mata indahnya. Dan yang membuat Irsyad seperti tak sanggup berdiri  tegak lagi, adalah saat Freya melepaskan seuntai senyuman yang begitu manis setelah berkata 'Baik, kalau itu sudah jadi keputusan akhirmu. Aku terima. Aku lepaskan kamu. Aku lepaskan cintaku untuk kamu. Aku, memilih mundur.' Sesudah itu, Freya berbalik badan dan berlalu pergi. Tanpa sedikitpun menoleh kembali ke arahnya.

Irsyad mengusap kedua wajahnya, kemudian bangkit dari bersimpuhnya. Ia lepaskan sarung dan pecinya, serta melipat sajadahnya. Memutuskan untuk keluar rumah sejenak, karena kantuk sama sekali tak terasa menyerang. Ketimbang berguling-guling di atas kasur dan kembali merasa galau, siapa tau saja angin malam bisa menyegarkan hati dan pikirannya, begitu pikir Irsyad.

Pelan-pelan Irsyad berjalan dan membuka pintu utama rumahnya. Agar tak menimbulkan bunyi berarti yang bisa memancing perhatian keluarganya. Meski sudah lewat pukul satu dini hari, Irsyad tidak menjamin jika seluruh anggota keluarganya sudah tertidur lelap. Bisa saja, ayah atau ibunya masih terjaga karena melaksanakan ibadah salat malam.

Irsyad menghirup udara dalam-dalam, ketika ia sudah berdiri di luar rumah. Rongga dada Irsyad langsung terasa dingin karena angin malam yang baru dihirupnya. Mengedarkan pandangan, sepi dan temaram lah yang Irsyad dapatkan. Tengah malam begini, jelas tidak ada orang kurang kerjaan yang mau keluyuran keliling ponpes. Kecuali Irsyad tentunya.

Mengikuti kemana langkah kaki berjalan, Irsyad kini sudah berada di gedung asrama putri. Entah lah. Irsyad sendiri juga tidak tau, kenapa kakinya bisa membawanya sampai di tempat yang seharusnya tidak ia kunjungi malam-malam begini. Tapi bukannya memutar arah dan segera pergi, Irsyad malah melanjutkan langkah. Sampai akhirnya, ia berdiri di depan pintu asrama putri yang Freya tempati.

Irsyad menatap pintu itu lurus-lurus. Seolah, tatapannya  bisa menembus pintu kayu itu dan melihat Freya di dalam sana.

"Baik, kalau itu sudah jadi keputusan akhirmu. Aku terima. Aku lepaskan kamu. Aku lepaskan cintaku untuk kamu. Aku, memilih mundur."

Irsyad memejamkan mata rapat-rapat, kala ucapan Freya sore tadi kembali tergiang dalam benaknya. Demi Tuhan, Irsyad sendiri rasanya sesak sekali ketika melontarkan kalimat kejamnya tadi pada Freya. Sungguh, Irsyad tadi benar-benar berada di posisi yang serba salah. Ia kaget, terkejut dengan kemunculan Yasmin yang tiba-tiba. Irsyad hanya khawatir, Yasmin akan mengadukan sesuatu yang kurang mengenakkan pada orangtua gadis itu, Irsyad tidak ingin urusannya semakin rumit. Tapi sayang sekali, ia malah memilih jalan yang menyakiti hati Freya. Juga hatinya sendiri tentu saja.

Menghela nafas dalam, Irsyad berupaya menghilangkan sesak yang melingkupi hatinya. Dirasa cukup, ia perlahan membuka kedua matanya. Dan ketika matanya terbuka sempurna, Irsyad langsung berjengkit. Hampir saja menjerit, kaget setengah mati karena tiba-tiba ada sosok Freya yang berdiri di hadapannya.

"Astagfirullah! Kamu bikin aku kaget, Frey!" Irsyad mengusap-usap dadanya yang berdebar saking kagetnya. Ia tidak habis pikir, kenapa bisa Freya sudah berdiri di hadapannya, sedangkan ia tak mendengar sama sekali suara knop pintu terbuka.

"Harusnya, aku yang kaget lihat kamu malam-malam begini berdiri di depan pintu kamar asramaku," Freya tersenyum tipis melihat Irsyad yang langsung tergagap salah tingkah. "Minggir sedikit, kamu ngehalangin jalan. Aku mau keluar,"

"Mau coba kabur lagi?" Sergah Irsyad langsung.

"Ya. Kabur dari kenyataan yang menyakitkan,"

Irsyad diam. Raut wajahnya langsung berubah.

Freya terkekeh kecil. "Bercanda. Aku mau ke kamar mandi. Minggirlah sedikit, aku mau lewat!"

Tanpa sadar, Irsyad menghela nafas lega. Ia pikir, Freya kembali akan melakukan aksi kabur seperti waktu itu. Ia pun segera menggeser tubuhnya, membuka jalan supaya Freya bisa lewat.

"Makasih!" Freya keluar, melewati tubuh Irsyad.

"Frey," Irsyad bersuara, pelan. Menahan Freya yang sekarang berdiri menyudut di sebelah bahu kanannya.

"Ya?"

"Soal ucapanku tadi sore, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud bikin kamu sakit hati, apalagi sampai menangis. Aku minta maaf, aku memang nggak punya perasaan.." aku Irsyad, jujur dan tulus dari dalam hati.

"No problem. Lupain aja.. Anggap nggak pernah terjadi,"

"Tapi, tentang apa yang kamu katakan tadi sore.. Apa.. apa kamu serius?"

"Maksudmu, yang aku memilih mundur dan melepasmu?"

"Ya.." suara Irsyad terdengar mencicit, pelan.

Freya lantas memundurkan langkahnya, hingga menjadi berhadapan dengan Irsyad. "Ya, aku serius. Aku memilih melepasmu. Aku memilih mundur. Aku akan belajar menjadi dewasa. Dewasa, itu artinya.. Siap melupakan juga merelakan. Hm, begitu. Jadi, kamu tenang aja.. Aku nggak akan lagi maksain cinta dan kehendakku untuk bisa meraih kamu. Kamu bisa tenang dengan pilihan yang kamu ambil. Semoga bahagia, ya?" Freya tersenyum, lalu kembali menyampingkan badan, bersudutan dengan Irsyad.

"Kamu cepetan pergi dari sini. Nanti kalau ada orang yang lihat, bisa timbul finah yang enggak-enggak. Apalagi, kamu kan anaknya kiai pemilik ponpes ini. Aku permisi duluan, mau pipis. Permisi.." Freya segera berlalu pergi meninggalkan Irsyad yang masih berdiri mematung. Ia menarik nafas panjang demi membuang sesak yang sebenarnya sejak tadi mulai menggerayangi. Sebenarnya, bisa saja tadi ia memilih kembali masuk ke dalam kamar, atau langsung melenggeng pergi tanpa menghiraukan Irsyad. Tapi tidak. Freya tidak mau menghindar. Ia tidak mau melakukan hal semenyedihkan itu. Ia memilih untuk menghadapi dan bersikap dewasa.

"Berat. Pasti berat rasanya. Semilir duka pun pasti ada. Tapi aku percaya, semua ini akan terlewati dan kembali baik-baik saja. Aku ikhlas ya Allah.. Aku benar-benar ikhlas melepaskan Irsyad." Freya tersenyum dan merentangkan kedua tangannya. Kembali menghirup udara dalam-dalam, agar sesak di hatinya segera hilang. Terus meyakinkan diri sendiri, jika ia pasti bisa cepat move on.

Sementara itu, Irsyad masih tak bergerak dari posisinya. Ia mematung. Tercenung dengan ucapan Freya yang terdengar bersungguh-sungguh. Dan saat ini yang Irsyad rasakan adalah.. seperti kekosongan yang teramat kosong. Serasa ada sesuatu yang melayang dari dalam dirinya.

"Nggak sepantasnya seorang laki-laki  yang memahami agama dan memiliki akhlak baik, datang mengunjungi wanita yang bukan mukhrimnya tengah malam begini. Dimana tata krama kamu?" Yasmin, yang sebenarnya tadi berniat pergi ke kamar kecil, malah tak sengaja menangkap sosok Irsyad yang berdiri di depan pintu kamar Freya, saling berhadapan. Segera saja dihampirinya Irsyad setelah melihat Freya pergi. Ditegurnya dengan suara dingin yang selama ini tak pernah ia perdengarkan pada Irsyad. Tak ada lagi raut wajah anggun dan senyum manis yang selalu ia pasang jika berhadapan dengan Irsyad.

Karena, Yasmin tentu tak lupa dengan fakta yang terkuak sore tadi. Satu kenyataan yang membuatnya benar-benar terkejut luar biasa. Mendengar sendiri dari balik pintu ruangan kiai Umar, saat Irsyad mengutarakan isi hatinya yang sebenarnya. Mendengar langsung, ketika Irsyad mengaku sudah jatuh hati pada Freya. Kalau sudah begini, Yasmin tentu tidak bisa lagi berdiam diri.

"Sebelum aku adukan kamu ke Umi Salimah, cepat pergi dari sini. Dan jangan sekali lagi kamu melakukan hal-hal tidak sopan seperti ini. Mengunjungi wanita tengah malam buta. Seperti tidak tau tata krama dan ajaran agama! Jangan cuma karena cinta, bisa sampai membuat kamu jadi lupa diri!" Setelah berkata cukup pedas, Yasmin langsung pergi meninggalkan Irsyad. Sengaja ia perlebar langkah kakinya, supaya masih sempat bertemu Freya di kamar kecil nanti.

Sekali lagi Irsyad dibuat tercengang. Kali ini oleh Yasmin. Yang selama mengenal nyaris seumur hidupnya, baru kali ini Irsyad mendengar Yasmin bicara dengan nada tak ramah seperti itu. Tidak lagi manis dan anggun seperti biasanya.

**

Sudah lebih dari sekitar lima menit, Freya dan Yasmin berdiri saling berhadapan dalam kebisuan. Keduanya sama-sama diam. Hanya bola mata mereka saja yang seolah saling berbicara. Saling memandang dengan tatapan yang sulit diartikan.

Jengah, Freya pun berdeham pelan dan memecah kebisuan. "Ada apa?"

Yasmin tidak menjawab. Tetap menatap Freya lamat-lamat.

"Tujuan lo nyegat gue, cuma mau ngebisu sambil melototin gue?"

Yasmin tetap diam. Malah semakin menatap Freya terang-terangan. Mengamatinya dari atas sampai bawah, berulang-ulang kali.

"Ck! Sori, gue nggak ada waktu buat ngejabanin aksi nggak penting lo ini. Permisi!" Freya sudah hampir melangkah pergi. Tapi, Yasmin lebih dulu mengeblokc jalannya. "Ish! Lo apaan sih? Minggir! Gue mau lewat!"

"Di bawah rata-rata," gumam Yasmin, yang akhirnya bersuara juga.

Freya menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti. "Maksud lo?"

"Kamu!"

Freya masih belum paham. Ia kerutkan keningnya.

Yasmin terkekeh datar. Maju satu langkah, lebih merapat pada Freya. "Sopan santunmu, tata krama berbicaramu, ilmu agamamu, kemampuan berpikirmu, semuanya! Semua yang ada di diri kamu.. terlalu di bawah rata-rata!"

Freya langsung menahan napas mendengar apa yang baru saja Yasmin ucapkan. Berusaha menahan diri agar tak terpancing emosi dan balas mendramprat gadis berlesung pipi itu habis-habisan.

"Bahkan cuma sekedar dibandingkan dengan Ajeng, kamu jelas kalah jauh di bawahnya. Jadi, gimana mungkin aku harus bersaing sama perempuan macam kamu? Sama artinya, seperti melukai harga diriku sendiri. Sama sekali nggak sebanding!" Kata Yasmin lagi.

"Aku, sudah mengenal Mas Irsyad selama sebanyak umurku sekarang ini. Sedangkan kamu? Satu tahun pun belum genap! Dibandingkan kamu, aku lebih banyak tau tentang Mas Irsyad. Sama seperti Mas Irsyad yang pasti lebih tau tentang aku ketimbang kamu. Mas Irsyad pasti paham, nilaiku jelas jauh di atas dirimu. Jadi, bagian mana dari diri kamu, yang berhasil membuat Mas Irsyad jatuh hati? Sementara dari segala aspek, aku lebih unggul dibanding kamu. Hah, benar-benar sulit dipercaya!" Yasmin masih berceloteh.

"Seandainya perempuan itu Ajeng, aku mungkin masih bisa terima. Tapi ini? Kamu.. Kamu, Freya!" Yasmin menepuk-nepuk bahu Freya, yang langsung ditepis oleh gadis itu.

"Apa yang harus aku katakan pada orangtuaku, kalau ternyata aku dikalahkan oleh gadis semacam kamu! Yang secara kasat mata pun, jelas-jelas tidak ada apa-apanya dibanding seorang Yasmin. Apa kata orangtuaku nanti, kalau mereka tau gadis macam kamu yang berhasil merebut hati Mas Irsyad yang selama ini aku berusaha untuk raih. Benar-benar melukai harga diriku!" Yasmin tertawa hambar.

"Bilang sama orangtuamu, pelet dan jampi-jampinya Freya sakti mandra guna. Makanya, Irsyad bisa sampai terpikat sama seorang Freya yang cuma gadis di bawah rata-rata," kata Freya, santai sekali. Tidak ada emosi di dalam suaranya. Ia bahkan malah mengumbar seulas senyum jenaka.

Yasmin meradang. Freya terlihat seperti mengejeknya. Ia beristigfar dalam hati, menahan amarahnya yang makin menjadi. Yasmin tidak boleh sampai lepas kendali. Tidak boleh!

"Well.. Segimanapun elo menilai buruk tentang gue, gue nggak perduli. Nggak mau ambil pusing, apalagi ambil hati. Karena apa? Karena itu nggak penting bagi gue. Penilaian lo ke gue, nggak akan mempengaruhi penilaian Allah atas diri gue!" Lagi-lagi, Freya tersenyum lebar.

"Urusan Irsyad mau suka sama gue ataupun Ajeng, kenyataan yang pasti adalah.. dia nggak suka sama lo! Artinya, lo benar-benar nggak menarik di mata Irsyad. Mau sebagus apapun diri lo, itu bukan jaminan untuk bisa merebut hati seseorang. Menarik simpati atau kekaguman, itu mungkin. Tapi untuk urusan hati, lain lagi ceritanya. Buktinya, gue yang jelas-jelas jauh di bawah lo, justru berhasil mencuri perhatian Irsyad. Sampai bisa bikin Irsyad jatuh hati," kata Freya lagi.

Yasmin tertawa. "Terserah apa katamu. Karena meski kamu dan Mas Irsyad saling mencintai, tetap aku yang akan memiliki Mas Irsyad."

"Oh, terserah juga.. Gue sih nggak perduli. Karena, gue bukan orang yang egois. Kalau Irsyad udah menegaskan keputusannya untuk tetap memilih elo, wanita yang dijodohkan orangtuanya, ya syudah.. Gue akan berusaha ikhlas dan melepas cinta gue untuk Irsyad. Toh, di dunia ini laki-laki nggak cuma Irsyad aja. Gue masih muda. Masih punya banyak kesempatan untuk menemukan laki-laki lain yang kelak akan menjadi imam gue. Dan pastinya.. yang benar-benar tulus menginginkan gue. Bukan yang terpaksa karena harus mengikuti kemauan orangtuanya. Terpaksa itu nggak enak, Say.. Bikin makan hati!"

Yasmin meremas roknya kuat-kuat. Ucapan Freya barusan, benar-benar menyinggungnya. Sebisa mungkin, Yasmin mengontrol raut wajahnya agar tetap terlihat tenang. "Mau terpaksa ataupun enggak, tetap yang namanya jodoh nggak akan kemana. Mau seperti apapun usaha seseorang untuk menghindar, atau kehadiran orang lain untuk merebut, tetap nggak akan pernah berhasil. Karena nggak ada seorang pun yang bisa melawan garis takdir yang Allah sudah buat. Urusan cinta, itu bisa tumbuh perlahan seiring berjalannya waktu dan kebersamaan. Lagi pula, nggak seharusnya manusia meributkan masalah cinta terhadap manusia. Cinta pada Allah adalah yang paling utama. Kamu harus tau itu!"

Gantian Freya yang sekarang tertawa. "Lo cuma pinter teori doang. Praktiknya nol besar!"

"Apa maksudmu?!"

"Ya, iya.. Ngaca deh sana, naif!"

"Kamu!"

"Apa?!"

Yasmin membuang muka. Tidak tahan terus-terusan menatap wajah Freya yang terlihat sangat menyebalkan di matanya.

"Perempuan munafik!"

PLAK!

Freya mengerjab. Memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh Yasmin.

"Jaga bicaramu!" Desis Yasmin, dengan nafas yang terlihat sangat memburu. Sudah setengah mati ia berusaha menahan diri. Tapi Freya malah terus-terusan memancing emosinya. Jadi, jangan salahkan kalau akhirnya ia lepas kendali. Ketidak sukaannya terhadap Freya sejak awal bertemu dulu, akhirnya terlampiaskan lewat satu tamparan.

"Aku peringgatkan kamu! Menjauhlah saat kita hampir berpasasan. Menyingkir dari kehidupan Mas Irsyad. Jangan sok akrab lagi dengan Kiai Umar. Dan berhenti mencari-cari perhatian Alan. Kamu nggak akan pernah bisa masuk ke dalam lingkup keluarga Kiai Umar. Jadi, mari kita tutup masalah ini sampai di sini." Yasmin berbalik badan, hendak berlalu pergi.

Tapi, baru selangkah Yasmin berjalan, Freya segera menarik bahu Yasmin dan langsung melayangkan satu tamparan di pipi Yasmin.

PLAK!

"Freya!"

Semuanya benar-benar terjadi begitu cepat. Freya membalikkan badan Yasmin lalu memberi tamparan balasan, kemudian sosok ustadzah Raina dan ustadzah Rahma muncul tiba-tiba.

"Selepas salat subuh nanti, temui kami di ruang konseling! Sekarang, kalian kembali ke kamar masing-masing!" Titah ustdzah Raina, yang memandang tajam ke arah Freya

***

Seperti yang sudah dijanjikan, tepat setelah salat subuh, Freya dan Yasmin masuk dalam ruang bimbingan konseling. Dengan ustadzah Raina, ustadzah Rahma dan ustadzah Layla yang sudah menunggu. Ustadzah Raina dan ustadzah Rahma bertindak sebagai saksi. Sedang ustadzah Layla, adalah selaku guru bimbingan konseling.

"Freya, benar kamu menampar Yasmin tadi malam di depan kamar mandi?" Ustadzah Layla memulai introgasi.

"Iya, Ustadzah!" Jawab Freya dengan tegas. Jujur mengakui perbuatannya.

"Memalukan! Sama sekali tidak mencerminkan perilaku seorang wanita santri yang seharusnya lemah lembut dan sopan santun! Rupanya, kamu belum sepenuhnya berubah Freya. Masih sama. Urakan dan kasar!" Kata ustadzah Raina.

"Jangan langsung menghakimi, Ustadzah Raini. Kita harus dengar dulu alasan dari Freya.." ustadzah Rahma pun angkat bicara.

"Apapun alasannya, tetap saja tidak sepatutnya Freya sampai menampar Yasmin. Harusnya, Freya bisa mengendalikan emosi. Tidak boleh disetir sama syaitan sampai akhirnya lepas kendali!"

"Sudah-sudah!" Ustadzah Layla menengahi. "Di sini, saya yang paling berkewajiban untuk mengurus masalah Freya dan Yasmin. Jadi tolong, Ustadzah Raina dan Ustadzah Rahma jangan ikut campur dulu,"

"Maaf, Ustadzah Layla.."

Ustadzah Layla mengangguk. Kemudian beralih menatap Freya dan Yasmin. "Jadi, siapa yang mau menceritakan seperti apa kejadian sebenarnya tadi malam? Harap jangan dikurangi, atau dilebih-lebihkan!"

"Saya! Biar saya yang menjelaskan!" Yasmin berdiri.

Kemudian, mengalirlah cerita dari mulut Yasmin. Yang tentu saja tanpa menyeret-nyeret urusan cinta dan Irsyad. Juga tidak mengatakan bahwa Yasminlah yang lebih dulu memukul Freya. Sehingga, jelas Freya yang terlihat sangat bersalah.

"BOHONG!" Freya menyentak dan langsung ikut berdiri. "Yasmin ceritanya dipotong-potong! Biar saya ceritakan dengan lengkap kejadian sebenarnya. Tidak akan saya tutup-tutupi, supaya semuanya terlihat jelas. Saya berani bersumpah demi nama Allah, atas kebenaran cerita yang akan saya sampaikan!"

Lalu mengalirlah semua kebenaran cerita dari mulut Freya.

"Saya akan serahkan masalah ini pada Kiai Umar langsung. Beliau yang lebih berhak untuk menyelesaikan kasus ini." Putus ustadzah Layla. Setelah terkejut beberapa saat ketika mendengar semua penuturan jujur dari Freya.

Ustadzah Raina dan ustadzah Rahma pun sama terkejutnya. Sama sekali tidak menyangka jika Yasmin bisa seperti itu. Ustadzah Raina sampai meminta maaf karena sudah berpikir buruk pada Freya.

****

Dengan diantarkan oleh ustadzah Layla, Freya dan Yasmin memasuki ruangan kiai Umar. Setelah sebelumnya, ustadzah Layla menelfon kiai Umar lebih dulu untuk memberi tau duduk perkaranya.

Saat ini, Freya dan Yasmin sudah duduk bersebelahan dengan menghadap kiai Umar. Ustadzah Layla undur diri, karna paham jika urusan ini termasuk dalam ranah yang pribadi.

Pintu ruangan kiai Umar terdengar diketuk dari luar. Seperti sudah tau siapa yang ingin masuk, kiai Umar langsung mempersilahkan.

"Masuk!"

Dan atmosfir di dalam ruangan kiai Umar langsung terasa sangat dingin, ketika Irsyad lah yang ternyata ikut bergabung masuk.

Dengan jantung berdegup kencang, Ali melirik ke arah Prilly dan Yasmin yang menundukkan kepala. Kemudian pada ayahnya yang memasang raut wajah tak terbaca.

"Duduk, Irsyad!"

Irsyad mengangguk pelan mendengar perintah ayahnya. Ia melangkah masuk lebih dalam dan mengambil posisi duduk di sofa yang masih kosong.

"Hah, apa-apaan ini? Cuma perkara cinta, dua wanita beragama ini sampai bisa lepas kendali! Saling caci dan memukuli!"

Freya dan Yasmin makin menundukkan kepala mendengar ucapan kiai Umar.

"Merendahkan harga diri, cuma karena memperebutkan laki-laki? Luar biasa!"

Giliran Irsyad yang sekarang menundukkan kepala.

"Kamu, Yasmin! Saya tidak pernah menduga, kamu akan sanggup melakukan hal semacam ini. Benar-benar tidak sesuai dengan image baik dan nyaris sempurna yang selama ini kamu tunjukkan pada dunia. Di mana Yasmin yang anggun, manis, bijaksana dan penuh sopan santun? Dimana Yasmin yang selama ini berhasil menjadi sosok gadis panutan yang luar biasa?"

Yasmin diam. Tidak menjawab.

"Lalu, kamu Freya! Saya tau seperti apa latar belakang kehidupanmu sebelum ini. Tapi yang saya lihat, kamu sudah sangat jauh berubah. Kenapa bisa-bisanya terpancing emosi lagi?! Kamu tau.. bahkan saya ini mengidolakan sosokmu, Freya. Pribadi unikmu yang luar biasa itu, sudah berhasil mencuri perhatian saya!"

Yasmin tersentak mendengar pengakuan kiai Umar. Bisa-bisanya mengidolakan sosok seperti Freya. Yang benar saja, pikirnya!

Sementara itu, Freya mengangkat sedikit wajahnya dan bergumam pelan. "Maafin Freya.."

Kiai Umar tidak menanggapi. Memilih beralih pada Irsyad. "Dan kamu Irsyad! Apa-apaan kamu itu? Tengah malam buta keluyuran ke asrama putri dan menemui seorang santriwati. Dimana akal sehatmu Irsyad!!" Dada kiai Umar terlihat naik turun. "CINTA SUDAH MEMBUATMU LUPA DARATAN, HAH? SEPERTI TIDAK BERAKHLAK! TIDAK TAU ATURAN AGAMA!"

Baik Freya, Yasmin, dan tentunya Irsyad sendiri, tersentak kaget mendengar bentakan kiai Umar. Selama ini, mereka nyaris tak pernah melihat kiai Umar marah. Apalagi sampai berbicara dengan intonasi keras seperti ini.

"Irsyad minta maaf, Abi.." Irsyad mencicit. Merasa bersalah, malu dan juga takut.

"Sekarang, jelaskan sama Abi! Apa yang ada di pikiranmu, sampai kamu bisa menemui Freya tengah malam buta tadi? Kalian mau mojok malam-malam, seperti pasangan remaja tidak tau agama di luaran sana?"

"Nggak, Bi!" Irsyad langsung membantah tegas. "Semalam, Irsyad memang berada di gedung asrama putri, di depan kamar asrama Freya. Tapi demi Allah, bukan tujuan Irsyad untuk ketemuan dan berdua-duaan dengan Freya, Bi. Nggak ada sedikitpun niat Irsyad, untuk mojok seperti yang Abi pikirkan,"

"Bohong!" Sergah Yasmin. "Aku lihat dengan kedua mataku sendiri, Mas Irsyad dan Freya berdiri berhadapan dan saling berbincang cukup lama. Apa itu namanya kalau bukan mojok? Pacaran?"

"Jangan asal tuduh lo, Yasmin! Lo bahkan nggak tau apa yang gue sama Irsyad bicarakan, kan?"

"Tetap saja, intinya kamu dan Mas Irsyad janjian bertemu dan berduaan tengah malam buta. Nggak pantas! Sadar, kalian bukan mahrom!"

"Eh, fitnah! Gue sama Irsyad nggak pernah janjian buat ketemuan tengah malam buta, ya! Gue juga masih punya otak kali!"

"Halah, masih saja menyangkal!"

"Siapa juga yang nyangkal?"

"HEY! Sudah-sudah! Kenapa kalian jadi berdebat?!" Lerai kiai Umar.

"Soalnya Yasmin fitnah, Bi. Harus diluruskan!" Freya membela diri.

"Abi?" Yasmin mendengus. "Yang sopan kamu, Freya! Panggil Kiai, jangan ikut-ikutan seperti Mas Irsyad dan Alan. Kamu pikir, kamu ini siapa?"

"Apaan, sih? Orang beliau sendiri yang nyuruh gue manggil Abi. Yeee!" Freya memeletkan lidahnya.

"Benar begitu, Kiai?"

"Benar, Yasmin."

Yasmin langsung terkekeh sinis. "Haha! Mengejutkan!"

"Sudah, lah. Perkara panggilan saja dipermasalahkan. Lebih baik, kita bahas persoalan kalian!" Kiai Umar memutar lagi arah pembicaraan. "Irsyad, jelaskan alasanmu. Abi akan dengarkan. Supaya tidak terjadi salah paham dan memunculkan fitnah," inilah istimewanya kiai Umar. Semarah apapun beliau, tetap tak akan mau menghakimi jika belum mendengar semua penjelasannya dengan gamblang. Beliau sangatlah bijaksana.

Irsyad menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Bersiap untuk menceritakan semuanya dengan jujur.

"Sebenarnya, semua berawal dari kegundahan hati Irsyad...." dan mengalirlah semua cerita sekaligus kejujuran hati Irsyad. Tentang hatinya yang meresah, tentang Freya, tentang perjodohan, dan tentang niat awalnya keluar rumah setelah berkeluh kesah pada Allah usai menunaikan salat malam. Ia benar-benar tak sadar ketika langkah kakinya malah membawanya ke depan pintu kamar Freya.

"Maafin Irsyad, Bi. Jatuh hati sama Freya, benar-benar di luar kuasa Irsyad. Kalau bisa memilih, Irsyad tentu inginnya jatuh hati pada Yasmin. Yang jelas-jelas adalah wanita yang sudah dipersiapkan untuk Irsyad peristri. Bukannya pada Freya dan membuat semuanya menjadi sulit," Irsyad menghela nafas. "Awalnya, Irsyad sendiri juga nggak yakin dengan perasaan Irsyad ke Freya. Tapi semakin menyangkal, justru semakin kuat perasaan itu bercokol di hati Irsyad. Irsyad sudah benar-benar terjerat dalam pesona Freya. Dengan segala tingkah usil dan menyebalkannya, juga kejujuran dan pribadinya yang polos apa adanya, mampu membuat Irsyad terpikat. Freya gadis pertama yang berhasil membuat Irsyad jatuh hati,"

Bagai dihantam keras dengan sebuah batu besar mendengar mengakuan jujur Irsyad. Sakit sekali yang Yasmin rasakan. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, ia beranikan diri untuk melontarkan sebuah pertanyaan yang mungkin malah akan menambah kesakitannya. "Apa.. Apa sedikitpun, nggak ada rasa ketertarikanmu untuk aku, Mas? Mengingat lamanya kita saling mengenal dan sering bersama, apa belum bisa aku mencuri sedikiiit saja tempat di hatimu?"

Irsyad menggeleng pelan. "Maafin aku, Yasmin. Maaf.." Aku Irsyad, menunduk penuh sesal.

Hancurlah sudah!

Benteng ketegaran dan sikap seolah tak perduli yang selama ini Yasmin tunjukkan, runtuh seketika. Bersamaan dengan air matanya yang ikut meluruh. Menunjukkan kekecewaan hatinya.

"Astagfirullah, ya Allah.." kiai Umar memijit pelipisnya. Mendadak merasa pusing memikirkan ini semua.

Dari awal, kiai Umar sudah menduga jika Yasmin memang menaruh hati dan harapan tinggi pada Irsyad. Hanya saja, gadis itu terlalu pandai menutupinya. Dan sekarang, terbukalah sudah semuanya. Bersamaan juga dengan Irsyad yang membuat pengakuan dengan jelas, jika hatinya sudah dicuri Freya.

Dan ketika pintu ruangan kiai Umar terbuka keras, dengan sosok Alan yang masuk dengan mata memerah dan nafas tak beraturan, kiai Umar yakin keadaannya pasti akan semakin rumit dan sulit.

*****

Satu bab lagi ending.

Yeeeyyy

1
Roseva Jan
kak nav cht private gimana ya
NaaNav: hallo, sory udah lama bgt ga buka noveltoon..
total 1 replies
Call me Taehyung
kakak author jahat banget sumpah😭 kakak tau gak aku ngikutin ini cerita pas on going tau lalu pas mau end aku nunggu banget lanjutannyaa eh 2 tahun aku nunggu gak update update😭 lalu aku kesal yaudah mungkin ini endingnya😭 dan kaka tau aku nunggu sambil baca ulang tau gak😭 sampe aku hapal ceritanya kakak😭 lalu aku gak ngikutin lagi ehh pas hari ini tiba aku teringat cerita ini aku buka ternyata ada LANJUTANNYA😭 KAK MAKASIH BANGET UDAH UPDET endingnya memuaskan kakak sumpah aku terharu kak😭 penantian aku gak sia sia😭 TERUS BERKARYA YA KAK🖤🖤
NaaNav: ya Allah aku jadi terharu baca komennya.. makasih banyak ya udah se-setia itu nungguin ceritanya sampai end. maafin ya bikin kamu nunggu selama itu ♥️♥️
total 1 replies
quwwatul kamilah
Haii kak Navita, aku udah pernah baca cerita ini dulu di dunia orange dengan karakter AP☺️
Aku lupa waktu itu tahun berapa, intinya aku nemu cerita ini tuh ga sampe ending lagi karna udah di unpub kalau ga salah inget. Dan sumpah, aku jatuh cinta sama cerita ini bangetzz pake z kalau kata si Freya mah😂
Jujurly aku juga pengen baca ulang tapi waktu itu gatau harus nyari dimana lagi cerita ini. Akhirnya alhamdulilah di tahun 2024 ini aku nemu notif kalau cerita ini di publish disini, dan ya I'm hereeee
Akhirnya kangenku terobati, bonusnya bisa baca cerita ini sampe ekstra bab juga. Makasih ya kak, udah pernah bikin cerita sebagus ini, kalau boleh sih pengen juga dijadiin film, semoga ada pH yg lirik ya. Aaamiin..
Sukses terus kak, ditunggu karya karya terbaik lainnya, semangat yaaaa🤍✨
NaaNav: aamiin ya Allah..
terimakasih ya udah suka sama cerita ini. dan terimakasih juga untuk doa baiknya. sehat selalu untuk kamu ♥️
total 1 replies
quwwatul kamilah
Recommended pokoknya lah, yang pasti ga hanya soal cinta cintaan aja. Tapi emang bener bener ada yang bisa dijadikan pelajaran dari cerita ini, sukses untuk authornya🤍
quwwatul kamilah
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Endang Supriyati
ya ampun freya" lucu bngt km y😂😂
Endang Supriyati
kynya bagus deh critanya,, br bc ajah udah lgsg sk🥰
NaaNav: semoga suka ya..
total 1 replies
Si dukun
namanya diganti kak ga ali dan prilly lahi hiks
NaaNav: terima kasih ya.. nanti semoga suka juga sama karya aku yang baru. jangan lupa di baca juga yaaa
total 3 replies
yuyuni
tambahin ekstra part-nya Thor. Sampai Irsyad dan Freya nikah
Widia Astuti
kapan up thorr
Sri Indarti
jadi GK up lagi Thor?...
Fitri Ayu
up thorrr
Ida
wish....aku juga mau akh.... kan kutikung kau dengan Bismillah 😄😍
Mia Ijaya
bgus critay thor gk ky sinetron ikan terbang...tpi lbih bgus lgi klau boleh lo yaaaa, biarkan smp nikah y thor...love u thor
Aulia Azzahra: SDH tamat/ mentok kak 😢😄jgn dtunguin ntar kecewa hhh
total 2 replies
yanti
thank thor
hehehe
tak piker kisah Freya bakal berlalu gitu aja
ternyata eh ternyata ,,,jodoh takkan kemana Iki to ,,,puas banget makasih ,,,,sekali lagi hehhehe
Anie_
Kerenn thorrr,,,
Kata"ny jga sungguh wow💞💞
Devyy Zheboa
seru banget ceritanya tp syg GK panjang partnya tp tetap seru kok saya suka😁😁🥰🥰🥰🥰❤️❤️❤️❤️
Sri Indarti
Masyaallah..aku suka banget SM ceritamu Thor..selalu semangat menulis...berkarya selagi bisa..
Widianty Rahayu
Sukaaaa ke pa ga sekalian d sah kan aja,, 😅😅😅😅😅
Simar Ajh
ko blum up sh thorrr aku nungguin 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!