"Kamu pikir aku memperhatikanmu? Aku hanya khawatir dengan lingkunganmu. Akan ku habiskan yang berani mengganggumu,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon musbich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
PARIS POINT OF VIEW:
Dhika membawaku pergi dari gedung itu seraya menggenggam tanganku erat. Seorang perempuan cantik berjalan dengan tergesa gesa menenteng tas mahalnya dan rasanya sengaja berhenti di depan kami berdua.
“Dhika,” panggilnya pelan terlihat keraguan di matanya.
Dhika berhenti dari langkah nya dan mematung di tempat menatap perempuan itu, sepersekian detik dia tersadar dan bersikap sewajarnya seorang Dhika, dingin.
“Bisa kita bicara?” Tanya perempuan itu.
“Aku sibuk,” sahut dhika datar hendak melangkahkan kakinya pergi.
“Bukan tentang kita,” kata nya menahan lengan dhika.
“Tentang apapun itu, aku tidak bisa. Hargai perempuan di sampingku,” sahut nya dingin.
“Ah, maaf,” sahut perempuan itu dengan raut muka tidak enak hati seraya melepaskan tangan nya dari lengan Dhika.
“Berbicara bertiga kalau begitu,” pinta perempuan itu penuh harap.
Kami bertiga duduk di kursi yang ada dalam lorong gedung tersebut, dhika menggenggam tanganku dengan possessive seakan akan aku akan hilang saja.
Mereka berdua terdiam cukup lama dan tidak memulai obrolan, ada apa memang nya? Perempuan dengan perawakan tinggi berwajah oriental itu memainkan jarinya di ujung dressnya, terlihat keraguan di raut wajahnya.
“Aku—“
“Ada apa?” Tanya dhika memotong ucapan perempuan itu.
“Terimakasih sudah menjaga adikku sampai saat ini hingga dia benar benar menjadi dokter bedah,”
“Aku menjaganya bukan karenamu, tapi karena dia memang berada di bawah bimbinganku. Jadi jangan berpikiran macam macam,” sahut dhika dingin.
“Iya, aku paham. Kebetulan aku ada di Indonesia sudah 2 bulan ini,”
“Aku tidak menanyakan tentangmu,” kata dhika menatap lurus tanpa melihat perempuan itu.
“Tadi adikku meminta pertolongan padaku untuk kasus yang menjeratnya saat ini, untuk itu aku menemuimu,”
“Aku bukan pihak kepolisian, kamu mau menyuapku?” Tanya dhika tersenyum sinis.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Shane, tapi kamu mengenal baik tentang adikku. Shane tidak mungkin membunuh wanita itu,” kata perempuan itu menjelaskan meminta persetujuan dari dhika.
“Ceritakan pada polisi saja, jangan padaku,”
“Aku tahu jika jaksa Erika Putri Deisanto adalah saudaramu, tolong bawa aku pada nya,” kata perempuan itu yang membuatku membelalakkan mataku.
Saudara?
Saudara apa ini?
Kenapa aku tidak tahu. Pantas saja jaksa Erika datang ke acara pernikahan kami, tapi dia datang sebagai sahabat dhika bukan sih? Bodoh amat! Toh pada saat pernikahan, aku bersikap masa bodoh dan tidak memperhatikan semua saudara dhika yang seabrek itu. Aku tidak bisa menghafal mereka satu persatu, terlalu banyak.
“Selamat siang dokter Yesha Djanu,” jaksa Erika tiba tiba muncul di antara kami.
“Aku—"
“Aku sudah mendengarnya, anda pikir saya penegak hukum yang bisa disuap?” potong jaksa Erika.
“Bukan begitu maksud saya,”
“Lalu bagaimana?” Tanya jaksa Erika.
“Saya yakin adik saya tidak bersalah,”
“Dokter Shane Djanu adik anda? Jika anda yakin dia tidak bersalah, maka serahkan semuanya pada pada pihak berwajib,” kata jaksa Erika.
“Bicaralah berdua, aku masih ada keperluan lain,” kata dhika mengedipkan mata pada Erika.
Mobil yang dikemudikan Dhika membelah jalanan, melewati beberapa lampu merah dan perempatan. Hingga dia memarkirkan mobilnya di salah satu tempat makan.
Kami memesan beberapa makanan ang terlihat menggiurkan gambarnya melalui buku menu.
“Dokter tadi cantik sekali,” kataku bercanda karena tiba tiba suasana mendung berkumpul di atas kepalanya membuatnya terlihat semakin beku.
“Biasa saja,” sahutnya singkat.
“Kalian pernah kenal sebelumnya?
“Menurutmu?” tanyanya masih dengan tatapan dingin.
“Aku rasa pernah saling mengenal karena dia tahu namamu,”
Kami terdiam beberapa saat karena dhika menjadi dingin lagi, sangat dingin. Aku mengaduk minuman yang ada di depanku menggunakan sedotan.
“Dia kakak tersangka, dia kakak dari dokter Shane Djanu?” tanyaku ingin mencairkan suasana.
“Hem,”
“Kamu terlihat sangat menyayangi adiknya,” kataku tersenyum.
“Kenapa? Kamu cemburu?”
“Tidak! Mana mungkin aku cemburu pada pria, dia dokter tampan,” celetukku.
“Beraninya kamu memuji pria lain di depan suamimu,” kata dhika menatapku.
“Dia masih berondong, aku tidak berminat,” sahutku cepat.
“Jaman sekarang banyak janda dapatnya berondong,” celetuk dhika yang membuatku terkekeh.
“Kenapa tertawa? Kamu menghayal jadi janda dan dapat berondong?” Tanya dhika yang membuatku keselek minuman.
Apa apaan dia itu?
Liar sekali pikiran nya!
“Kamu dan jaksa Erika sebenernya saudara?” tanyaku setelah terdiam sesaat.
“Ya, dia putri dari Madhe,”
“Jadi kalian sepupu? Kenapa aku baru tahu!”
“Karena kamu tidak bertanya,” sahut dhika.
“Dia ke pernikahan kita membawa kado dan bilang datang sebagai sahabatmu,”
“Dia memang sahabatku,”
“Tapi kalian saudara yang aneh, terkadang bahkan terlihat saling menjatuhkan saat bekerja,” kataku.
“Kita hanya bersikap professional saat bekerja, dan kami memang menyembunyikan status kami. Tidak ada yang tahu jika kami saudara,” kata dhika mulai menyantap makanan yang di sodorkan oleh waitress.
“Aku benar benar malu padanya,” kataku menutup wajahku.
“Kenapa harus malu?” Tanya dhika mengerutkan keningnya.
“Aku pikir dia hanya sekedar rekan kerja, seharusnya aku memperlakukannya sebagai saudaramu,” kataku.
Aku malu karena sering menjelek jelekan Dhika di hadapan jaksa Erika. Matilah aku, apa jaksa Erika akan membocorkannya pada Dhika???
DHIKA POINT OF VIEW:
Kami berdua pulang cukup larut, ku lihat Erika sedang duduk di ruang tamu seraya menyilangkan kakinya bersama mamaku.
“Paris, apa aku bisa bicara berdua saja dengan Dhika?” Tanya Erika meminta ijin pada Paris.
“Tentu saja boleh,” kata Paris mengembangkan senyumannya dan berlalu menuju kamar.
Sekarang tinggallah kami bertiga di ruang tamu. Ada aku, Erika dan juga mama yang sibuk membolak balikkan majalah.
“Kata Erika, Yesha kembali ke Indonesia?” Tanya mama padaku.
“Ya,” sahutku singkat.
“Kamu tidak apa apa?” Tanya mama menatapku khawatir.
“Memangnya dhika kenapa, ma?” tanyaku datar.
“Maafkan mama, mama memaksakan pernikahanmu dan paris. Mama tidak tahu jika dia akan kembali,” kata mama cepat.
“Hubunganku dengannya tidak ada sangkut pautnya dengan pernikahanku dengan Paris. Aku dan Yesha sudah memutuskan hubungan lama sebelum pernikahan itu terjadi, jadi ku rasa tidak perlu membahas ini lagi,” sahutku.
“Apa Yesha tahu jika kamu sudah menikah?”
“Aku rasa belum,”
“Mama hanya teringat pada hubungan mama dengan papamu dulu, kami berdua juga berbeda agama tapi cinta kami begitu dalam. Mama sampai lupa bertanya apa kamu dulu berhasil menemukan jalan keluar untuk hubungan kalian? Kalian sama sama cinta?” kata mama menghembuskan napasnya berat.
“Sudahlah, ma. Itu sudah berlalu, dhika tidak ingin membahasnya,” sahutku.
“Mama tidak bermaksud memaksamu menikah dengan Paris. Hanya saja mama khawatir dengan keadaanmu setelah berpisah dengan nya, kamu bahkan tidak mau membuka hatimu pada perempuan lain,” kata mama.
“Apa kalian berdua menungguku pulang hanya untuk membahas ini? Sedang mengkhawatirkanku?” tanyaku tersenyum menatap Erika yang hanya terdiam.
“Aku tidak sedang mengkhawatirkanmu,” sahut Erika.
“Lalu?” tanyaku menatap Erika.
“Aku sedang mengkhawatirkan istrimu,”
“Paris?”
“Ya, ku harap kamu menjaga jarak dengan dokter Yesha setelah pertemuan tadi,” kata Erika memperingatiku.
“Kamu tenang saja, aku bukan anak kecil yang perlu kamu ingatkan,” kataku santai.
“Aku sedang bicara serius, Dhika. Aku sedang memperingatimu,”
“Aku juga sedang menjawabmu dengan serius,” sahutku.
“Kamu akan berhadapan denganku jika menyakiti Paris, Dhika,” kata Erika.
“Menghadapimu sangat mudah,” kataku terkekeh.
⭐⭐⭐⭐⭐🙏🙏
sehat sehat sll yaa 🤗
terimakasih cerita menghiburnya thor..👍👍