Ada batasan, ada aturan, namun juga ada cinta yang menggoda Dalilah sewaktu SMA. Bisakah ia menjalaninya mengingat dia bukan remaja biasa yang sanggup bertindak semaunya.
“Berikan aku sedikit kebebasan, Ayahanda!”
“Tidak, putriku. Aturan sudah mendarah daging dalam aliran darahmu sebelum kamu lahir.”
Mujurkah Dalilah menjalani kisah cinta pertamanya dengan Revi, ketua OSIS yang mengajaknya menikmati gejolak masa remaja? Beranikah dia menentang aturan yang mengakar di darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Revi.
Dan aku, benar-benar babak belur saat permainan konyol ini kami lakukan.
"Beneran suka sama Dalilah?"
"Apa yang kamu sukai dari Dalilah?"
"Apa kamu serius dengan ndoro putri?
"Apa Dalilah cinta pertamamu?"
"Have you ever kissed?"
"Apa kamu mau menjadi seperti Dalilah?"
"Jadi sebenarnya apa motif kamu mendekati Dalilah?"
Pertanyaan itu lebih menohok ketimbang bogeman mentah yang mungkin akan aku dapatkan saat aku memegang tangan princess dihadapan adiknya.
Jika Baskara saja dapat pelukan, genggaman tangan tidak akan jadi masalahkan?
Wajahku pias saat melihat wajah mereka yang menanti jawabanku dari permainan truth or dare ini. Sialnya dengan penuh percaya diri aku memilih kejujuran daripada tantangan.
Aku mengeratkan genggaman tanganku pada princess, ia menoleh sembari menatapku penuh tunggu.
Kalau harus jujur, aku agak takut karena adiknya ada disini. Adiknya sudah cukup dewasa mengetahui hal-hal tentang cinta.
Tapi apa boleh buat, gerimis sudah membasahi otakku.
Aku berdehem, lalu memulai narasi panjang tentang cinta.
"Raden Ayu Dalilah Sekar Kinasih Putri Adiguna Pangarep bukan cinta pertamaku, bukan pula ciuman pertamaku. Dia hanyalah gadis yang menarik perhatianku dari segala penjuru. Dia gadis yang menarik, siapa saja akan menyukainya, mungkin begitu juga untuk kalian, Bim, Bas!" Aku menghela nafas sebelum melanjutkannya. Aku yakin princess tahu kalau telapak tanganku sudah berkeringat dingin. Tapi, ia masih menggenggamnya dan tersenyum manis mendengar jawabanku.
"Serius atau tidak pacaran dengan Dalilah?" Aku mengerutkan kening. "Aku rasa untuk mempermainkan seorang putri Raja butuh nyali besar. Dan nyaliku masih sebatas nyali seorang remaja SMA. Masih banyak yang akan terjadi di kemudian hari, kita masih muda, kita masih punya cita-cita sendiri-sendiri, masih banyak jalan yang bercabang dan belum tentu kita akan sejalan."
Aku menatap wajah princess yang cemberut. "Iti risiko tinggi karena mencintaimu. Aku butuh gelar S2 untuk bersanding dengan idolamu, tuan putri." ujarku menjelaskan secara rinci. Takut jika princess justru salah paham dengan ucapanku.
"Itu kan masih lama, kita masih SMA! Lagian kenapa kalian tanya seperti itu sama mas Revi! Kalian menyudutkannya!" ujar princess galak kepada semua orang di depannya.
"Kami hanya menyayangimu, Lilah." jelas Baskara.
"Aku juga sayang sama kalian, tapi aku gak peduli dengan urusan cinta kalian! Karena itu urusan pribadi kalian!" ucap princess lumayan keras. Aku terkesima. Wow, apa dia membelaku?
Aku menatap princess dan menggeleng. "Galak amat sih, jangan gitu! Kamu membuatku semakin dianggap sebagai perusak moral anak Raja!"
"Mereka iseng! Mereka hanya memandangku sebagai manusia yang harus diistimewakan. Sedangkan aku, aku cuma remaja biasa yang... yang mau juga jatuh cinta seperti remaja lainnya!" ujar princess dengan nada hampir menangis.
Ya Tuhan. Why everything so heavy?
"Jangan nangis, dilihat banyak orang!" ucapku pelan sambil menatapnya lembut.
"Lebih baik Mbak pulang!" sergah Suryawijaya cepat.
"Gak! Baru jam delapan!" balas princess galak.
"Jangan membuat malu!" ujar Suryawijaya dengan nada memperingatkan. Tajam dan tak terbantahkan. Jelas, ini pasti sisi lain dari Ayahanda yang diturunkan padanya.
"Jangan lupa Mbak punya kewenangan untuk mengatur urusan Mbak sendiri, Sur! Mbak menjaga apa yang harus di jaga, tapi Mbak gak mau di kekang. Apalagi kamu cuma adikku!"
Mendadak semua menjadi ruwet. Pertengkaran antara adik dan kakak itu tidak terelakkan. Aku mengedarkan pandanganku, mencari bantuan. Tapi hanya si kecil tengil yang penuh dengan kelakar menyebalkan itu yang bisa memisahkan kedua kakak beradik ini.
Aku melepas tanganku untuk mencari ndomas Pandu, namun saat hendak beranjak berdiri, princess menarikku untuk kembali duduk di sampingnya.
"Ayo cium Lilah!" ajaknya dengan suara marah.
"APA! Jangan gila!" sergahku cepat, apalagi melihat rahang Suryawijaya mengeras. Dia jelas-jelas sedang marah pada kami.
"Mas Revi cinta sama Lilah kan? Mas Revi serius sama Lilah kan? Ayo sekarang cium Lilah!" ajaknya lagi dengan nada yang lebih rendah.
Semua orang memandang penuh minat. Terperangah dengan kejadian ini. Namun juga suka karena menjadi tontonan meriah.
Sungguh putri, kamu kesetanan apa sih. Kenapa kamu jadi seberani ini meminta aku menciummu. Jika kami hanya berdua, pasti aku akan melakukannya. Tidak di keadaan saat ini.
"Aku serius pacaran sama kamu, oke! Tapi aku gak akan pernah mengambil ciuman pertamamu. Karena aku menghargaimu sebagai seorang putri dan pacarku. Kamu istimewa, benar kata ndomas Suryawijaya. Kamu istimewa!" kataku dengan lembut kepadanya.
Princess lalu memelukku. Aku terkesiap dan mengangkat tanganku tinggi-tinggi.
"Bukan aku yang memeluk Mbakyumu, bukan aku!" kataku dengan cepat saat Suryawijaya menggeram kesal.
"Lilah sayang sama mas Revi! Lilah pulang dulu."
Aku hanya melongo saat princess melepas pelukannya lalu menggandeng tangan Suryawijaya dan berteriak. "Ndu... Pulang!!!"
Bocah tengil yang sedaritadi hanya seliweran dan menjadi penikmat suasana berjalan dengan santai mendekatiku. "Siap-siap dimarahi Ayahanda, mas Revi!" katanya dengan riang gembira. Lalu melesat cepat menghampiri kakaknya.
"Aku kenyang Mbak! Makasih ya mas Bas!" serunya sebelum hilang di ketiga anak bangsawan tadi lenyap dari pandanganku.
Ku hempasan badanku di atas sofa sembari memijit pelipisku.
"Gila, kejutan yang benar-benar gila!" ujar Baskara sambil menepuk pundakku.
"Terimakasih mas, ulangtahunku tidak akan meriah tanpa kedatanganmu!" ujarnya dengan tawa meledek.
"Jantungku masih deg-degan!" kataku sambil memegang dada, nafasku masih ngos-ngosan. "Kalau aku tadi benar-benar cium bibirnya, udah jadi tempat TKP rumahmu, Bas!" ujarku pada Baskara.
"Untungnya gak!" balasnya sambil tersenyum lebar. Lalu ia menggeleng,
"Dalilah benar-benar gila! Hanya demi membelamu dihadapan adiknya dan kami yang menyayanginya, dia sampai merendahkan dirinya sendiri. Aku salut dengan keberaniannya, tapi sayangnya Suryawijaya pasti tidak tinggal diam. Dia pasti bicara dengan orangtuanya tentang kejadian ini!" urai Baskara panjang.
Aku mengacak-acak rambutku kesal. "Itu yang aku takutkan!"
"Klise!" balas Baskara. "Sudah jelas, Dalilah akan dihukum karena sudah memeluk orang lain yang bukan sedarah dengannya. Atau mungkin hubungan kalian akan menjadi backstreet, aku gak tahu! Karena Dalilah memang sudah melanggar aturan."
Sungguh penjelasan Baskara tidak menyenangkan. Aku beranjak sambil melihat sekeliling. Beberapa teman masih ada, tersenyum kaku kepadaku. Aku melambaikan tangan, berpamitan.
Malam ini adalah pesta perayaan patah hati. Dan semua rencana untuk mengikuti keinginan Daddy menjadi anak disiplin benar-benar akan terlaksana tanpa kendala, tentunya tanpa membuat princess curiga karena kita mungkin tak lagi sama. Setelah ini, setelah pelukan hangat yang justru membuat sembilu hatiku.
...Happy reading....