NovelToon NovelToon
Senja Untuk Arjuna

Senja Untuk Arjuna

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 5
Nama Author: Alana Kanaya

Apa jadinya ketika kita dijodohkan kepada seseorang yang telah kita anggap kakak atau adik kandung sendiri?

Entah perjodohan ini hanya tertulis di atas awan dan akan tertiup angin, atau sudah tertulis di Arsy dalam keabadian, yang pasti saat ini aku telah kehilangan masa-masa remajaku karena perjodohan.

-Senja Nafeesa Humaira-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Seminggu ini Mas Juna selalu menjemputku sepulang kuliah membuat semua teman kuliah kini mengetahui kalau aku telah bertunangan dengan seorang pilot yang tampan, beberapa teman menggodaku tapi ada juga nyinyir seperti biasanya.

“Kalau jadi istri pilot harus siap-siap saja.”

“Siap-siap apaan?”

“Siap di poligami.”

“Hahaha.”

“Dari pada di poligami sama pilot mending sama kita saja anak hukum, orang lain saja kita bela apalagi istri sendiri.”

“Hahaha.”

Aku menatap kerumunan beberapa pria dan perempuan yang kini tertawa sambil melirik padaku, tapi aku tak peduli walaupun hati terasa panas. Menanggapi orang-orang seperti itu hanya akan membuang energi saja.

“Jangan di dengarin,” kata Eka yang mendapat anggukan dariku.

“Dia bukannya Febrio ya, yang dulu pernah kamu tolak?” bisik Cika sambil melihat mengamati mereka.

Ku lihat kembali kerumunan orang-orang itu dan itu memang dia, tak bisa ku pungkiri selama ini ada beberapa pria yang mencoba mendekatiku tapi aku selalu menarik batas, termasuk Angga sekalipun yang sekarang masih berteman denganku.

“Iya … masih suka kali sama aku makanya gitu.”

“Hahaha, benar, Ja.”

“Lagian cowok kok mulutnya kaya gitu.”

Saat ini kami tengah duduk di taman depan kampus sambil menunggu Mas Juna jemput, sedangkan Cika dan Eka sedang menunggu pacar mereka yang masih ada kelas.

“Hei! Lagi pada ngapain?”

Angga datang bersama Ucok yang langsung duduk bergabung bersama kami.

“Lagi nungguin Ayang,” jawab Eka sambil tertawa.

“Pacaran mulu, belajar yang benar!” Seru Angga sambil tertawa.

“Itu adalah kalimat yang biasa digunakan oleh jomblo yang iri lihat orang lain pacaran,” ucapku membuat mereka tertawa.

“Hahaha.”

“Iya, sama ma orang yang pernah ditolak cewek terus ceweknya sudah punya cowok, bisanya cuma nyinyir kaya netizen alay,” ucap Eka membuatku langsung menatap ke arahnya yang malah tersenyum santai.

“Iya, padahal itu menandakan kalau dia belum bisa move on, kalau masih suka bilang saja gak usah nyinyir.” kali ini Icha yang berkata membuatku menatapnya bisa kulihat kini Febrio dan teman-temannya menatap ke arah kami.

“Hahaha, ditolak terus, Cik, padahal aku setiap hari nyatain sama Senja, tapi setiap hari pula aku ditolak.”

“Hahaha, itu mah tandanya tak tahu malu sudah ditolak setiap hari masih saja ngejar-ngejar.”

“Hahaha, bukan tak tahu malu itu, tapi tandanya si Angga ini pecinta sejati tak pantang menyerah dia,” ucap Ucok dengan logat seberangnya yang kental membuatku tertawa.

“Cobalah, Ga, hari ini kau nyatakan lagi siapa tahu kali ini berhasil,” lanjut Ucok kembali membuat kami tertawa.

“Gimana, Ja, diterima gak?” tanya Angga sambil tersenyum mentapku yang malah tertawa melihatnya seperti itu.

Tiba-tiba terdengar deheman tak jauh dari kami membuat kami mentap ke arah suara dan seketika mataku terbelalak ketika melihat seorang pria berdiri dengan santai, tangannya dimasukan kedalam celana jeans hitam yang dipadu padankan dengan kaus putih di balik jaket kulit hitam lengkap dengan kaca mata hitamnya, belum lagi postur tubuhnya membuatnya terlihat seperti seorang model yang tengah melakukan pemotretan.

“Mas Juna!” Seruku sambil berdiri diikuti temanku yang lainnya, dan sepertinya kedatangan Mas Juna hari ini lebih banyak lagi menarik perhatian dari para mahasiswa yang ada di taman bahkan aku bisa melihat para perempuan menatapnya dengan takjup membuatku langsung berjalan ke arahnya dan merangkul lengannya.

“Daritadi?”

“Lumayan … bisa dengar seseorang nyatain cintanya sama kamu.”

“Hahaha, mereka cuma bercanda,” ucapku sambil tertawa membuat Mas Juna berdecak.

Dia membuka kaca mata hitamnya kemudian tersenyum menatap Angga dan Ucok

“Baby, mereka temanmu?”

Baby? Aku kaget mendengarnya kembali memanggilku baby bukan bayi.

“Iya … ini Angga dan Ucok. Mas Juna sudah kenalkan sama Eka dan Cika.”

“Kenalan lagi saja gak apa-apa!” seru Cika sambil menjulurkan tangannya membuat kami tertawa.

Dan kini ku lihat Febrio dan teman-temannya juga tengah memperhatikan Mas Juna. Aku tersenyum penuh kemenangan karena tentu saja dia akan kalah total dibanding tunanganku ini, bahkan teman-teman perempuan yang tadi ikut tertawa bersama mereka kini manatap Mas Juna dengan mata berbinar membuatku semakin merangkul lengannya erat.

“Jangan bikin malu!” seru Eka sambil menepiskan tangan Cika dan kini dia yang menjulurkan tangan.

“Hahaha, kalian berdua ini bikin malu saja,” ujar Ucok. “Parulian, tapi Abang boleh panggil Ucok kaya kawan saya yang lain!" lanjutnya sambil menjulurkan tangan yang disambut Mas Juna sambil tertawa.

“Juna.”

Mas Juna kini menyalami Angga yang juga mengenalkan diri.

“Pantas saja setiap hari kau ditolak … jauuuh, Ga,” ucap Ucok yang membuat kami kembali tertawa.

“Kayanya harus dioperasi plastik dulu nih,” ucap Angga yang disambut tawa yang lainnya.

“Bukan cuma muka, tapi tambah tinggi badan juga.”

“Rombak total dong?” Angga berkata dengan wajah polos membuat kami tertawa.

“Sudah ah! Pergi sekarang yuk!” seruku yang mendapat anggukan dari Mas Juna yang kini melepaskan rangkulan tanganku berganti dengan dia yang merangkul bahuku seperti biasa kemudian pamit dan berjalan menuju tempat parkir.

“Teman-temanmu sangat lucu.”

“Iya.”

“Tapi … itu Angga, kayanya suka sama kamu betulan.”

“Hahaha.”

“Benar ya?”

“Iya, tapi itu dulu waktu aku masih mahasiswa baru.”

“Sampai sekarang tuh.”

“Sekarang cuma teman.”

“Gak percaya, cara dia melihat kamu itu beda.”

Aku terdiam karena aku sendiri juga tahu kalau Angga memang masih menyukaiku sampai sekarang.

“Ckkk, Mas Juna baru ketemu Angga belum ketemu fansku yang lain.”

“Fans?” tanyanya sambil tertawa.

“Iya, hahaha.”

“Jadi banyak yang suka sama kamu?” tanya Mas Juna ketika kami sudah di dalam mobil dan keluar dari area kampus.

“Bohong hehehe, cuma ada beberapa saja yang suka.”

“Terus?”

“Terus apa?”

“Ada yang kamu suka di antara mereka?”

Aku menatap Mas Juna yang memang terlihat tambah keren ketika berada di belakang kemudi seperti sekarang, tak bisa ku bayangkan akan sekeren apa ketika dia memakai seragam pilotnya dan duduk di kokpit pesawat

“Ada yang kamu suka?” Mas Juna kembali bertanya yang menyadarkanku dari khayalan membayangkannya memakai seragam pilot.

“Dari awal aku sudah menutup diriku untuk pria lain karena ku tahu akhirnya aku hanya akan menikah dengan Mas Juna, jadiii … daripada aku sakit hati karena putus nantinya mending gak usah pacaran saja sampai kita nikah.”

Mas Juna menatapku kemudian tersenyum.

“Katakan padaku, apa di sana banyak yang suka sama Mas Juna?”

“Banyak dong! Hahaha.”

Aku berdecak sambil memalingkan wajah menghadap jendela kaca.

“Hahaha, terima nasib saja, Ja, punya calon suami ganteng kaya Mas Juna pasti banyak yang suka.”

“Bukan soal gantengnya tapi soal setia tidaknya.”

“Lho kamu kan tadi nanyanya banyak yang suka gak? Kalau pertanyaannya itu ya jawabnya banyak, tapi kalau pertanyaannya ada yang Mas Juna suka gak? Jawabannya kalau saat ini sih tidak ada.”

“Tapi dulu banyak.”

“Hahaha, itukan masa lalu, Ja, bohong kalau Mas Juna bilang tidak ada.”

“Ada yang tidak bisa Mas Juna lupakan sampai sekarang gak?”

“Hmmm … semuanya pasti tidak bakal Mas Juna lupakan karena bagaimanapun mereka pernah jadi bagian perjalanan hidup Mas Juna, tapi kalau pertanyaannya ada yang masih Mas Juna sayang gak? Jawabannya tidak, karena mereka semua hanya masa lalu Mas Juna seperti Dion buat kamu. Kamu tidak mungkin bisa melupakan Dion, tapi itu bukan berarti masih sayangkan? Dion hanya kenangan masa lalu, sama seperti mantan-mantan Mas Juna juga seperti itu hanya sebuah kenangan.”

Diam-diam aku tersenyum mendengar ucapan Mas Juna, tapi … kenapa aku harus tersenyum mendengar itu dari Mas Juna?

“Kita mau kemana?” tanyaku ketika menyadari kalau ini berlainan arah dengan jalan pulang.

“Ada janji dengan teman-teman SMA sebentar, pulangnya kita nonton, ok!”

“Ok!”

Tentu saja aku tak akan menolak kalau diajak nonton dan makan gratis, hehehe.

Mas Juna memarkirkan mobilnya di sebuah cafe di daerah Jl. Riau kami turun lalu berjalan ke arah pinggir cafe dimana terdapat taman dengan meja-meja terbuat dari kayu.

“Juna!” seru seseorang sambil mengangkat tangannya membuat Mas Juna membuka kacamata hitamnya kemudian tertawa melihat teman-teman lamanya telah berkumpul, dia menyalami lalu memeluk teman-temannya.

“Tambah ganteng saja!” sapa seorang pria dengan pakaian kantor sambil memeluk Mas Juna yang tertawa mendengarnya.

Tidak hanya pria tapi ada juga wanita yang kini menyalamainya.

“Dari tadi?” tanya Mas Juna.

“Tidak, kita juga baru datang maklum karyawan, jadi harus setor muka dulu hehehe.”

“Siapa, Jun?” tanya seseorang sambil menatapku yang hanya berdiri mematung di belakang Mas Juna.

“Baby, sini.” Mas Juna mengulurkan tangannya langsung ku sambut, sepertinya sekarang aku mulai terbiasa dengan sebutan Baby oleh Mas Juna ketika di depan orang lain. “Kenalin, ini tunanganku.”

“Senja.” Aku mengenalkan diri sambil menyalami semuanya.

“Kok, gak ngabarin kalau tunangan.”

“Hahaha, cuma keluarga dekat saja yang datang,” jawab Mas Juna sambil menarik kursi untukku duduk sebelum dia duduk di sampingku.

“Kayanya pernah lihat deh, tapi dimana ya?” tanya seseorang sambil mengamatiku.

Kalau dulu dia sering main ke rumah Mas Juna pastilah dia sering melihatku, dan aku yakin dia akan sangat terkejut kalau menyadari aku adalah anak kecil yang dulu Mas Juna sebut sebagai adiknya.

“Artis ya?” dia kembali bertanya membuatku tertawa.

“Bukan.”

“Cantikkan kaya artis,” puji Mas Juna membuat mereka tertawa.

Mereka pun larut dalam pembicaraan tentang masa lalu, sesekali Mas Juna akan menerangkan padaku tentang cerita itu supaya aku mengerti dan bisa ikut dalam pembicaraan itu, aku akan ikut tertawa mendengar kisah kenakalan mereka pada masanya.

Mereka juga mengatakan kalau dulu banyak cewek yang suka sama Mas Juna sampai ada yang bertengkar karena mengetahui kalau Mas Juna memacari keduanya dan itu hanya membuat Mas Juna tertawa sambil menatapku. “Itu masa lalu, Babe.” Dan aku hanya berdecak menanggapinya membuatnya kembali tertawa.

Kami berbincang dengan teman-teman Mas Juna sampai magrib, dan setelah sholat magrib kami kembali berbincang sebentar sebelum akhirnya kami pamit pergi dan seperti yang telah dijanjikan Mas Juna, kami pergi nonton di BIP.

“Ternyata Mas Juna playboy ya, bisa pacaran sama 2 orang perempuan langsung.”

“Hahaha, itukan dulu. Lagian dulu itu Mas Juna gak jadian sama keduanya hanya pernah sekali jalan saja, merekanya saja ke PD-an kalau jalan sekali dengan Mas Juna itu tandanya kami jadian, padahalkan Mas Juna tidak pernah bilang suka atau sayang sama mereka.”

Mas Juna memberi alasan yang hanya dapat decakan dariku.

“Apa sekarang kita sudah jadian?” tanyaku membuat Mas Juan manatapku.

“Kita bukan hanya jadian tapi kita sudah tunangan,” jawabnya sambil tersenyum. Saat ini kami sudah berada di dalam gedung bioskop menunggu film di putar.

“Tapikan Mas Juna tidak pernah bilang suka atau sayang sama aku, jangan-jangan aku yang ke PD-an,” ucapku bersamaan dengan dimatikannya lampu di dalam gedung bioskop jadi aku tak tahu bagaimana reaksi Mas Juna mendengar ucapanku itu.

Jujur saja selama ini kami sering nonton bioskop tapi biasanya sama Andra dan juga Arya, nonton berdua seperti sekarang membuatku merasa aneh. Aku merasa kalau saat ini kami benar-benar sedang berkencan, tapi mendengar ucapannya tadi membuatku juga sadar kalau selama ini Mas Juna tidak pernah mengatakan kalau dia menyayangi apalagi mencintaiku.

Walaupun aku sadar kalau kami bertunangan karena dijodohkan dan selama ini kami saling menyayangi layaknya saudara, tapi sekarang hubungan kami berbeda. Kami telah bertunangan jadi aku juga berharap kalau aku bisa mendengar dia menyayangiku layaknya seorang kekasih.

Oh ayolah, Senja, jangan egois! Bukankah kamu juga sama, sampai saat ini belum bisa menerima Mas Juna sebagai tunanganmu? Jadi kenapa kamu berharap dia bisa menerimamu secepat ini?

Masih banyak waktu, Senja, beri kalian kesempatan untuk perlahan saling mencintai sampai waktunya tiba kalian menikah nanti, ku berbicara pada diri sendiri. Tapi apakah jarak jauh bisa membuat cinta kami bersemi? Apakah dalam kebersamaan kami yang singkat, kami bisa memupuk rasa itu? Entahlah … hanya waktu yang bisa menjawabnya.

*****

Haiii...

Ini udah puanjaaang ya, jgn bilang masih kurang lagi 😅😅😅

Untuk Senja - Arjuna, tenang saja mereka tidak akan seperti orangtua mereka yg ngabisan stok tisu 😅😅😅 jadi masih amanlah ga usah siapin hati sama tisu ... pokoknya pul op lop 😍😍

Nah udah jumat nih, sekali-kali boleh dong giliran saya yang minta sesuatu, jgn hanya saya yang dimintain cemilan, sarapan, makan siang trs 😅😅😅 Bagi yang masih punya tiket vote, kalau tidak keberatan bolehlah tiketnya buat Senja, dari pada hanguskan sayang 🤭. kalau yg sdh tdk punya, ga apa... just anjoy the story 😍 ... bagi yg sudah ngasih tiket vote nya buat Senja, alhamdulilah... terimakasih banyak, thank u, matur nuwun, pokoknya i lop yu pul, hatur nuhun pisan 😍😍😍😍

*L**ope - lope pokoknya dari saya buat semuanya 😘😘😘😘*

A.K

1
Yashlaura
dan aku balik baca lagi ga tau yang keberapa kali 😄
Anonim
Senja kamu kenapa ?
Anonim
Selamat jumpa Thor
Senang aku bisa jumoa dgn karysmu
Rien Santos
cerita sederhana yg sayang untuk dilewatkan, semangat penulis
aurel chantika
novel yang sangat bagus, ❤️❤️❤️
༺⬙⃟⛅ᴶᵉᵐⁱᵐᵃѕ⍣⃝✰zc❖: Halo sahabat pembaca ✨
‎Aku baru merilis cerita terbaru berjudul BUKAN BERONDONG BIASA
‎Semua ini tentang Lucyana yang pernah disakiti, dihancurkan, dan ditinggalkan.
‎Tapi muncul seseorang dengan segala spontanitas dan ketulusannya.
‎Apakah Lucy berani jatuh cinta lagi? Kali ini pada seorang Sadewa yang jauh lebih muda darinya.
‎Mampir, ya… siapa tahu kamu ikut jatuh hati pada perjalanan mereka.
‎Dukung dengan like ❤️ & komentar 🤗, karena setiap dukunganmu berarti sekali buatku. Terimakasih💕
total 1 replies
aurel chantika
kok bisa pas ya
aurel chantika
wah mas Juna,udah jadi pilot
aurel chantika
duh senja kenapa ya
aurel chantika
aku baru mampir Mak thor
Miqolatte
Baca ini kayak ditarik ke jaman sekolah dulu. Berasa nostalgia hahaha..
Elly R.Rasya
teh alana...ko cerita yg arga ga ada ?
Lina Wahyuni: iya bener, aku jg mau baca lg tp ga ada
total 1 replies
Lina Wahyuni
thor knp cerita arga jd ga ada ?
krisbow
maksudnya apasih
susah bacanya gak enak
sakura🇵🇸
ceritanya bagus meskipun ringan g kebanyakan drama😍 suka bikin gemes sendiri,senyum2 sendiri g jelas ingar jaman masih sekolah🤭
sakura🇵🇸
suamimu lupa klo kamu dokter😅 belum disuruh juga udah ngatur pernafasan...
sakura🇵🇸
begitulah perempuan....kadang permintaan sepele bisa jadi ruwet
padahal bisa lebih disederhanakan minta apa tp antara gengsi sama minta suami peka🤣🤣🤣
sakura🇵🇸
setelah perayaan kemenangan makin candu ya 😅
gustiiii 5x sehari bisa2 senja g kuat turun tangga sekedar ambil makan
sakura🇵🇸
ini sih namanya memancing diri sendiri😅 yang ada malah repot bingung g jelas🤭
sakura🇵🇸
🤣🤣🤣🤣 malam pertama keduluan hari pertama....kapoook ditunda2 sih g sat set
kan pagi pertama juga boleh
sakura🇵🇸
iya jangan lama2 pelajarannya nanti g lulus2😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!