NovelToon NovelToon
My Arrogant Prince

My Arrogant Prince

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Poligami / Berondong
Popularitas:308.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wardah Rose

Tidur Pangeran Rayyan Muhannad Arnauth tak akan pernah nyenyak jika ia tak bisa mendapatkan seorang wanita yang menghantui mimpinya tiap malam. Bagaimanapun caranya ia harus bisa menjadikan wanita itu sebagai salah satu selirnya.

Selir? Bilqist sangat membenci status itu. Dia merasa tak jauh beda dengan wanita simpanan yang tak mempunyai status dan dihargai hanya bila tubuhnya mampu menjadi pemuas napsu sang pangeran.

Sampai tulang belulangnya mengering di gurun pasir pun Bilqist rela. Asalkan dia tidak akan pernah menjadi selir Rayyan Muhannad Arnauth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

No Drama

Ponsel Andrew belum bisa dihubungi. Bilqist lalu mengiriminya pesan, kalau Andrew sudah dapat sinyal, pesan itu bisa diterimanya. Bilqist menunggu besok untuk mencoba menghubunginya lagi.

Malam itu Rayyan tak datang ke kamar Bilqist. Bilqist berpikir mungkin dia agak sungkan karena ada ibunya. Zach dan Al juga gantian menemani Gwen. Zach dan Al kalau tidak berada di rumah sakit, mereka berkeliling kota. Banyak mata yang memandang mereka. Entah curiga atau hanya penasaran saja karena penampilan mereka yang sangat asing.

Zach suka mengamati arsitektur bangunan dan pemandangan secara umum. Sedangkan Al lebih tertarik dengan infrastruktur dan fasilitas berteknologi yang ada di sekitar mereka. Menurut pengamatan Al, teknologi yang mereka gunakan agak tertinggal dari negara jazirah Arab yang lain, Dubai misalnya. Tapi mungkin memang menyesuaikan dengan peraturan pemerintah.

Charger untuk mobil listrik baru sedikit dijumpai. Mungkin karena mereka negara berpenghasil minyak, jadi ego mereka lebih tinggi. Mereka tak merasa perlu untuk melengkapi fasilitas untuk mobil listrik  rakyat lebih banyak yang pakai mobil non listrik, dan mereka yakin kalau cadangan minyak bumi mereka tidak akan habis sampai delapan turunan.

------

Rayyan datang ketika Bilqist sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Dia meminta maaf tidak bisa datang sebelumnya karena ada kesibukan yang padat. Bilqist tak merasa ada masalah dengan hal itu.

“Ini kardus-kardus apa? Banyak sekali,” tanya Rayyan yang heran melihat setidaknya ada tujuh kardus di kamar Bilqist.

“Ini obat penghilang luka. Di rumah sakit ini tidak ada, jadi kami order ke Turki,” jelas Gwen. “Bilqist ambil sepuluh tube saja, yang lainnya disumbangkan buat rumah sakit.”

Rayyan mengambil salah satu kotak dan melihat jumlah isi tiap dusnya. “Ada sekitar seribu ini, banyak sekali,” kata Rayyan setelah mencoba menghitung totalnya.

“Tentu saja, kalau order sedikit tidak bisa.”

“Anda harus lebih memperhatikan kondisi rumah sakit. Stok obat dan mesin yang digunakan. Mereka butuh yang baru,” katta Bilqist.

“Saya tidak paham hal seperti ini. Ini tugas Mentri Kesehatan,” jawab Rayyan sambil mengerutkan dahinya. “Kalian akan pergi?” tanyanya ketika melihat semua orang berkemas-kemas.

“Iya, besok sudah boleh keluar dari rumah sakit, tapi saya minta hari ini,” jawab Bilqist.

“Kalian akan tinggal ke istana saya,” kata Rayyan.

“Apa?” tanya Bilqist heran.

“Kalian adalah tamu saya, jadi kalian tinggal di rumah saya selama masih di Julunda.” Rayyan meralat kata istana agar tak terkesan sombong.

“Tidak perlu, kami tinggal di hotel saja,” jawab Bilqist.

“Tidak bisa, orang-orang bisa menertawakan saya kalau membiarkan kalian tinggal di hotel. Kamu calon istriku.”

“Tidak resmi,” ralat Bilqist. “Kita hanya ta’aruf, tidak lebih dari itu. Aku tidak ingin terlalu dekat dengan keluarga kerajaan. Semakin dekat, semakin kompleks masalahnya.”

“Tapi ....”

“Kami akan berkunjung ke rumah Anda, silakan undang kami kapan saja untuk berkenalan dan sebagainya. Tapi maaf kami tidak bisa menginap di istana Anda. Kami mempunyai cara hidup yang berbeda, kami takut kalau nanti akan bermasalah dengan yang lainnya,” sahut Zach.

Rayyan tak bisa memaksakan kehendaknya, dia kemudian menawarkan akan mengantarkan mereka dengan mobilnya. Rayyan kali ini membawa MPV yang bisa memuat lebih banyak orang.

“Rumah saya ada di kota lain. Imran akan pesankan kalian hotel di sana, agar kalau saya meminta kalian datang, tidak terlalu jauh dan terlalu lama di perjalanan.”

“Baik. Saya setuju dengan ide itu,” jawab Zach.

Perjalanan ke kota tempat tinggal Rayyan memakan waktu sampai empat jam lamanya. Saat sampai ke hotel, Rayyan tak langsung pulang. Ia masih ingin bicara dengan Bilqist. Sudah dua hari dia tak bisa menemuinya karena sibuk. Ia hanya ingin bicara dengannya, melihat wajahnya lebih lama.

Dengan alasan makan siang bersama, Rayyan bisa memanfaatkan waktu untuk melepas rindu.

“Saya baca kalau Bilqist masih ada dua saudara lagi?”

“Iya, dua putri kembar saya. Mereka ada di Indonesia sekarang.”

“Sekarang? Jadi sebelumnya tidak?” tanya Rayyan lebih detail. Ternyata bicara langsung dengan Zach lebih nyaman daripada menunggu hasil investigasi Imran. Zach mudah diajak untuk ngobrol.

“Chrystal bekerja dan tinggal di New York sedangkan Dania di Jepang sementara ini karena ada project sampai tahun depan.”

“Bilqist setahu saya bekerja di LA, berarti kalian semua pisah-pisah?” tanya Rayyan.

“Benar. Hanya Al yang base perusahaannya di Indonesia. Tapi belakangan ini dia sering ke Inggris.”

“Apa Anda tidak ada rasa khawatir melepaskan mereka? Jauh-jauh sekali jarak antar negaranya.”

“Dania tinggal di Jepang ada pamannya yang mengawasi. Chrystal tinggal dengan anaknya di komplek apartemen milik keluarga kami. Adik sepupu saya juga tinggal di sana. Sedangkan Bilqist dia tinggal sendiri tapi kami selalu rutin mengunjunginya. Tahun ini adalah tahun terakhir kontraknya, dia bisa pulang ke Indonesia.”

Rayyan mengangguk dia makan tapi selalu melihat ke wajah Bilqist ketika tidak bicara dengan Zach.

Bilqist terlihat cuek saja diperhatikan sedari tadi. Tiba-tiba Bilqist yang duduk di sebelah Al langsung menoleh pada Al ketika ia merasa kalau kakaknya itu terlihat waspada. “Kenapa Al?”

“Ada yang ambil foto kita tadi,” jawabnya.

Rayyan yang mendengar hal itu segera memanggil Imran, ajudannya itu segera mencari siapa yang mengambil gambar mereka.

Tidak butuh waktu lama orang itu berhasil ditemukan. Imran membawanya keluar dari area restoran sedangkan ajudan lain masih ada untuk menjaga Rayyan. Setelah mereka selesai makan, Imran kembali ke restoran. Imran mengantarkan mereka menuju kamar yang sudah dipesankan Rayyan untuk Zach dan keluarganya. Kamar presidential suite yang dipakai Zach mempunyai ruang tamu yang sangat luas. Jadi mereka masih bisa meneruskan percakapan di sana.

Imran melaporkan hasil interogasinya kepada Rayyan. “Ternyata orang tadi adalah wartawan,” kata Rayyan pada Zach.

“Dia tahu kalau Anda di hotel ini? Atau kebetulan saja dia sedang ke sini dan mengenali Anda?” tanya Zach.

Imran menyampaikan sesuatu dan Rayyan menerjemahkannya. “Dia memang mendapat informasi kalau saya akan berada di hotel ini. Bahkan dia tahu kalau Bilqist adalah calon istri saya.”

Semua tampak terkejut. “Keamanan di sini buruk, atau memang ada yang membocorkan hal ini?” tanya Zach kemudian.

“Entah gak peduli yang mana," sela Bilqist, "yang pasti aku gak perlu dipamerkan secara resmi ke rakyat Julunda sebagai calon istri pangeran negeri ini. Ini jauh lebih mudah ternyata,” kata Bilqist dengan sedikit senyuman. “Biarkan saja media gaduh, aku hanya perlu mendekam di hotel ini sampai masalah selesai.”

“Saya rasa tidak bisa semudah itu,” kata Rayyan.

“Apa maksudnya?” tanya Bilqist.

“Berita kalau saya mau menikah lagi sudah menyebar ke istana. Jadi akan banyak persiapan sampai pernikahan benar-benar terjadi.”

“Persiapan ini maksudnya semacam rencana resepsi?” tanya Gwen yang masih bingung.

“Lebih ke mempersiapkan calon pengantin wanita. Dia harus mendapatkan pengetahuan tentang kesultanan Julunda, peraturan, tata Krama, ....”

“Tunggu tunggu,” sela Bilqist. “Kita sudah sepakat kalau proses ta’aruf ini selesai tidak sampai harus ada pernikahan.”

“Benar, tapi ....”

“Tidak ada tapi, kita tetap harus menjalankan ini seperti rencana awal,” potong Bilqist.

“Tapi pemimpin rumah tangga istana sudah menjalankan protokol persiapan ini.”

“Maksudnya?”

“Peraturan tetap peraturan, meskipun proses ini tidak berlanjut seperti yang kamu bilang, tapi peraturan di keluargaku seperti itu.”

“Pemimpin rumah tangga istana ini maksudnya sang Raja? Ayah kamu?”

“Bukan, dia seperti yang mengatur rumah tangga istana agar peraturan di dalam istana terjaga dari awal sampai turun temurun.”

“Dia ini siapa?”

“Nenekku.”

“Ooh ibu suri,” jawab Gwen dengan suara pelan dan bahasa Indonesia. Bilqist menahan diri agar tak tertawa mendengarnya.

“Meskipun itu bukan keinginan kamu, kamu tak bisa menentangnya?” tanya Bilqist

“Tidak bisa,” jawab Rayyan.

“Apa sedari kamu kecil, nenekmu yang mengatur apa yang harus kamu lakukan, yang boleh dan tidak boleh dilakukan?” tanya Bilqist lagi.

Rayyan mengangguk. “Benar.”

“Meskipun kamu sudah berumur dewasa seperti sekarang, kamu masih tetap dikendalikan olehnya?”

Rayyan agak tersinggung dengan kata-kata Bilqist, tapi apa yang dia katakan benar adanya.

“Iya dalam beberapa hal saja.”

Bilqist mengangguk, dia tak berkomentar dengan hal itu. Semula Rayyan kira Bilqist akan mengoloknya atau memaksakan argumennya seperti biasa. Tapi dia tak melakukannya.

“Bagaimana pendapatmu?”

“Oke kalau begitu,” jawab Bilqist.

Entah kenapa Rayyan tidak yakin, sikap Bilqist yang kooperatif dengan hal ini benar-benar membuat Rayyan bingung.

“Jadi kalau misalnya kamu diberi jadwal untuk belajar sejarah dan tata Krama istana mau?”

Bilqist mengangguk, “Iya.”

Rayyan terlihat ada yang masih mengganjal di hatinya, tapi dia cukup lega Bilqist mau melakukannya.

---------

Saat Rayyan sudah pulang, Gwen bertanya kepada putrinya, “Kamu kok mau-mau aja disuruh belajar jadi calon istri betulan, apa rencana kamu, Bee?”

“Sebisa mungkin Bee gak mau ada masalah. Kalau memang aturannya begitu jalani saja. Jadi sewaktu kita meninggalkan negara ini kita gak ninggalin jejak jelek dan gak ada masalah.”

Gwen mengangguk. “Baik lah. Kalau gitu pesan Mommy dibikin nyaman dan santai aja. Mom tahu kalau jiwa kompetisi di dalam diri kamu itu kalau kadung tinggi bisa meleduk. Mom gak mau sampai ada drama antara mertua vs menantu, permaisuri vs ibu suri, atau calon istri ke empat vs istri pertama, kedua, ketiga.

Duh kayak judul sinetron, ya. Ribet amat ....”

Bilqist tertawa mendengar ibu negara sedang memberi wejangan.

“Anyway, ingat satu hal ... goal kita adalah pulang pulang pulang. Titik!”

1
Dewi Djordan
bakal di up g nih atau selesai sampai dsini ?( nanya dgn nada lembut)
Dewi Djordan
bggussssss
Mey Kusrini
hadeeeh
Mey Kusrini
saya suka Al bobol wifi
Mey Kusrini
salam saya pembaca baru pengen langsung skiming aza
Mey Kusrini
ga sabar mau melihat matanya😂
Mey Kusrini
Luar biasa
Erni Fitriana
keren👍🏾
buna
muhannad tuh apa😭
Eskael Evol
keren banget
Eskael Evol
keren thor syukron doa nya🙏
Nuning Setiyawati
ini gak ada ending nya ya thor
novi taurusita
selalu setia menanti kak
Dian Kartika Dewi
hai author. sehat2 ya . kapan lanjut cerita. udah lama nungguin lanjutannya. semoga segera update ya.
bank sha one
aku nunggu up nya othor tayangkuuuh
Babo Saram
ini tidak ada kelanjutan'a ya?
Dewi Djordan
cerita yang sangat menarik,alur y bagus,, tapi sayang up y lamaaa bangetttt,rasanya udah 1 tahun lebih nunggu
Fitri Octawaty
jangan lama lama lanjitin cerita,aku penasan ini🤔🤔🤔
Verdut Ndut
thor kpn up lg suwiii nya torrr 😩😩😩
novi taurusita
karyanya yang bagus sekali, suka dengan tokoh dan alurnya. tak bosan-bosannya untuk melihat up selanjutnya. semangat kakak semoga sehat selalu😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!