Berawal dari menolong seorang laki-laki yang habis-habisan di hajar oleh ketiga preman. Maila juga harus bertemu kembali dengan laki-laki itu di sekolah barunya. Yang ternyata laki-laki itu adalah kakak kelasnya sendiri, yang merupakan laki-laki populer di sekolah. Yang ternyata namanya adalah Larbi.
Bukan hanya itu. Larbi juga terus mengusik dirinya. Sehingga, membuat Maila sebal pada Larbi sendiri. Namun, tanpa mereka sadari. Pertemuan mereka ada hubungannya dengan masa lalu mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara Di Aula.
"Hmmm... Gue udah cantik!" ucap Lita pada dirinya sendiri sambil memandangi dirinya di depan cermin besar milikku. Sedangkan Rini ia sedang merapihkah rambutnya dengan menggunakan sisir milikku. Sedangkan aku, aku sedang memakai make up di wajahku.
Kami sedang bersiap-siap untuk pergi ke acara The Refour Band yang di adakan di sekolah, dan tepatnya di ruang aula. Lita dan Rini datang ke rumahku dengan menaiki mobil milik Lita, mereka datang ke rumahku untuk bersiap-siap bersama. Kami bertiga memakai baju couple yang sudah kami beli di mall kemarin. Dengan rok bahan selutut, baju kaos polos, dan juga jaket jeans berwarna biru langit. Yang membedakan baju kami adalah warna baju kaos yang kami pakai, warna kaos yang ku pakai berwarna putih, Lita memakai warna pink, sedangkan Rini ia memakai warna cream. Sedangkan rok selutut yang kami pakai berwarna hitam.
"Udah belum nih, siap-siapnya? Acaranya di mulai setengah delapan. Dan sekarang baru jam tujuh," ucap Lita pada kami berdua sambil memandangi jam tangannya.
"Udah! Yuk!" ucapku selesai memakai make up.
"Bentar gue pakai sepatu dulu," ucap Rini setelah merapihkan rambutnya, dan memakai sepatunya yang berwarna putih copule denganku dan juga Lita. Aku dan Lita sudah memakai sepatu sedari tadi, jadi kami tinggal menunggu Rini yang belum memakainya.
"Udah, yuk!" ucap Rini yang tak lama kemudian selesai memakai sepatunya.
"Lo ngapain pakai topi sih? Lo udah cantik rambut lo di kuncir ekor kuda begitu!" protes Lita pada Rini yang memakai topi berwarna cream miliknya yang senada dengan kaos polosnya. Soal pashion dan style Lita lah jagonya, bahkan saat memilih baju couple ia lah yang memilih, sedangkan aku dan Rini hanya mengikuti pilihannya. Dan pilihannya pun sangat memuaskan.
"Biarin! Gue yang mau!" bantah Rini. Rini memang terlihat tomboy diantara kami bertiga.
"Tapi lo juga cantik sih pakai topi." Puji Lita pada Rini.
"Ya pasti cantiklah! kan cewek," ucap Rini.
"Ok, yuk kita berangkat sekarang, takut kita terlambat," ucapku pada mereka berdua, dan mereka hanya mengangguk untuk mengiyakan.
"Yuk!" seru Lita.
Kami bertiga terlihat sangat kompak dengan baju couple yang kami pakai sekarang ini. Kami beranjak menuruni anak tangga untuk turun ke bawah. Aku menghampiri ayah dan ibu yang sedang duduk di sofa dengan di ikuti Lita dan Rini di belakangku. Ayah nampak sedang menikmati kopi, sedangkan ibu tengah asik menonton tv.
"Wah mau kemana kalian? Kompak betul?" ucap ibu nampak takjub melihat kami bertiga.
"Kami mau ke acara Band di sekolah, bu!" ucapku.
"Kamu mau naik mobil sendiri?" tanya ayah padaku, dan aku hanya melirik ke arah Lita, begitu pun Lita yang sama-sama melirikku.
"Eummm... Om, Maila biar bareng naik mobil saya aja. Biar kita nggak jauh-jauhan, nanti saat pulang saya akan mengantarkan dia lagi untuk pulang," ucap Lita pada ayah.
"Ya sudah kalau begitu," ucap ayah. Dan kami pun bergembira senang.
"Tapi ... " ucap lagi ayah dengan menjeda ucapannya. Kami bertiga pun terdiam, karena tidak tahu apa yang akan di ucapkan ayah selanjutnya.
"Tapi apa ayah?" tanyaku begitu penasaran dan bingung.
"Jaga anak om, jangan biarkan dia kelayapan!" ucapnya.
"Pasti om!" ucap Lita dengan bersemangat.
"Kalo bisa kami borgol om, biar Maila nggak ngilang," timpal Rini yang membuat kami terkekeh mendengarnya.
"Ya sudah, cepat-cepat berangkat. Nanti terlambat," ucap ibuku. Dan aku pun meraih tangan ayah untuk menciumnya, dengan di ikuti Lita dan juga Rini. Lalu langsung meraih tangan ibu untuk mencium juga.
"Kalian hati-hati ya! Jangan pulang terlalu larut malam," ucap ibuku dan kami bertiga hanya mengangguk untuk mengiyakan.
"Assalamualaikum," Ucap kami bertiga.
"Waalaikumsalam." Jawab ayah dan ibu bersamaan.
Kami bertiga menuju mobil merah milik Lita, yang terparkir di depan rumahku. Aku duduk di depan bersama Lita, karena Lita yang menyetir mobilnya sendiri. Sementara Rini ia duduk di belakang sambil asik memainkan game online di ponsel miliknya.
Setelah lama Lita menyetir mobil untuk sampai ke sekolah, akhirnya sampai juga. Ia memarkirkan nya di parkiran sekolah khusus mobil. Kami keluar dan turun dari dalam mobil. Nampaknya sekolah sudah ramai, banyak siswa dari kelas 10-12 datang kesini untuk bersenang-senang dan menyaksikan acara The Refour Band. Bahkan untuk menghindari kejadian yang tidak menyenangkan, para OSIS yang menjadi petugas keamanan disini.
"Ramai banget!" ucap Lita.
"Iya, mending kita langsung ke aula. Sekarang udah jam setengah delapan." Ucapku sambil memandangi jam tangan kecil milikku. Kami bertiga pun langsung menuju aula untuk menyaksikan acara Band tersebut. Karena waktu acaranya segera di mulai.
Setelah sampai di aula, nampak nya aula sudah penuh di isi oleh siswa-siswa yang ingin menyaksikannya. Bahkan kami bertiga ke susahan untuk menuju ke depan dekat panggung band tersebut. Banyak siswa perempuan meneriaki nama Kak Jova, sehingga terdengar bising disini.
Jova!
Jova!
Jova!
Jova!
Jova!
"Ih! berisik banget sih? Udah kayak tukang baju obralan di pasar!" gerutu Rini, yang nampak kesal karena teriakan mereka.
"Bisa budek telinga gue kalo kayak gini?!" gerutunya lagi.
"Udah susah nafas lagi, karena kebayakan manusia disini!" gerutunya lagi. Ya, memang karena kebanyakan siswa yang sudah berada disini, sehingga terasa pengap di dalam aula.
"Huh! Gue pengen keluar dari aula!" ucap Rini yang nampak kesal, sambil beranjak hendak keluar dari aula.
"Eh, bentar lagi acaranya di mulai!" ucap Lita mencegah Rini yang hendak pergi.
"Gue nggak peduli! Yang penting gue tetap bisa nafas, dari pada di kerumuni manusia disini, bisa-bisa gue bengek pas pulang ke rumah," ucap Rini yang nampak sebal.
"Lagian, gue nggak bakal jauh-jauh. Nanti gue ada di warung bi Sumi, di depan sekolah," ucapnya lagi sambil beranjak keluar dari aula.
"Heh, tunggu dong! Lo gimana sih? Belum juga di mulai acaranya, udah bengek duluan!" ucap Lita pada Rini.
"Udahlah, nggak papa. Biarin!" ucapku.
Nging!
Terdengar suara mic berdenging di depan. Nampak kak Anggi sedang memegang mic tersebut. Suara yang tadinya gaduh memanggil nama kak Jova sekarang tidak ada, semua terasa sunyi. Mereka nampak terdiam dan memperhatikan kak Anggi yang berada di atas panggung dengan memegang sebuah mic.
"Assalamualaikum warrahmatullahi wabbarakattuh!" ucap kak Anggi membuka pembuka acara.
"Waalaikumsalam warrahmatullahi wabbarakattuh!" jawab serentak semua orang yang berada disini.
"Sebelum acaranya di mulai, mari kita berdoa terlebih dahulu menurut kepercayaan kita masing-masing. Berdoa di mulai... " ucap kak Anggi. Kami semua pun langsung berdoa menurut kepercayaan kami masing-masing.
"Berdoa selesai!" ucap kak Anggi.
"Agar acara terlaksana dengan baik, dan tidak menimbulkan kejadian yang tidak di inginkan. Saya sebagai ketua OSIS disini, ingin mengemukakan aturan-aturan yang sudah di buat oleh para OSIS untuk semua siswa yang menyaksikan acara Band disini. Dan saya harap kalian semua yang menyaksikan, bisa mematuhi dan mengikuti aturan-aturan tersebut..." Ucap kak Anggi dengan begitu berwibawa.
"Dengarkan baik-baik!"
"Aturan-aturannya adalah di larang ribut, bertengkar, membuat kegaduhan, atau pun semacamnya yang bisa membuat acara ini menjadi kacau. Selain itu, bila ada di antara kalian semua yang melanggar aturan tersebut, akan di keluarkan secara paksa dari aula oleh kami para OSIS, yang menjaga ke amanan disini..." ucap Anggi dengan memperlihatkan para OSIS di sampingnya, dan disitu terlihat Larbi disana. Ia melirik ke arahku, walaupun jauh, tapi ia tetap bisa melihatku. Sementara aku enggan untuk melirik ke arahnya.
"Selain di keluarkan secara paksa, kami juga akan memberikan hukuman bagi yang melanggar aturan tersebut, yang akan memberikan hukuman tersebut adalah pak Iwan. Dan.. Kami juga akan mengawasi kalian semua, jadi jangan coba-coba untuk melanggarnya. Itu lah aturannya, jadi kami harap kalian bisa mengikuti aturan tersebut." Kini kak Anggi mengeluarkan nada bicaranya sedikit lantang.
"Paham?!" tanya kak Anggi kepada kami semua.
"Paham!" jawab serentak kami semua.
"Kalau begitu mari kita langsung ke acaranya!" seru kak Anggi. Semua orang nampak bergembira senang. Kak Anggi pun memberikan mic tersebut kepada kak Jova.
"All of are you ready?!" tanya kak Jova dengan begitu semangat.
"Ready!" jawab semua orang yang berada disini dengan begitu semangat juga. Lantas suara drum mulai terdengar menggebu-gebu, dan gitar elektrik yang mulai terdengar, begitu juga dengan suara keyboard. Semua nampak bergembira riang ketika kak Jova mulai bernyanyi. Sedangkan aku, aku terasa pengap seperti Rini. Karena segitu banyak siswa disini berkerumun, membuat terasa pengap dan gerah. Aku juga merasa haus, dan ingin minum.
"Lit, gue haus!" ucapku.
"Apa lo bilang? gue nggak denger!" ucap Lita yang mungkin tidak mendengar ucapanku karena suara nyanyian begitu keras, dan di tambah dengan kehebohan para siswa disini yang sedang menyaksikan.
"Gue bilang! Gue haus, pengen minum!" ucapku dengan nada yang keras di depan Lita.
"Haus?" tanyanya.
"Iya gue haus, gue beli minum dulu ya? di warung bi Sumi. Sambil nyamperin Rini!" ucapku.
"Terus gue sendiri dong disini?" tanyanya.
"Kalo lo mau masih pengen liat acara, ya lo sendirian," ucapku yang sudah tidak tahan ingin segera keluar dari dalam aula.
"Ya udah, gue ikut! Gue juga haus!" ucapnya sedikit mengeluh sama sepertiku. Kami berdua pun beranjak ke luar dari aula. Aku merasa kesusahan ketika ingin keluar karena begitu ramai. Dan tak lama kemudian kami berdua akhirnya bisa keluar, aku dan Lita menghela nafas dengan lega, karena akhirnya bisa keluar dari kerumunan siswa-siswa tersebut.
"Akhirnya kita bisa keluar dari mereka semua." Ucap Lita dengan mulai lega ketika keluar dari aula.
Jangan lupa like, komen, vote, dan rate.
Oh, jadi gitu. Syukurlah, ingatan kamu balik Larbi. Semoga, kalian bisa semakin dekat lagi, ya!🥰🥰
Benar! Cinta pasti akan ada coba dan uji. Tidak mungkin akan selalu mulus² saja. 👍🏻❤️
Tetap semangat ya Dek! Semoga, Allah selalu menjaga dan melindungi kamu serta membimbing kamu di mana dan kapanpun itu. Sehat terus! Aamiin!!
Sukses terus buat kamu, Dek!🥰👍🏻❤️
like😍
tetap semangat thor
ditunggu karya barunya💪
Kita tidak bisa menentang takdir yang sudah di tetapkan! 🤧🤧