McLaren Valkiry, terlahir sempurna dengan ketampanan dan kekayaannya juga statusnya sebagai putra dari seorang bangsawan Inggris.
Prinsifnya yang tidak mempercayai pernikahan malah membuatnya terpaksa menikah dengan wanita yang tidak dikenalnya.
Maureen adalah seorang gadis cantik yang terpaksa menikah dengan McLaren karena kejadian yang tidak mengenakkan.
Bagaimana kisah selanjutnya apakah mereka bisa lari dari pernikahan? Atau malah jadi saling jatuh cinta?
Follow IG@rr_maesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-27 Rasa memiliki
Maureen turun dari mobilnya Mac yang digunakan untuk operasional rumahnya, dia ditemani oleh supir Mac yang tinggal dirumah itu.
Maureen memasuki gedung itu, dia bertanya pada receptionis, dimana tempat temannya Mac merayakan ulangtahunnya.
Setelah mendapat petunjuk, Maureen segera ke tempat club malam itu.
Saat memasuki pintu club itu sudah terdengar hingar bingar music. Mata Maureen mencari-cari dimana Mac berada. Beberapa laki-laki yang ada disana mencoba mendekatinya, tapi Maureen cuek saja, dia terus masuk club itu mencari-cari Mac.
“Hai cantik, kau temannya Paul?” tanya seorang pria yang melihatnya.
“Bukan, aku mencari suamiku, Mac,” jawab Maureen.
“McLaren? Kau istrinya McLaren?” tanya Pria itu lagi seakan tidak percaya, dia menatap Maureen.
“Iya aku istrinya,” jawab Maureen lagi.
“Dia ada disudut sana dengan teman-teman yang lain,” kata pria itu lagi, smabil menujuk ke arah sofa-sofa yang memanjang.
“Terimakasih,” jawab Maureen.
Maureen kembali masuk kedalam club itu menuju arah yang ditunjuk pria tadi. Hingar bingar music dan lampu yang temaram, kadang gelap kadang terang membuat penglihatannya kesulitan mencari Mac.
Belum juga terlalu dekat, langkahnya terhenti pada sosok pria yang duduk disofa memunggunginya dan yang membuatnya terkejut adalah melihat pria yang memakai kemeja biru muda itu sedang berciuman mesra dengan seorang wanita sexi.
Melihat suaminya menciumi wanita itu dan tangan wanita itu merangkul leher suaminya, hatinya seketika serasa diris iris.
Maureen memangdangnya dengan perasaan yang bercampir aduk. Meskipun dia dan Mac belum ada jalinan cinta, karena status Mac adalah suaminya, melihat suaminya bercumbu mesra dengan wanita lain, rasanya begitu menyakitkan.
Kalau dikatakan cemburu, apa benar cemburu? Dia yang menjadi istri sahnya saja tidak diperlakukan seperti itu, malah Mac begitu membencinya. Disebut tidak cemburu, kenapa hatinya terasa sakit? Dan ini..matanya ini, ternyata ada tetesan airmata yang tidak tertahankan membasahi pipinya Maureen. Ternyata begitu menyakitkan menjadi wanita yang tidak diinginkan suaminya.
Apalagi yang harus dilakukannya? Apakah dia harus memarahi suaminya? Memarahi wanita itu? Dimana letak salah suaminya? Bukankah suaminya tidak mencintainya? Tapi Mac adalah suaminya, ya suaminya sekarang, tapi dia bisa menceritakannya kapan saja. Posisinya sangat lemah dalam pernikahan ini.
Akhirnya Maureen memutuskan untuk berbalik arah dan meninggalkan club malam itu. Sepanjang jalan dia menangis, sudah dicoa ditahannya tapi juga tetap saja airmatanya terus keluar.
Di club malam itu…
Wanita itu mendorong pria yang menciuminya itu.
“Jack, kau membuatku tidak bisa bernafas,” keluh wanita itu. Si pria malah tertawa.
“Kau sangat cantik malam ini,” jawab pria itu yang ternyata bernama Jack.
“Jack, kemana Mac?” tanya seorang pria menghampirinya.
“Dia sedang bicara dengan Paul disana,” jawab Jack sambil membetulkan letak duduknya, tangannya menunjuk kearah lain.
Mata pria itu menoleh kesana bersamaan dengan munculnya dua orang pria, Mac dan Paul.
“Mac, tadi ada istrimu mencarimu,” kata pria itu.
“Istriku? Kau bercanda?” tanya Mac, tampak terkejut
“Benar,” jawab pria itu lagi.
“Jangan menggodaku, Antonio. Istriku tidak mungkin kesini,” ucap Mac tidak percaya, sambil matanya melihat ke sekeliling.
“Aku berkata serius, tadi dia bilang aku istrinya Mac, aku sudah menyuruhnya kesini, tapi ko tidak ada ya? kemana dia? ” kata pria itu yang ternyata Antonio, temannya Mac.
Mac mengerutkan keningnya, apa benar Maureen datang mencarinya? Tapi kenapa tidak ada?
“Coba kau cek handphone-mu, mungkin sudah dari tadi dia menelponmu,” saran Paul.
Mac mengeluarkan handphone-nya dari saku jasnya yang berwarna biru tua, yang dipadu padankan dengan kemeja biru langit didalamnya. Benar saja, banyak nomor miscall dari Maureen.
“Sebaiknya kau pulang, kalian kan pengantin baru, jangan membuat istrimu marah,” usul Antonio.
“Benar, bercumbu sana dengan istrimu, daripada kau melihat teman-temannmu bercumbu disini,” kata Jack sambil tertawa dan tangannya menarik lagi pinggang wanita tadi lalu mereka berciuman lagi, tidak peduli dengan lingkungan sekitar.
Sebenarnya Mac malas utuk pulang, tapi mengingat Maureen yang sengaja datang ke club itu membuatnya bertanya-tanya apakah ada yang penting? Tapi ah buat apa memikirkan Maureen? Dia itu siapa? Hanya wanita yang terus saja mengikutinya kemanapun dia pergi, fikir Mac.
“Sudah Mac, kau pulang saja, kalian kan pengantin baru, pasti istrimu kehilanganmu,” kata Paul.
“Kalau dia mencariku, tapi kenapa dia tidak ada disini? Sangat aneh,” ucap Mac.
“Ya makanya mending susul dia,” saran Antonio.
“Ya sudahlah aku pulang. Maaf ya aku tidak lanjut berkumpul dengan kalian,” kata Mac sambil memasukkan handphone-nya.
Teman-temannya mengangguk. Akhirnya Mac keluar dari club malam itu. Dia heran kenapa Maureen sampai mengikutinya segala? Sebenarnya apa sih maunya Maureen.
Mac menjalankan mobilnya meninggalkan lokasi itu.
Sesampainya di rumah, dia bertanya pada Mr. Turner yang ternyata masih menunggunya di ruang tamu.
“Istriku sudah pulang?” tanya Mac.
“Sudah, Sir,” jawab Mr. Turner.
Mac tidak bicara apa-apa lagi, dia langsung keatas menuju kamarnya. Saat membuka pintu kamar itu, dia melihat Maureen sedang menangisi terisak duduk disudut tempat tidur sambil menelungkup memeluk kedua lututnya.
“Kau kenapa?” tanya Mac. Tidak ada jawaban dari Maureen dia masih terus saja menangis.
Karena tidak dijawab, Macpun membiarkannya. Dia membuka jasnya dan disimpan di kursi. Diapun duduk di pinggir tempat tidur membuka sepatunya.
“Buat apa kau datang ke club?” tanya Mac tanpa menoleh.
Ditanya begitu tangis Maureen semakin pecah, membuat Mac menoleh kearahnya.
“Kau kenapa? Tangisanmu sangat berisik,” kata Mac, dia mulai kesal dengan tangisnya Maureen. Tangisannya malah semakin keras.
“Hei, kau kenapa? Kau tadi datang ke club kan? Kenapa sekarang kau menangis? Kau marah karena aku bersama teman-temanku di club?” tanya Mac dengan suara tinggi, dia mulai marah.
Maureen mengangkat kepalanya menatap Mac, matanya terlihat bengkak karena terus saja menangis.
“Dengan temanmu katamu? Jadi ini kenapa kau tidak ingin perniakhan? Kau ingin bebas bercumbu di tempat umum dengan wanita-wanita itu?” bentak Maureen.
Mendengar Maureen bicara begitu, Mac mengerutkan keningnya. Bercumbu? Siapa yang bercumbu?
“Kau ini bicara apa? Bercumbu dengan siapa?” tanya Mac, keheranan.
“Sudah, tidak usah berbohong! Aku melihat kau bercumbu dengan wanita yang bukan siapa-siapamu! Jadi ini kelakuanmu salama ini? Seharusnya kau sudah menduganya!” kata Maureen.
Mac sangat kesal dengan tuduhannya Maureen itu.
“Salahnya apa kalau aku bercumbu dengan wanita lain? Terserah aku mau bercumbu dengan siapa saja!” kata Mac.
“Tapi kau sudah menikah Mac, seharusnya kau tidak melakukan itu!” teriak Maureen.
“Kita kan tidak saling mencintai, buat apa kau mengurusi aku dengan wanita lain? Urus saja dirimu sendiri, jangan ikut campur urusanku!” ucap Mac.
“Aku ini istrimu! Istrimu! Kau tidak mengerti juga yang namanya istri?” bentak Maureen, sambil meraih bantal yang disampingnya dan dipukulkan pada Mac, yang tampak terkejut dengan pukulan Maureen yang tiba-tiba itu.
“Kau selalu saja mengatakan itu, aku bosan mendengarnya, aku tau kau istriku! Salahnya dimana kalau aku bercumnu dengan wanita lain? Kau sangat merepotkan!” gerutu Mac.
Maureen kembali menangis kencang, sambil menatap Mac.
“Kalau suami bercumbu dengan wanita lain, apalagi di depan mataku sendiri, itu menyakiti istrimu Mac!” teriak Maureen, dia kembali menangis sesenggukan.
Mac terdiam mendengarnya. Menyakitinya? Tiba-tiba dia tersadar dengan kata-kata menyakiti. Diapun tidak bicara lagi. Sebenarnya dia bukan tipe pria yang suka menyakiti wanita. Melihat Sharon menangis waktu itu dia sangat merasa bersalah, dan sekarang dia melihat Maureen menangis kerena dirinya, tapi siapa yang salah? Dia sama sekali tidak bercumbu dengan waniata di club itu. Dia hanya berkumpul saja dengan teman-temannya.
“Daripada mendengar ocehanmu, lebih baik aku mandi,” kata Mac, sambil berdiri dan membiarkan Maureen terus menangis.
Tangan kanan Mac menyentuh lengan kemejanya, akan membuka kancingnya, saat melihat baju kemeja itu, dia baru teringat kalau ada temannya yang menggunakan kemeja dengan warna yang sama. Jack. Jack malam tadi menggunakan kemeja dengan warna yang hampir mirip dengan kemeja yang dipakainya. Dan sepertinya Maureen melihat Jack bercumbu dengan pacarnya. Mac mengertilah sekarang, jadi Maureen menangis karena melihat Jack bercumbu dengan pacarnya. Tiba-tiba diapun jadi ingin tertawa.
Dibukanya kancing yang sebelah kanan, matanya melirik pada Maureen yang kini berbaring ditempat tidur, masih dengan isaknya, Maureen berbaring memunggungi Mac.
Wanita itu menangisinya karena mengira dia bercumbu dengan wanita lain, ada-ada saja, fikir Mac. Diapun segera masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi dan berpakaian, Mac naik ke tempat tidur. Istrinya itu tidur membelakanginya dan masih sesenggukan. Mac ingin mengatakan kalau yang bercumbu itu bukan dirinya, tapi difikir-fikir lagi biarkan saja Maureen mengira dia yang bercumbu dengan wanita itu.
Tapi… sebuah pertanyaan muncul dibenaknya Mac. Kenapa Maureen harus menangis saat melihat Jack yang dikira dirinya bercumbu dengan pacarnya? Seharusnya dia tidak peduli kan? Apakah Maureen mulai menyukainya? Mac pun terdiam.
Mac menoleh lagi pada Maureen yang masih seperti itu, sesenggukan dengan tangan kanan yang sesekali mengusap aimata di pipinya. Diapun menghela nafas panjang.
Cukup lama Maureen masih seperti itu. Mac melihat selimut yang terlipat dikakinya. Diraihnya selimut itu dan ditariknya, bukan untuk menyelimutinya, tapi menyelimuti tubuh Maureen.
Maureen merasakan suaminya itu menyelimuti, dia diam saja. Buat apa pria itu pura-pura memperhatikannya? Apakah dia menyadari sudah menyakitinya? Batin Maureen. Tapi Maureen tidak mengatakan apa-apa, dia menghapus airmatanya dan mencoba untuk tidur, meskipun sepertinya matanya tidak bisa dipejamkan.
Mac melihat Maureen sudah berselimut sekarang, dia tidak bicara apa-apa lagi, diapun berbaring membelakangi Maureen.
*****************
dr awal cerita dr ayah n mama max aku bc.. masa skrg ga da lg cerita nya..
makasih ya karya nya... sehat2 disana...
aku padahal penggemar berat 😭bakalan kangen nih