"Kita putus saja, gue gak nyangka lo segendut itu, gue kira lo cuma montok saja. Sorry, gue gak suka sama cewek gendut." Begitulah isi pesan yang dikirim oleh Allan kepada Aline, setelah pertemuan pertama mereka.
Sejak saat itu, Aline bersumpah akan kurus dan melakukan diet ketat. Ia bertekad pas masuk SMA nanti, berat badannya sudah harus ideal.
Hem, entah jodoh atau kesialan, Aline malah satu SMA dengan Allan. Dan yang bikin ia makin spot jantung, mereka sekelas dengan posisi duduk berdekatan dengan si mantan nyebelin itu.
Apakah Aline dan Allan akan CLBK atau malah menjadi musuh bubuyutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evhae Naffae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kangen
Mantan Nyebelin
Bagian 29 : Kangen
Sejak dari tadi sore sampai malam, tepatnya pukul 21.00, mataku tak berhenti meneteskan air mata. Ponsel juga tak lepas dari tangan, tak sabar rasanya menanti kabar dari Allan. Apakah dia udah nyampai apa belum? Terus alasan dia pergi, kenapa? Lalu sekarang dia ada di mana?
Taklama kemudian, ponselku berdering, ada panggilan video dari Allan. Hati ini langsung bersorak senang, yang ditunggu-tunggu muncul juga.
Aku berlari turun dari tempat tidur, lalu menuju cermin. Memoles bedak dan sedikit lipstik. Allan gak boleh melihat kesedihanku karena kepergiannya. Aku harus terlihat biasa-biasa saja.
Aku kembali ke tempat tidur, lalu berbaring, berpura-pura baru bangun dari tidur. Segera kugeser tombol hijaunya. Wajah mantan nyebelin itu langsung menghiasi layar ponsel.
"Hay, udah tidur belum?" sapanya. Ia terlihat sedang duduk di atas tempat tidur.
"Hemm, baru bangun tidur gue," jawabku sambil pura-pura menguap.
"Oh, ya?" Allan menaikkan sebelah alisnya, seakan tak percaya dengan yang kukatakan.
"Iya."
"Udah makan belum, Ndut?"
"Udah."
Yeah, padahal belum. Gue mikiran lo melulu, jadi gak napsu makan. Huaaaaa ....
"Masih ngantuk, ya?"
Aku pura-pura menguap lagi, lalu menganggukkan kepala.
"Ya udah kalau gitu, tidur lagi deh .... " ujarnya sambil berbaring.
Ya ampun, dia malah nyuruh gue tidur lagi. Padahal masih kangen, masih pengen ngobrol dan liatin wajahnya yang sekarang jadi ngangenin.
"Ndut, kok malah melamun?" tanyanya sambil tersenyum, tentunya dengan pamer lesung pipi andalan.
"Eh, nggak kok." Aku jadi salah tingkah.
"Ya udah, bye ... bye ... my wife." Allan melambaikan tangan lalu mengakhiri panggilan.
Ya ampun, aku ini kenapa sih? Kok gak bisa bersikap manis sih sama dia? Tuh, kan ... kayaknya aku mulai sayang lagi deh sama dia tapi tetap harus jaim.
Tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk. Dengan cepat, langsung kuraih ponsel dan membukanya. Ternyata satu pesan dari Allan.
[Ndut, marah ya?]
[Nggak.] Langsung kukirimkan balasan padanya.
[Kangen gue gak?]
[Nggak.]
[🙄🙄🙄]
[Lo kenapa pergi? Ke mana?] Pertanyaan itu kuketik juga, masih penasaran akan alasan kepergian dia yang menurutku tanpa sebab itu.
[Gue di rumah bokap.]
[Kenapa?]
[Biasalah, my wife, anak korban broken home ya gini. Berantem sama mama, malah dioper ke rumah papa.]
[Hemmm]
[Iya.]
[🙄🙄🙄]
[Hahaaa ..... ]
[Serius!!!😤] Aku masih gak percaya itu alasan Allan pergi.
[Sebenarnya ... tapi lo janji jangan bilang siapa-siapa ya? Ini cuma rahasia kita berdua aja.]
[Iya. Apa?] Aku makin penasaran.
[Gue hampir gak naik kelas. Makanya nyokap opor gue tinggal ama bokap, biar gak bandel lagi katanya. Nyokap kewalahan, gak sanggup dia 😁😁😁]
[Kok gitu?]
[Nyokap juga tahu kalo gue sering ngilang malam-malam dari kamar. Dia ngiranya gue pergi dugem, padahal ngelonin istri masa depan gue 😂]
[Issssshhh 😒]
[My wife, gue di sini cuma sampai tamat SMA aja kok. Kalo udah kuliah, baru boleh balik tinggal ama nyokap lagi. Tunggu gue ya! Selama gue gak ada, jangan pacaran ama siapa pun! Gue gak rela 😡 ]
[🙄🙄🙄]
[Jangan macam-macam lo selama gue gak ada, mata-mata gue banyak di sana! Lo istri masa depan gue, cuma gue yang berhak atas lo!]
Ya ampun, segitunya amat. Pakai ngancam segala. Issss, lagi-lagi istri masa depan. Gak kubalas pesannya.
[Ya udah buruan tidur, besok pagi gue video call.]
[Iya.]
[😘😘😘😘]
[🙄🙄🙄🙄]
[😁]
Yah, itulah Allan, seseorang yang selalu terlihat tanpa beban walau sebenarnya dia banyak masalah. Seseorang yang bisa membuatku nyaman saat bersamanya, walau tak jarang selalu bikin jengkel.
Oke, aku bakalan nungguin kamu kok, Dinosaurus nyebelin. Tapi, aku gak bisa bayangi hari-hari yang bakal terlewati tanpamu. Dua tahun itu lama, belum 24 saja aku udah kangen dia. Huaaaaa ....
Hemmm, antara Allan dan Kak Raka. Kayaknya aku emang lebih nyaman ama Allan deh. Dengannya, aku bisa menjadi diri sendiri dan tampil apa adanya. Walau hubungan kami masih tanpa nama begini.
********
Saat pagi menjemput, langsung kuraih ponsel dan berharap ada pesan dari Allan.
Hemmm, gak ada. Dia lagi ngapain ya? Kok jadi mikirin dia terus? Waktu dekat aja, aku selalu jengkel sama dia, kok pas jauh gini ... malah kangen terus.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu dan suara Kak Andine memanggil namaku.
Yeah, mau ngapain? Lupa apa, kalau ini hari libur sekolah. Dengan bersungut-sungut kesal, segera kulangkahkan kaki menuju pintu.
"Ada apa, Kak? Ini hari libur sekolah," ujarku setengah mengomel ketika membuka pintu kamar.
"Hey, sensi amat! Di meja makan ada dibeliin Bang Aldi bubur ayam tuh, kalo gak mau ... ya udah. Berarti buat kakak aja deh," jawab Kak Andine sambil ngeloyor menuruni anak tangga.
Hemmm, bubur ayam, baunya udah tercium dari sini. Perutku langsung bersorak minta diisi, 'kan dari kemarin siang belum makan. Aku langsung mengikuti langkah Kak Andine menuju dapur lalu menyantap bubur ayam itu hingga tak bersisa.
Setelah perut sudah kenyang, aku kembali berlari ke kamar. Kemudian meraih handuk dan mandi.
*******
Setelah selesai mandi dan berpakaian, kembali kuraih ponsel dan mengecek apakah ada panggilan atau pesan dari 'mantan ngagenini' itu. Ceilehhh, sekarang dia udah naik level jadi ngangenin Aku senyum-senyum sendiri.
Taklama kemudian, nama Allan langsung terpampang di layar ponsel. Yes, aku lamain dikit deh menerima panggilan video darinya, biar gak terkesan kayak nunguin gitu. Heheee
Setelah beberapa detik, barulah kugeser tombol hijaunya. Tampaklah wajah bangun tidur dari seberang sana, ia masih bergulung dalam selimut.
"Selamat pagi, my wife. Mmmuaahh .... " sapanya sambil mengecup ponsel.
"Ihhh, gak usah jorok gitu deh!" Aku pura-pura merengut. Seperti biasa, dengan tatapan jengkel.
"Hahaaaa .... " Allan langsung terbahak.
"Kok udah cantik gitu, mau ke mana?" tanyanya.
Ya elah, tumben bilang gue cantik? Biasanya juga bilang gendut!
"Ih, mau tahu aja!" ketusku.
"Eh, lo gak boleh ke mana-mana! Gue sebagai suami masa depan lo kagak kasih izin lo ke mana pun!"
Hemmm, gue dandan cantik cuma buat lo, ****! Cuma karena mau video call ama lo. Aku manyun dan ngedumel dalam hati.
"Iya, iya," jawabku malas.
"Nah, gitu. Jadi istri yang baik dan penurut napa? Gini-gini gue suami lo!"
"Udah deh, gak usah ngomel melulu, capek gue!" Kuhempaskan tubuh ke tempat tidur.
"Hemmm." Allan melengos.
"Ndut, gue kangen lo," ucapnya dengan tampang serius.
Aku menahan senyum, rasanya senang banget mendengar kata 'kangen' itu.
"Lo kangen gue gak?" tanyanya.
"Nggak!" jawabku ketus seperti biasanya.
"Bagus deh! Kalo lo bilang kangen, gue bakalan terbang nyamperin lo ke sana sekarang juga. Hahahaa .... "
"Ya elah .... "
"Ya udah, gue mau lanjut tidur lagi. Lo jangan ke mana-mana, tungguin gue sampai bangun tidur!"
"Ishhhh .... " Aku manyun.
"Hahaaaa, I love you, ndut."
"Apa?!" Aku melotot kaget, apa? Dia bilang apa barusan? Aku kok mendadak budek begini? Aku berusaha menyakinkan indra pendengaran yang rada error.
"Gak ada apa-apa. Ya udah, bye ... bye .... " Allan melambaikan tangan lalu memutuskan sambungan telepon.
Kuhembuskan napas sambil memegangi telinga. Salah dengar gak sih tadi, Allan ada bilang 'I love you'. Aduhhh, Si Dinosaurus nyebelin bikin gue makin baper aja. Awas aja lo kalo berani mainin perasaan gue lagi! Gue jitak lo!
Bersambung ....